
Kursi rumah Dhanu sudah terisi penuh oleh keluarga besarnya dan keluarga besar Aldo.
Hari ini acara pertunangan Belinda di laksanakan.
Binar bahagia terpancar pada wajah dua sejoli ini terutama Aldo.
Senyum nya tak pernah pupus karena kebahagiaan yang selama ini selalu di anggap angan-angan kini diraih olehnya.
"Ayo sematkan cicin itu!" perintah Hilda pada sang putra.
Aldo pun langsung meraih tangan Belinda lalu menyematkan cincin berlian di jari Belinda.
"Semoga secepatnya kita menuju mahligai" ucap Aldo sembari memandang damba pada sang pujaan.
"Aku berharap juga demikian. Semoga kamu menjadi pria terakhir untukku Aldo" balas Belinda dengan tatapan penuh cinta pada sang kekasih.
Hal itu membuat Ben yang melihatnya merasakan kegerahan hatinya hingga ia tak sadar tangannya meremat taplak meja hingga kusut. Setiap acara yang ia ikuti semuanya membuah ia jengah. Belum lagi rasa cemburu meluap-luap.
Aldo kemudian mencium tangan Belinda. Hal itu disambut riuh tepuk tangan dan siulan dari para keluarga.
Acara pertunangan itu pun selesai. Semua anggota keluarga Aldo sudah pulang semuanya.
Di moment itu ada satu hal yang membuat Belinda sedih tak kala melihat Listyo sang mantan mertua tak kuasa menahan tangisnya. Ben yang melihat sang papi baru kali ini dalam hidupnya menangis.
Belinda langsung menghampiri pria paruh baya itu.
"Papi kenapa menangis?" tanya Belinda.
__ADS_1
"Rasanya berat untuk papi melihat kamu sudah menemukan kembali kebahagiaan itu. Papi sesungguhnya masih berharap kamu menjadi menantu papi, Bella. Tapi melihat siapa yang membuatmu bahagia, papi merasa yakin dan merestui kalian untuk menjalin ikatan suci. Aldo sudah papi anggap anak sendiri. Berbahagialah kalian dan janji pada papi untuk selalu menyayangi" tutur Listyo.
"Papi akan menjadi orang tua saya selamanya. Papi tidak akan saya lupakan, saya akan selalu menjadi anak papi walaupun Ben bukan suami saya lagi" ucap Belinda tak kalah berlinang air matanya.
"Boleh papi peluk kamu nak?" tanya Listyo sedih.
"Tentu saja pi, saya kan anak papi" jawab Belinda tersenyum seraya merentangkan tangannya dan Listyo memeluknya.
Melihat mertua dan kakaknya sedekat itu rasanya Tiffany ingin memaki dan menjerit. Padanya, Listyo tak pernah sedekat itu bahkan saling sapa pun jarang. Entah salah apa membuat sang mertua tidak suka pada Tiffany. Padahal jika Tiffany mau mengambil hati sang mertua, besar kemungkinan jika Listyo mau berbaik hati dan menerima kehadirannya karena kenyataannya Listyo adalah sosok mertua yang baik.
"Menyebalkan" gerutu Tiffany dalam hatinya.
Bukan hanya kesal pada mertuanya yang lebih bersikap baik pada sang kakak, dirinya pun merasa iri karena pernikahannya dengan Ben tidak meriah dan terkesan seperti dua orang yang mesum lalu tertangkap basah dan langsung di nikahkan secara paksa. Tidak ada pesta ataupun pelaminan. Tiba-tiba setitik air matanya jatuh membasahi pipinya. Sedangkan waktu Belinda menikah dengan Ben di gelar secara meriah di hadiri para kolega bisnis keduanya dan selebritis yang ikut meramaikan acara pernikahan itu. Seakan muak dengan semua drama lamaran sang kakak, Tiffany pun seketika pergi dari ruang keluarga. Kakinya melangkah menuju kamarnya lalu menutup pintu dengan sangat keras.
Brughhhhhhhh!!!! Suara pintu kamar itu mengagetkan semuanya. Ben paham apa yang dirasakan sang istri setelah melihat bagaimana sikap sang papi pada Belinda.
Tiffany membanting barang-barang yang ada di hadapannya. Kesal sekali karena keberadaannya seakan tidak di anggap oleh semuanya termasuk mertuanya sendiri yang bicara secara terang-terangan kalau ia lebih menyukai Belinda.
"Arghhhhhhh breng*ek semuanya anj**g.. Tak ada yang bisa mengerti perasaanku" jerit Tiffany dengan emosi yang membuncah dalam hatinya.
"Gak orang tua gak Ben sama-sama breng*ek di tambah lagi dengan mertua sama-sama breng*ek. Tidak ada yang bisa membuatku merasakan kebahagiaan... Arghhhhhh binatang kalian semua" racaunya penuh dengan kemurkaan. Nafasnya memburu seakan ingin menerkam apa saja yang ada di hadapannya.
Ben langsung masuk dan betapa terkejutnya melihat kekacauan ini.
"Fany, apa-apaan kau ini?" Ben langsung mendekat ke arah sang istri.
"Lantas mau apa kau kemari anj**g? Puas kau melihat aku begini? Suami dan mertua sama saja tak berperasaan. Aku tahu kau cemburu kan lihat pertunangan Kak Bella? Ngaku saja bodoh? Apa kau pikir aku tak tahu selama ini kau getol sekali mengejar Kak Bella?" racau Tiffany sembari melemparkan vas bunga kearah Ben sampai mengenai bahunya.
__ADS_1
Melihat Tiffany begini, Ben merasa benar-benar bersalah. Gara-gara sibuk mengejar Belinda, ia jadi melupakan Tiffany.
"Sayang tenang dulu ya. Jangan begini aku minta maaf. Kamu hanya salah faham saja. Aku mencintaimu Fany, mana mungkin aku akan menduakan mu. Sudah ya aku minta maaf turunkan emosimu. Dan soal papi aku akan bicara padanya" Ben langsung memeluk erat Tiffany yang menangis meronta-ronta berusaha melepaskan pelukan Ben.
"Aku sakit melihat kau begini Ben. Aku istrimu tapi seperti tak kau anggap. Aku lelah dengan semua drama menjijikan ini" ucap Tiffany dengan nada lirih.
"Maafkan aku. Aku janji akan lebih memprioritaskan mu sayang. Sudah ya jangan begini! Aku yang salah" Ben tetap memeluk Tiffany yang menangis tersedu-sedu.
"Istirahat dulu, nanti Bik Imas yang akan membersihkan kekacauan ini. Aku akan bicara dengan papi" ucap Ben sembari menuntun Tiffany untuk berbaring di atas ranjang itu lalu langsung menyelimuti tubuh Tiffany.
Cup!!! Ben mencium kening Tiffany agar sang istri merasa tenang.
Ben pun berjalan ke arah Listyo mengajaknya kebelakang.
"Papi bisa ikut aku sebentar, ayo" Ben langsung menggandeng tangan sang papi.
Kini tibalah di area kolam renang yang terdapat dua kursi.
"Ada apa Ben mengajak papi kemari?" tanya Listyo heran.
"To the point saja pi, apa yang papi lakukan pada Belinda sama sekali bukan hal yang baik menurut Tiffany. Asal papi tahu, karena hal itu Tiffany mengamuk di kamarnya. Dia menangis melihat bagaimana papi masih menyayangi Bella. Ditambah dia kesal padaku. Pi aku mohon jangan diamkan Tiffany, mau bagaimanapun dia istriku sekarang. Melihatnya meraung-raung selepas pergi dari acara itu kedalam kamarnya membuat ku merasakan sakit hati" ungkap Ben.
"Apa, Tiffany mengamuk? Gara-gara papi begitu? Astaga aku tidak berpikir sejauh itu. Aku pikir Fany tidak akan sakit hati. Tapi hati kecil papi masih berat menerima kenyataan jika Bella sudah bukan menantu papi lagi. Papi akan bicara dengan Fany sekarang dan meminta maaf" ucap Listyo merasa tak enak hati dan bersalah.
"Ya memang seharusnya begitu pi. Selama ini kan hubungan kalian juga tidak terlalu baik. Papi selalu tidak menganggap Fany. Bahkan pernah sekali Fany berusaha membuatkan kopi untuk papi walau rasanya entah bagaimana tetapi tak ada niatan papi menyentuh kopi itu sampai Fany pergi pulang ke rumah papa Dhanu saking kesalnya dengan papi" Ben mengungkapkan semua perasannya yang membuat sang istri selalu merasa kesal.
"Baiklah jika begitu antar papi ke kamarmu untuk bicara dengan Tiffany" ajak Listyo.
__ADS_1
Ben pun lalu berjalan menuju kamar Tiffany berdua dengan sang papi.