
Kini Aldo dan Belinda sudah berada di Jakarta. Mereka langsung pulang ke rumah Aldo.
"Sayang, sore saja kita temui papa, ya?" pinta Aldo.
"Ya, suamiku" Balas Belinda.
Kini mereka sudah rebahan di atas ranjang. Tiba-tiba ponsel Aldo berdering.
"Mau apa dia?" seketika wajah Aldo berengut tidak suka dengan seseorang yang menghubunginya.
"Siapa itu?" tanya Belinda.
"Ben! Mau apa lagi dia?" tanyanya sendiri.
"Angkat saja, kita dengarkan apa yang akan dia katakan!" perintah Tiffany.
"........" Tak ada suara dari Aldo. Bahkan untuk sekedar menyapanya saja Aldo tidak sudi.
"Aldo! Kamu dimana?" tanya Ben.
"Mau apalagi?" tanya Aldo dengan suara tegas.
"Aldo, sebenarnya aku malu menghubungimu, tetapi harus aku lakukan. Aku ingin bertemu denganmu Aldo. Tolong beri aku kesempatan untuk meminta maaf padamu dan Bella" tutur Ben dengan nada gugup.
"Jam sepuluh, aku ke rumah papa. Aku hanya ingin tahu, kau mau melakukan apa, breng$ek!" Aldo segera menutup panggilan itu.
"Hushhhhhhhhh" Aldo menarik nafas berat lalu mengeluarkannya. Hal itu untuk meredam emosi dalam dirinya.
"Jadi gimana? Apa kita akan bertemu Ben, hem?" tanya Belinda.
"Ya! Aku ingin tahu bentuk permintaan maaf seperti apa yang ingin dia katakan nanti" Aldo berkata dengan emosi masih menguasai dirinya.
__ADS_1
Cuppp!! Sebuah ciuman curian Belinda berikan.
"Sayang, kau pandai sekali meredakan emosiku. Aku ingin, boleh ya!" Kini Aldo berkata dengan mata sayu.
"Ingin apa?" Belinda pura-pura tidak tahu maksud sang suami.
"Itu lah sayang, apalagi" ucap Aldo sembari menggendong Belinda keatas ranjang.
"Memangnya kamu tidak cape baru pulang dari Sydney?" tanya Belinda sembari mengalungkan tangannya pada leher kokoh itu.
"Untuk yang satu ini tidak mengenal kata cape, tahu" Aldo segera menelungkupkan wajahnya pada bongkahan gunung kembar sang istri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ada apa pak Bem mengajak saja bertemu?" Kini Elsa sudah duduk di hadapan Ben.
"Apa mau mu Elsa? Kenapa dengan lancang menikah dengan papi ku? Apa yang sebenarnya kau incar? Harta?" tanya Ben tanpa basa-basi.
"Ckkkk!!! Bualan seperti apa itu? Elsa dengar, kamu masih muda, masih bisa mendapatkan pria yang usianya sama denganmu, bukan papi ku. Aku benar-benar tidak setuju dengan pernikahan kalian" geram Ben.
"Tulis berapa nominal yang kau mau, Elsa. Setelah itu tinggalkan papi ku" Ben menyodirkan selembar cek pada Elsa.
Elsa langsung menyobek cek itu lalu melemparkan ke wajah Ben.
"Dengar pak Ben yang terhormat, saya tidak butuh semua ini. Saya mencintai papi anda tulus, tak memandang apapun. Bahkan jika mas Tyo tidak memberikan nafkah juga itu tidak masalah bagi saya yang penting saya dan Gerry ada yang melindungi. Dan satu lagi pak, Saya tidak akan meninggalkan mas Tyo dalam kondisi apapun. Soal harta, anda tidak perlu takut karena sepeserpun saya tidak butuh uang mas Tyo karena saya sudah lebih dari punya. Saya dan mas Tyo saling mencintai dan dalam tubuh saya sudah ada janin mas Tyo jadi kami tidak akan berpisah" ucap Elsa panjang lebar.
"Apa, kamu hamil? Tidak mungkin, papi ku sudah berumur. Apa jangan-jangan ini bukan anak papi ku? Kau hanya menumpang tanggung jawab kan?" tanya Ben berapi-api.
Plakkk!!!!! Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi Ben.
"Kau sungguh keterlaluan pak Ben. Aku bukan jal@ng yang sembarang memberikan selang×angan pada sembarang pria. Kau tahu, mas Tyo sangat buas di ranjang walau usianya tidak muda lagi. Setiap detik meminta haknya padaku, bahkan ketika di ruangan kerjanya selalu mengerjai ku di atas meja kerjanya. Mana mungkin tidak membuatku hamil. Permisi" Elsa langsung pergi meninggalkan Ben dengan wajah kecewa.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini Aldo, Belinda sudah duduk berkumpul 1dengan orang tua Belinda beserta Ben dan Tiffany. Sorot kemarahan jelas terpampang nyata di wajah Belinda dan Aldo.
Aldo bersimpuh di kaki Dhanu.
"Papi maafkan saya sempat tidak percaya dengan istri saya sendiri dan membuat papa menjadi seperti ini" ucap Aldo.
"Bangun, nak jangan begini. Kamu tidak salah dalam hal ini. Jika papa jadi kamu, mungkin papa akan melakukan hal yang lebih pada istri papa. Papa sakit begini sudah menjadi takdir" ucap Dhanu.
"Pa, saya janji tidak akan membuat Bella terluka dan do'akan rumah tangga kami supaya tetap dalam keharmonisan" pinta Aldo.
Manik mata pria yang sedang bertopang pada kursi roda itu mengembun haru. Doa nya ternyata di kabulkan oleh yang maha kuasa kala meminta agar putrinya diberikan sosok suami yang mampu melindungi dan memberikan cinta seluas samudera. Dhanu kemudian menepuk halus pundak Aldo.
"Segera berikan cucu yang banyak untuk papa" pintanya sembari tersenyum.
Aldo pun mengangguk haru.
Sementara Ben yang melihat itu, ragu kala ingin meminta pengampunan pada sang papa mertua. Ben sadar, banyak pihak yang sudah ia rugikan atas tindakan bodoh waktu itu hingga membuat sang mertua kini harus terduduk di kursi rodanya. Selama ini Dhanu selalu mengabaikan keberadaannya meskipun ia tahu kalau Ben sudah bersama dengan Tiffany kembali.
Jika boleh jujur akan hatinya, Dhanu sudah tidak ingin menerima Ben lagi berada di tengah-tengah keluarganya, tetapi bagaimana dengan janin yang ada dalam perut Tiffany, suatu saat jika lahir akan membutuhkan sosok sang ayah walau bayi itu akan mempunyai ayah yang breng$ek seperti Ben.
Ben kini berlutut di kaki Dhanu.
Tangannya memegang tangan sang mertua.
"Pa, saya akui kesalahan saya besar pada papa dan keluarga ini. Saya benar-benar ingin dapat maaf papa. Tolong maafkan saya pa! Saya sadar ternyata Tiffany memang cinta sejati saya. Saya ingin kembali bersatu dengan keluarga ini. Saya yakin masih ada sedikit maaf papa untuk saya" Ben berkata sembari bersimpuh layu dihadapan Dhanu.
Pepatah mengatakan bahwa kaca yang sudah pecah tidak akan terlihat utuh kembali jika di satukan, begitulah hati seorang Dhanu. Ben sudah berulang kali membuat ia kecewa. Jika boleh memilih ingin rasanya melepaskan Ben dalam ikatan keluarganya, tetapi janin yang tumbuh di rahim Tiffany membuat keinginan itu sukar terlaksana. Dalam hatinya Dhanu memaki, Kenapa harus Ben yang terikat dengan kedua putrinya.
"Pa, saya mohon berikan kesempatan kedua untuk saya" kini Ben sudah menangis.
__ADS_1
"Papa sudah memberikan kesempatan kedua untukmu sewaktu kau menikahi Tiffany! Lalu kesempatan ke berapa lagi yang harus aku berikan padamu, Ben? Lelah rasanya harus dua kali menjadi wali nikah putriku dengan pria yang sama. Apa yang bisa kamu lakulan untuk membuat aku percaya padamu, setelah ulahmu yang sungguh tidak terpuji itu?" tanya Dhanu menatap kesal