
Untuk para readers yang mengkomplen alur cerita novelku, maaf ya jika belum memenuhi ekspektasi kalian semua di emosi atau karakter yang Belinda ceritakan. Semua yang aku tuliskan murni pemikiranku sendiri. Untuk menulis cerita itu tidaklah gampang, butuh mood yang baik, waktu luang yang cukup tak semudah membacanya. Jadi maaf ya!.... 🙂
Saat ini Belinda mengalami koma. Tubuhnya berbalut perban semakin terlihat sangat memilukan. Hati seorang ibu mana yang tak hancur melihat keadaan sang putri antara hidup dan mati.
"Bella, hati mama sangat hancur nak melihat kondisimu seperti ini.. Hikhikhik" Haruni meraung di sisi brangkar sang anak.
"Kenapa bisa seperti ini sayang? Apa yang membuatmu kacau hingga semua ini terjadi" ucapnya kembali.
"Mama yang sabar. Semoga saja Kak Bella cepat sadar dari komanya" Ucap Tiffany menenagkan sang mama.
Aldo yang tahu penyebab kecelakaannnya Belinda seketika menggeram dalam hati dengan rahang mengeras menahan amarah pada sosok pria di sebelahnya yaitu Ben.
"Simpan air mata buayamu bajingan! Kau lah penyebab Bella mengalami ini semua. Jika sampai Bella tidak tertolong aku takan memaafkanmu" geram Aldo dalam hatinya.
Ben pun memandang lekat sosok yang kini terkulai koma. Belinda seperti tidur dengan sangat damai saat ini dengan selang yang terpasang di beberapa bagian tubuhnya.
Kemudian segerombolan polisi datang ke rumasakit tempat di rawat Belinda. Mereka ingin menanyakan perihal Belinda sebelumnya mengapa sampai ada kejadian seperti ini.
"Saya ingin meminta keterangan semua anggota keluarga Nyonya Belinda.
Semua anggota keluarganya termasuk Aldo yang pertama kali mengabari kecelakaan yang Belinda alami pada keluarga.
" Apakah istri anda dan anda terlibat pertengkaran hingga mengakibatkan korban banyak pikiran?" tanya seorang polisi pada Ben.
"Tidak Pak! Kami baik-baik saja" jawabnya.
"Anda kemana saat istri anda mengalami kecelakaan?" tanya Polisi dengan wajah intens.
Ben diam, gelagapan saat di cerca pertanyan seperti itu.
"Hmmmzz, saya sedang bekerja pak" ucapnya.
Aldo semakin emosi pada Ben!.
Seluruh anggota keluara Belinda sudah selesai di mintai pertanyaan termasuk Aldo.
"Bapak/Ibu tahu kenapa saya menayakan pertanyaan itu pada kalian?" tanya Polisi.
Semua orang menggeleng.
"Karena info yang saya dapatkan dari saksi-saksi di tempat kejadian, Nyonya Belinda lah yang melakukan kesalahan, beliau mengambil jalan lawan arah hingga bertabrakan dengan truk. Dan ada yang bilang bahwa Nyonya Belinda seakan ingin bunuh diri dengan mobilnya. Banyak spekulasi dari pasa saksi. Kami khawatirkan ada masalah di keluarga sampai beliau seperti ini" tutur polisi menjelaskan.
Dhanu selaku sang ayah hanya bisa menggela nafas kasar, dia tidak bisa membaca pikiran sang anak jika sedang ada masalah, karena Belinda sangat pandai menutup rapat kehidupan pribadinya walaupun dari sang ayah.
"Ada apa kau nak sampai seperti ini? Apa yang tidak di ketahui papa nak? Kamu adalah pribadi yang hati-hati dan teliti melakukan apapun termasuk ketika membawa mobil sekalipun" ucap Dhanu dalam hati.
__ADS_1
Malam itu Haruni, Tiffany, dan Dhanu pulang ke rumahnya. Tersisia hanya Ben dan Aldo duduk termenung dengan kegamangan pikiran masing-masing.
"Pak, bagaimana seandainya Bu Bella mengetahui hubungan anda sengan Tiffany?" tanya Aldo memecah keheningan.
"Tidak akan ku biarkan Bella tahu!" jawab Ben.
"Sayangnya Bella sudah tau" ucapnya hanya dalam hati.
"Saya rasa jika bangkai di tutupi, lama-lama akan tercium juga baunya! Permisi Pak" ucap Aldo sembari melangkahkan kakinya menuju kantin rumasakit.
Di kantin, Aldo berpikir bahwa saatnya dia memutuskan kapan akan membuat surat pengunduran dirinya dari perusahaan Ben. Janji pada sang ayah sudah di tunaikan, dia juga lelah harus terus berada di bawah kendali pria menyebalkan seperti Ben. Apalagi pamannya yang selama ini menggantikan tugasnya sebagai CEO di perusahaan milik Ajisaka sang ayah sudah tak kuat bekerja lagi karena faktor usia dan terus memaksanya mengambil alih semuanya.
Paginya di rumah Dhanu, dia sudah rapi dengan pakaian kantornya yang sudah beberapa tahun tak di kenakannya.
"Papa masih kuat memangnya bekerja?" tanya Haruni yang saat itu akan berangkat ke rumasakit.
"Papa harus kuat ma! Bella sedang di rawat jadi siapa yang akan menggantikannya hanya papa yang bisa. Mama tahu sendiri Tiffany sangat tidak bisa di andalkan" ucap Dhanu sembari menghela nafas kasar.
"Mama do'akan semoga papa selalu sehat agar tetap bisa gantikan Bella sementara. Ada Victoria disana jadi akan memudahkan papa mengerjakan apapun yang sebelumnya Bella pimpin" Haruni berkata dengan panjang lebar.
Di kantor, pagi ini sangat heboh karena Victoria mendapat kabar bahwa Belinda kecelakaan tragis dan saat ini masih koma.
"Bu Bella~~huhuhuhu" Victoria menangis.
"Victo loe kenapa Victo?" tanya Imelda.
"Astaga yang bener loe?" tanya Imelda terkejut.
"Bener conge! Barusan Bu Fany telepon gue. Gue gak bisa kaya gini, gue harus ke rumasakit sekarang" Victoria berlari keluar dari kantornya.
Semua staf menjadi gaduh. Banyak yang menangis.
Dhanu sudah sampai di kantor. Melihat para staf yang seperti orang panik.
"Selamat pagi" ucap Dhanu.
"Tuan Dhanu? Anda ke kantor kembali?" tanya Hilmi terkejut.
"Benar Pak Hilmi! Anak saya kecelakaan, kantor tak ada yang memimpin" ekspresi Dhanu menjadi sedih.
"Bapak kami turut bersimpati atas apa yang menimpa Bu Bella. Semoga beliau cepat pulih kembali" ucap Hilmi sedih.
"Terimakasih" Dhanu berkata sembari melangkahkan kakinya ke ruang kerja Belinda.
Di ruangan itu, Dhanu memindai setiap map demi map kerjasama perusahaannya dengan beberapa investor dari dalam maupun luar negri.
__ADS_1
"Bella, kau sangat pintar bernegosiasi nak! Bahkan kau bisa mengambil hati Mr Eliot Grisham dari Swedia untuk mau bekerjasama dengan perusahaan kita. Dahulu papa tidak bisa mengambil hatinya pria tua itu tapi dengammu dia mau" ucap Dhanu kagum terhadap kemampuan Belinda dalam mengelola bisnisnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang ini sebelum Aldo ke rumasakit, dia menyempatkan untuk menemui ibunya.
Wanita tua itu selalu menelepon Aldo untuk mampir ke-rumahnya.
"Bagaimana kabar ibu?" tanya Aldo pada Hilda .
"Ibu semakin sehat nak! Ibu bersyukur kamu menyempatkan waktu menengok ibu disini" Hilda sangat senang karena Aldo menengoknya.
"Sarah dan Barry kemana bu?" Aldo mencari kedua adik tirinya.
"Sarah praktek di rumasakit, sementara Barry sedang tugas ke luar kota nak!" jawab Hilda.
"Nak, antarkan ibu ke makam Mas Ajisaka! Ibu ingin meminta maaf, walau mungkin ayahmu takan memaafkan ibu" Hilda berbicara dengan raut wajah sedih.
Aldo diam tak menjawab, karena jujur dalam hatinya masih ada sedikit kepedihan meskipun dia sudah memaafkan Hilda.
"Bukannya sugeng juga di makamkan disana?" tanya Aldo sedikit geram kala menyebutkan nama ayah tirinya.
"Ya, hanya berjarak lima makam dari ayahmu" ucap Hilda kelu.
"Kenapa sampai matipun Sugeng ingin selalu membayang-bayangi ayahku" geram Aldo.
"Karena ini permintaannya nak! Dia ingin jika meninggal di makamkan dekat ayamu sebagai tanda dia bisa meminta maaf ketika bertemu Mas Ajisaka di alam yang berbeda" Hilda menangis.
"Sudahlah bu, aku tak ingin mengingat itu. Ayo kita ke makan ayah!" Aldo membantu Hilda menaiki kursi rodanya, lalu mendorongnya menuju mobil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ben, hari ini benar-benar dalam keadaan kusut. Pikirannya terus tertuju pada Belinda yang sedang berjuang antara hidup dan mati.
Tiba-tiba Tiffany menghubunginya.
"Hallo Fany?" tanyannya lunglai.
"Sayang, temani aku belanja" ucapnya.
Ben tiba-tiba emosi karena di situasi genting seperti ini Tiffany malah mengajak dia melakukan aktifitas yang remeh temeh.
"Tiffany dimana akal dan pikiranmu, hah? Sekarang Bella sedang berjuang antara hidup dan mati tapi kau malah santai seperti itu" Ben tak habis pikir dengan kekasihnya itu.
"Kak Bella sudah di jaga mama, sayang! Cepat temani aku shoping" Tiffany terus mengajak Ben.
__ADS_1
"Tidak Fany! Pikiranku sedang kacau. Kau seharusnya berempati terhadap kondisi kakakmu sekarang. Aishhh kau benar-benar tidak punya perasaan" Ben sudah benar-benar emosi.
Lalu dia seketika mematikan panggilan telepon dari Tiffany.