Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Pernikahan dan Pengacau


__ADS_3

Belinda duduk di depan cermin seraya memindai dirinya yang cantik dengan balutan gaun indah pernikahannya. Rasa bahagia terpancar jelas kala sebentar lagi menjadi nyonya dari pria yang bernama Aldo Bambang S.


Saat sedang memandang lekat dirinya, tiba-tiba seseorang datang menyelinap kedalam kamarnya.


"Cup!" sebuah ciuman curian.


"Sayang, kenapa bisa ada di sini?" tanya Belinda pada Aldo.


Ya itu Aldo yang sengaja menyelinap karena tidak tahan ingin bertemu calon istrinya.


"Keluar sana, nanti kalau orang tahu bagaimana?" ucap Belinda gemas dengan tingkah laku Aldo.


"Yanx, sudah tak tahan" rengek Aldo sembari menuntun tangan Belinda menyentuh selah pahanya yang sudah mengeras.


"Nakal deh kamu" ucap Belinda sembari tersenyum.


"Lama sekali sih acara ijabnya!" cebik Aldo dengan bibir merengut.


"Sabar lah nanti juga kita sah. Yasudah sana kembali lagi nanti keluargamu nyariin" Belinda mendorong pelan tubuh Aldo.


Aldo pun keluar ruangan itu dan langsung bergabung dengan keluarganya.


Acara akad pun dimulai. Kini Belinda dan Aldo telah duduk bersanding untuk mengucap sumpah sehidup semati di hadapan penghulu.


"Sudah siap?" tanya penghulu.


"Sudah!" jawab Aldo mantap.


Akad nikah pun berlangsung dengan satu tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu.


"Sah"


"Sah"


"Sah"


ucap semua hadirin yang menjadi saksi.


Aldo bahkan menitikkan air mata. Perjuangan selama ini untuk memiliki Belinda akhirnya terbayar sudah. Sekarang dirinya sudah resmi memiliki apapun yang ada dalam diri Belinda.


"Sayang, aku akan selalu membahagiakanmu" Aldo mencium kening Belinda.


Belinda pun mencium tangan Aldo.


Mieke menangis haru. Keinginannya melihat sang keponakan menikah akhirnya terwujud juga. Begitupun dengan Hilda. Wanita tua itu beberapa kali menyeka air matanya karena sangat bahagia melihat anak yang dulu ia sia-siakan kini sudah menjadi seorang suami.


"Semoga rumah tangga kalian langgeng" ucap Dhanu sembari menyeka air matanya lalu memeluk Belinda dan Aldo.


"Jaga Bella untuk papa ya" ucap Dhanu lagi sembari menepuk-nepuk,,, bahu kekar Aldo.


"Pasti pa. saya akan menjaga Bella sepenuh hati. Saya berjanji pada papa" jawab Aldo.


"Bella, nurut lah sama suamimu. Jadilah istri yang baik" Dhanu memeluk sang putri sekali lagi.


Kini giliran Tiffany menghampiri Belinda.


"Selamat ya kak. Semoga pernikahanmu langgeng" Tiffany memeluk sang kakak.


"Terimakasih Fany" ucap Belinda.


"Selamat ya untuk kalian berdua" ucap Ben menyalami Aldo dan Belinda.


Tetapi ada pemandangan aneh kala Ben lewat didepan Belinda.


"Bella, aku harap kamu menepati janjimu setelah ini" bisik Ben yang tidak di ketahui oleh Aldo.


"Janji apa? Aku tak pernah berjanji apapun padamu" balas Belinda kesal.


"Aku yakin kamu tidak pikun sayang" ucap Ben kemudian melenggang pergi.

__ADS_1


Aldo tak curiga sedikitpun dengan Ben. Tetapi tak bisa di pungkiri bahwa sekarang Belinda jadi gelisah. Ia yakin tak pernah berjanji apapun pada Ben, tetapi kenapa pria itu membicarakan masalah janji. Janji apa, pikirnya?.


Semua tamu dari kalangan atas maupun keluarga satu persatu menyalami kedua mempelai ini. Senyum tak henti-hentinya terpancar dari keduanya.


"Selamat berbahagia ya bestiku" Aldo memeluk Belinda.


"Terimakasih Ndre" balas Belinda.


"Selamat ya!" ucap Rieta.


"Terimakasih Rieta sudah menyempatkan datang di tengah kesibukannya" Belinda memeluk kekasih Andreas itu.


"Selamatnya sayangku" Diana memeluk Belinda.


"Terimakasih ya sudah datang" ucap Belind.


Disaat semua mata tertuju pada pasangan pengantin, netra Ben malah sedang sebal melihat keakraban Listyo dengan Elsa. Ben tahu jika ada sorot mata kekaguman yang mengarah ke rasa cinta dari Listyo pada Elsa begitupun sebaliknya.


"Kenapa mereka bisa sedekat itu? Apa mungkin papi pacaran dengan Elsa?" tanyannya dalam hati apalagi ketika Gerry si kecil sangat nempel pada Listyo, bahkan Ben sendiri pun seakan di cuekin.


"Masa aku cemburu sama bocah?" gumam Ben.


Kini Ben berjalan ke arah sang papi.


"Ternyata ada kamu, Elsa!" sapa Ben.


Elsa tampak malu-malu.


"Iya pak" ucapnya.


"Permisi, saya mau bicara sebentar dengan papi" ajak Ben pada Listyo.


"Boy, om pinjam dulu papi om ya!" ucap Ben pada Gerry sembari mengelus kepalanya.


"Oke om!" Gerry segera turun dari pangkuan Listyo.


"Elsa, saya permisi sebentar!" ucap Listyo.


Kini Ben dan Listyo sudah berada di area lorong yang sedikit jauh dari ramainya pesta.


"Ada apa Ben mengajak papi kemari?" tanya Listyo.


"Kenapa papi bisa bersama Elsa mantan aspriku?" tanya Ben menyelidik.


"Papi mengajaknya, memang kenapa?" tanya Listyo kembali.


"Yaampun pi, ingat umur pi. Papi sudah empat puluh sembilan tahun pi, masih genit saja sama perempuan kesal Ben.


" Siapa yang genit, Ben? Memangnya kapan kamu melihat papi genit pada perempuan? Jika pun papi genit, wajarlah karena papi duda dan Elsa janda. Tidak ada yang menghalangi. Kamu sudah dewasa Ben, bahkan menikah sudah dua kali, seharusnya kamu lebih fokus pada hidupmu. Papi bebas menentukan apa yang papi mau" Listyo dengan kesal meninggalkan Ben seorang diri.


Sore pun tiba, akhirnya pesta pernikahan mereka selesai. Kini keluarga besar Belinda dan Aldo semua berkumpul sebelum mereka pamit pulang.


"Besan, jangan lupa main ke rumahku" ucap Djoko pada Dhanu yang memang sudah mengenal satu sama lain dan mereka tidak menyangka akan menjadi besan.


"Dengan senang hati kami akan berkunjung ke rumah besan" balas Dhanu sembari tertawa.


Tiba-tiba Ben datang menghampiri.


"Hmmmm,, Bella, aku harap kamu akan menepati janjimu sekarang" ucap Ben membuat semua hadirin di tempat itu tercengang.


"Janji apa? Aku tidak punya janji apapun padamu" balas Belinda.


"Ada apa ini?" tanya Aldo melangkah mendekati Ben.


"Jadi kamu tidak tahu bahwa aku dan Bella sudah terikat janji? Aldo, kau jangan terlalu percaya diri dengan pernikahanmu karena Bella hanya terpaksa supaya dia bisa menikah kembali denganku" tutur Ben dengan suara melengking.


"Tidak! Aku tidak pernah mengatakan apapun padamu breng*ek" kini Belinda memekik murka.


"Oh, ya?" seringai Ben menyebalkan.


"Ben, bisa diam tidak kau ini? Apa yang mau kau lakukan pada Bella? Ini hari bahagia Bella jangan kau kotori" teriak Listyo dengan wajah memerah menahan amarah.

__ADS_1


"Benar apa yang di katakan Ben?" kini Aldo bertanya tegas pada Belinda.


"Katakan yang sebenarnya, Bella bahwa kamu memang tulus menikah denganku" kini Aldo bicara dengan nada tercekat.


"Sayang dengar, aku menikah denganmu karena aku mencintaimu. Tidak ada paksaan apapun mau pun perjanjian yang Ben katakan. Aku dan Ben sudah selesai" jawab Belinda dengan suara memohon agar Aldo percaya.


Tiffany yang dari tadi diam kini sudah memendam emosi pada sang suami.


" Ben, kau jangan aneh-aneh. Ini hari bahagia Kak Bella" ucap Tiffany.


"Aku hanya ingin menagih janji dengan Bella!" jawab Ben tanpa memikirkan perasaan Tiffany.


Kini Aldo berjalan ke arah Ben lalu menonjok rahang Ben dengan sangat keras.


"Dengan bajingan, kau jangan merusak rumahtangga ku. Aku dan Bella baru saja menikah. Kau seharusnya mengurusi istrimu, bukan istri orang lain" Aldo sudah benar-benar hilang kendali.


Semua orang berusaha menenangkan Aldo.


Ben mengeluarkan ponselnya lalu memperdengarkan rekaman percakapan ketika Ben ingin mengajak Belinda untuk bersatu kembali. Rekaman itu tampak biasa saja tetapi hal yang membuat semua orang menyakini ketika Belinda mengatakan akan menikah dengan Aldo agar Ben merasa senang. Mereka semua salah faham termasuk Aldo yang langsung lemas memucat. Netranya memandang sang istri dengan sorot kecewa.


Kata senang yang Belinda ucapkan waktu itu adalah kata perumpamaan agar Ben tidak mengganggu lagi hidupnya selepas menikah tetapi Ben salah kira dan berakhir seperti ini.


"Tidak! Itu tidak benar. Aku mengatakan itu supaya Ben tidak mengganggu lagi hidupku" Belinda kini sudah berlinang air mata memohon agar Aldo percaya.


"Jadi kalian berdua sudah ingin kembali? Ben kau anggap aku ini apa Ben? Kau tega sekali!" ucap Tiffany.


"Aku tidak pernah sudi untuk kembali pada suamimu lagi Fany. Ben berdusta" ucap Belinda.


"Nak, tolong tenang dulu. Ben, papa mohon sudah hentikan Ben. Apa kamu tak kasihan pada Belinda dan Aldo? Aldo sudah banyak membantu kamu selama ini" ucap Dhanu.


"Tidak, pa! saya sangat mencintai Belinda dan saya yakin Belinda pun sama" jawab Ben dengan percaya diri.


"Percaya diri sekali kau! Aku tidak mencintaimu yang ada aku sangat membencimu" ucap Belinda berapi-api.


"Tapi perjanjian tetap perjanjian!" dengan beraninya Ben berkata.


"Aldo, sudah jelas kau hanya di jadikan alat supaya Belinda dan aku bisa kembali lagi. Sudah akuilah kekalahan mu" ucap Ben merasa memang.


Aldo sudah cape dengan acara resepsi dan sekarang ditambah Ben yang begini hingga dirinya tidak bisa berpikir jernih.


"Silahkan jika kalian ingin bersatu! Aku muak dengan drama yang kalian suguhkan" ucap Aldo.


"Sayang, please jangan dengarkan omongan Ben. Percaya padaku" kini Belinda memelas agar Aldo percaya.


"Kalau ingin mengakhiri, silahkan urus semuanya" ucap Aldo.


"Tidak!! Hikhikhik.. Jangan bicara begitu Aldo. Aku mohon ini hanya salah paham" Belinda bersimpuh di kaki Aldo.


"Harusnya hari ini hari bahagiaku. Tapi kau kotori, jahanam! Sampai kapan pun aku takan memaafkanmu" Aldo menunjuk murka wajah Ben.


Hilda menggerakan kursi rodanya ke arah sang putra. Menyentuh pinggangnya dengan lembut.


"Nak, sebaiknya kita pulang saja!" ajak Hilda.


Mieke pun berjalan ke arah Aldo.


"Ibumu benar, ayo kita pulang. Tenangkan dirimu. Biarkan kekacauan ini mereka yang menyelesaikan" ucap Mieke.


Aldo mengangguk patuh.


"Bella, jika kamu ingin berakhir urus saja semuanya dan kita tidak usah bertemu lagi. Semoga kalian bahagia" ucap Aldo sedikit mundur.


"Aldo, tolong nak jangan begini. Om tahu Bella tidak salah. Ini hari bahagia kalian" Listyo memohon agar Aldo tidak gegabah.


"Anak om yang sudah mengotori hari bahagia saya" ucap Aldo.


Aldo pun pergi dari hadapan belinda.


"Besan, saya sangat kecewa!" ucap Djoko dengan tatapan murka pada Dhanu.


semua keluarga Aldo pun akhirnya meninggalkan tempat pesta dengan derai air mata.

__ADS_1


__ADS_2