Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Ben Mulai Ketergantungan


__ADS_3

"Bella, dimana dasiku?" tanya Ben


" Di atas ranjang!" jawab Belinda


"Bella dimana pakaian kantorku, kaus kaki, sepatu dan aku harus memakai jas warna apa hari ini?" tanyanya kembali


"Semuanya sudah ku siapkan di tempatnya. Kau pakai saja jas navy hari ini" jawab Beli da


Itulah percakapan Belinda dan Ben kala pria itu ingin berangkat kerja.


Saat ini Belinda sedang membuat pancake strawbery untuk sarapan.


Ben keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi tetapi dasinya menceng.


"Bella, aku kesulitan memakai dasi" ucapnya singkat.


Belinda langsung beranjak membetulakan dasi sang suami.


Mereka pun duduk di meja makan, tetapi entah kenapa Ben ingin makan di suapi oleh Belinda.


"Bella suapi aku" ucap Ben sembari membuka mulutnya.


"Haisss kau ini seperti bayi saja Ben" Belinda mencebik kesal.


"Aku ingin di manja olehmu Bella" Ben seketika tersenyum membuat Belinda di landa kegugupan.


"Dia sangat tampan, tapi sayang akhlaknya minus" ucap Belinda dalam hatinya.


Ben yang gantian menyuapi Belinda sekarang.


"Aku bisa makan sendiri Ben" ucap Belinda.


"No Bella! Aku ingin menyuapimu! Aku lebih senang kamu panggil aku dengan sebutan Mas dari pada nama" Ben mencebik monyong.


"Baiklah Mas" kekeh Belinda.


"Bella, kita kan sudah dua bulan menikah, apa aku boleh meminta hak ku sebagai suami?" tanya Ben ragu.


"Ya tentu, kenapa tidak mas! Kamu ini suamiku tapi yang kabur di malam pengantin kan kamu" ucap Belinda sarkas.


"Aku minta maaf akan hal itu" ucap Ben lirih


"Tak masalah mas" Belinda tersenyum manis.


"Agenda kan untuk kita bisa liburan honeymoon secepatnya Bella" ucap Ben.


"Itu bisa di atur mas"jawabnya.

__ADS_1


Mereka berdua pun akhirnya berangkat ke kantor masing-masing.


Sementara di rumah Dhanu, Tiffany sedang di cecar beribu pertanyaan tentang sosok kekasihnya yang belum dia pertemukan dengan keluarganya.


" Fany, kenapa kamu tidak pernah sekalipun membawa kekasih abu-abumu ke hadapan papa?" tanya Dhanu kesal.


"Ya nanti aku bawa pa, tenang aja slow" timpal Tiffany.


"Tak bisa begitu Fany! Papa ingin melihat pria itu apa baik atau sebaliknya. Papa khawatir akan masa depanmu" ucap Dhanu.


"Dia belum siap sepertinya untuk ku bawa ke hadapan papa sekarang" ucapnya gugup.


"Lalu kapan siapnya ha? Sampai aku mati atau sampai kau jadi nenek-nenek baru dia siap? Ingat ya Fany, papa minta bawa pria itu atau papa akan jodohkan kamu dengan anak dari kolega papa, Pak Baskara" Dhanu kesal lalu melengos dari hadapan sang anak.


"Sialllll!!!! Harus bagaimana ini? Arghhhhhhhh, sumpah ya aku serasa berada di titik nadir. Di jodohkan dengan anak Pak Baskara, rumor mengatakan kalau anaknya yang bernama Nicolas kan penyuka sesama jenis! Idihhh ogahh kawin sama homo" Tiffany pun bergidik ngeri membayangkan akan di jodohkan dengan pria kemayu itu.


Tiffany pun berjalan-jalan di taman kota. Meski Belinda menyuruhnya berangkat ke kantor, tapi tak di hiraukan olehnya.


Dalam otak Tiffany, dirinya berpikir bagaimana harus membawa kekasihnya ke hadapaan papa ya, sementara kekasihnya itu ialah Ben, suami dari kakaknya.


"Anj***,, sial sekali hidup ini. Aku harus bagaimana.... Arghhhhhh Binatang semua, tak ada yang mengerti perasaanku" Saking emosinya Tiffany sampai menendang kaleng minuman dan mengenai seorang pria.


Pria itu menghampirinya dengan raut wajah kesal.


"Kenapa loe lempar-lempar kaleng ke kepala orang" ucap pria itu.


"Apasih loe? Bukan gue!" Tiffany berbohong.


Tiffany tak terima, dia menendang pusaka pria itu sampai dia terjungkal mengaduh...


"Aduhhhh,, sakit banget.. Sialan perempuan gila! Tanggung jawab loe gila sakit banget" pekik pria itu sembari memegangi pusaka naga geninya.


Tiffany tanpa dosa pergi begitu saja meninggalkan pria itu.


"Bodoh amat" ucapnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ben sudah berada di kantor Belinda untuk menjemputnya. Ketika berjalan ke arah ruangan kantor sang istri, dia berpapasan dengan Victoria dan Reyna ketika mereka berdua sedang bebenah karena akan pulang kerja.


Ben tersenyum pada keduanya membuat Victoria dan Reyna bergidik ngeri.


"Victo itu kan suaminya Bu Bella" ucap Reyna.


"Iya gue juga tahu" jawab Victoria acuh.


"Gak malu ya lihat loe masih bisa senyum padahal loe udah pernah pergoki dia sedang gitulah" Reyna berkata sembari merapihkan komputer dan alat tulis di mejanya.

__ADS_1


"Yaelah loe Rey pake kata malu, Binatang mana ada malunya sih dimana pun dan sama siapapun jadi aja. Kambing kalau di bedakin juga mungkin di hajar sama dia" Victoria berkata sembari tertawa.


"Bisa ae loe Victo. Selamat ya buat loe" ucap Reyna.


"Selamat untuk apa?" tanyanya heran karena merasa ambigu dengan perkataan Reyna.


"Ya selamat, loe udah pernah liat burungnya.. Hahaha" Reyna tertawa terpingkal-pingkal.


"Catet ya di hati sama sanubari anda Bu Reyna, gue lihat itunya dia, sumpah demi apapun gak sengaja. Mana gede banget sialan" Victo berkata sembari menutupi wajahnya karena malu.


"Tapi loe suk kan?" tanya Reyna menggoda.


"Idih nadjis amat" Balas Victoria.


Mereka berdua pun pulang.


Kini Ben sudah berada di hadapan sang istri.


Belinda masih saja tidak menyadari kedatangan sang suami karena mata nya masih fokus melihat laptop miliknya.


"Hmmmmmmzz" suara deheman memecahkan konsentrasinya.


"Mas, sejak kapan kamu disini?" tanya Belinda heran melihat Ben duduk di hadapannya.


"Sejak tadi sih! Ayo pulang" ucapnya.


Belinda pun menuruti keinginan Ben , dia merapihkan map itu.


Di perjalanan Ben menyalakan Radio untuk mengurangi rasa suntuk.


"Bestie-bestieku yang charming, Kak Aldo punya tips perawatan wajah nikh untuk semua pendengar yang budiman.. Kalian bisa terus streaming di love radio 106,3 FM. Kali ini curhatan dari Pria Sad Boy, dia bilang kalau dia mencintai adiknya tetapi menikah dengan kakaknya, Wooow ulala sangat rumit ya Bestie di dalam dunia ini. Tapi alangkah baiknya jika kau pria sadboy memutuskan hubungan dengan adiknya saja. Segitu tips dari Aldo si bala-bala. By" ucap seorang penyiar radio dengan suara cerianya.


Ben seperti ingat suara itu. Dia teringat akan Aldo yang dua hari ini selalu murung di ruang kerjanya.


"Suara penyiar itu seperti suara Aldo" ucap Ben.


"Itu memang Aldo" ucap Belinda.


"Apa?? Aldo sejak kapan jadi seperti itu? Dia sosok pria yang dingin. Dan jarang bicara!" ucap Ben sembari menggelengkan kepalanya.


"Ya itu dia Mas! Sudah satu tahun dia di radio. jika pulang dari kantormu selalu mampir ke radio miliknya dan kadang ikut siaran disana. Dia cerita, bahwa Aldo membeli Radio itu dari temannya" Bella menjelaskan yang dia tahu.


"Kok aku tak tahu? Banyak juga duitnya, setauku gajinya hanya tiga puluh juta sebulan. Tapi pantas juga sih bisa beli radio! Dia itu pria yang sangat ngirit, pelitnya bukan main. Dia tidak pernah terlihat membeli apapun dan ketika ku tanyakan di mana rumahnya, dia tidak pernah mau memberi tahu. Padahal dia kerja sudah sepuluh tahun denganku" ucap Ben sedikit kesal.


"Ya mungkin dia ingin sedikit privasi denganmu" ucap Belinda.


"Mungkin juga sih" ucapnya.

__ADS_1


Kini, mereka berhenti di depan sebuah Resto khas Italiano. Mereka pun menyantap hidangan itu dengan lahap karena perutnya sudah ingin di isi.


"Hai, Ben! Senang bertemu dengan mu disini!" ucap seorang wanita.


__ADS_2