
Semenjak adanya Aldo didekat Belinda, pria itu selalu ada menemaninya kemanapun dia pergi, terkadang ikut membantu tugas Belinda dipanti jompo.
Seperti pagi ini Aldo sedang bermain catur bersama Opa Nakamura dipanti itu.
"Yah aku kalah lagi" ucap Aldo sedikit kesal.
"Anak muda yang mudah kukalahkan" ucap Opa Nakamura jumawa.
"Ya aku kalah, kau sangat jago" balas Aldo.
"Kenapa kau jauh-jauh dari Indonesia kemari?" tanya pria tua itu.
"Aku ingin menjemput wanitaku untuk pulang bersamaku" ungkap Aldo.
"Kau sangat mencintai suster Bella sepertinya? tanya Opa Nakamura.
"Ya, kau benar opa! Aku sangat mencintainya, dia cinta pertamaku sewaktu aku kuliah disini" jawab Aldo.
"Pantas saja kau bisa bahasa Jepang, ternyata kau pernah kuliah disini. Aku akan mendukungmu untuk mengejar cinta sejatimu. Kejarlah wanitamu sampai dia menjadi milikmu dan bertekuk lutut padamu" ucap Opa Nakamura sembari menepuk pundak Aldo.
Kini Aldo berdiri dihadapan Belinda dengan wajah yang membutuhkan penjelasan.
"Bella, bagaimana apakah kamu sudah memikirkan semuanya?" Aldo sudah tidak sabar ingin membungkus Belinda dan membawanya kembali ke Indonesia.
"Aku tak tahu Aldo!" jawab Belinda ragu.
"Bella, tempatmu bukan disini. Ayo ikut aku kembali. Bangun lagi semangatmu" Aldo menggenggam tangan Belinda.
"Sangat sulit Aldo. Maafkan aku mungkin aku cengeng atau kekanak-kanakan, tetapi aku sungguh tidak bisa" Belinda meneteskan air matanya.
Aldo memegangi pundaknya.
"Kenapa kamu sangat lemah Bella? Disana orang-orang membutuhkanmu. Ayolah ikut aku pulang. Apakah kamu tidak merindukan papa dan mamamu? Ben bukan apa-apa Bella" Aldo tampak menguncang-guncangkan bahu Bella dengan sedikit keras karena merasa gemas dengan Belinda.
"Ya memang aku lemah Aldo! Aku tidak sekuat yang kamu kira. Pergilah Aldo karena aku sudah nyaman disini" Belinda mulai meningikan suaranya.
"Bella asal kamu tahu, Ben kini sedang bahagia dengan pernikahannya sementara kamu masih bergelung dengan kesedihan dan lari seperti ini" ucap Aldo kekeh.
"Aldo pergi sekarang dari hadapanku" Belinda mengusir Aldo dengan keras.
"Tidak Bella, aku harus membawamu" tegas Aldo.
"Aldo pergi" tegas Belinda.
"Tapi Bella" Aldo masih membujuk.
Plakkkkkkkkkk!!!! Belinda menampar wajah Aldo dengan kerasnya sampai terasa kebas pada pipi pria tampan itu.
"Aku muak dengammu Aldo! Pergi dari hadapanku" gertak Belinda.
Aldo menatap Belinda dengan nanar, seakan tak percaya bahwa wanita yang sangat dicintainya akan menamparnya.
__ADS_1
Belinda melihat darah disudut bibir Aldo, dia pun baru sadar dengan apa yang dia lakukan.
"Aldo, Aldo maafkan aku" Belinda memegang sudut bibir Aldo, tetapi Aldo menepisnya.
"Maaf aku terlalu memaksa" ucap Aldo kemudian pergi dari hadapan Belinda yang masih mematung dengan perbuatannya.
Sepeninggal Aldo, Belinda memegangi tangannya yang dipakai untuk menampar Aldo.
"Kenapa aku menjadi kasar begini. Aldo maafkan aku" Belinda akhirnya menangis sesegukan.
Sementara sesudah kejadian itu, Aldo kini membereskan barang-barang yang ada diapartemennya. Apartemen yang dia beli sewaktu masih kuliah disana.
Jika para readers menganggap Aldo cengeng hanya karena sebuah tamparan, itu tidak benar, Aldo hanya sudah cukup untuk membujuk Belinda dan dia tidak ingin memaksakan membawa Belinda pulang.
Aldo pun meninggalkan apartemennya dan segera pergi menuju bandara setelah menyerahkan kuncinya pada OB apartemennya itu.
Belinda dengan tergesa berlari menuju unit milik Aldo. Belinda ingin meminta maaf pada pria itu.
Bel terus di tekan, namun tidak ada orang yang membukanya, hingga seorang OB menghampirinya.
"Apa anda mencari Tuan Aldo?" tanya OB yang bernama Ozawa itu.
"Ya benar!" Belinda dengan nafas terengah.
"Maaf nona, Tuan Aldo sudah meninggalkan apartemen ini tiga jam yang lalu" ungkap sang OB itu.
Seketika kakk Belinda lemas, kemudian tubuhnya merosot dilantai.
"Aldo, maafkan kekeras kepalaanku" Belinda tergugu.
Dia pun menelepon Sofie.
"Hallo!" sapa Sofie diseberang telepon.
"Sofie, sepertinya aku akan pulang ke Indonesia, ada hal yang harus aku selesaikan disana! Bisa kamu bantu buatkan surat pengunduran diriku" pinta Belinda.
"Kenapa kamu pulang mendadak?" Sofie heran.
"Ini genting! Yasudah aku pamit ya" ucap Belinda.
Terkesan tidak sopan pamit hanya lewat panggilan telepon, tetapi Sofie tidak mempermasalahkan itu.
"Baiklah kalau begitu. Dua bulan lagi aku akan datang ke Indonesia menemuimu" ucap Sofie.
Belinda pun menutup panggilan itu. Kini dia sedang mengemasi barang-barangnya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Kenapa seminggu ini kamu tidak ada dikantor?" tanya Djoko sang paman pada Aldo.
Pria tua itu mendapat laporan dari dari aspri Aldo jika dia pergi ke Jepang.
__ADS_1
"Aku pergi ke Jepang om" jawabnya.
"Ya aku tahu, tapi untuk apa kesana? Kita tidak punya relasi bisnis disana? Aikhhh kau ini membuang-buang waktu saja Aldo. Fokus dengan perusahaan!" tegas Djoko.
"Maafkan aku om! Aku menyusul seseorang kesana!" ungkapnya.
"Siapa?" Djoko mulai penasaran.
"Wanitaku" jawabnya tegas.
"Apa, berarti kau sudah mempunyai kekasih? Kapan akan mengajaknya kemari? Aku tak sabar ingin segera menimang cucu" ucap Mieke sang tante.
"Aku cinta sendiri tan! Dia tidak mencintaiku" ucapnya lesu.
"Ya ampun seorang Aldo cintanya bertepuk sebelah tangan? Kau ini tampan nak. Tapi semoga saja kau segera menemukan wanita yang kau idamkan" ucap Mieke.
Aldo hanya tersenyum.
"Tan, aku lapar!" seru Aldo.
"Makan lah, Bik Nina sudah masak" jawab Mieke.
Aldo pun berlalu menuju meja makan.
Kini hanya tinggal Djoko dan Mieke diruang tamu.
"Mas masih boleh gak sih aku berharap punya anak diusia ku yang sudah tidak muda lagi? Jujur aku ingin sekali merasakan bagaimana menjadi seorang ibu" ucap Mieke sedih.
"Aku pun begitu sayang. Tetapi tuhan tak menitipkan anak pada pernikahan kita itu sudah takdir. Biar saja kita masih ada Aldo yang akan memberikan kita cucu walau dia bukan anak kita" jawab Dhanu dengan nafas berat.
"Ya mas benar! Aldo lah harapan kita satu-satunya, hanya dia keluarga kita. Aku pun tidak punya saudara dari pihakku. Apa nantinya harta yang kita miliki akan di berikan pada Aldo?" tanya Mieke.
"Ya siapa lagi sayang. Hanya dia satu-satunya ahli waris kita dan sisinya kita sumbangkan pada yayasan dan badan amal biar harta kita bisa di pergunakan untuk orang-orang yang membutuhkan" jawab Djoko.
"Baiklah mas, aku hanya nurut saja padamu. Tapi untuk saat ini Aldo jangan dulu diberi tahu, aku hanya ingin melihat keseriusan dia menjalankan perusahaan peninggalan ayahnya. " ucap Mieke.
Djoko hanya mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aku sudah tiba dibandara pa" pesan singkat Belinda untuk Dhanu.
Dhanu terperanjat bahagia luar biasa dengan kedatangan sang putri.
"Bella pulang ma" teriaknya.
Ben dan Tiffany yang saat ini ada dirumah pun terkejut.
"Dimana Bella pa?" tanya Ben langsung berlari menghampiri Dhanu.
"Dia dibandara!" jawabnya.
__ADS_1
"Aku akan menjemputnya sekarang" Ben segera menyambar kunci mobilnya dan pergi dari sana tanpa mendengar teriakan Belinda.