Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Rasa Penasaran Tiffany


__ADS_3

Ketika Belinda membuka pintu mobilnya, alangkah terkejutnya melihat Aldo yang sudah nangkring dibagian kemudi mobil itu dengan cengiran kudanya.


"Loh kamu kok disini?" Belinda merasa heran.


"Kenapa memangnya, hem? Apa kamu tak ingin merasakan ciuman ala vacum cleaner? Apa kamu juga tidak ingin melihat barang yang endul?" Aldo segera merangkul tubuh sang kekasih kedalam pangkuannya.


"Yaampun Aldo, kamu tahu obrolanku dengan kedua sahabatku? Duh aku jadi malu" Belinda meringis menyadari ucapannya.


"Kenapa kamu ketika ngobrol dengan mereka terlihat lepas bahkan berbicara yang sedikit urakan, hem? Aku baru tahu sisi lain dari dirimu kalau sedang bersama mereka. Aku jadi iri karena kamu selalu bicara formal padaku" Aldo berbicara dengan nada sedih.


"Aku memang selalu bisa lepas jika berbicara dengan dia. Aldo, kamu kekasihku jadi aku tak ingin berbicara urakan" balas Belinda.


"Aku lebih suka kamu yang tadi. Ceplas ceplos dan tertawa ngakak. Tidak jaim seperti sekarang. Bella, sejujurnya aku lebih suka lihat kamu yang tadi. Please perlakukan aku seperti pada kedua sahabatmu" Aldo berkata sembari memegang tangan Belinda.


"Baiklah kalau begitu. Pacar rasa teman" ucap Belinda.


"Aku suka! Yaudah mau kemana hari ini biar aku antar?" tanya Aldo.


"Kemana saja asal sama kamu ayang" balas Belinda manja dan itu membuat Aldo makin suka.


"Bilang apa barusan? Bilang apa, hem?" Aldo langsung memeluk Belinda.


"Ayang" ucap Belinda sekali lagi.


"Gemas, gemas. EummmzZzz!! Jadi pengen cium terus" Aldo semakin erat memeluk dan mencium Belinda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Fany, mama mau kamu ziarah kemakan tante Ratna sekarang! Kamu semenjak menikah belum ziarah kesana" ucap Haruni.


"Nanti saja lah ma, aku cape! Lagi pula aku belum pernah bertemu tante Ratna kok, kenapa aku yang harus selalu ziarah kesana? Kak Bella saja yang mama suruh" Tiffany menolak.


"Andai kamu tahu jika dialah yang melahirkanmu kedunia Fany" gumamnya dalam hati. Ada air mata terjatuh pada netra Haruni.


"Mama maunya kamu yang ziarah kesana Fany. Jangan membantah karena tante Ratna sangat menyayangimu. Cepat Fany jangan lama-lama" Haruni sedikit mendorong tubuh Fany.


"Iya ma iya, aku pergi sekarang. Heran deh kenapa aku yang selalu disuruh ziarah kemakan tante Ratna? Setiap hari ulang tahunku mama selalu menyuruhku ziarah tanpa tahu alasan yang bisa kuterima. Huuuuuhhh mama pemaksaan" tiffany akhirnya berangkat menuju TPU tempat Ratna dimakamkan.

__ADS_1


Kini Tiffany sudah berdiri didepan pusara yang bertuliskan Ratna.


"Asalamuallaikum Tante! Aku datang kemari lagi. Maaf aku sudah lama tidak mengunjungimu. Semoga kau tenang dijalannya. Tante sebenarnya kau siapanya aku sih? Kenapa mama selalu menyuruhku untuk mengunjungi makammu setiap tahunnya dan tidak pernah menyuruh pada Kak Bella sekalipun. Tante jika kusudah kemari, ada rasa tenang dalam hatiku walau aku tidak pernah tahu bagaimana wajahmu, tetapi mama selalu bilang kalau tante sangat menyayangiku" entah kenapa air mata Tiffany luruh begitu saja diatas pusara makan Ratna.


Lalu Tiffany merogoh kitab suci dari dalam tasnya dan mengaji diatas makan Ratna.


"Tante, aku mau mengaji untumu, walau bacaannya mungkin berantakan karena Kak Bella yang mengajariku pun sama tidak pandai mengaji tapi dia maksa mengajariku" ucap Tiffany sembari mengusap-usap batu nisan Ratna.


Rasa sesak seketika dirasakan Tiffany seolah ada kerinduan yang begitu dalam pada hatinya.


Selesai itu Tiffany langsung pamit pada pusara itu.


"Tante aku pamit pulang dulu ya! Semoga tante menjadi ahli surga" Tiffany pun mencium batu nisan itu cukup lama dengan perasaan yang dalam.


Dia pun bergegas meninggalkan pusara Ratna.


Sebelumnya Tiffany sudah menemui penjaga makan untuk menyuruh selalu membersihkan makan Ratna.


"Pak tolong setiap minggunya cabutin rumput yang ada disana. Saya akan bayar tiap bulannya pada bapak" ucap Tiffany sembari menunjuk tempat dimana Ratna disemayamkan.


Tiffany pun akhirnya pulang dengan membawa mobilnya.


Tiffany pun kembali lagi kerumah sang mama dengan langkah gontai.


"Fany kenapa kamu tidak langsung pulang kerumahmu?" tanya Haruni heran pasalnya Tiffany selalu kerumahnya walau sudah pindah.


"Malas ma disana sepi. Bik Lilis gak kerja lagi jadi disana gak ada siapa-siapa" jawabnya.


"Mama hanya tak ingin ada fitnah antara kamu dan Bella. Mama sayang pada kalian berdua. Fany, mama harap sikapmu lebih baik pada kakakmu karena Bella sebenarnya sangat menyayangimu" ucap Haruni penuh harap.


"Kak Bella semakin membenciku karena pernikahanku dengan Ben. Dia juga sering menamparku" kesal Tiffany.


"Kurang baik apa Bella padamu? Bahkan pernikahannya rela hancur demi dirimu Fany. Tolong demi mama, jaga tali persaudaraan kalian jika kamu tidak ingin mama sedih ya!" Haruni lalu beranjak meninggalkan Tiffany seorang diri.


Kini giliran Dhanu yang duduk disamping Tiffany.


"Kenapa wajah anak papa murung, hem?" tanya Dhanu sembari mencolek pipi Tiffany.

__ADS_1


"Pa, kenapa sih mama selalu menyuruhku ziarah kemakan tante Ratna setiap taunnya? Siapa sih dia pa?" tanya Tiffany ingin tahu.


Deg!!! Jantung Dhanu memompa lebih cepat karena pertanyaan Tiffany.


"Tante Ratna itu adik tiri mamamu!" jawabnya kelu.


"Apa ada pertalian darah antara mama dan tante Ratna?" Tiffany semakin penasaran.


"Tidak ada! Mama anak kandung eyang Widhi dan tante Runi anak kandung eyang Mega dengan suami terdahulunya. Jadi waktu eyang Dirja menikahi eyang Mega, beliau sudah membawa anak yaitu tante Ratna. Tetapi Mamimu baik hati dan terus mengizinkan eyang mega dan tante Ratna tetap tinggal dirumah selepas meninggalnya eyang Dirja" tutur Dhanu tanpa menceritakan keburukan Ratna semasa hidupnya.


"Oh begitu" Tiffany hanya manggut-manggut saja.


"Yasudah papa kekamar dulu ya. Kamu harus pulang kerumahmu, sebisa mungkin hindari Ben dan Bella bertemu secara intens agar tidak ada fitnah" ucap Dhanu sembari berjalan kearah kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kini dua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu, sedang duduk ditaman kota sembari memakan eskrim.


"Bella, aku mengamati wajahmu dan adikmu kenapa tidak ada miripnya?" tanya Aldo.


Belinda langsung termenung dengan pertanyaan Aldo.


"Masa sih?" tanyanya sembari tersenyum.


"Benar sayang! kulit kalian juga beda padahal om Dhanu dan Tante Runi kan lumayan berkulit putih sama sepertimu. Sedangkan Tiffany cenderung sedikit cokelat!" ucap Aldo.


"Karena Tiffany bukan adik kandungku" jawab Belinda mengatakan yang sebenarnya.


"Kalian saudara tiri?" tanya Aldo kembali.


"Ya! Tetapi kami sudah berjanji tidak akan mengatakan yang sebenarnya pada Tiffany. Aldo, aku baru mengatakan ini padamu sebagai orang luar dari keluargaku karena aku percaya kamu takan mengatakan apapun pada orang lain" ucap Belinda penuh harap.


"Aku akan menjaga rahasia ini. Pantasan kalian tidak mirip" ucap Aldo.


"Mama menyanyangi Tiffany walau dia terlahir dari rahim seorang perempuan yang sangat menyakiti hati mama. Ibunya Tiffany adalah adik tiri dari mama tetapi dengan liciknya merebut hati papa sampai mereka punya anak. Ibunya Tiffany meninggal ketika melahirkan Tiffany bayi, jadi papa memberikan bayi itu pada mama. Walau awalnya mama membenci bayi itu, tetapi rasa iba lebih besar dari rasa sakit hati. Sampai akhirnya Tiffany sebesar itu. Mama mendidiknya agar menjadi wanita baik-baik dengan besar harapan tidak meninggalkan jejak wanita itu pada diri Tiffany, tetapi kenyataannya darah lebih kental dibandingkan air. Tiffany tumbuh menjadi perempuan yang kamu kenal sekarang" Belinda kemudian menangis.


"Sudah-sudah. Semoga saja dengan berjalannya waktu, sifatnya bisa berubah dan hubungan kalian jadi rukun kembali" Aldo memeluk Belinda sembari menyeka air mata sang kekasih..

__ADS_1


__ADS_2