
"Sayang, besok kita harus kembali ke Jakarta. Kamu juga pasti harus segera kembali ke kantor kan?" tanya Aldo sembari menyeruput kopi kapal Fire.
"Ya sayang! Hari senin aku harus meeting dengan Mr klause dari Jerman. Dan itu tidak mungkin aku menyuruh Tiffany apalagi papa tidak bisa apa-apa" ucapnya sedikit sedih.
"Apa sebaiknya kita bawa papa ke Amerika untuk terapi?" tanya Aldo.
"Kalau di bawa ke America, siapa yang akan mengurusnya? Sementara Fany sebentar lagi akan melahirkan. Papa sudah di tangani oleh dokter terbaik" ucap Belinda sembari membereskan semua piring kotor bekas mereka makan.
"Aku hanya ingin papa cepat sembuh saja. Oh ya, berapa bulan Fany hamil?" tanya Aldo.
"Usia kandungannya lima bulan sekarang. Bayinya sangat aktif sekali. Kasihan dia, melewati kehamilannya dengan hari-hari yang berat. Hanya aku dan mama yang membantu sementara Ben entahlah semenjak peristiwa itu jarang sekali mengunjungi Fany. Terakhir dia memohon pada Fany untuk mengurungkan niat gugatan cerainya, tetapi sepertinya Fany kekeh ingin berpisah. Sekarang Fany sudah baik padaku, tetapi sedikit merepotkan ketika dia ngidam sesuatu. Kamu tahu, sayang. Waktu itu pernah dia ngidam ingin makan buah lontar. Jam satu tengah malam, dia merengek padaku padahal dia tahu aku saat itu masih sakit,. Karena kasihan, aku terpaksa mencari itu sampai ke Bekasi sendirian bawa mobil. Sampai rumah jam lima subuh" Belinda menceritakan itu sembari terkekeh.
"Kamu memang wanita hebat" puji Aldo sembari mengelus kepala Belinda.
pujian itu di balas senyum menawan dari bibir ranum itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini Tiffany merasa sangat jenuh berdiam diri didalam rumah, ia ingin pergi ke mall. Ia ingat jika sang mama pernah punya anting berlian dan dirinya ingin meminjam itu.
"Ma, temani ke mall ya?" pinta Tiffany.
"Duh bagaimana ya, hari ini papa harus kontrol ke rumah sakit. Gimana kalau siang saja perginya sesudah mama pulang mengantar papa" balas Haruni.
"Maunya sekarang ma! Yasudah aku sendiri saja. Oh ya ma, aku pinjam anting mama dong yang ada berliannya itu loh" pinta Tiffany.
"Ambil saja di lemari mama, mama sudah hampir terlambat. Janji sama dokter Charles jam delapan, belum macetnya jalan bisa-bisa mama terlambat. Mama pergi dulu ya" Haruni pergi mendorong kursi roda yang di duduki Dhanu.
Tiffany langsung menuju kamar sang mama lalu mencari kotak perhiasannya.
"Ini dia" ucap Tiffany ketika melihat anting yang ia mau.
Tiffany pun mengambilnya lalu menutup kembali lemari kamar sang mama.
Ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya, dan segera berganti pakaian. Ketik ia sedang bercermin dan melihat perut buncitnya membuat ia gemas sendiri. Di usapnya perut itu lalu setetes air mata merembes dari kelopak matanya.
"Nak, mama akan selalu melindungi mu sampai kapanpun. I love u sayang! Kamu adalah penguat mama. Sehat selalu ya didalam perut mama jangan nakal seperti dady mu. Mama janji akan selalu membuatmu bahagia" Tiffany terus mengelus perut buncit itu hingga satu tendangan kuat terasa.
"Aughhhh,, kamu menendang mama ya sayang?" ucap Tiffany terharu.
Entah dari mana datangnya, kini Ben sudah berada di belakang Tiffany. Ia langsung memeluk Tiffany padahal sang istri belum memakai baju.
"Arghhh!! Apa yang kau lakukan Ben?" Tiffany panik setengah mati kala pria yang ia benci sekaligus masih sangat mencintainya itu tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Tenang! Aku hanya rindu pada anak dan istriku. Aku hanya ingin melihatmu dan mengelus perut mu. Fany aku tak sanggup terus seperti ini sayang. Aku lelah, aku ingin kembali seperti dulu lagi denganmu" Ben berkata dengan semakin erat memeluk tubuh Tiffany.
__ADS_1
"Tidak mau! Pergi Ben, pergi dari hadapanku" Tiffany meronta dengan perlakuan Ben.
"Suttt" Ben menutup bibir Tiffany dengan telunjuk kekarnya.
"Tenanglah, aku hanya ingin seperti ini dan merasakan tendangan anakku. Fany dengan apa aku bisa menebus kesalahanku? Jika kamu ingin membunuhku agar kamu bisa lega, lakukanlah Fany, lakukan maka aku akan mengambil pisau saat ini juga" kini Ben menangis.
"Kau tak usah melakukan apapun Ben! Cukup pergi dari hidupku dan ceraikan aku. Aku mampu merawat anak ini sendirian tanpamu" balas Tiffany dengan bercucuran air mata. Jujur saja rasa cintanya pada Ben masih sangat besar tetapi rasa benci dan kecewanya pun tak kalah besarnya.
"Tidak sayang! Aku takan meninggalkanmu sejengkal pun" Ini Ben memutar tubuh polos sang istri untuk menghadapnya.
"Aku tak sanggup hidup sendiri. Papa sudah menikah tanpa sepengetahuanku dan sekarang bahagia dengan Elsa bahkan jarang pulang ke rumah kita, dan kamu juga ingin meninggalkanku, hem? Fany aku mohon sayang" Kini Ben sudah bersujud di kaki Tiffany.
"Ben tolong jangan seperti ini" Tiffany meraih pundak Ben.
Ben berdiri, menatap wajah sang istri yang ternyata sedikit berisi karena efek dari kehamilan. Ben memeluknya dengan sangat sayang. Lalu tangannya meraih wajah Tiffany.
"Maafkan aku sayang. Aku janji takan melakukan kebodohan lagi. Aku sadar aku salah. Ayo kita resmikan pernikahan kita, kita adakan pesta. Itu yang kamu inginkan, bukan?" ujar Ben dengan tatapan penuh cinta.
Ben yakin, sejauh-jauhnya ia berpetualang mencari cinta, pada Tiffany lah ia akan kembali juga. Memang tuhan telah mentakdirkan bahwa mereka memang jodoh sejati.
"Tiffany mengangguk, dia melihat tidak ada sedikitpun kebohongan di mata Ben. Dan Tiffany juga sangat mencintai pria itu walau sudah sangat menyakiti perasaannya.
" Jadi kamu mau memaafkanku dan menerimaku kembali? Benarkah sayang? Katakan agar aku tak salah mendengarnya" Pinta Ben dengan suara bergetar.
"Ya, aku memaafkanmu dan menerimamu kembali" ucap Tiffany.
"Tak sia-sia aku itikaf di mesjid tiap malam. Aku bahkan tidak pernah pulang ke rumah. Aku selalu berdoa agar rumahtanggaku bisa utuh kembali. Fany, aku janji seumur hidupku aku takan menyakitimu lagi. Aku sayang padamu dan anak kitu" Ben langsung memeluk kembali sang istri.
"Aku juga sangat mencintaimu Ben" balas Tiffany.
Ben kemudian duduk di depan perut Tiffany, mencium perut buncit itu lalu berkata.
"Jagoan dady, maafkan dady ya nak! Dady nakal dan tidak pernah mengelus mu. Dady janji akan menjaga dan melindungi mu dan mama mu sayang" ucap Ben lembut sembari mencium perut itu.
Dughh!!!!!
Satu tendangan dari kaki si jabang bayi mengenai wajah Ben.
"Junior nendang dady nak! Junior menyapa dady ya? Cepat besar dan keluar dari perut mami dalam keadaan sehat dan sempurna ya sayang! Dady tak sabar ingin segera melihat dan menimang kamu" ucap Ben dengan nada senang dan terharu.
"Iya dady. Dady semoga dady selalu menjadi pria baik ya. Jangan nakal lagi seperti kemarin-kemarin" ucap Tiffany menimpali dengan suara anak kecil.
"Amin sayang!" Ben langsung mencium bibir sang istri.
Ben memagut ranumnya bibir Tiffany ya g sudah berbulan-bulan lamanya tidak di rasakannya. Tiffany pun membalasnya karena ia pun sama merindukan sapuan bibir Ben.
__ADS_1
"Eughhhh" Tiffany mengeluarkan suara merdunya.
"Sayang, boleh kan?" tanya ben yang sudah di selimuti gairah.
Tiffany hanya mengangguk saja karena ia tak kuasa menahan rasa yang sama.
"Tapi pelan-pelan ya!" pinta Tiffany yang mengkhawatirkan bayi dalam perutnya akan terganggu dengan guncangan-guncangan yang akan sang dady lakukan.
"Aku akan sangat hati-hati" ucap Ben.
"Junior, izinkan dady menengok mu sebentar ya" tak lupa Ben meminta izin pada sang anak.
Ben langsung meraih tubuh sang istri. Menatapnya dengan penuh cinta. Ia menuntun Tiffany keatas ranjang, lalu merebahkan tubuh sang istri. Ben merangkak menghampiri sosok yang sudah pasrah dihadapannya.
"Sayang, biar aku bantu membuka pakaianmu" ucap Tiffany yang segera bangkit dari ranjang itu.
Ben hanya menurut saja karena hasratnya sudah tak tertahankan apalagi melihat seksinya tubuh buncit itu.
Kini mereka sudah tak memakai sehelai benang pun. Ben siap meneguk madu dahaga itu yang sudah tak di nikmatnya selama berbulan-bulan karena kebodohannya.
"Sayang" ucap Ben dengan suara parau dan sorot mata sayu nya.
"Ya" jawab Tiffany lirih.
"Maaf akan sedikit sakit ya karena aku tidak menyentuhmu lumayan lama" ucap Ben dengan tangan menyentuh bukit kembar yang sudah mulai membesar. Sentuhan yang Ben rasakan membuat Tiffany seakan melayang ke nirwana karena wanita yang sedang hamil akan lebih sensitif pada tubuhnya.
"Eughhhh, Ben" Tiffany seakan merajuk.
Ben terus mencumbui sang istri. Kamar itu penuh dengan suara decapan bibir kedua insan ini. Saling balas membalas menyalurkan semua emosi dan kerinduan di sana hingga Ben sudah merasa hampir gila dibuatnya. Ia segera membuka kaki sang istri dan melihat sesuatu yang Ben selalu rindukan sensasinya.
Ben memposisikan tubuhnya agar merasa nyaman ketika penyatuan mereka.
Ben dengan sangat hati-hati memasukan sesuatu yang panjang tapi bukan umur, yang keras tapi bukan batu dan yang keras tapi bukan tekad kedalam inti sang istri hingga Tiffany sedikit tersentak.
Ben membenamkan itu kemudian mengayunkan gerakan dengan sangat pelan namun lama kelamaan gerakan itu lebih cepat.
"Aghhhhh" Ben tak kuasa untuk tidak bersuara.
"Sayangggghhhhhhhhh, ini sangat akhhhhhh" Tiffany meracau menikmati setiap hentak demi hentak yang sang suami lakukan di atasnya.
Ben kemudian membalikan tubuh Tiffany hingga terduduk di atasnya. Dengan susah-susah Tiffany bergerak karena terhalang perutnya yang buncit.
Hingga satu jam lamanya, Ben pun meledak lalu menyudahi aksinya dengan nafas yang sama-sama terengah..
"Sayang, selepas itu aku akan bicara dengan papa dan mama. Aku ingin meminta izin untuk bersamamu kembali. Dan aku ingin tinggal berdua denganmu di rumah baru kita" ucap Ben sembari memeluk sang istri.
__ADS_1
"Ya sayang. Apa kamu akan tinggal dirumah yang dulu di berikan pada kak Bella?" tanya Tiffany.
"Tidak Fany! Rumah itu sudah papi Tyo berikan pada Bella. Itu sudah bukan milikku lagi. Aku sudah membeli rumah baru untuk kamu dan anak kita. Semua barang-barang sudah lengkap. Kita tinggal huni saja" jawab Ben.