Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Tamu Tak di Undang


__ADS_3

Ben pulang kerumah, disana sudah ada Belinda menunggu.


"Darimana saja kamu?" Belinda berkata dengan dinginnya.


"Aku bekerja" jawabnya.


"Oh" ucap Belinda singkat.


Kemudian dia melihat lengan sang suami di balut perban.


"Tanganmu kenapa?" Belinda mendekat dan meraba luka yang sudah di balut perban itu.


"Kecelakaan kerja sedikit" jawabnya berbohong.


"Kau ceroboh sekali" Belinda kemudian membantu membuka baju Ben.


"Bella tolong siapkan air hangat, aku ingin mandi" ucap Ben sembari memegangi lukanya.


"Sudah ku persiapkan, beserta bajumu pun sudah ku siapkan" ucap Belinda.


"Terimaksih istriku" Ben mencium kening Belinda walau sejenak.


Belinda hanya tersenyum penuh tanda tanya.


Ponselnya berdering, tertulis nama Andreas.


"Hallo andre!" sapa Belinda.


"Bella, loe lagi apa? Gue turut prihatin ya apa yang menimpa suami loe" ucap Andreas si dokter tampan tapi sedikit kemayu.


"Hei maksud ngana apa?" tanya Belinda heran.


"Suami loe kan tangannya kena sayatan pisau! Yang nganter ke rumasakit juga kan adek loe si Fany. Akrab banget ya mereka sampai adek loe nangis-nangis dan memegang tangan suami loe erat banget" ucap Andreas.


"Tau dari mana loe kalau itu suami gue?" tanya Belinda dengan hati sudah dongkol.


"Hey Bu CEO, loe meragukan gue? Gue melihat dengan mata kepala gue sendiri suami loe datang di antar adek loe. Gue tahu dari dokter Bertha kalau suami loe itu kena sayatan pisau, dia yang jahit luka suami loe. Percaya deh sama gue" tutur Andreas panjang × lebar × tinggi.


"Yaudah gue percaya sama loe. Thanx ya udah kasih informasi sama gue. Loe emang mami gosif terhandal dari dulu" ucap Belinda sembari terkekeh.


"Yes honey! Yaudah gue mau kerja lagi... By" Andreas pun memutuskan panggilannya.


Kini yang tersisa hanya perasaan dongkol pada Ben. Ben selain egois dia juga pandai mengarang cerita.


Belinda berjalan menuju kamar, dan di dapati Ben sedang terbaring di atas ranjang.


"Ben kau berbohong padaku" ucap Belinda dengan langkah yang mendekati sasaran.


"Maksudmu apalagi sih Bella?" Ben heran dengan Belinda.


"Luka di tanganmu bukan kecelakaan kerja kan? Itu sayatan pisau" Belinda melirik luka di tangan Ben dengan tajam.


"Jangan ngadi-ngadi kamu Bella! Ini tuh kecelakaan kerja" ucapnya.


"Baiklah aku bersumpah itu akan jadi kenyataan! Ingat ya Ben, setiap yang aku doa kan selalu terkabul. Hati-hati dengan lisanku" Belinda sudah benar-benar muak.

__ADS_1


"Ya aku mengakui ini memang luka sayatan" ucap Ben akhirnya jujur.


"Kenapa kau selalu berdusta Ben?" Belinda berkata dengan sorot mata yang tajam.


"Berdusta ataupun jujur juga itu bukan urusanmu Bella" Ben tak mau di salahkan.


"Memang itu bukan urusanku, tetapi dengan adanya Tiffany saat dia mengantarmu ke rumasakit itu sudah menjadi urusanku Ben! Ada hubungan apa antara lukamu dengan Tiffany hah?" Belinda memekik emosi.


Ben seketika tersentak. Dia heran darimana Belinda mengetahunya.


"Bella, Please jangan terus menyalakan neraka di rumah ini. Aku pusing ingin tenang. Namaste" Ben emosi sendiri.


"Aku kau bilang? Kau yang selalu menyulut nerakamu sendiri" Belinda kemudian berbaring membelakangi Ben.


"Bella, dosa hukumnya seorang istri memebelakangi suami" Ben berkata sembari menepuk-nepuk pundak Belinda.


"Ya aku tahu" Jawab Belinda masih dengan membelakangi Ben.


"Bella menghadap kemari!" ucap Ben.


"Mau apa sih, aku lelah apalagi menghadapi pria pembohong. Diam aku ingin istirahat Ben" Belinda mencebik sebal.


"Bella ingat dosa loh" Ben berkata sembari membalikan tubuh Belinda dengan paksa sampai menghadap ke arahnya.


Ben langsung menyelimuti sang istri dan mendekap erat tubuhnya. Mereka pun tidur walau Belinda kesal bukan main pada tingkah sang suami.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah, hati Tiffany sangat tidak tenang! Dia memikirkan keadaan Ben dan dia merutuki perbuatan bodohnya.


Lalu hatinya muncul ide lagi untuk kembali ikut tinggal dengan Belinda dan Ben.


"Ya aku harus tinggal lagi bersama mereka. Bagaimanapun aku lebih berhak atas diri Ben di banding Kak Bella. Aku tidak rela jika Ben akan bertukar Peluh dengan Kak Bella. Awas saja jika sampai terjadi" Tiffany mendadak merasa geram dalam hatinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bik Lilis, ART rumah Ben dengan Belinda sudah sampai lebih pagi dari biasanya.


"Loh Bik, tumben datangnya kepagian?" tanya Belinda yang baru bangun tidur.


"Ya Nyonya, sengaja datang pagi karena pekejaan di rumah saya sudah beres semuanya" jawab Lilis dengan sopannya.


"Bik Lilis sudah makan?" tanya Belinda.


"Belum Nyonya" jawabnya pelan.


"Yasudah sekarang Bik Lilis duduk cantik di meja makan, saya akan siapkan roti panggang untuk Bibik" ucap Belinda membuat Lilis seketika merasa tidak enak.


"Gak usah Nyonya. Jangan itu tugas saya melayani anda! Jangan Bibik malu" Lilis tak ingin merepotkan Belinda.


"Tentu tidak Bik, saya sudah biasa lakukan untuk ART di rumah papa saya. Sudah Bibik duduk saja" ucapnya yang segera mengambil roti, sosis, dan segala bahan-bahannya.


Tak lama Ben menghampiri masih dengan piamanya. Dia heran melihat ARTnya duduk di meja makan sedangkan Belinda sibuk memanggang roti.


"Bik, kok istri saya yang bekerja?" Tanya Ben.

__ADS_1


"Saya di suruh duduk disini sama Nyonya Bella, saya sudah menolak tetapi beliau memaksa saya Pak" jawab Lilis dengan kepala menunduk takut.


Ben pun menghampiri Belinda yang sedang menata rotinya di piring.


"Pagi, Bella yang bawel" sapa Ben.


"Morning, suami pembohong" jawab Belinda.


"Aishhh jawaban mu sangat keterlaluan Bella" Ben mencebik.


"Ya seperti itu adanya mau di apakan lagi. Mau apa kamu kemari? Lapar?" Bella heran dengan kedatangan Ben.


"Aku hanya ingin bertanya kenapa kau yang kerja sementara Bik Lilis diam di meja makan?" Ben ingin tahu alasan sang istri.


"Kenapa memangnya? Aku hanya sekedar membuatkan roti panggang untuk Bi Lilis, masalah buat anda Tuan?" Belinda menjawab sembari mata masih fokus ke roti panggangnya.


"Tapi kita yang menggaji Bik Lilis, Bella! Seharusnya dia yang bekerja" Ben tidak ingin kalah.


"Kenapa Begitu Tuan Lazuardy? Aku hanya ingin menyenangkan orang lain itu saja! Lagi pula ini hanya roti panggang saja. Bik lilis sudah seharian bekerja di rumah kita, kita pun harus baik pada dia, apalagi usianya sudah jauh di atas kita. Kita boleh berkuasa atas uang, tapi Bik Lilis berkuasa dengan waktu dan pengalaman dalam hidupnya. Sudah sekaramg cuci wajahmu kita sarapan roti panggang bertiga di meja makan" Belinda kemudian berlalu dari hadapan Ben.


Tak menyangka, ternyata obrolan mereka di dengar oleh Lilis, dia terharu dengan sikap dan sifat Belinda yang baik dan cantik luar dalam. Seumur-umur dia menjadi pembantu baru kali ini di perlalukan selayaknya sama antara majikan dan pegawai.


" Duh Gusti, berikanlah kebahagiaan pada Nyonya Belinda! Dia sangat baik" do'anya dalam hati.


Belinda membawa tiga piring berisi roti panggang sosis, Dia menghidangkan di depan Ben dan Bik Lilis. Ayo kita sarapan. Jangan lupa berdoa pada yang maha kuasa.


"Ben pimpin doa!" ucap Belinda.


Ben yang tak tahu do'a makan pun malah membaca doa sebelum tidur membuat Belinda dan Lilis tertawa terpingkal-pingkal.


Mereka pun sarapan dengan ceria.


Keceriaan mereka hanya sesaat kala pintu rumah itu terketuk dari luar.


"Siapa sih yang bertamu sepagi ini" Ben menggerutu.


"Saya buka dulu ya pintunya" Lilis segera beranjak menuju pintu.


Pintu pun terbuka.


"Bik bawakan koper saya kedalam" ucap Tiffany membuat Lilis melongo.


"Ekh malah diam begitu kaya sapi ompong. Cepat bawakan barang-barang saya kedalam" Tiffany kemudian berjalan ke arah meja makan di ikuti Lilis sembari mendorong koper besar milik Tiffany.


"Morning" ucap Tiffany tiba-tiba mengagetkan Ben dan Belinda.


Tiffany langsung duduk membuat keduanya hanya bisa melongo bingung.


"Kok pada diam?" Tanya Tiffany melihat kearah dua orang di depannya.


"Ada apa Fany sepagi ini kemari?" tanya sang kakak.


"Kamarku sedang di renovasi jadi aku memutuskan untuk ikut tinggal di rumah kakak ipar untuk sementara" ucapnya tampa rasa malu membuat keduanya tambah melongo.


"Apa?" tanya Ben.

__ADS_1


"Apa? Tinggal disini?" tanya Belinda.


__ADS_2