
Untuk para readers setiaku, maaf ya jika up nya kadang sedikit telat, karena author menulis novelnya tidak hanya di NT saja tapi di platform lain juga. Kadang suka puyeng kalau readers keduanya minta up secara bersamaan berasa poligami...
Happy reading.....😍
...****************...
Karena semalam Aldo tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Haruni mengenai keberadaan Belinda, pagi ini dia ke kantor Dhanu ingin menemui Victoria. Aldo yakin jika aspri Belinda pasti tahu keberadaannya saat ini.
"Maaf sebelumnya apa anda sudah membuat janji terlebih dahulu dengan Bu Victoria?" tanya resepsionis.
"Hmmm, belum mbak! Tapi tolong bilang jika ada seseorang yang sedang menunggu di loby" jawab Aldo.
"Atas nama siapa, maaf?" tanya resepsionis itu yang bernama Tya.
"Bilang saja Aldo" jawabnya.
Resepsionis itu langsung menghubungi Victoria.
"Suruh dia tunggu" ucap Victoria.
Tak lama Victoria pun menemui Aldo.
"Maaf anda cari saya?" tanya Victoria.
Aldo pun langsung melihat Victoria.
"Ganteng banget sumpah" ucap Victoria dalam hati.
"Ya benar! Saya to the point saja, maaf sebelumnya sudah mengganggu waktu kerja anda. Tetapi saya ingin tanyakan perihal keberadaan Bella. Tak mungkin jika nona tidak mengetahui keberadaan atasan anda. tolong beritahu saya dimana Bella sekarang" ucap Aldo memohon.
"Maaf, anda siapanya Bu Bella?" Victoria heran.
"Saya temannya Bella" jawab Aldo mantap.
"Tapi maaf ya Pak, saya tidak dapat memberitahukan dimana keberadaan Bu Bella. Itu permintaan dari beliau" Victoria mengatakan dengan berat hati.
"Please nona! Katakan pada saya. Atau saya harus bersujud di kaki nona, agar anda bisa memberitahu keberadaan Bella pada saya" Aldo saat itu memohon sembari menitikan air mata.
"Gue gak kuat, gue meleleh, gue rapuh lihat pria tampan menangis. Oh mas tampan sini aku peluk" ucap Victoria tentu dalam hatinya. Jiwa jomblonya meronta-ronta.
"Apalagi melihat tubuhnya yang kekar begitu. Duh Tuhan, rahimku bergetar. Pasti benda keramatnya panjang dan berurat" Seketika pikiran kotor Victoria bekerja.
"Begini saja Pak, saya akan mencoba menghubungi Bu Bella dahulu untuk menanyakan apakah boleh saya memberitahu alamatnya saat ini pada anda" Victoria pun langsung menghubungi Belinda.
"Hallo Victo!" sapa Belinda.
"Hallo Bu Bella! Ini Bu saya kedatangan seseorang di perusahaan atas nama Bapak Aldo, beliau menanyakan keberadaan anda, apakah boleh saya memberitahukannya?" tanya Victoria.
Tiba-tiba Aldo merebut ponsel Victoria.
"Jangan Victo, Aldo tidak boleh tahu kalau saya ada di Jepang" ucap Belinda yang sudah di dengar oleh Aldo.
__ADS_1
Lalu Aldo memberikan ponselnya kembali pada Victo sembari memberi kode tutup mulut.
"Baiklah Bu" Victoria lalu menutup panggilan telepon itu.
"Pak kenapa anda lancang sekali merebut ponsel saya?" Victoria menjadi sebal pada pria tampan di hadapannya.
"Karena kamu pelit" jawab Aldo.
Victoria mencebik kesal.
"Terimaksih ya! Kapan-kapan saya akan telaktir kamu makan" ucap Aldo sembari melangkah pergi dari hadapan Victoria.
Victoria pun kesal sembari menghentak-hentakan kakinya kelantai.
"Bagaimana kalau Bu Bella tahu? Arghhhhh dasar tuan pemaksa! Mentang-mentang tampan" umpatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini Aldo sedang mengurus semua dokumen keberangkatannya ke Jepang.
Tekadnya sudah bulat, dia ingin menyusul Belinda dan membawanya pulang. Aldo juga ingin mengutarakan seluruh isi hatinya pada Belinda. Rasa cintanya harus dia utarakan sekarang karena sudah tak tahan memendamnya sekian lama. Persetan jika Belinda menolaknya makan Aldo pun akan semakin giat memperjuangkan perasaanya pada Bella.
"Pak Panji, saya akan berangkat ke Jepang besok! Tolong laporkan seluruh kegiatan melalui e-mail pada saya" ucap Aldo pada asprinya sekarang,
Panji menjadi aspri Aldo, sebelumnya dia adalah asprinya Djoko sambodo sang paman.
"Baik Pak, siap laksanakan" ucap Panji.
"Tapi Pak, hari ini kita ada meeting dengan PT Losdol Makmur, Saya tentunya tidak bisa mewakilkan pada siapapun harus anda yang meeting" ucap Panji.
"Baiklah" jawabnya pada Panji.
Sebenarnya tidak ada yang lebih penting dari hidup Aldo melainkan hanya tentang Belinda seorang, tetapi jika dia tidak serius dalam menjalankan perusahannya tidak mungkin juga Belinda mau pada pria yang tidak bekerja.
Ben dan Listyo saat ini sudah datang diruangan meeting perusahaan Aldo.
"Maaf semuanya, CEO dari PT Bromo Baja sedikit terlambat karena mungkin ada hal yang harus dia selesaikan" ucap Panji dengan segala hormat.
Ben pun sedikit kesal dengan keterlambatan ini. Aldo sebenarnya tidak kemana-mana, dia hanya diam sembari memandangi poto Belinda di dalam ruang kerjanya.
"Rasanya aku tidak sabar ingin segera menemuimu love birds" gumamnya.
Aldo pun kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan meeting.
"Selamat siang semuanya! Maaf saya sedikit telat" ucap Aldo yang membuat Listyo dan Ben terperanjat.
"Aldo"
"Aldo" ucap keduanya.
"Selamat siang Pak Ben dan Om Tyo! Senang sekali bisa bertemu dengan kalian. Bagaimana kabarnya?" tanya Aldo sembari menjabat tangan Ben dan Listyo.
__ADS_1
"Tunggu, tunggu! Jelaskan pada om kenapa kamu bisa menjadi CEO diperusahaan Pak Djoko Sambodo?" tanya Listyo.
"Ceritanya panjang om, lebih baik kita bahas dahulu soal pekerjaan" jawab Aldo.
"Baiklah" ucap Listyo.
"Oke, jadi bagaimana dengan tawaran harga yang perusahaan kami tawarkan Aldo eh maaf Pak Aldo?" tanya Ben gugup.
"Tak usah terlalu kaku Pak! Panggil nama saja seperti biasa. Untuk harga yang sudah di tawarkan dengan nominal yang sudah tertulis, kami akan memberikan barang kualitas no dua karena kami juga harus mempertimbangkan bahan dan harga produksi. Lagi pula barang yang akan digunakan untuk membangun perumahan rakyat jadi cukup baik dengan kualitas itu. Atau barang dengan kualitas no tiga, harga bisa turun lagi?" tutur Aldo.
"Apa dengan harga kualitas no tiga bisa dapat barang kualitas no dua? Ya itung-itung harga teman lah" bujuk Ben.
"Maaf Pak, tapi kita bukan teman" jawab Aldo yang membuat Listyo tertawa terpingkal-pingkal dan Ben menjadi kesal.
"Baiklah-baiklah, kita deal dengan barang kualitas no dua saja" ucap Ben.
Meeting pun disudahi, tetapi Ben, Listyo dan aspri Ben yang bernama Elsa belum pulang.
"Om menangih penjelasan!" seru Listyo.
"Baiklah om, saya akan ceritakan.................................." Aldo menceritana semuanya dari A-Z yang sebenarnya.
Listyo menangis mendengar apa yang Aldo ceritakan mengenai janji Aldo pada sang ayah untuk mengabdi pada Ben.
"Ajisaka seharusnya kamu tidak perlu begitu" Listyo menangis haru.
Pantas saja Aldo selalu bertahan menjadi aspri Ben walau Ben bertingkah kadang menyebalkan dan seenaknya.
"Karena anda sudah menikah, jadi tuntaslah tugas saya untuk mengabdi, kini saatnya saya mengambil tugas paman Djoko untuk memimpin perusahaan ayah saya" ucap Aldo.
"Terimakasih Aldo, kamu sudah banyak sekali membantu saya selama hampir sebelas tahun ini. Dan saya tidak menyangka ternyata kamu seorang yang sangat rich" ucap Ben tak menyangka.
"Saya masih Aldo yang dulu Pak" jawab Aldo masih rendah hati.
"Jangan sungkan pada om ya Aldo" Listyo memeluk Aldo yang sudah dianggap seperti anak sendiri itu.
"Pasti om! Oh ya apa nona ini aspri baru anda?" tanya Aldo sembari melihat kearah Elsa.
"Iya itu aspri baru saya namamya Elsa Renata" jawab Ben.
Elsa pun tersenyum.
Aldo melirik Elsa dan suka dengan cara berpakaian Elsa yang tertutup rapi.
"Gayanya seperti Bella yang tertutup tetapi rapi, dan tatanan rambutnya pun bagus. Pantesan dia milih Elsa" ucapnya dalam hati.
"Kamu kan sudah cukup umur untuk menikah Aldo, apa sekarang sudah ada wanita yang kamu tunggu?" tanya Listyo.
"Sudah om! Dan saya akan segera melamar dia kalau dia berkenan" jawab Aldo mantap.
"Siapa gadis itu? Om akan sangat senang sekali bisa mendampingimu dihari bahagia itu!" ucap Listyo.
__ADS_1
"Wanita itu adalah Belinda Zahrani" jawab Aldo dengan lantang.
"Apa?" seketika mata Ben melotot dan mulut ternganga.