
Rieta mengikuti segerombolan pria penculik itu masuk kedalam hutan sendirian. Nyali wanita yang satu ini memang sangatlah berani berbanding terbalik dengan Andreas sang kekasih yang klemar-klemer.
"Udag siah ku aing ( gue kejar)" geramnya.
Kakinya dengan cepat menyusuri padang ilalang mengikuti cahaya senter yang dibawa sang penculik didepan sana.
Dengan berbekal lampu senter kecil, senjata api dan setangkai dupa, Rieta terus menyusuri gelapnya hutan belantara wilayah puncak.
Di Vila, Belinda menangis melihat Aldo yang terluka. Dia tidak menyangka bahwa healing ini akan berakhir begini. Lalu Belinda mengingat keberadaan Rieta yang entah dimana.
"Ndre, pacar loe kemana?" tanya Belinda Panik.
"Gue gak tahu Bella, gue gak tahu" Andreas menangis kala mengetahui Rieta sang kekasih tidak ada.
Keadaan semakin tak menetu ketika Auriel tiba-tiba step. Bocah itu kejang-kejang dengan mata mendelik ke atas dan bibir yang tiba-tiba membiru.
"Argggghhhhhh, Bella tolong anak gue Bella" Diana berlari sembari membawa Aurel yang sedang kejang.
"Anak loe step kayanya. Tenang, tenang ini tidak lama kok. Ambil tabung oksigen dikamar gue" Andreas segera memangku Aurel lalu ditenangkan.
"Sayang, kamu jaga Diana dan Aurel ya. Ndre, loe ikut gue cari Rieta malam ini. Gue tidak mau dia sendiri" ucap Belinda.
"Tidak Bella. Aku tidak akan mengizinkan kamu pergi. Aku akan ikut" balas Aldo sembari memegangi tangannya.
"Tidak Aldo. Tanganmu masih sakit. Kamu tunggu saja disini menjaga Diana" balas Belinda.
"Dan loe Ndre, bawa kotak P3K dan gue bawa senter. Untuk jaga-jaga loe bawa senjata tajam" perintah Belinda.
"Baiklah. Ayo cepat kita cari pacar gue. Gue khawatir banget sama dia" ucap Andreas.
Sementara Rieta terus saja menyusuri gelapnya hutan. Suara binatang malam seakan mengiringi derap langkahnya. Udara pun sangatlah dingin dan menusuk.
Dipikiran gadis itu bukanlah setan yang dia takuti tetapi bagaimana jika gerombolan itu mengetahui kalau dirinya mengikuti dari belakang.
Rieta segera menghubungi komandannya di kepolisian.
"Cicak-cicak didinding 051" sebuah seruan dari sang komandan.
"Lapor komandan. Saya sedang mengintai tersangka penculikan anak. Saya seorang diri di hutan" ucap Rieta.
"Siap laksanakan malam ini saya akan mengirim pasukan meluncur kesana. Segera kirim lokasinya dan ingat pantau terus jangan sampai mereka curiga" pesan sang komandan.
Rieta pun segera mengirimkan lokasi saat ini.
Sementara Belinda dan Andreas berjalan menyusuri hutan.
"Bella, gue takut" ucap Andreas menggigil.
"Cemen banget loe Ndre. Demi yayang loe kalahkan rasa takut itu" balas Belinda.
"Coba sekarang hubungi Rieta siapa tahu no nya aktif" perintah Belinda.
Andreas pun menelepon sang kekasih dan langsung di jawab oleh Rieta.
"Sayang kamu dimana? Aku mengkhawatirkan mu tahu" ucap Andreas.
"Sayang aku lagi mengintai orang-orang tadi. Kamu dimana?" tanya Rieta karena mendengar nafas Andreas yang ngos-ngosan.
"Sayang aku dan Bella sedang mencari mu. Kami sedang di hutan" jawab Andreas.
"Ya ampun kenapa mesti kemari sih. Padahal kalian bisa menungguku di vila. Andreas ini suasananya sangat genting. Kalian harus berhati-hati" ucap Rieta dengan nada penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Kamu tenang saja. Kami akan baik-baik saja. Segera kirim lokasi kamu sekarang" ucap Belinda yang merebut ponsel Andreas lalu berbicara dengan Rieta.
"Baiklah jika begitu. Kamu hati-hati ya, nanti aku kirimkan lokasi keberadaan ku" ucap Rieta lalu menutup sambungan teleponnya.
Lalu Rieta melihat gerombolan itu masuk kedalam sebuah rumah tua ditengah hutan itu, di sana hanya ada remang cahaya lentera kecil.
"Tempat apa itu?" tanyanya dalam hati.
Rieta juga yang seorang indigo melihat banyak sekali makhluk dari alam sebelah lalu lalang dihadapannya.
"Aku jadi mengkhawatirkan Bella dan Andreas. Argghh kenapa coba mereka mesti kemari, bagaimana jika kondisinya sangat bahaya" gumamnya cemas.
Rieta lalu mengendap-endap mengintip aktifitas dibalik sebuah tembok yang bercelah.
Ketika sedang ingin menajamkan pengelihatan dan pendengarannya, dia dikagetkan dengan sosok anak kecil bermata bolong berdiri dibelakangnya.
"Dor" ucapnya sembari tertawa girang.
Spontan Rieta menutup mulutnya agar tidak teriak karena reflek.
"Astagfirullah nih demit bikin aku jantungan aja" ucapnya dalam hati.
"Kakak bisa lihat kami kan? Kak tolong bebaskan teman-temanku di sana. Aku tidak mau mereka bernasib sama dengan ku.. Hukhukhuk" hantu anak kecil itu menangis.
"Ya, aku akan membebaskan mereka" jawabnya singkat lalu hantu anak kecil itu menghilang.
Sementara didalam rumah itu, seorang pria berbadan tambun berkulit abu-abu sedang memarahi anak buahnya.
Plakkkkk!!!
Plakkkkkkk!!!!
Plakkkkkkkkk!!! Suara tamparan menggema di ruangan itu. Tatapannya penuh dengan angkara murka karena Lora dan teman-temannya tak bisa membawa anak Diana yang ada di vila dan mereka kalah.
"Maafkan kami uncle. Ternyata mereka sangat kuat melawan kami dan satu lagi sepertinya wanita yang melawan kami itu seorang polisi karena bawa senjata api" ucap Lora.
"Apa, polisi? Si*l bisa gawat urusannya kalau begini. Mana Mrs Bianca terus menghubungiku menanyakan stok ginjal dan mata. Arghhhhhhhh" Uncle Muthu terus mengumpat.
Tiba-tiba terdengar suara anak-anak yang berhasil mereka curi menangis dalam ruangan pengap.
"Tolong kami.. Hikhikhik"
"Kami lapar dan haus"
"Aku kangen mama dan papa"
"Aku ingin pulang. Aku rindu nonton upin-ipin, dora, cocomelon dan baby shark"
"Aku mau e'e"
"Hikhikhik.. Mamaaaaaaaaaaaaaaa"
Itulah suara-suara anak kecil yang menangis dan hal itu membuat Uncle Muthu tambah emosi.
"Diam kalian diam" teriaknya hingga membuat sebagian anak tambah kencang menangis.
"Dasar om jelek kaya king-kong. Pendek dan kulitnya abu-abu" umpat seorang anak perempuan.
Perempuan dimana-mana tidak anak kecil ataupun dewasa selalu memandang fisik ya😂
"Om jelek kaya sun go khong" ucap anak lainnya.
__ADS_1
"Diam kalian diam atau aku gantung sekarang" gertak Uncle Muthu karena mendapat ejekan dari anak kecil.
Mendapat ancaman begitu, semua anak itu diam karena ketahutan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haruni tak berselera makan malam. Nasi beserta lauk yang ada dihadapannya hanya ia aduk-aduk saja. Hatinya diliputi kecemasan pada Belinda.
"Mama kenapa makannya dimainkan begitu?" tanya Tiffany yang maksa ingin menginap di rumah orang tuanya.
"Entah kenapa hati mamah cemas mengkhawatirkan Bella" ucapnya sendu.
"Memang dia kemana sih ma? Tumben healing!" tanya Ben karena kepo.
"Dia pergi bersama kedua temannya dan Aldo ke puncak" jawab Haruni.
"Apa perlu aku susul Bella sekarang ma?" tanya Ben yang sudah benar-benar gila talak.
Hal itu disambut delikan mata marah Tiffany.
"Tidak usah, kita tunggu besok saja" jawab Haruni lalu melangkahkan kakinya menuju kamar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Belinda dan Andreas sedang menyusuri jalan setapak arahan dari lokasi yang kirimkan Rieta melalui ponsel Andreas.
Semakin malam hawa semakin mengigil untung saat ini keduanya memakai jaket tebal.
"Bella loe benar kan jalannya" ucap Andreas sembari memeluk lengan Belinda.
"Benar kok. Ish apa sih loe penakut banget Ndre. Yang perempuan itu gue apa loe sih" sungut Belinda kesal.
"Gue takut Bella. Gue baru pertama kali didalam hutan malam-malam" balas Andreas.
"Memang loe pikir gue gimana? Gue juga pertama kali begini. Nyesel gue ikut loe healing kalau ujung-ujungnya bakal begini" Kini Belinda kesal.
"Ya udah sih Bella kan ini juga sudah terjadi. Maafin gue ya" ucap Andreas dengan tulus.
"Iya-iya. Ndre lihat itu ada rumah. Dan lokasi Rieta saat ini sudah dekat" Belinda langsung mempercepat langkahnya.
Hingga Rieta melihat keberadaan Belinda dan Andreas.
"Bella sini" ucap Rieta.
Belinda langsung menghampiri Rieta.
"Syukurlah kita bertemu" ucap Belinda.
"Sayang, bagaimana situasinya?" tanya Andreas.
"Sangat genting. Didalam ada lebih dari sepuluh anak dan penculiknya terdapat lima belas orang termasuk yang menyerang kita tadi. Harus waspada karena ketua mereka sangat jahat. Teman-temanku sudah mulai menuju kemari. Kalian jangan panik" tutur Rieta.
Kemudian gadis itu duduk bersila sembari membakar dupa lalu entah apa yang dia baca. Hal itu membuat Belinda dan Andreas tercengang karena baru melihat sisi lain dari kekasih Andreas itu.
Selesai ber komat-kamit, Rieta membalurkan asap dupa itu ke seluruh tubuhnya.
"Sayang, apa kamu penganut ilmu hitam?" Andreas menjadi takut.
"Bukan lah mas. Itu ilmu keluarga untuk melindungi diri semacam ilmu kebal begitu. Sudah ya jangan berasumsi aku ini bagaimana, didalam lingkungan profesi kami sudah tidak aneh begitu" ucap Rieta sembari tersenyum.
Belinda dan Andreas hanya manggut-manggut ria.
__ADS_1
"Ayo sekarang kita masuk. Kalian jalan belakang karena itu langsung tembus keruangan tempat anak-anak disekap. Lalu aku langsung dari depan melawan penculik itu" perintah Rieta yang langsung di anggukan oleh Belinda dan Andreas.
Sebelum mereka masuk, mereka pun berdoa terlebih dahulu.