
"Sayang, aku kemarin melihat kekasih Andreas sedang di mall dengan beberapa polwan" ucap Aldo sembari menyesap kopi kapal fire.
"Rieta, maksudnya? Akh aku kangen sama dia, terakhir komunikasi dulu ketika di Vila" balas Belinda.
"Ia Rieta. Aku menyapanya. Sempat mengobrol sebentar sih. Dia bilang sebentar lagi akan menikah dengan Andreas!" ucap Aldo.
"Wah Andreas sebentar lagi akan jadi manten. Sayang, kamu tahu, Rieta itu punya ilmu kebal loh. Dia juga indigo dan jago bela diri" ucap Belinda.
"Hebat juga dia ya. Andreas kebanting dong. Judulnya bukan pria pelindung wanita, tetapi wanita pelindung pria" Aldo berkata sembari tertawa.
Sesudah mengatakan itu, Andreas menghubungi Belinda.
"Panjang umur tuh orang" ucap Belinda sembari mengangkat panggilan telepon dari Andreas.
"Hallo Ndre" sapa Belinda.
"Hikhikhik.. Bella lihat gue" Andreas mengajak Video Call.
"Astaga, Ndre, loe dimana itu?" tanya Belinda melihat heran karena saat ini Andreas sedang di kubur badannya hingga ke leher. Yang terlihat hanya kepalanya saja.
"Gue di kampung Rieta! Ini ulah bapaknya. Gue harus jantan dulu katanya supaya bisa nikahi dia" jawab Andreas.
"Ya aampun Ndre, loe kaya jenazah yang tidak di terima bumi, tahu" Belinda tertawa ngakak.
"Sialan loe Bella. Gue di pendem tanah udah 4 jam begini. Kemarin berendam di kolam seharian, kemarinnya lagi kaki gue di gantung, kepala di bawah. Bapaknya Rieta ternyata guru silat. Orang terpandang. Gue kemari sendiri, ekh ternyata berakhir begini. Jiwa woman gue meronta Bella" Andreas menangis.
"Sudah jangan menangis. Pria harus kuat. Jika kamu tidak bisa melaksanakan syarat itu, jauhi anak saya!" ucap suara tegas dari balik video call itu. Terlihat juga sosok pria tinggi besar dengan kumis yang tebal. Sosok itu ternyata ayah Rieta.
"Pak, haus" rengek Andreas.
"Nih minum" Ia memberikan satu butir kelapa pada Andreas lalu pergi.
"Itu siapa Ndre?" tanya Belinda.
"Bapaknya, yayang gue" jawab Andreas.
"Pantesan modelannya juga begitu. Aku sih sudah menyerah duluan" ucap Aldo sembari tertawa.
"Untung papa, baik ya" ucap Belinda pada Aldo.
"Tapi dia baik banget aslinya apalagi mama nya. Dulu pernah gue tolong waktu operasi mata katarak. Dia ingat terus sama gue, dan dia seneng kalau gue pacarnya Rieta" ucap Andreas.
"Yasudah sih, nikmatin aja prosesnya. Semoga loe jadi cowok gagah" ucap Belinda.
Panggilan itu pun di matikan. Kini Belinda merasa tubuhnya lemas dan pusing. Aldo pun melihat bahwa wajah sang istri terlihat lesu dan pucat.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan? Wajahmu pucat begitu?" tanya Aldo.
"Entahlah sudah satu minggu ini aku lemas dan pusing. Mungkin aku kecapean saja" jawab Belinda.
"Yasudah kalau begitu, aku mandi dulu ya" Aldo beranjak dari atas ranjang menuju kamar mandi.
Cklekk... Aldo membuka pintu kamar mandi karena sudah selesai, terlihat Belinda masih bergelung selimut.
"Sayang, ayo mandi!" ucap Aldo sembari menyingkap selimut itu.
Tiba-tiba Belinda meraskaan mual yang sangat luar bisa.
"Hueekkkk!!!" Belinda segera berlari ke kamar mandi. Ia langsung menumpahkan isi perutnya di closed.
"Awwwhh,, kenapa mual sekali!" ucap Belinda.
"Aldo langsung menghampiri Belinda.
" Sayang, udah enakkan?" tanya Aldo sembari memijit tengkuk Belinda.
Belinda pun semakin mual mencium bau Parfum Aldo.
__ADS_1
"Awas ikh, kamu bau sekali sih" ucap Belinda sembari memencet hidungnya.
"Bau apa sih sayang? Aku sudah mandi loh!" jawab Aldo.
"Badanmu bau sekali. Kamu pakai sabun dan parfum yang kadaluarsa ya?" Belinda semakin tidak tahan dekat-dekat dengan Aldo.
"Parfum dan sabun seperti biasa kok" jawab Aldo lagi semakin bingung.
"Ganti bajumu sekarang, argghh aku tak kuat bau sekali" ucap Belinda.
Aldo pun langsung membuka bajunya mengganti tanpa memakai parfum yang biasanya.
"Sayang, aku sudah ganti!" ucap Aldo.
"Eummzzz wangi sekali. Sayang, aku boleh cium ketek kamu? Please sebentar saja!" Belinda langsung membuka kancing Aldo, lalu dirinya mengangkat tangan Aldo dan mencium ketiaknya.
"Hmmmm, wangi sekali. Ini wangi, ini wangi" ucap Belinda.
"Tidak seperti biasanya, Bella bertingkah aneh" gumam Aldo.
"Sudah cium ketiakku?" tanya Aldo gemas.
"Sudah sayang! Terimakasih sangat wangi sekali" ucap Belinda sembari mengancingkan kembali baju Aldo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini Tiffany sedang kontraksi. Ketubannya terus keluar dan ia merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.
"Arghhhhh,, sakit!" teriak Tiffany.
"Fany, tenang jangan teriak-teriak begitu. Tarik nafas pelan-pelan" saat ini Belinda yang menemani Tiffany di ruang bersalin.
"Sakit sekali, Kak Bella.. Hikikhik" Tiffany terus saja memegangi tangan Belinda dengan keras.
"Awwwwhh, Fany kamu mencakar kakak" Belinda mengaduh.
"Maaf kak, tapi ini sakit sekali. Perutku terasa terbelah" ucap Tiffany.
"Maaf, tolong panggilkan suaminya, nyonya" perintah sang dokter pada Belinda.
"Baiklah dok" Belinda keluar memanggil Ben.
"Ben, kamu di panggil dokter!" ucap Tiffany.
"Aku takut Bella. Kamu saja temani Tiffany" perintah Ben yang sudah lemas.
"Gimana sih kamu Ben. Cepat sana masuk" Belinda mendorong tubuh Ben dengan paksa.
Di dalam ruang bersalin, Tiffany meronta, lalu Ben langsung menghampiri Tiffany.
"Sayang!" ucap Ben.
"Arghhhhh, sakit" Tiffany berkata sembari me jambak rambut Ben.
"Dokter saya ingin mengejan" Tiffany lalu membukakan kakinya lebar-lebar.
"Tarik nafas, dorong pelan-pelan ya nyonya. Terus seperti itu. Jangan mengejan jika tidak ingin" ucap sang dokter.
Tiffany terus meronta, dan tiba-tiba Ben pingsan karena merasa mual dan pusing kala melihat dar@h yang banyak dari inti sang istri.
Brukkk!!!! Ben tersungkur.
"Tolong, tolong, cepat bawa suami nyonya ini" ucap Dokter pada perawat.
Ben pun di boyong keluar dari ruangan itu. Hal itu membuat semuanya yang sedang menunggu Tiffany merasa heran.
"Ben kenapa pingsan?" tanya Aldo heran.
__ADS_1
"Bapak ini mungkin syok!" ucap salah satu perawat.
Semua orang tertawa melihat Ben yang pingsan karena melihat Tiffany melahirkan.
Tak lama bayi itu pun lahir dengan selamat.
"Selamat bayi anda laki-laki. Beratnya 3,2 kg. Sehat dan sempurna" ucap dokter itu pada Tiffany.
Tiffany langsung memangku bayi merah itu.
"Nak, ini mami, sayang. Kamu sangat tampan. Ayo belajar menyusu" Tiffany memberikan dadanya pada sang buah hati.
"Selamat ya Fany" ucap Belinda haru.
"Maaf, sebaiknya bayi segera di adzani!" pinta sang dokter.
"Bagaimana ini, Ben masih pingsan!" ucap Haruni.
"Papa juga sedang di kantor!" timpal Belinda.
"Aku saja yang mengadzani" Aldo langsung meraih bayi itu lalu mengadzaninya.
"Terimakasih kaka Aldo" ucap Tiffany.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara kondisi Bella semakin lemas karena dia tidak selera makan. Ia selalu mual dan muntah apalagi di pagi hari. Aldo semakin curiga kalau sang istri sedang hamil.
"Bella, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang. Kondisimu semakin mengkhawatirkan" ucap Aldo.
"Aku tak apa-apa kok sayang" jawab Belinda.
"Coba kamu testpack, aku curiga kamu sedang hamil" ucap Aldo.
"Kemarin aku sudah membelinya, aku pun curiga tetapi belum ku coba takut hasilnya alan mengecewakan" balas Belinda.
"Coba saja dulu" perintah Aldo.
Belinda pun berlari ke kamar mandi sembari membawa testpack itu.
Sesudah lama menunggu, binar bahagia dan haru terpancar di wajahnya. Sebuah garis dua terpampang nyata disana.
"Aku hamil? Ya Allah, aku hamil" Belinda menangis dan langsung keluar dari kamar mandi memeluk Aldo.
"Sayang! Kita sebentar lagi akan jadi orang tua" Belinda menangis di pelukan Aldo.
Aldo, langsung meraih testpack itu, ia langsung menangis haru.
"Ini nyata? Aku, aku akan jadi seorang ayah" Aldo mengeratkan pelukannya pada Belinda.
"Ini tidak mimpi sayang!" balas Belinda.
"Ayo kita ke dokter" Aldo langsung membawa Belinda ke dokter kandungan.
...
"Bapak bisa melihat bahwa di dalam rahim istri anda terdapat dua kantung janin" ucap Dokter itu.
"Dua kantung janin? Maksudnya apa dokter?" tanya Aldo yang tidak mengerti.
"Artinya, janin yang sedang di kandung istri anda itu nanti akan menjadi bayi kembar" jawab Dokter.
"Alhamdulillah, dok saya akan punya anak kembar" ucap Aldo bahagia.
"Puji syukur, tetapi saya tidak punya keturunan kembar dok. Lantas bagaimana bisa begitu" tanya Belinda.
"Aku sebenarnya dulu terlahir kembar, tetapi kembaranku yang bernama Alda meninggal waktu umur sembilan hari" ucap Aldo.
__ADS_1
" Ternyata dari suami gen nya. Untuk kehamilan kembar, tolong di jaga betul-betul ya. Tidak ada pantangan soal makan, tetapi tolong aktivitas ranjang jangan terlalu sering ya Pak karena trimester pertama memang rawan" tutur dokter.
"Baiklah dok" ucap keduanya.