
"Sayang, maafkan aku sudah membuatmu sedih" Aldo berkata sembari merem@s gunung kembar sang istri.
"Aku hampir gila" ucap Belinda dengan tangan mengelus rambut Aldo.
"Sebegitu cintanya ya padaku? Sampai mau gila..Hahaha" Aldo berkata sembari tertawa.
Karena sebal, Belinda langsung mencubit ular bermata satu milik Aldo sampai dirinya mengaduh..
"Kyaaaaaa!!! Sakittt burungku. Bella, gimana kalau senjataku disfungsi" Aldo memegang selah pahanya.
"Rasakan itu kisanak!" Belinda tertawa sembari berlari dari atas ranjang.
"Awas kamu ya, minta di hukum sepertinya" Aldo langsung mengejar Belinda.
Happp!!! Belinda berhasil tertangkap oleh Aldo. Dengan gemas, Aldo langsung memanggul Belinda seperti membawa karung beras.
"Haha,, Sayang lepaskan. Maaf deh" Belinda memukul-mukul kan lengannya pada punggung kokoh itu.
"Tidak akan ku lepaskan sebelum ku mengobrak-abrik milikmu. Bersiap saja malam ini dengkulmu akan bergetar" ucap Aldo yang membuat Belinda bergidik ngeri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ben sedang makan malam bersama Tiffany, Listyo, Elsa dan Gerry si bocah lucu. Bocah itu terlihat sangat protektif pada sang ibu.
"Gerry kenapa makannya sedikit, nak?" tanya Listyo.
"Aku takan makan banyak papi. Jatah makanku akan aku berikan pada Bunda dan kakak Fany" jawab bocah itu.
"Kenapa begitu?" tanya Listyo.
"Ikh papi ini bagaimana sih? Bunda dan kakak Fany kan sedang hamil. Mereka itu butuh makan yang banyak agar adik dan keponakanku sehat" balas Gerry pada Listyo.
"Ya Ampun, adikku sangat perhatian sekali" ucap Tiffany sembari mengelus kepala Gerry.
"Iya dong kan Gerry super hero" balasnya dengan bangga.
"Bunda bangga sama Gerry" ucap Elsa.
"Ya dong, jangan kaya kakak Ben yang makan banyak sendiri. Kakak jangan begitu, harusnya kasih jatah kakak untuk adikku" ucap Gerry membuat Ben tersenyum malu.
"Badan kakak Ben kan besar, jadi makannya harus banyak biar kuat" ucap Ben membela diri.
Makan malam pun selesai, saatnya bayar. Ketika Listyo ingin ke meja kasir, langkahnya segera di tahan oleh Gerry.
"Stop papi!" seru Gerry sembari bersidekap dada.
"Ada apa nak?" tanya Listyo.
"Biar Gerry yang bayar!" ucap bocah itu.
"Memangnya kamu punya uang?" tanya Ben.
__ADS_1
"Uangku banyak dong!" jawab Gerry sembari mengeluarkan black card pada saku celananya.
Semua orang terpana kala bocah sekecil Garry sudah punya kartu kredit elit.
"Dari mana kamu dapat itu, nak?" tanya Elsa heran, pasalnya ia tidak pernah memberikan kartu kredit itu pada Gerry.
"Begini ceritanya bunda" Gerry menceritakan semuanya.
Flashback.
Saat itu Bima sedang bersama istri barunya yang bernama Caroline alias si pelakor. Bima makan dengan lahapnya sementara Gerry sang anak tidak di pedulikannya.
"Ayah, aku lapar" ucap Gerry.
"Tunggu kami selesai makan dulu" bentak Caroline.
"Hei, jangan begitu pada anakku" Bima membentak Caroline.
"Kamu membentak ku mas? Demi anak ini kau membentak ku" Caroline pura-pura menangis.
"Aishh, sayang bukannya begitu cintaku. Aku hanya tak suka anakku kau kasari!" balas Bima.
"Ayah, aku lapar" ucap Gerry sembari memegangi perutnya.
"Masuk kamar! Nanti ayah suruh Bik Amoy antarkan nasi ke kamarmu" perintah Bima.
Gerry hanya mengangguk saja, tetapi ia belum masuk ke kamarnya.
"Sayang, aku pergi. Bosan di rumah" ucap Caroline.
Mulai saat itu, Bima menyimpan kartu itu baik-baik karena ia tahu bahwa itu milik Elsa sang bunda.
Flashback off.
"Oh jadi begitu ceritanya? Pintar sekali putra kecil papi ini" Listyo berkata sembari memangku Gerry.
"Pi, kami pamit pulang ya! Baik-baik kalian bertiga" ucap Ben.
"Kenapa kau tak menginap saja di rumah papi" tanya Listyo.
"Kami sudah tinggal di rumah papa Dhanu karena Mama sudah tidak mengizinkan Fany untuk jauh darinya. Maklum Fany kan sudah dekat dengan bulan lahirnya" jawab Ben.
"Benar juga apa kata Ben, mas. Fany sudah dekat waktu melahirkan jadi harus ada yang mendampingi" timpal Elsa.
"Mami Elsa benar pi" timpal Elsa.
"Yasudah kami pamit dulu ya. Bocil, kakak Ben pamit ya" Ben berkata sembari mengacak-acak rambut Gerry.
"Oke kakak Ben. Dadah dede bayi. Om kecil akan jagain kamu nanti kalau sudah lahir" ucap Gerry senang.
Di dalam mobil, Ben melihat perut Tiffany yang semakin membesar. Ia kasihan karena melihat sang istri harus setiap hari membawa bayi dalam perutnya.
__ADS_1
"Sayang, apakah kamu tidak berat membawa bayi dalam perutmu?" tanya Ben sembari sebelah tangan mengelus perut Tiffany.
"Tidak sih hanya aku gampang lelah dan sering merasa kegerahan saja. Perutku juga gatal. Aku juga setiap saat ingin pipis terus" jawab Tiffany.
"Maafkan aku ya, sudah membuatmu lelah seperti ini" Ben berkata sembari tangannya mengelus kepala Tiffany.
"Tak apa-apa. Percayalah hamil itu menyenangkan. Tapi tubuhku tidak akan kembali lagi seperti dulu selepas persalinan nanti. Perutku akan belang dan dadaku tidak akan kencang lagi karena akan memberikan ASI Full nantinya. Ben, aku hanya khawatir kau akan risih dengan tubuhku" Tiffany berkata sembari menunduk sedih.
Ben segera menghentikan laju mobilnya di tepi jalan.
"Hei, kamu bicara apa sih? Mau gimanapun bentuk tubuhmu, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku justru sangat berterima kasih padamu karena sudah mau mengandung putraku. Pewaris ku! Jangan permasalahkan bentuk tubuh ya" Ben mencoba menenangkan Tiffany.
Tiffany pun tersenyum kembali karena merasa Ben sangat menyayanginya.
Sementara Belinda tengah tergolek lemas karena Aldo menggempurnya dengan penuh kekuatan. Aldo seperti singa yang lapar kala bercinta dengan Belinda.
"Apa Aldo turunan Hulk?" batin Belinda kala mengingat agresif dan buasnya Aldo ketika sedang bergoyang maju mundur cantik di atas tubuhnya.
Bahkan Aldo juga sempat meminta Belinda menaiki tubuhnya.
Aldo memeluk Belinda, dengan peluh yang bercucuran.
"Sayang, terimakasih ya, ini sangat endulita sekali" ucap Aldo terengah.
"Tapi aku lemas" Belinda berkata dengan tangan memainkan titik merah mudah di dada Aldo sampai sang empu mendesis.
"Bella, stop sayang. Itu geli.. oughhhhhhhh" Aldo melenguh.
Dengan nakalnya Belinda menyesap titik itu sampai Aldo kelojotan.
"Kau sudah menggodaku, hem" Aldo kembali menindih Belinda.
Percintaan itu pun terjadi lagi.
Aldo nafsuan banget anjrit.....😂
Belinda pun berjalan ke kamar mandi, tetapi ia meradakan dengkulnya bergetar dan intinya yang linu karena ulah Aldo.
"Ckk, Aldo benar-benar seperti banteng" gerutu Belinda.
"Lain kali jangan pancing-pancing aku lagi ya istriku. Kamu tahu kan betapa buasnya suamimu ini" ucap Aldo sembari terkekeh di atas ranjang.
"Ckk, dasar ya kamu" cebik Belinda.
Karena tak tega melihat sang istri yang berjalan tertatih, Aldo pun bangkit lantas memangku Belinda menuju kamar mandi.
"Sayang, mandi bersama, mau?" goda Aldo.
"Tidak! Jangan aneh-aneh. Aku mau mandi sendiri" Belinda langsung menutup dan mengunci pintu kamar mandi.
Ia kemudian memandangi dirinya di cermin, lalu melihat jejak kepemilikan yang sangat banyak yang dilakukan Aldo.
__ADS_1
"Dia seperti Drakula" ucap Belinda.
Orang lain tidak akan tahu dibalik seorang pria pendiam menyimpan birahi yang besar pada pasangannya.