
Visual Belinda.
Visual Tiffany.
Visual Ben.
Visual Aldo
Visual pacar author😎
Visual Author.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Belinda masih berkutat dengan map-map yang bertumpuk di hadapannya. Rasa lapar yang sejak tadi mendera kini terlupakan akibat pekerjaan.
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, dia sendiri di dalam ruangan kerjanya.
Melihat ponselnya yang tak ada apapun membuat dia heran dan bertanya-tanya akan keberadaan Ben selepas mengantarkan Tiffany pulang.
Belinda pun akhirnya membereskan pekerjaan yang belum.selesai dan bergegas meninggalkan kantor. Tak di sangka Aldo sudah menunggunya di halaman kantor.
Tiitttttt! Suara klakson menuntut Belinda melihat ke arah sumber suara.
"Aldo!" guammnya.
"Mari Bu Bella, saya antar pulang" ucap Aldo dengan wajah menyembul di balik kaca mobilnya.
"Maaf, tapi Aku sedang menunggu suamiku" Bella sengaja ingin tahu maksud Aldo menjemputnya.
"Dia takan menjemputmu! Aku di perintahkan untuk menjemputmu karena dia sedang ada halangan" ucap Aldo.
Belinda pun hanya mengangguk samar! Naiklah dia ke mobil yang Aldo kemudikan.
Di dalam mobil, Aldo di temani Renata si kucing yang duduk di jok belakang.
"Pacarmu selalu ikut kemanapun" Belinda terkekeh.
"Dia tak mau jauh dariku. Aku hanya tinggal bersama kedua kucingku di rumah jadi mereka sudah aku anggap keluarga sendiri" ungkapnya.?
"Lalu kedua orang tuamu kemana?" tanya Belinda.
"Ayahku sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu, hanya ayah orang tuaku Bella" ucapnya sendu.
"Lalu kemana ibumu? Kau bukan timun mas yang keluar dari badan timun raksasa yang di belah bukan?" Belinda semakin tertarik dengan hidup aspri sang suaminya itu.
"Aku tak tahu. Yang jelas aku tak mau tahu apapun kehidupan dia! Disaat semua orang sewaktu kecil mendapatkan cinta, perhatian dan kasih sayang untuk pertama kalinya dalam hidup, aku malah harus mendapatkan siksa, maki, kepedihan, dan penolakan oleh ibuku. Kamu lihat pelipisku Bella, disana ada bekas luka yang selalu aku tutupi dengan rambut" ucap Aldo sembari menunjuk pelipisnya.
Belinda pun menyingkirkan rambut di wajah Aldo dan terlihatlah semacam bekas luka yang cukup dalam. Belinda menyentuh pelipis Aldo.
__ADS_1
"Cukup dalam bukan untuk ukuran luka di pelipis?" tanya Aldo.
Belinda hanya mengangguk saja sembari mengusapkan tangannya pada bekas luka Aldo.
"Bella" ucap Aldo pelan.
"Ya!" sahut Belinda.
"Apa kau akan terus diam seperti ini dengan semua perbuatan suami dan adikmu, hem?" tanya Aldo yang dalam hatinya merasa gemas pada Belinda yang seakan diam padahal dia tahu perbuatan kedua orang terdekatnya.
"Untuk saat ini biarkan saja seperti itu. Kau tahu jika seseorang yang sudah melambung tinggi lalu sengaja di hempaskan ke jurang yang paling dalam bagaimana rasanya?" Belinda menjawab dengan kata berandai-andai.
"Akan remuk pastinya" jawab Aldo.
"Begitulah" ucapnya mengambang.
Aldo yang mencoba mencerna ucapan Belinda pun akhirnya mendapat jawaban dalam hatinya.
"Oh begitu rupanya dia! Aku tahu alasannya dia tidak berbuat apapun pada Ben, dia seolah di anggap bodoh oleh Ben dan Tiffany karena mereka mengira Bella tidak mengetahu hubungan mereka. Bella bahkan bersikap baik pada keduanya dan Bella mengabdi pada Ben selayaknya istri sesungguhnya, karena Bella ingin Ben mencintainya terlebih dahulu, sesudah itu dia akan membongkar hubungan Ben dan Tiffany lalu dia akan pergi dari hidup Ben. Dan hal ini akan membuat Ben akan menyesal bahkan lebih buruknya Ben bisa gila. Hmmmzz, benar-benar wanita cerdas kamu Bella" Aldo berucap dalam hatinya.
"Aldo, seharusnya aku tidak banyak cerita padamu" Belinda menyesal telah berbagi cerita dengan Aldo.
"Why?" tanyanya.
"Bagaimana jika kamu mengatakan semuanya pada suamiku" jawab Belinda.
"Come on Nona Bella, Aku hanya terlibat soal pekerjaan dengan Ben! Aku tidak terlibat personal dengannya. Rahasiamu aman di tanganku" Aldo berkata sembari meraih tangan Belinda lalu menciumnya dengan lembut.
"Kau mau pulang kemana?" Aldo bertanya kembali sekaligus ingin mengurangi ketegangan di wajah Belinda sehabis dia cium tangannya.
"Rumah papa saja" jawabnya singkat.
Hatinya sangat gugup kala Aldo tiba-tiba mencium tangannya.
Ketika sudah hampir sampai, tiba-tiba Belinda menyuruh menghentikan laju mobil Aldo.
"Aldo stop sebentar!" ucapnya.
Kening Aldo berkerut tapi dia menuruti permintaan Belinda.
"Kamu telepon Ben, tanyakan dia sedang dimana!" Belinda ingin tahu kejujuran Ben jika Aldo yang menelepon.
"Kenapa tidak kau tanyakan sendiri Bella?" tanya Aldo heran.
"Jika aku yang menghubunginya, dia pasti akan membohongiku Aldo" jawab Belinda.
Aldo pun meraih ponselnya, dia lalu menghubungi no Ben.
Satu panggilan!!!
Dua panggilan!!!
Tiga panggilan!!! Tidak ada jawaban sampai panggilan ke lima belas baru di angkat oleh sang pemilik no itu.
"Ha, halloh eumpphhhhh...Ald...oh ada apa" suara Ben terdengar Berat.
"Hallo, Pak anda sedang apa?" Aldo heran dengan suara Ben yang terdengar sedang melenguh.
Plakkkk, plakkkkkk, plakkkkkkk!! Suara seperti kulit yang sedang beradu dengan cepat.
Seketika Belinda dan Aldo mengerti apa yang sedang Ben lakukan.
__ADS_1
"Ce...pathhhh akchhh ka-takan. Oh so hot eumppppt" racau Ben.
Sesak seketika menyerang dada Belinda kala mendengar lenguhan Ben mungkin dengan Tiffany.
"Pak Ben, saya hanya mengingatkan bahwa besok rapat direksi jam delapan malam" ucap Aldo.
Tak ada sahutan hanya suara derit ranjang yang nyaring di iringi suara d*s*h*n wanita yang Belinda hapal siapa pemilik suara itu.
Dia berbisik di telinga Aldo untuk merekam panggilan itu, Aldo pun menyetujuinya.
Krietttt
Kriettttt
Kriettttt!! Derit ranjang semakin nyaring.
"Ben, kau semakin gila sayang.. Hsssshhhhhhhh" ucap Tiffany merasa akan gila karena hentakan Ben yang brut*l.
"Kau selalu manis untuk ku cic*pi" ucap Ben dengan nafas terengah.
Aldo melihat Belinda sudah sangat kasihan. Dia terisak dalam diam seakan menggambarkan betapa hancurnya hati wanita itu.
Karena tak tega melihat Belinda, akhirnya panggilan itu Aldo matikan secara sepihak.
"Bella!" Aldo meraih tubuh Belinda pada dekapannya.
"Apalagi yang membuatmu bertahan dengan semua ini selain alasan yang tadi?" ucap Ben sembari mendekap Belinda.
"Papa! Jika papa tahu aku takut penyakitnya akan kambuh! Dan papa pernah mengatakan bahwa dia benci perceraian karena dulu papa anak broken home. Aldo ingin rasanya aku menguliti mereka berdua saat ini juga, tapi aku memikirkan banyak hal tentang papa. Papa akan sangat syok jika mengetahui putrinya bertingkah seperti seorang jal*ng yang dengan suka rela menyerahkan tubuhnya pada kakak iparnya. Bukan aku diam dan tak berani, tapi papa lah yang akan menjadi tumbalnya dalam hal ini" Tangis Belinda semakin pecah dalam dekapan tubuh kekar Aldo. Aldo dengan lembut mengelus kepala Belinda.
"Aldo maaf" ucap Belinda yang baru menyadari jika dirinya ada dalam dekapan Aldo.
"Bella tenanglah! Biarkan emosimu luruh dalam dekapanku. Aku takan marah" Aldo menahan Belinda untuk tidak beranjak.
Jarang-jarang kan Aldo bisa memeluk Belinda. Bisa ae loe Aldo ...🤣🤣🤣
Belinda pun diam nyaman di dalam dekapan Aldi sembari menghirup aroma parfum maskulin di tubuh Aldo.
Setelah emosinya mereda. Belinda baru turun dari mobil Aldo.
"Terimaksih Aldo! Ayo masuk dulu" tawar Belinda.
"Terimaksih Bella untuk tawarannya! Tapi aku langsung pulang saja" ucap nya sembari melambaikan tangan dan tancap gas dari hadapan Belinda.
Belinda pun masuk kedalam rumahnya, di dapati papanya sedang di periksa oleh dokter keluarga.
"Kenapa lagi dengan papa?" ucap Belinda yang berhambur kehadapan papanya.
"Jantungnya tiba-tiba kumat bersamaan kolestrol dan darah tingginya naik. Aduh pusing mama! Papamu nakal Bella, di larang makan yang berminyak-minyak malah gak nurut. ya alhasil ini lah akhirnya" Keluh Haruni.
Belinda pun segera menghubungi Tiffany perihal papanya.
"Halloohhhh" ucap Tiffany lesu.
"Kau di mana sekarang?" bentak Belinda.
"Di rumah teman! Memangnya kenapa?" Tiffany berbohong.
"Di rumah teman, apa kau di hotel dengan kekasih pengecutmu?" Belinda geram.
"Apasih kau ini! Cepat katakan kenapa kau menghubungiku?" Tiffany marah karena merasa terganggu. Badannya sungguh lelah, dan lemas sehabis gencatan sejata dengan rudal milik Ben.
__ADS_1
"Papa drop lagi" jawab Belinda yang langsung mematikan panggilan teleponnya.
Tiffany pun langsung berdiri, lalu memunguti pakaiannya yang tercecer di mana-mana dan segera memakainnya. Meninggalkan Ben yang masih berada di kamar mandi.