Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Mengancam Bundir Bila Di Tinggalkan


__ADS_3

"Victo!" ucap Belinda.


Victoria pun menoleh dan terkejut kala mendapati Belinda berdiri tepat di hadapannya.


"Maaf anda salah orang. Saya bukan Victoria saya Elizabeth" Victoria segera melebarkan langkahnya menjauhi Belinda.


Belinda segera mengejar Victoria dan Belinda bisa meraih tangan gadis itu.


"Victo, kenapa kamu lari dari saya?" tanya Belinda dengan nafas terengah.


"Maaf Bu Bella saya korupsi! Ibu sebaiknya jangan dekat-dekat dengan saya! Permisi" Victoria hendak Pergi.


"Saya tahu semuanya! Victo apa kamu tidak kasihan terhadap saya? Tak ada kamu di kantor rasanya menjadi gila. Victo kembalilah bekerja di kantor saya! Saya kerepotan sendiri" Belinda memohon pada gadis itu.


"Tapi saya sudah di pecat dengan tuduhan murahan Bu" Victoria tak kuasa menahan tangis.


"Siapa yang memecat kamu? Saya tidak merasa memecat kamu" Belinda terus memaksa agar Victoria mau bekerja kembali.


"Bu Fany yang memecat saya!" ucap Victoria dengan sendu.


"Kamu kan kerja untuk saya, kamu itu aspri saya bukan aspri Tiffany. Mau ya kembali lagi bekerja adikku?" tanya Belinda.


"Bu Bella menyebut saya adik?" Victoria heran.


"Ya, Kamu sudah saya anggap adik saya sendiri. Kamu itu potensial. Mau ya kembali lagi bekerja di perusahaan saya? Saya tidak tega melihat mu berpanas ria menjajakan minuman, Kamu lebih cocok kerja di bawah AC" Belinda tak putus aja membujuk Victoria.


"Oh atau kamu ingin naik gaji? Baiklah saya akan menaikan gaji kamu" ucap Belinda.


"Tidak Bu, gajih yang anda berikan pada saya sudah lebih dari cukup. Baiklah saya akan bergabung lagi di perusahaan ibu. Terimakasih karena sudah percaya bahwa saya tidak mungkin melakukan hal terkotor yaitu korupsi" Victoria sangat senang.


"Baiklah saya tunggu besok! BTW minumanmya seger tuh" Celoteh Belinda.


"Silahkan minum ini gratis buat Bu Bella dan temennya" ucap Victoria sembari melirik Aldo.


"Itu ide bagus" ucap Aldo.


"Mereka bertiga pun duduk di kursi panjang sembari mengobrol.


Hari sudah terik, Victoria pamit pulang, Sekarang hanya ada Belinda dan Aldo beserta anabul Renata. Kucing itu bahkan selalu ingin berdekatan dengan Belinda.


"Renata ingin selalu dekat denganmu" ucap Aldo sembari terkekeh.


"Ya ku tahu! Padahal aku tak terlalu suka kucing" jawabnya.


"Mari aku antar pulang!" Aldo hari ini ingin lebih lama bersama Belinda.

__ADS_1


"Hmmm, itu ide bagus!" Jawabnya.


Di dalam mobil, Belinda hanya diam. Aldo lah yang terlebih dahulu mengajaknya mengobrol.


"Bella, mau sampai kapan kau berpura-pura baik-baik saja di depan Ben dan Tiffany?" Tanya Aldo.


"Sampai mereka puas dan aku benar-benar muak! Entahlah mungkin berpura-pura bodoh itu lebih baik buatku" jawabnya lirih.


"Tapi kau menyiksa batinmu sendiri Bella. Dan itu tidak baik untuk jiwamu" timpal Aldo.


"Lantas aku harus bagaimana Aldo? Membongkarnya sekarang? Aku pun ikut andil dalam hal ini, mengganggu hubungan cinta mereka. Aku bingung harus memulai darimana" Belinda seperti mendapat kenyamanan kala bercerita dengan Aldo.


"Kamu tidak bersalah dalam hal ini. Mereka yang salah karena tidak mau bicara dengan papamu! Buang jauh-jauh anggapan kau bersalah dalam hal ini. Jujur padaku apa kau kencintai Ben?" Aldo ingin tahu bagaimana perasaan Belinda pada suaminya.


"Ya aku mencintainya" jawabny singkat.


Seketika hati Aldo mencelos, remuk redam. Mungkin ini yang dinamakan patah hati part 1.


"Oh" ucapnya singkat.


Mereka akhirnya sampai di halaman rumah Belinda.


"Aldo terimaksih sudah mengantarku puoang. Ayo mampir dulu" tawar Belinda.


"Terimaksih atas tawarannya. Aku sedang sedikit sibuk. Baiklah aku pamit semoga kau selalu bahagia"Aldo pun langsung tancap gas meninggalkan kediaman dari Belinda.


Mugello Hotel, dua sejoli sedang menikmati indahny pantai sembari meminum cokelat panas.


" Sayang, ada apa kau jauh-jauh mengajaku kemari?" Tiffany bermanja ria di pangkuan Ben.


Ben, tak banyak berkata. Tekadnya untuk mengakhiri hubungan dengan Tiffany sudah bulat. Dia ingin serius membangun mahligai dengan Belinda walau dia belum mencintai wanita itu. Dia hanya mengandalkan kata nyaman dalam rumahtangganya saat ini.


"Sayang kenapa diam? Apa kamu sakit?" Tiffany spontan meraba-raba kening sang kekasih.


"Fany aku ingin bicara serius padamu" Ben berkata seakan berat.


"Ya sayang bicara saja" ucap Tiffany.


"Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini" ucap Ben dengan suara tercekat. Tenggorokannya seakan terjejal biji mengkudu, karena kata yang keluar dari mulutnya serasa sulit dan berat untuk di ungkapkan.


Tiffany langsung diam, dan tak lama tertawa.


"Mengakhiri? Apa maksudnya Ben? Mengakhiri bagaimana?" Tiffany merasa gamang dengan perkataan Ben.


"Aku ingin kita putus! Kau bebas mencari pria manapun, aku akan serius membangun mahligai bersama Bella" jawab Ben.

__ADS_1


"Apa? Katakan ini tak benar Ben? Kau mau mengingkari janjimu sendiri? Kau mau buang aku setelah kau hancurkan semuanya dari diriku? Apa Kak Bella memaksamu hah? Oh no aku tak akan sudi bila kau memutuskan hubungan ini. Kau tau aku sangat mencintaimu sayang" Tiffany seketika menangis, terkulai lemas. Perkataan Ben barusan seolah seperti angin tornado yang meruntuhkan harapan-harapan indahnya. Harapan untuk bisa membangun mahligai rumahtangga bersama pria itu.


"Aku pun sangat mencintaimu Fany. Tapi bagaimana lagi aku sudah menikah dengan kakakmu. Aku tidak ingin mengecewakan orang tua kita. Fany kau bebas memilih pria yang bahkan jauh lebih sempurna di banding aku" Ben mencoba memberi pengertian pada Tiffany.


"Sampai matipun aku tak ingin pisah darimu" Fany memeluk tubuh Ben.


"Mengertilah Fany" Ben masih berharap Tiffany mau berpisah dengannya.


Tiffany tiba-tiba tertawa dan berjalan ke arah balkon hotel itu.


"Lihat sayang, Balkon itu tinggi bukan? Rasanya akan menarik jika malam ini aku bermain loncat indah dari atas ke bawah" ucapnya menyeringai.


"No Fany! Kamu jangan nekat seperti itu aku mohon" Ben merasa kalut.


"Oh jangan ya?" tanya Fany dingin.


"Jangan!" ucap Ben dengan wajah pucat pasi.


"Baiklah" ucap Fany.


Ekor matanya menatap pisau yang berada di pinggir keranjang buah-buahan. Dia berjalan menuju pisau itu.


"Tapi pisau ini lucu, bagaimana jika aku tusukan ke perutku? Maka kau akan bebas dengan Kak Bella" Tiffany segera menghunuskan pisau ke arah perutnya, dengan sigap Ben menghalangi aksi nekat itu.


"Fany berhenti kau jangan seperti ini. Fany aku bilang lepaskan pisau itu Fany!" Ben sudah kehilangan akal untuk menenangkan sang kekasih.


"Untuk apa aku hidup, kau saja sudah tidak mencintaiku Ben?" Tiffany terus memainkan pisau itu di tangannya.


"Kata siapa aku sudah tak mencintaimu Fany? Kau tahu sampai saat ini aku tak pernah menyentuh Bella karena apa? Karena aku menghargaimu, menepati janjiku padamu walau jiwa kelelakianku berontak ingin menjamah istriku sendiri. Aku ini pria normal, akan sangat berhasrat jika melihat wanita tidur di sisiku" Ben akhirnya mengatakan sebuah kejujuran dalam dirinya.


Ben terus memegangi tangan Tiffany, alhasil tangannyalah yang terkena goresan pisau itu hingga darah segar mengucur dari sana.


Tiffany sontak melemparkan pisau itu dan melihat bahwa luka di tangan Ben menganga.


"Ben sayang, Maafkan aku maafkan aku" Tiffany panik, dia segera mencari kotak P3K. Darah sudah bercecer Ben hanya meringis sembari memegangi tangannya yang luka.


"Ayo kita ke rumasakit sekarang!" Tiffany segera membawa Ben ke rumasakit.


Di perjalanan Ben semakin pucat karena kehilangan banyak darah.


"Sayang bertahanlah, sebentar lagi kita sampai di rumasakit" ucap Tiffany panik.


Sampailah di rumasakit, Ben segera di tangani.


Sewaktu Ben menuju ke ruang rawat, dia tak sengaja di lihat oleh dokter Andreas, sahabat Belinda.

__ADS_1


"Tunggu deh, itu kan Tiffany adiknya Bella, dan pria itu bukannya suaminya? Kenapa bisa kemari tanpa Bella? Dan Tiffany sepertinya khawatir sekali dengan pria itu bahkan tangannya tak henti menggenggam tangan pria itu. Wah-wah aku harus cari tahu dan adukan pada Bella, ini tak beres" Dokter Andreas pun berlalu menuju ke ruangannya.


__ADS_2