
Satu hari, dua hari, sampai tiga hari, Belinda masih bisa menahan sebuah kerinduan pada Aldo. Tetapi malam ke empat entah hatinya merasa sangat gelisah.
Jauh dari sang suami yang kala setiap harinya selalu ada disampingnya, selalu memeluknya di atas ranjang, dan mengucapkan selamat pagi sayang kala membuka mata terbangun dari mimpi-mimpinya, sungguh sangat hampa.
"Ranjang di sebelahku kosong" gumamnya seraya menghembuskan nafas kasar ke udara.
Ia pun bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi.
Di kantor pun, Belinda sama sekali tidak selera mengerjakan file-file yang menumpuk. Saat dirinya sedang duduk termenung sembari menyesap kopi, Tiffany datang ke ruang kerjanya.
"Siang kak" sapa Tiffany.
"Fany, ada apa kemari?" tanya Belinda heran.
"Ini kak, tadi mama Elsa mengirimkan makanan ke rumahku, tetapi ini terlalu banyak, jadi aku kemari untuk membaginya padamu" jawab Tiffany sembari mendudukkan bokongnya pada kursi.
"Thank ya" Belinda segera membuka tempat makan itu.
"Bagaimana keadaan bayimu?" tanya Belinda sembari memasukan potongan ayam ke mulutnya.
"Aktif sekali. Apalagi ketika dady nya sedang menengok" ucap Tiffany sembari tertawa.
"Ukh dasar kau ini" balas Belinda.
"Kak, ini kerjaan semua?" tanya Tiffany menunjuk tumpukan map dan file di laptop sang kakak.
"Ya lah, apalagi. Mau gantiin bekerja? Silahkan dengan senang hati" ucap Belinda membuat Tiffany bergidik ngeri.
"Oh tidak ya! Mana ngerti aku urusan begini kak. Aku dilahirkan sebagai princes jadi aku tidak mau lelah kak" tolak Tiffany.
"Ckkk,, kau hanya lelah di ranjang melayani suamimu kan. Sudah mending kita pulang saja, aku juga sudah tidak selera bekerja. Mama kemarin menanyakan mu terus" ajak Belinda sembari meraih kunci mobilnya.
"Ayolah, gaskeun kita pulang" Tiffany pun berdiri mengikuti sang kakak.
"Bawa makanannya, nanti kita makan di rumah" ucap Belinda.
Di dalam mobil, wajah lesu Belinda masih terlihat.
"Aldo kapan pulang, kak?" tanya Tiffany.
"Dia bilang dua hari lagi. Tugasnya di Seoul sangat padat, dia pun jarang sekali menghubungiku" jawab Belinda.
"Aldo itu suami yang sangat baik padamu kak. Selain dia juga tampan dan kaya tentunya. Jarang sekali pria seperti Aldo di dunia ini" puji Tiffany.
"Memang!" balas Belinda jumawa.
Tak lama mobil yang Belinda kemudikan sudah sampai didepan rumah Dhanu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini Aldo sedang meeting dengan rekan kerjanya bernama Mr Liang Shi Leet. Aldo membicarakan soal kerjasamanya mengeskpor produknya untuk di pasarkan di Korea. Aldo sempat aneh karena pria paruh baya itu mengajak meeting di ruangan yang di penuhi dengan wanita seksi.
"Sorry, untuk apa anda menyertakan para wanita ini dalam meeting kita? Saya jauh-jauh dari Indonesia kemari ingin menjual produk saya bukan ingin melihat wanita-wanita cantik ini" sarkas Aldo.
"Tenanglah. Wanita-wanita ini sebagai alat untuk refreshing kita. Semacam aroma terapi begitu. Anda bisa menghirupnya, mencicip nya atau bahkan membungkusnya untuk one stand night selama disini" balas Mr Liang Shi Leet dengan senyum yang sangat membagongkan menurut Aldo.
"Bisa kita mulai saja meeting nya, tuan? Karena kita akan sangat memakan waktu!" ucap Aldo yang tak bisa menyembunyikan kekesalannya.
"Oke baiklah, baiklah" jawab pria itu.
Meeting pun akhirnya selesai, tampa banyak basa-basi, Aldo langsung meninggalkan tempat itu. Ia takut jika berlama-lama akan terus di toel-toel oleh gadis camilan yang berdiri rapih di tempat itu.
__ADS_1
"Sepertinya seluruh kerjaan ku selesai, aku bisa pulang besok!" gumamnya.
Aldo segera menghubungi sang istri.
"Hallo, sayang" sapa Belinda.
"Sayang, besok aku pulang. Jemput aku di bandara ya" perintah Aldo.
"Siap komandan. Cepatlah kembali, aku sudah terlalu rindu padamu. Kau tahu, sayang , ranjang ini hampa tanpa kau tiduri" keluh kesah Belinda.
"Sabarlah istriku. Mau dibawakan apa?" tanya Aldo.
"Aku hanya ingin suamiku cepat kembali" jawabnya sembari merengek.
"Besok kita akan bersama lagi sayangku" ucap Aldo dengan nada lembut.
Panggilan telepon itu pun berakhir, Belinda merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Tak sabar rasanya besok akan bersama dengan sang suami kembali.
Paginya Aldo sudah berkemas dan ia berangkat dari hotelnya menuju bandara.
Sementara Belinda sedang sarapan bersama Ben, Tiffany dan kedua orang tuanya.
"Ben kapan pulang, Bella?" tanya Ben yang sekarang sudah bersikap wajar.
"Hari ini" jawab Belinda.
"Aku akan menjemputnya di bandara" ucap Ben sembari mengoleskan selai cokelat keatas rotinya.
"Tak usah. Aku yang akan menjemputnya" balas Belinda.
Tak lama Ben pun berangkat ke kantor, menyisakan Tiffany dan Belinda yang masih sarapan, karena Dhanu dan Haruni sedang lari santai di taman komplek.
"Fany, sebaiknya kamu tinggal disini dulu sampai anakmu lahiran. Kalau di rumah Ben, siapa yang akan membantumu mengurus bayimu!" pinta Belinda.
"Jangan Elsa lah. Kasihan dia juga kan sedang hamil, pasti cepat lelah kalau membantumu mengurus bayi. Sedangkan disini kan ada papa, mama, Bik Asih, Bik Lilis yang akan membantumu" tutur Belinda.
"Ya, aku disini saja, kak" ucap Tiffany.
Sesudah sarapan, Belinda yang memang tidak bekerja hari ini karena akan menjemput Aldo, melangkahkan kakinya menuju tempat menonton Tv.
"Drama Korea, kak" ucap Tiffany.
"Itu ide bagus" Belinda segera mencari chanel yang menayangkan serial drama Korea.
Ketika sedang asik-asiknya menonton adegan romantis, sebuah breaking news tiba-tiba lewat di tv itu.
"Akh berita" ucap Tiffany kesal.
"Selamat pagi pemirsa. Kabar buruk sedang melanda dunia penerbangan Indonesia. Sebuah pesawat yang berangkat dari Seoul Korea Selatan menuju Jakarta mengalami kecelakaan. Pesawat meledak di udara dan jatuh ke laut. Seluruh penumpang dan kru berjumlah delapan puluh tiga orang semuanya di pastikan tewas. Berikut ini nama-nama penumpang yang tewas dalam tragedi ini.
1 : Justin Biler.
2: Kim Pan Tek.
3: Lorenzo.
4: Park Ajo Jing.
5: Bhe Lee Kan.
6: Stella Oregano.
__ADS_1
-------
45: Aldo Bambang S.
------
Aldo ada di urutan empat puluh lima nama korban.
Seketika Belinda dan Tiffany terdiam syok.
"Arghhhhhhhhhhh.. Aldo! Aldo tak mungkin itu Aldo. Tuhan, selamatkan suamiku. Arghhhhh Aldo" Belinda seketika menjerit-jerit.
"Tenang kak tenang. Kita belum menerima kabar dengan pasti, siapa tahu itu bukan Aldo. Tenang ya" Tiffany langsung memeluk Belinda agar tenang.
"Hikhikhik, mana bisa aku tenang, jelas-jelas nama Aldo ada dalam korban itu. Arghhhhh Aldo jangan tinggalkan aku Aldo" Belinda meraung-raung sampai membuat Dhanu dan Haruni berlari menghampirinya.
"Ada apa ini?" teriak Dhanu ikut panik.
"Aldo pa, Aldo.. Arghhhhhhhh" Belinda semakin kalut.
"Aldo kenapa?" kini Haruni semakin takut.
"Aldo meninggal dalam kecelakaan pesawat ma" kini Tiffany yang menjawab.
"Apa?"
"Apa, kecelakaan? Bicara yang benar Fany!" ucap Dhanu kalut.
"Benar pa. Baru Saja berita itu lewat" ucap Tiffany sekali lagi.
Dhanu langsung mengganti chanel tv ke chanel khusus berita, dan benar saja berita nya sangat ramai.
Seketika Dhanu lemas.
"Telepon Aldo, untuk memastikan. Jangan panik dulu" ucap Dhanu yang sebenarnya ia pun kalut.
Belinda meraih ponselnya dan langsung menghubungi Aldo, tetapi nihil. Panggilan itu tidak ada jawaban alias tidak aktif.
Belinda semakin ketakutan.
"Hubungi bu Hilda dan pak Djoko sekarang" peri tah Dhanu.
Tiffany yang langsung menelepon Hilda.
"Hallo" sapa Sarah.
"Hallo, kak Sarah ini Tiffany, adiknya Kak Bella" ucap Tiffany.
"Ya, ada apa Fany? Kak Bella nya kemana?" tanya sarah.
"Ada kak. Kak sekarang coba nyalakan tv. Cepat kak ini penting menyangkut Aldo" perintah Tiffany.
"Oke, sebentar" Sarah langsung menyalakan Tv.
Sesaat Sarah terdiam sembari menonton berita kecelakaan di tv. Tangannya langsung gemetar. Tubuhnya lemas bak tidak bertulang.
"Apa ini benar?" tanya Sarah dengan nada lemas.
"Hikhikhik.. Ya benar kak. Aldo sudah menjadi korban" jawab Tiffany sembari menangis
Seketika Sarah menjerit di ruang khusus para dokter.
__ADS_1
"TIDAKKKKKKKKKK.. Kak Aldooooooo" Sarah langsung jatuh pingsan. Hal itu mengagetkan seluruh rekan dokter di ruangan itu.