
Ben berjalan menyusuri bandara mencari keberadaan Belinda.
"Itu dia" ucapnya kala melihat Belinda duduk dikursi tunggu.
"Bella" teriak Ben.
"Ben! Kenapa dia menjemputku" gumamnya sembari menata detak jantungnya.
Ben duduk disamping Belinda.
"Bella" Ben seketika memeluk Belinda dengan erat.
"Maafkan aku" gumamnya.
"Kenapa kamu menjemputku Ben?" tanya Belinda tak ingin berbasa basi.
"Aku ingin saja" jawabnya santai.
Ben kemudian membawakan koper milik Belinda.
"Bella, aku tidak bahagia" ucap Ben ketika mereka sudah ada didalam mobil.
"Lantas?" tanya Belinda seolah tak ingin tahu.
"Tiffany tidak memperhatikanku seperti dirimu. Aku seperti pria lajang" keluhnya.
"Hahaha!!!! Tapi kau puas diranjang bukan?" Belinda seakan mencemooh.
"Ternyata pernikahan tidak cukup hanya soal lendir, Bella. Tidak ada sifat keibuan dalam dirinya. Bella jika waktu dapat diulang, aku takan menceraikan berlian semewah dirimu" Ben berkata sembari menitikan air matanya.
"Sudahlah Ben semuanya sudah berlalu. Kau hanya perlu menerima takdir saja. Penyesalan hanya ada diakhir Ben" Belinda mengusap pundak Ben.
"Bella, aku mohon kau jangan menjauhiku" Ben meraih jemari Belinda lalu menciumnya.
"Bersikaplah normal Ben selayaknya saudara saja. Aku tak ingin Tiffany semakin membenciku" Belinda melepaskan tangannya.
"Bella aku mohon berikan aku kesempatan" Ben masih memohon, kali ini dia sengaja menepikan mobilnya disisi jalan.
"No Ben! Jadilah pria bertanggung jawab dalam pernikahanmu. Jangan ada Bella yang lainnya yang dianggap hanya istri bohongan oleh suaminya. Aku tidak mau Tiffany merasakan apa yang aku rasakan, lagi pula kau sudah menalak tigaku Ben, sangat sulit untuk kita bisa kembali. Aku mohon janganq seperti ini" Walau dalam hatinya merasa pedih, Bella tidak ingin Ben terus berandaikan dirinya. Sudah cukup perceraian yang membuat dia seakan berada dalam titik terendah sampai lari ke Jepang.
"Tapi aku akan berusaha bagaimanapun caranya" ucap Ben yakin.
"Cukup Ben! Berjalan saja dijalan yang lurus. Tiffany istrimu sekarang" Tegas Belinda.
Ben hanya diam tak bergeming.
"Ben aku ingin meminta akta cerai kita" pinta Belinda.
"Sudah kusimpan dikantor. Ayo ikut kekantorku sebentar kita ambil akta itu.
Ben kemudian membelokan mobilnya kearah kantor.
Skip..
" Ini aktanya Bella" ucap Ben sembari memberikan akta perceraian mereka pada Belinda.
"Aku ingin segera pulang. Jika kau masih ingin disini aku bisa pulang dengan taksi" ucap Belinda.
Toktoktok!!!! Seseorang mengetuk pintu ruang kerja Ben.
"Masuk!" tegas Ben.
Lalu datanglah Elsa dengan membawa setumpuk map untuk Ben periksa.
"Maaf Pak Ben, ini hasil pekerjaan semua divisi, silahkan anda periksa" ucap Elsa sembari memberi hormat.
__ADS_1
"Dia siapa Ben?" tanya Belinda.
"Dia aspriku yang baru" jawab Ben sembari memindai map demi map.
"Aldo kemana?" tanyanya kembali.
"Sekarang dia sudah jadi CEO. PT Bromo Baja adalah perusahaan miliknya. Aku tidak menyangka pernah punya aspri seorang CEO. Dan jika dibandingkan dengan kekayaanku jauh berbeda kaya dia. Dan hal yang lebih mencengangkannya lagi, Aldo mengurusi dua perusahaannya sekaligus karena perusahaan yang pernah diambil oleh bapak tirinya sudah diserahkan kepada Aldo kembali" ucap Ben penuh kekaguman pada Aldo.
"Aku harus mencari Aldo ke perusahaannya untuk meminta maaf padanya" gumam Belinda dalam hatinya.
"Aku suka lihat asprimu Ben! Seperti Victoria aspriku dia tampilannya yang tertutup" ucap Belinda.
"Ayo kita pulang" Ben berjalan mendahului Belinda.
Kini mereka sudah sampai dirumah Dhanu.
"Papa!" Belinda memeluk Dhanu.
"Maaf aku minta maaf" ucap Belinda.
"No sayang, tidak ada yang salah atas dirimu" ucap Dhanu.
Kemudian haruni menghampiri Belinda lalu memeluknya.
Kini gantian Tiffany, meskipun kesal karena Ben yang pulang bersamanya, tetapi melihat sang kakak sudah kembali dirinya pun senang.
Tiffany memeluk Belinda. Pemandangan sepertu ini lah yang jarang sekali Dhanu dan Haruni lihat.
pelukan itu cukup lama, tak ada suara apapun.
Ketika pelukan itu terlepas, hanya satu pertanyaan yang terlontar dari bibir Tiffany.
"Kenapa kalian sedikit lama?" Ada pertanyaan bercampur rasa curiga disana.
"Kami mengambil ini" Belinda berkata sembari mengacungkan akta cerai lalu berjalan kedalam kamarnya.
Rasa bersalah selalu membayanginya akibat tidak terkontrol.
Belinda langsung menyambar kunci mobilnya.
" Bella mau kemana lagi?" tanya sang papa.
"Jalan-jalan" jawabnya.
Belinda pun mengemudikan mobilnya kearah kantor Aldo.
"Ini dia perusahannya!" ucap Belinda saat melihat gedung yang menjulang tinggi.
Belinda segera memarkirkan mobilnya.
"Ada yang bisa kami bantu nona?" tanya seorang resepsionis cantik.
"Saya ingin bertemu Pak Aldo" ucapnya.
"Apakah anda sudah membuat janji terlebih dahulu?" tanya wanita itu lagi.
"Belum, hanya saja saya harus bertemu dengannya" ucap Belinda.
"Baiklah tunggu sebentar saya akan menghubungi beliau terlebih dahulu" ucapnya yang langsung menghubungi ruangan Aldo.
"Nona anda ditunggu diruangannya" ucap wanita itu.
"Baiklah, terimakasih" Belinda segera berjalan menuju ruang kerja Aldo.
Saat itu Panji sang asisten menunggu kedatangan Belinda di ruang bawah.
__ADS_1
"Maaf, apakah ini dengan nona Belinda?" tanya sopan.
"Iya Pak benar sekali" ucap Belinda.
"Mari ikut saya, Pak Aldo sudah menunggu" ucapnya.
Kini Panji dan Belinda sudah didepan pintu ruang kerja Aldo.
"Masuk saja nona" ucap Panji.
Belinda hanya menganggukan kepalanya, lantas membuka handle pintu itu.
Pintu terbuka dan memperlihatkan sosok gagah itu sedang membelakangi.
Refaldo Bambang S, sebuah nama tercetak dimeja berukir kayu jati itu.
"Aldo" ucap Belinda laksana oasis dipadang pasir bagi Aldo.
Aldo membalikan mejanya, lalu menatap seolah memuja pada Belinda.
"Bella, selamat datang di kantorku. Duduk" jawabnya dengan suara yang dingin.
Belinda kini mendudukan bokongnya dihadapan Aldo.
"Aldo aku minta maaf" ucapnya dengan sungguh-sungguh tak kala melihat bekas luka disudut bibirnya masih terlihat.
"Maaf untuk apa Bella?" Aldo berkata seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Aldo, come on jangan seperti ini" Belinda sudah menitikan air matanya.
Melihat itu Aldo sungguh tidak kuasa. Dia bangkit lalu seketika menghapus air matanya.
"Bella jangan menangis" Aldo mengelapi air mata sang terkasih.
Belinda meraba bekas luka disudut bibir Aldo, menyentuhnya dengan lembut benda kenyal nan menggoda itu.
"Pasti sakit kan?" tanya Belinda.
"Tidak sesakit penolakanmu Bella" jawab Aldo lemah.
"Buktinya aku pulang kan?" Belinda gemas lalu menekan luka itu.
"Auchhhhhhhh sakit Bella" ucap Aldo sembari memegangi lukanya.
"Sini aku tiup lukanya?" Belinda mendekatkan bibirnya bermaksud untuk meniup luka disudut bibir Aldo.
Cupppp!!!!! Aldo malah menbenamkan bibirnya pada bibir Belinda.
Belinda diam dan tak membalas sesapan itu, hingga lidah Aldo mampu membuka sedikit celah pada mulut Belinda.
"Balas ciumanku Bella" lirih Aldo.
Belinda pun kemudian mengalungkan lengannya pada leher kokoh Aldo.dan membalas sesapan itu. Saling membelit dan bertukar saliva.
Aldo melakukan itu dengan hasrat seolah menuntut. Tangannya dengan nakal meraba punggung Belinda dan mencari-cari pengait sabuk pengaman itu.
Belinda kemudian menghentikan aktivitasnya.
"Aldo, kita sudah terlalu jauh" ucapnya dengan suara yang terengah.
"Kamu benar Bella! Maafkan aku yang tak bisa mengontrol semua ini jika dekatmu. Maaf" Aldo kemudian mengelap sisa saliva yang tergenang dibibir sang pujaan.
Walau mereka pada dasarnya sama-sama saling menginginkan lebih, tapi diri mereka masih bisa mengendalikannya.
"Kita makan siang saja" ucapnya sembari memegangi tangan Belinda.
__ADS_1
Walau Aldo harus menahan siksaan dari bawah sana karena si ular bermata satu sudah menggeliat manja dalam celana Aldo.
"Dasar Ipul, kau baru merasakan sentuhan begitu saja sudah bangkit.. Ughhh dasar adik kecil sensitiv" gumam Aldo dalam hati sembari memandangi celananya yang mengembang.