
Panas terik tak menyurutkan semangat Sofie dan Belinda menyapu jalanan.
"Aku butuh minuman dingin" ucap wanita bule itu sembari menyeka keringat yang membasahi dahinya.
"Aku akan membelinya" Belinda akan beranjak tetapi seorang pria berwajah oriental menghampiri mereka.
"Untukmu, wanitaku" ucap pria itu memberikan dua botol minuman dingin pada Sofie.
"Terimakasih Kim" ucap Sofie.
"Kalian?" tanya Belinda heran.
"Kami berpacaran sudah dua tahun! Aku sesama relawan asal Korea Selatan" ucap Kim Sul Hii.
"Kamu merahasiakan itu Sofie" Belinda mencebik kesal.
"Kejutan! Kim juga sudah berapa kali ku ajak ke Yunani dan keluargaku menerimanya" ucap Sofie.
"Semoga hubungan kalian sampai pernikahan ya" ucap Belinda senang.
"kami juga maunya begitu" balas Sofie.
Belinda pun melanjutkan pekerjaannya kembali menyapu jalanan. Ketika sedang serius membersihkan sampah, seorang pria dengan sengaja membuang beberapa kaleng minuman dingin dan beberapa lembar tisu.
Belinda kesal lalu menghampiri pria bar-bar itu.
"Hei Tuan kenapa anda membuang sampah sembarangan? Anda bisa dikenakan pasal pencemaran lingkungan" tegas Belinda namun pria itu cuek dan langsung pergi.
"Dasar orang yang tidak taat aturan" Belinda kesal.
Dia pun kembali membersihkan sampah yang pria itu buang.
Tak disangka, pria itu kembali membawa sampah berupa setumpuk daun kering, melemparkannya ke arah Belinda.
"Apa yang kau lakukan pria aneh? Kau menambah pekerjaanku" Belinda dengan brutal memukuli pria itu menggunakan sapu.
"Aduhhhh ampun" ucapnya memakai bahasa indonesia.
Degggggg!!!! Suaranya seperti tak asing lagi baginya.
"Aldo!" ucap Belinda.
"Bella ini aku" ucap Aldo yang kemudian melepaskan topi dan maskernya.
"Aldo kenapa bisa disini? Kenapa juga kamu bisa tahu tempat ku?" Belinda tak habis pikir dengan Aldo.
Aldo tidak menjawab pertanyaan Belinda, dia langsung memeluk sang pujaan. Belinda ingin berontak, tetapi Aldo tak mengizinkan pelukan itu terlepas.
"Aku merindukanmu. Aku tersiksa dan aku tak sanggup bila harus jauh denganmu lagi Bella" ucap Aldo dengan suara bergetar.
"Aldo kenapa kamu jadi begini?" Belinda heran.
"Diamlah Bella, biarkan aku memelukmu sejenak" ucap Aldo semakin memperdalam dekapannya.
Belinda pun mengizinkan dirinya didekap oleh pria yang dinilainya sangat dingin itu.
"Aldo sekarang bisa jelaskan kenapa kamu menemuiku kemari?" Belinda ingin memastikan maksud kedatangan Aldo menemuinya.
"Aku ingin mengajakmu kembali ke Indonesia Bella. Disana kamu sangat di butuhkan oleh semuanya. Dan kamu harus ingat om Dhanu dan tante Runi sangat merindukanmu" Aldo berkata dengan nada memohon.
Belinda dengan berat hati menggelengkan kepalanya.
"Kenapa Bella?" ada nada kecewa dipertanyaan Aldo.
__ADS_1
"Aku hanya belum siap menatap orang-orang yang menyakitiku Aldo! Terlalu perih luka yang Ben dan Tiffany torehlan padaku" Belinda akhirny menangis.
"Aku tahu bagaimana perasanmu Bella, tetapi apa kamu akan terus berlari seperti ini? Tempatmu bukan disini. Jangan hanya karena dua orang yang menyakitimu lantas kamu melupakan orang-orang yang menyayangimu. Aku yakin kamu wanita yang kuat, wanita yang mampu melawan badai. Tunjukan bahwa kamu tidak lemah" Aldo seakan menyalakan api semangat pada diri Belinda.
"Tapi sayangnya aku masih lemah, Aldo" ucap Belinda tertunduk.
"Aku tidak mengenal Bella yang lemah. Bella, aku akan selalu disampingmu. Kita hadapi bersama! Ben tidak pantas melemahkan hatimu" Aldo menggenggam tangan Belinda.
Belinda langsung melepaskan tangan Aldo lalu meraih sapu kembali.
"Sepertinya aku harus kembali bekerja! Terimakasih kamu sudah peduli padaku" Belinda pun segera berlalu dari hadapan Aldo yang mematung dengan hati yang sangat kecewa.
Aldo pun akhirnya pergi dari tempat itu.
Malam pun hadir, Aldo berdiri dibalkom apartemennya sembari membawa segelas kopi arabica. Rasa kecewa akan penolakan yang dilakukan Belinda tadi siang masih terbayang di benaknya.
Belinda yang merasa gundah pun berjalan menuju balkon apartemennya, lalu mempertemukan wajah sendu Aldo yang sama berdiri sejajar dengannya.
"Aldo" gumamnya.
Aldo menyadari kehadiran Belinda, tetapi dia memilih diam saja.
"Aldo, maafkan atas sikapku yang tadi" Belinda memulai membuka obrolan.
"Tak perlu meminta maaf padaku Bella. Minta maaflah pada jiwamu yang sudah lemah" jawab Aldo dingin.
Rasa kecewa masih membelenggu hatinya mengingat sikap Belinda tadi siang di nilainya sedikit kasar padanya.
"Lagi pula aku hanya ingin menjemputmu pulang, kamu lah satu-satunya orang yang dibutuhkan saat ini untuk kedua orang tuamu dan perusahanmu" ucap Aldo.
"Ya aku paham! Dan asal kamu tahu aku masih mengontrol pekerjaanku" jawab Belinda.
"Tapi tak sebaik ketika kamu ada di ruangan kerjamu" Aldo masih meyakinkan.
"Kenapa kamu peduli padaku?" Belinda ingin tahu kenapa Aldo menyempatkan mencarinya sementara dia pun sibuk.
Seketika tubuh Belinda mematung, benar apa kata sang mama jika Aldo mencintainya.
Aldo masih menatap keterkejutan Belinda.
"Kita harus bicara!" ucap Belinda.
Aldo hanya mengangguk saja.
"Aku akan masuk ke apartemenmu" ucap Belinda yang langsung berjalan ke arah apartemen.
Tak lama pintu apartemen Aldo ada yang mengetuk.
"Masuk!" ucap Aldo pada Belinda.
Belinda pun langsung duduk dikursi ruang tamu itu.
Aldo memberikannya minuman dingin terlebih dahulu dan Belinda langsung menenggaknya hingga tandas.
"Aku butuh penjelasan!" ucap Belinda memandang lurus kearah Aldo.
"Apartemen Naruto tiga belas tahun yang lalu, awal pertemuan kita" ucap Aldo.
"Maksudmu apa Aldo?" Belinda semakin tidak paham.
"Kamu ingat waktu masa kuliah dulu, ada remaja yang tersesat dan mencari apartemennya?" tanya Aldo.
Belinda mencoba mengingat-ingat hal itu.
__ADS_1
"Ya aku ingat!" ucap Belinda.
"Itulah aku Bella" Aldo rasanya sudah tak tahan ingin mengutarakan semua yang membelenggu hatinya.
"Ya Tuhan, jadi itu kamu" Belinda ternganga.
"Ya itu aku! Lalu datanglah malaikat tanpa sayap mengantarku hingga depan apartemenku. Gadis yang sangat imut dan berponi memakai mantel cokelat saat itu aku masih ingat bagaimana senyumnya. Lalu gadis itu pergi begitu saja tanpa memberitahukan namanya, saat itu aku mulai jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis itu. Bertahun-tahun aku mencarimu Bella! Rasa cintaku padamu masih kusimpan rapih dihatiku, jujur saja selama hidupku, aku tidak pernah mencintai wanita manapun kecuali dirimu seorang" tutur Aldo dengan suara tercekat.
Belinda pun merasa terharu karena mengetahu faktanya bahwa ada sosok pria yang sangat mencintai dirinya sejak lama.
"Saat itu aku mendengar bahwa Pak Ben akan dijodohkan dengan seorang wanita yang belum dia kenal sama sekali, tadinya aku bahagia karena akan terbebas dari tugasku setelah dia menikah, tetapi hatiku seketika remuk redam kala melihat wanita yang ada disamping Pak Ben ketika ijab kabul itu adalah dirimu" seketika mata Aldo berkaca-kaca.
Belinda menghapus jejak air mata itu dipipi Aldo.
"Jika aku tahu ada pria yang mencintaiku sedalam itu, aku takan menerima perjodohan itu Aldo" ucap Belinda.
"Ya tapi semuanya sudah terjadi Bella. Kini kamu sudah bercerai dengan Pak Ben, dan aku akan memperjuangkan hatiku padamu" Aldo meraih wajah Belinda.
"Aldo, tidak semudah itu" Belinda menangis.
"Aku tahu Bella kamu masih mencintai dia kan? Hatimu tak salah. Tetapi apa kamu akan terus memelihara penghianat dalam hatimu sayang? Tentu tidak bukan? Aku akan menunggumu" ucap Aldo dengan tangan masih meraih wajah Belinda dan menatapnya dengan cinta yang membuncah.
"Tapi Aldo" gumam Belinda.
Sutttttt!! Aldo menempelkan telunjuknya dibibir Belinda.
"Jangan katakan apapun Bella, Aku akan menunggumu" ucap Aldo sembari mengelus rambut Belinda mengalirkan desiran aneh pada tubuhnya.
Cuppp!!! Aldo mencium bibir Belinda.
Tak ada balasan apapun dari wanita itu, hanya ada mata keterkejutan.
Aldo tak melepaskan pagu*an itu malah semakin memperdalam lidahnya menari-nari didalam mulut Belinda.
Karena sudah terbuai akhirnya Belinda pun membalas ciuman itu.
Mereka saling *******, dan bertukar saliva. Aldo semakin menahan tengkuk Belinda, lalu sedetik melepaskannya karena keduanya hampir kehabisan oksigen,
Sesudah itu keduanya kembali berciuman. Suara decapan bibir menghiasai ruang tamu itu.
"Eughhhhhhhh" suara laknat itu keluar dari bibir Belinda sekaligus membuat dirinya malu.
"Maaf" ucap Belinda dengan wajah memerah menahan malu.
"Aku menyukai desa*anmu Bella" ucap Aldo sembari membersihkan saliva yang tercecer diarea bibir Belinda.
Hasrat yang sudah sangat besar untuk melakukan hal yang lebih, mereka urungkan karena mengingat itu dilarang.
"Bella, terimakasih kamu sudah mengambil ciuman pertamaku!" ucap Aldo tersenyum bahagia.
Belinda hanya tersenyum meringis.
"Kamu sangat agresif ternyata tapi aku menyukainya" ucap Aldo kembali.
Lagi-lagi Belinda hanya senyum saja.
"Kamu tidur disini saja ya?" pinta Aldo.
"Tidak Aldo! Aku kembali saja ke apartemenku" ucap Belinda menolak secara halus.
"Aku tidak akan macam-macam. Kamu tidur diranjang, sementara aku tidur disofa" Aldo langsung membawa satu bantal dan menidurkan dirinya diatas sofa.
"Baiklah tuan pemaksa" ucap Belinda yang langsung menaiki ranjang itu dan berbaring disana.
__ADS_1
"Selamat tidur Bella" ucap Aldo yang kemudian mematikan lampu kamar itu.
"Ya" jawab Belinda.