Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Aksi Mario


__ADS_3

Malam itu juga, Dhanu melaporkan kehilangan kedua putrinya pada polisi, namun polisi tidak bisa secara langsung memproses lantaran hilangnya Belinda dan Tiffany belum 24 jam.


,



"Kami akan proses jika hilangnya kedua putri anda sudah 24 jam" ucap sang polisi yang bernama Ferdy.


"Baiklah Pak! Terimaksih. Nanti kami kemari lagi jika putri kami belum juga kembali.


Dhanu harus pulang dengan perasaan kecewa.


" Ben, bantu papa untuk mencari kedua anak papa, papa yakin semua ini bersumber darimu" ucap Dhanu kesal.


"Saya tahu pa. Saya akan mencari keduanya" jawab Ben.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana masakanku sayang?" ucap Mario.


"Jangan sok asik loe sama gue! Masakan loe hambar" bentak Tiffany.


"Hambar tapi habis satu piring, sekalian saja makan sama piringnya" ucap Mario tergelak.


"Berisik! Mario, please gue harus pulang. Suami gue nyariin" Tiffany sudah ingin menangis.


"Yasudah cuci dulu semua piring kotor, baru loe gua pulangin" Mario berkata dengan santainya.


Hal itu membuat Tiffany melotot, seumur hidupnya dia tidak pernah mencuci piring. Terlalu manja atau memang malas.


"Cuci atau~~~" ucap Mario sembari memindai tubuh Tiffany.


"Ya gue cuci, asal gue pulang" Tiffany pun bangkit dan membawa semua piring kotor lalu mencucinya hingga beres.


"Sudah beres! Gue mau pulang breng*ek!" tegas Tiffany.


"Tunggu! Sepertinya apartemen gue kotor, bersihin dulu sana, baru loe gue pulangin" Kata-kata ini seolah menjadi bahan untuk menahan Tiffany lebih lama bersamanya.


"A....j...ng loe nipu gue!" Tiffany melangkahkan kakinya hendak membuka pintu, tetapi pintu itu terkunci.


"Tidur sama gue, atau bersihkan semua ruangan ini?" Mario memberikan penawaran yang sangat sulit untuk Tiffany, ini merupakan hukuman untuk wanita judes ini karena Mario masih dongkol dengan peristiwa ketika Tiffany mencederai biji dan belalaiannya.


Mau tidak mau, Tiffany pun membereskan apartemen milik Mario.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Belinda berdiri diapartemen yang baru dia sewa tadi siang. Udara Tokyo seakan membawanya flashback tiga belas tahun yang lalu ketika dirinya masih kuliah.


Dia bukannya menghindari kepahitan dalam hatinya, tetapi dia ingin melupakan sejenak rasa sakit itu dan Tokyo lah obatnya.


Hembusan udara malam seakan sedikit menenangkan pikirannya.

__ADS_1


"Aku hanya butuh ketenangan" Gumamnya.


Belinda pun menghubungi Victoria untuk menanyakan tentang pekerjaannya.


"Hallo Bu Bella!" sapa Victoria diseberang telepon.


"Victo, bagaimana pekerjaan dikantor?" tanyanya.


"Semua berjalan dengan baik, Bu. Hanya saja kantor tanpa kehadiran anda sangat sepi" ucap Victoria lesu.


"Kamu tenang saja Victo, saya masih akan terus memantau jalannya perusahaan walau dari jauh. Saya pastikan perusahaan masih stabil walau tanpa kehadiran saya disana. Dan satu lagi, jika papa saya menanyakan keberadaan saya bilang saja kamu tidak tahu" Tegas Belinda.


"Baiklah Bu, saya tidak akan memberitahukan dimana keberadaan Bu Bella. Tapi jika saya boleh tahu, sekarang Bu Bella ada dimana?" tanya Victoria kepo.


"Saya berada di Tokyo! Victo saya ingin menenangkan diri saya. Hati saya kalut Victo" ucap Belinda dengan suara tercekat.


"Kapan-kapan saya akan mengunjungi Bu Bella kesana! Saya harap Bu Bella selalu sabar dan Ikhlas ya. Saya tahu kabar jika suami Bu Bella menikah dengan Bu Fany, hal itu membuat saya ikut sedih" ucap Victoria sembari mengelap air matanya.


"Cuti nanti, kamu boleh kunjungi saya kemari" ucap Belinda.


Panggilan itu pun diputuskan. Tak lama, Aldo pun menghubunginya.


"Bella, kau dimana?" terdengar nada khawatir disana.


"Aku ada kok!" jawab Belinda santai.


"Bella, jangan buat aku khawatir. Beritahu aku sekarang kamu dimana?" tanya Aldo dengan suara bergetar.


"Apa perceraian dengan Ben membuat kamu menjadi lemah?" ada rasa cemburu disana.


"Yes! Aku akui memang dan aku tidak munafik Aldo" jawab Belinda.


Aldo merasakan hatinya seakan diremas.


"Bella semua orang mencarimu. Dimana kau sekarang?" suara Aldo lemah.


"Pasti akan begitu. Tapi percayalah aku baik-baik saja. Katakan pada papaku, jangan mencariku. Nanti saatnya jika kuingin pulang, maka aku akan pulang. Aku sekarang sedang berada ditempat dari bagian masa laluku. Aldo terimakasih kamu selalu baik terhadapku" Tuuutttttttttt.


Panggilan telepon itu ditutup sepihak oleh Belinda. Kemudian tak lama Belinda mengirimkan potonya ketika sedang berdiri di balkon.


"Bella, aku mencintaimu! Bahkan rasa cintaku sudah terpupuk selama belasan tahun padamu. Tak ada wanita yang mampu menggantikan tahtamu dihatiku. Ku pastikan kau akan jatuh kepelukanku Bella. Kau akan jadi milikku" janji Aldo dalam hatinya.


Aldo pun langsung bertolak kekediaman Dhanu untuk mengabarkan bahwa Belinda baik-baik saja.


Sesampainya dirumah Dhanu, Aldo melihat Haruni sedang menangis.


"Selamat malam semuanya! Maaf saya mengganggu waktunya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa Bella saat ini baik- baik saja, dia menelepon saya tadi" ucap Aldo.


Dhanu segera menghampiri Aldo dan merengkuhnya.


"Dimana dia sekarang Nak Aldo?" tanya Dhanu tampak senang.

__ADS_1


"Bella hanya mengatakan bahwa dia ingin menenangkan hatinya, tetapi dia tidak mengatakan dimana" jawab Aldo.


"Bella, dimana kamu nak! Tapi om lega karena dia sudah mengatakan baik-baik saja" ucap Dhanu.


Ben memperhatikan Aldo, ada kecemburuan menguar dalam hatinya, kenapa Belinda lebih terbuka pada Aldo, ketimbang dirinya.


"Bagaimana dengan Bu Fany, om?" tanya Aldo kembali pada Dhanu.


"Entahlah dimana dia sekarang" jawabnya lesu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Apartemen milik Mario sudah kinclong. Tiffany pun mandi. Mario sudah menunggu untuk mengantarkan Tiffany pulang.


Ada kelegaan dihatinya karena bisa mengenal lebih dekat dengan wanita judes model Tiffany, gelora kemenangan terpancar membahana dalam jiwanya tak kala berhasil menculik Tiffany dimalam pertama pernikahannya.


Tiffany keluar dari kamar mandi.


"Ayo!" ucapnya.


Mario hanya mengangguk, lalu mereka keluar dari apartemen menuju parkiran mobil.


Dalam mobil, Tiffany hanya diam. Dalam pikirannya hanya ada Ben, takut dia mencarinya.


"Aku senang bisa bersamamu... Cuppp" sebuah ciuman curian dia daratkan dipipi Tiffany.


"Kurang ajar loe" Tiffany seketika mencubit pinggang Mario dengan kencang.


"Aughhhh sakit be*o! Gimana kalau gue kecelakaan" Mario membanting stir kemudian berhenti ditepi jalan.


"Rasain loe!" umpat Tiffany dengan tertawa.


"Hei denger, Malam ini gue sangat senang bisa culik loe, sayang" ucap Mario dengan nada puas.


"Breng*ek loe memang! Harusnya ini waktu honeymoon gue sama suami" Tiffany menunduk sedih.


"Kenapa harus sedih, hem? Honeymoon itu untuk pasangan yang baru pertama kali melakukan itu" ucap Mario.


"Maksud loe apa bangsat? Jangan bicara yang aneh-aneh" Tiffany marah sekali dengan pria yang dinilainya sangat menyebalkan.


"Loe udah gak perawan lagi kan?. Hahahah" Mario berkata dengan santainya.


"Jaga mulut loe pria aneh" elak Tiffany.


"Gue tahu kok. Santai aja lagi" jawab Mario.


"Jangan mengada-ada loe. Tahu darimana?" tanya Tiffany semakin kesal.


"Siapkan mental loe, sayang! Gue tahu karena gue lihat sendiri kerang milik loe, bahkan gue menenggelamkan wajah gue disana. Rasanya sangat menyenangkan bisa merasakan cairan itu. Sangat manis dan sedikit asin" Mario berkata semakin membuat Tiffany panik.


Tiffany melongo seperti sapi ompong, bukannya dia marah, dia hanya berpikir.

__ADS_1


"Bagaimana kalau segitigaku bau basreng?" gumamnya.


__ADS_2