Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Belinda Kecelakaan


__ADS_3

Hari ini, Belinda tidak berangkat bekerja, karena rasa sakit sehabis percintaan yang maha dasyat itu sangat terasa dan tak memungkinkan untuk tampil di muka publik.


Entah kenapa dia sangat bahagia sekali bisa membuat Ben jatuh ke pelukannya.


"Tiffany kau kalah sayang" soraknya dalam hati.


Duduk bersantai sembari menyeruput hot cokelat menjadi hal yang di lakukan dirinya saat ini. Sesuatu telah dia genggam, satu butir pil penahan kehamilan agar mencegah benih Ben tertanam di rahimnya.


"Aku hanya tak ingin menyesal dan terikat seumur hidup dengan pria pembohong sepertimu Ben" ucapnya.


Belinda bukan tak ingin memiliki keturunan, hanya saja dia tidak ingin jika dia hamil dan Ben masih lekat dengan Tiffany, dia yakin yang akan menjadi korbannya adalah anaknya kelak.


Di kantornya Ben duduk di kursi kebesarannya. Hatinya sangat bahagia kala mengingat percintaan yang dia lakukan dengan Belinda sungguh sangat nikmat. Jauh lebih dari percintaannya dengan Tiffany.


"Aku kali pertamanya merasakan bercinta dengan wanita yang masih perawan dan itu istriku sendiri! Bella bahkan saat ini kejantananku berdenyut kala membayangkan mu saja. Benar-benar tiada lawan rasanya" gumam Ben.


Tiffany ketika pertama kali bercinta dengan Ben, dia sudah tidak perawan lagi. Ben menanyakan siapa yang pertama kali menyentuhnya, Tiffany jujur bahwa Dave sang mantan kekasihnya lah yang pertama kali menyentuhnya sewaktu masa kuliah dulu.


Tapi rasa bersalah pun membayanginya pada Tiffany, dia berinisiatif mengajak Tiffany untuk liburan ke raja ampat berdua dengan dalih pekerjaan.


Ben pun menghubungi Tiffany.


"Sayang, sedang apa?" tanya Ben.


"Aku sedang di salon sayang! Ada apa menghubungiku?" tanya Tiffany.


"Aku jemput sekarang! Salon biasa kan?" tanya Ben yang sudah hapal salon langganan sang istri.


"Yes baby" jawabnya manjalita.


Ben segera beranjak dari kursi dan menghampiri ruangan Aldo.


"Aldo, tolong bereskan pekerjaan saya! Saya ada pekerjaan di lapangan" Ben pun melenggang dari hadapan Aldo.


"Huuuuhhhh selalu saja tidak punya sikap tanggung jawab kau Ben" gerutu Aldo kesal


Kini Ben sudah sampai di depan salon tempat Tiffany menyulap wajahnya.


"Sayang!" cup! Satu kecupan mendarat di pipi Tiffany.


"Sayang bikin kaget saja. Ayo kita pergi sekarang!" ucap Tiffany.


"Dengan senang hati cintaku" Ben beranjak menggandeng tangan Tiffany.


Sesudah membayar salon itu, Tiffany pergi dengan Ben.


Malam pun hadir, Belinda pun khawatir karena sang suami belum juga pulang.


Dia pun menelepon Aldo yang masih berkutat dengan segudang pekerjaan.


"Hallo Bella!" sapa Aldo di ujung panggilan telepon.


"Hallo Aldo! Apa Ben masih bekerja di kantor?" tanya Belinda.


"Oh tidak Bella! Dari siang Pak Ben sudah pergi. Apa dia belum pulang?" tanya Aldo memastikan.


"Ben belum pulang, aku sangat khawatir Aldo!" ucapnya.


Jlebbb, ada rasa nyeri di ulu hati Aldo mendengar Belinda sangat mengkhawatirkan Ben.


"Kau telepon saja Bella" Aldo berkata singkat untuk menutupi rasa sakit hatinya.


"Kau dulu yang telepon dia, karena hanya denganmu dia bisa jujur" ucap Belinda lirih.


"Baiklah" Aldo pun menelepon Ben, tepatnya melakukan Video Call.


Panggilan itu lama di angkatnya, Aldo pun tidak menyerah untuk terus menghubungi Ben dan akhirnya di angkat.


Terlihat Ben yang sedang bergelung dengan selimut bersama Tiffany tentunya.

__ADS_1


"Kenapa Aldo?" tanya Ben dengan suara paraunya khas bangun tidur.


"Anda dimana Pak? dan sedang apa?" selidik Aldo.


"Aku sedang di Star Hotel. Aldo kau bukan anak kecil lagi kenapa harus bertanya saya sedang apa? Kau pun pasti mengerti" ucap Ben.


"Baik Pak maaf mengganggu" Aldo segera mematikan panggilan itu.


"Dasar bajingan tengik. Istri di rumah cemas, kau malah asik-asiknya bercinta. Akan ku adukan pada Bella" ucap Aldo kesal.


Aldo emang cepu!!!🤣🤣🤣


Dia pun menelepon Belinda kembali.


"Apa sudah tahu dimana suamiku?" tanya Belinda.


"Sudah!" jawab Aldo santai.


Aldo kemudian mengirimkan SC gambar yang dia dapatkan sewaktu sedang Video Call dengan Aldo.


"Buka poto yang aku kirimkan" ucap Aldo kemudian langsung mematikan sambungan Teleponnya.


Belinda langsung melihatnya, dan alangkah terperanjat dirinya mengetahui Ben yang sedari tadi di cemaskan sedang bergelung selimut dengan seorang wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Tiffany.


"Anj*** kalian! Ben kau sangat bejat aku sudah tidak tahan lagi. Aku akan akhiri sekarang dan bilang pada papa, siapa kalian yang sebenarnya" Badan Belinda bergetar menahan Amarah yang membuncah.


"Sekali binatang tetap binatang! Semalam kau bermain dengan ku dan siang kau memakai adiku. Dan kamu Tiffany, awas kamu sudah melakukan hal yang begitu keji terhadapku. Wanita jal*ng! Kau bukan lagi adiku sekarang. Haram jadah aku harus menganggap lagi kau saudaraku" Belinda pun langsung mengambil kunci mobilnya dan beranjak dari rumah itu menuju rumah kedua orang tuanya.


Di dalam mobil, dia menangis sejadinya merutuki kebodohannya untuk selalu bertahan dengan pernikahan mengerikan ini.


"Akan ku akhiri sekarang kau Ben! Kalian hina kalian jahat padaku" ucapnya sembari mengumpat.


Saat itu pikirannya benar-benar kacau sampai dia tak sadar mengemudikan mobilnya di jalan lawan arah. Sebuah truk bermuatan batu sedang melaju dengan kencang-kencangnya dan kecelakaan itu pun tak bisa terelakan lagi.


"Arghhhhhhhhhhhh" Belinda seketika menjerit kala mobilnya di hantam truk yang bermuatan berat itu. Mobilnya seketika hancur karena bagian belakang mobilnya tertimpa ratusan batu besar yang tumpah dari badan truk itu.


Belinda pun langsung tersungkur tak sadarkan diri dengan kepala bersimbah darah.


Prangggggg!!!!


"Arggghhhhh" Haruni terkaget ketika gelas yang ada di meja tiba-tiba pecah berkeping-keping.


"Mama kenapa?" tanya Dhanu heran.


"Tak tahu pa, tiba-tiba gelas pecah dengan sendirinya. Perasaan mama jadi tidak enak pa. Hati mama jadi was-was" Haruni merasakan pirasat yang sangat tidak enak.


Hal sama pun di rasakan oleh Aldo. Selepas melakukan panggilan dengan Belinda perasannya jadi was-was tidak karuan. Aldo pun memutuskan pulang dari kantor.


Sementara Tiffany dengan Ben sedang di balut gairah asmara. Sisa percintaannya masih terasa lelah, Tiffany kemudian mengambil buah dan mengupaskan untul Ben. Saat pisan hendak mengupas kulit apel, tiba-tiba mengenai jari Tiffany.


"Aduhhhhh" ucap Tiffany terpekik kesakitan.


"Sayang kamu kenapa?" Ben khawatir.


"Jariku teriris" ucapnya manja.


Ben segera menghampiri Tiffany dan menyedot darahnya agar tak banyak yang keluar.


Di sepanjang perjalanan pulang, Aldo semakin di liputi kegelisahan sampai dia prustasi karena di jalan terjadi kemacetan. Aldo lantas membuka jendela mobilnya dan menanyakan kenapa bisa macet ke orang-orang yang lewat di jalan. Di depan terdengar bunyi ambulan dan orang-orang riuh berteriak.


"Kecelakaan, kecelakaan" teriak orang-orang.


"Pak maaf boleh saya bertanya, ada apa ya di depan sana?" tanya Aldo pada orang yang lewat.


"Ada kecelakaan parah Bang! Tabrakan dengan truk yang membawa batu, alhasil batunya menimpa mobil Mercedes itu. Katanya sih cewek yang pakai mobil itu. Ngeri Bang mobilnya sampai hancur, kagak tau dah yang di dalam gimana nasibnya" ucap pria tadi.


"Yasudah bang terimakasih" ucap Aldo.


Hatinya di liputi kegamangan yang luar biasa.

__ADS_1


"Mercedes dan wanita" ucapnya lirih.


Jalanpun padat merayap, mobil Aldo sudah mendekati TKP kecelakaan. Aldo memandang mobil yang hancur tertimpa batu itu! Matanya melirik arah plat no itu dan alangkah terkejutnya bahwa no plat itu adalah no plat mobil Belinda.


"Arghhhhh Bella" Aldo segera beranjak keluar mobil dan berlari menuju mobil hancur itu.


"Bella, bertahanlah" Aldo semakin dekat dengan hancurnya mobil itu.


Saat akan meraih gagang pintu, dirinya di cegah oleh polisi.


"Mau apa anda?" tanya Polisi.


"Pak dia sahabat saya pak!" Aldo sudah merangsek ingin menolong Belinda yang ada di dalam.


Seketika ambilance datang dan langsung di persilahkan membuka mobil itu dan mengambil tubuh Belinda.


Aldo melihat tubuh Belinda berlumuran darah sangat memperihatinkan..


"Huhuhu~~ Bella, Bella bertahanlah. Bella" Aldo menangis tergugu di atas tanah.


"Sebaiknya anda ikut dengan mobil ambulance untuk mengantar dan segera kabari keluarga korban" polisi itu segera mengambil ponsel dan dompet Belinda sebagai barang bukti.


Belinda terkulai lemah di atas brangkar, Aldo mengikutinya masuk kedalam Ambulance.


Aldo beraba denyut nadinya, Sangat lemah.


"Bella sayang bertahanlah" Aldo terus menangis.


Dia pun segera menelepon Ben.


"Hallo Aldo" ucap Ben.


"Belinda kecelakaan kondisinya sangat mempererihatinkan" Aldo mengatakan itu dengan mulut gemetar.


"Arggggghhh Bella!!!" Ben memekik terkejut.


"Di bawa kemana sekarang Bella?" tanya Ben kembali.


"Rumasakit Bakti Insani. Anda cepat kemari" Ucap Aldo.


Panggilan pun di tutup.


Ben langsung mentakan pada Tiffany bahwa sang kakak kecelakaan parah. Seketika Tiffany mematung dan gelas yang di bawanya langsung terjatuh..


"Apa? Aho Ben kita ke rumasakit sekarang! Hikhilhik, Kak Bella" Tiffany menangis.


Dia kemudian menghubungi Haruni sang mama.


"Hallo ma! Kak Bella kecelakaan" Tiffany berkata dengan suara bergetar.


"Apa, kecelakaan? Dimana sekarang kakakmu dimana? Huhuhuhu" Seketika tangis haruni pecah.


"Cepat mama datang ke rumasakit Bakti Insani sekarang" Tiffany segera mematikan panggilan itu.


Haruni tergugu di lantai. Badannya lemas seketika. Jadi benar pirasatnya sekarang terjadi.


"Arghhhhhhh Bella" Haruni histeris.


Dhanu pun bingung apa yang terjadi pada sang istri.


"Mama kenapa ma?" tanya Dhanu.


"Bella pa Bella kecelakaan" Ucap Haruni dengan tangisnya.


"Ya Tuhan Bella~~ huhuhuhi" Dhanu langsung menangis.


"Ayo cepat pa, kita ke rumasakit sekarang.


Mereka pun kerumasakit menemui Belinda.

__ADS_1


Ceritanya di revisi kembali karena banyak yang Typo...


__ADS_2