Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Tamparan dan Penyesalan!!!


__ADS_3

Bellinda tiba di rumahnya lebih awal dari Ben. Entah kemana dulu pria itu sesudah puas bercinta di hotel tadi. Belinda tak mau ambil pusing. Dia menyiapkan baju tidurnya dan baju tidur milik Ben. Di hatinya walaupun dia benci dengan pria yang sekarang masih menjadi suaminya itu tetapi dia ingin menjalankan kewajibannya menjadi seorang istri yang baik.


Belinda pun masuk kedalam kamar mandi.


Skip


Suara mobil terdengar memasuki garasi, dia yakin itu mobil sang suami.


Belinda hanya acuh saja tak kala Ben memasuki rumahnya. Ben melihat wajah sang istri memakai masker. Hal itu baru dia lihat.


"Bella aku pulang" ucap Ben sembari menaruh kunci mobil itu.


"Aku tahu" jawab Belinda dingin.


"Bella aku lapar!" serunya.


"Lapar itu makan bukan curhat" seloroh Belinda.


"Aishhh kau ini sangat menyebalkan" Ben tersulut emosi kembali.


Belinda menghampirinya, dan mengambilkan nasi beserta lauknya.


"Cukup Bella itu telalu banyak" ucap Ben tak kala melihat Belinda mengambilkan nasinya banyak.


"Justru kalau sudah bercinta itu harus banyak makan Mas biar ada tenanga. Karena menghentak pinggul wanita itu lelah bukan?" ucap Belinda yang langsung mendapat tatapan terkejut dari sang suami.


"Bicara apa kau Bella?" Ben sangat gugup.


"Sudahlah Mas, jangan bohong. Pria jika sedang merasa jengah dengan istri pasti kan melampiaskan pada jal*ng" Belinda menyebut jal*ng pada Tiffany.


"Jaga bicaramu Belinda Zahrani. Aku tidak begitu" Ben mencoba membohongi Belinda.


"Oh ya?" Belinda membuka kerah baju Ben dengan paksa, dan mendapati tanda-tanda ikan ****** 🐠 disana. Bukan hanya satu tapi lima tanda itu.


"Ini apa Ben?" Belinda memandang Ben tajam seperti ujung pedang.


Ben gelagapan, suaranya seakan tercekat di tenggorokan.


"Apa kau pernah berfikir bahwa berzin* itu perbuatan yang sangat hina di mata Tuhan? Apa kau pernah berpikir dari perbuatan menjijikan itu bisa melahirkan penyakit? Oh atau alasan kau tak ingin menyentuhku karena sebenarnya kau sudah terkena penyakit? Gobl*k sekali kau Ben" ucap Belinda berapi-api.


Plakkkkkkkkk!!!!! Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Belinda. Seketika Ben terkejut mendapati dirinya tak terkontrol telah menampar pipi seorang wanita terlebih itu istrinya.


Ben menatap tangannya yang sudah menyakiti istrinya. Belinda diam sembari memegang pipinya yang panas, ada darah mengalir di sudut bibirnya dan cap tangan terpampang nyata di pipinya.


"Bella, Bella maafkan aku! Aku sungguh tak sengaja. Bella pipimu berdarah ayo aku obati" Ben menyentuh wajah sang istri dengan penyesalan membuncah.


Dia merutuki dirinya yang kasar pada Belinda.

__ADS_1


"Singkirkan tangan kotormu brengs*k! Seumur hidupku tak ada yang berani menyentuh pipiku apalagi mengasariku. Papaku saja menjagaku sepenuh jiwanya, bagaimana jika dia tahu putrinya di perlakukan seperti ini oleh suaminya. Kau jahat Ben. Kau seperti binatang. Ceraikan aku sekarang juga" Belinda berkata denga emosi dan air mata yang saling berbalas.


Ben tergugu di lantai, dia menyugar rambutnya dengan rasa putus asa. Rasa bersalah begelayut manja dalam hati sanubarinya. Dia bersimpuh di kaki Belinda, meminta maaf dan pengampunan atas tindakan bodohnya.


"Bella aku mohon ampuni aku sayang maaf" Ben menangis. Air mata kejantanannya benar-bebar luruh di kaki sang istri.


Belinda hanya diam tak bergeming.


"Ceraikan aku!" ucap Belinda sembari menahan desakan emosi dalam dadanya.


"Tidak! Aku tak akan menceraikanmu" ucap Ben sembari berdiri menghadap Belinda.


"Apa kau mau menyiksa batin anak orang hah? Pernikahan ini tidak salah, yang salah adalah orang yang menjalaninya. Kau bisa sepuasnya bercinta dengan kekasihmu lalu menikah dengannya sesuai apa yang kau inginkan!" ucap Belinda.


"Aku tidak akan menceraikanmu Bella. Bagaimana aku bisa lepas dengan seorang wanita yang selalu memperhatikanku dari hal yang terkecil sekalipun. Bella aku mohon berikan aku kesempatan ini tulus dari hatiku yang terdalam. Aku sudah mulai nyaman denganmu. Maafkan aku" Ben memohon dengan sangat.


"Tidak! Aku ingin mengakhiri ini semua. Pergi kau dari hadapanku" Belinda sangat muak, dia mengusir sang suami.


"Tidak! Aku akan tetap menjalani mahligai ini bersamamu Bella. Aku memang egois tapi aku tak bisa melepaskanmu. Kau boleh pukul aku, kau boleh menghukumku apapun bahkan jika kau mau ambilah nyawaku untuk menebus semua kesalahanku. Bella aku janji aku tidak akan kasar padamu lagi. Bella aku harus bagaimana supaya kau mau memaafkanku?" Ben sudah benar-benar kehilangan daya di hadapan sang istri.


"Tinggalkan jal*ng itu jika kau masih mau pernikahan ini berjalan dengsn semestinya. perlakukan aku sebagai istrimu yang sesungguhnya" Belinda akhirnya menurunkan sedikit emosinya.


Ben diam.


"Kau bahkan tidak mau kan?Baiklah malam ini ku pergi. Kita urus perceraian kita" Belinda hendak berbalik ke kamar untuk membawa baju-bajunya ke rumah orang tuanya.


Belinda tidak berbicara lagi, dia segera ke dapur mengambil kotak P3K untuk mengobati luka akibat tamparan Ben tadi. Ben mengikuti langkah sang istri dan segera mengambil kotak itu dari tangan Belinda.


"Biarkan aku yang mengobati lukamu" Ben langsung mengoleskan salp pereda rasa sakit di sudut bibir sang istri.


Bella hanya diam tak bergeming. Ben dengan lembut mengelus pipi sang istri.


Belinda beranjak dari duduknya dan langsung berjalan menuju kamarnya.


Dia langsung mengambil kunci mobilnya dan berlalu begitu saja dari hadapan sang suami.


Ben langsung mengejarnya.


"Mau kemana lagi kau Bella?" Ben meraih tangan sang istri.


"Bukan urusanmu" jawabnya.


Belinda hendak menaiki mobil nya, lalu Ben mencekalnya.


"Kalau kau ingin pergi, ayo pergi bersamaku. Ku takan membiarkan kau menyetir seorang diri" Ben lantas duduk di kursi kemudi lalu Belinda duduk di sampingnya.


Di sepanjang perjalanan, keduanya hanya diam. Hanya deru nafas keduanya yang saling bersahutan.

__ADS_1


"Bella kau mau kemana?" Ben memastikan sekali lagi.


"Rumah papa! Aku rindu dengan adik kecilku" jawabnya singkat.


"Maksudmu Tiffany?" tanya Ben.


"Ya siapa lagi" jawabnya.


"Bella sangat menyayangi Tiffany, tetapi cintanya di balas dengan air tuba. Mungkin saatnya aku belajar menerima pernikahan ini. Aku harus bicara dengan Fany agar kita mengakhiri hubungan ini"ucap Ben dalam hatinya.


Tibalah di depan rumah Dhanu. Belinda segera turun tanpa mengajak Ben terlebih dahulu.


"Papa aku rindu" Belinda segera menghampiri sang papa lalu memeluknya.


"Papa pun begitu" ucap Dhanu tapi matanya melihat ada luka di bibir sang anak.


"Bella, bibirmu luka nak!" Dhanu segera memeriksa luka itu.


Ben sudah gemetar, dia takut Belinda jujur bahwa luka itu hasil perbuatannya.


"Itu sariawan pa!" ucap Belinda.


"Benar ini hanya sariawan?" tanya Dhanu memastikan.


"Iya benar pa!" jawabnya.


Ben lega, pasalnya Beli da tidak mengatakan yang sebenarnya.


Tiffany pun menghampiri Keduanya.


"Kak tumben kemari?" tanyanya basa-basi.


"Ini rumah orang tuaku juga, aku berhak kemari kapan saja" Belinda menjawabnya dengan ketus.


"Aku hanya bertanya" ucapnya.


Lalu tatapannya beralih pada Ben.


"Hai kakak ipar! Senang bertemu denganmu" ucap Tiffany yang ingin memeluk Ben tetapi langsung di halangi Belinda.


"Mau apa kau Fany? Jaga batasanmu ini suami Kakak. Siapapun tak berhak menyentuhnya" Belinda semakin murka dengan sang adik.


"Aku hanya ingin dekat saja dengan kakak ipar. Itu saja tidak lebih. Kau posesif sekali" Tiffany merasa sebal.


"Aku hanya melindungi miliku saja, suamiku. Ya takut-takut ada lalat yang hinggap" ucap Bekinda sarkas.


"Kau lalatnya" Tiffany berkata sembari berlalu.

__ADS_1


Melihat kedua anaknya selalu ribut, Haruni langsung mengajak semuanya makan malam.


__ADS_2