
"Sampai kapan kamu harus bergelung dengan kesedihan nak? Jemput kebahagiaanmu Bella dan stop terus mengingat masa lalumu dengan Ben. Dunia ini luas jangan hanya satu pria menjadikan hatimu kerdil. Mama rasa Aldo bisa menjadi pengganti Ben" Itulah perkataan Haruni dua hari yang lalu sebelum Belinda menerima cintanya pada Aldo.
"Tapi ma, aku sepertinya masih ingin sendiri" jawab Belinda.
"Lalu sampai kapan Bella kamu akan siap menjalin kembali hubungan cintamu? Ben sudah bahagia lantas kamu masih begini. Mama kira setelah kembalinya kamu dari Jepang, masalah dalam hatimu akan sirna ternyata tidak" Haruni berkata dengan nada kecewa.
Tak ingin Haruni terus bersedih, Belinda lantas memeluk sang mama.
"Mama mau aku buka hati kembali?" tanya Belinda.
"Ya nak! Mama ingin kamu bahagia dan bisa menemukan jodoh yang benar-benar mencintai dan menghormatimu dan mama melihat itu pada sosok Aldo. Mama tidak memaksa kamu harus menikah dengan siapa, mama hanya ingin melihat anak mama bahagia dan membuka hatinya, itu saja sayang" ucap Haruni sedih.
"Baiklah ma jika begitu, aku akan menerima cinta Aldo" balas Belinda mencoba terlihat bahagia.....
"Bella apakah kamu benar-benar tulus menerimaku? Atau aku hanya kau jadikan sebagai pelampiasan saja?" tanya Aldo.
Saat ini posisi mereka tengah bergelung dalam selimut berdua diatas ranjang king size itu terlihat sangat intim.
"Kenapa kamu bertanya begitu, hem?" Belinda mengelus wajah Aldo.
"Aku hanya takut kau belum mencintaiku" Aldo berkata sembari memandang langit-langit kamarnya.
"Apa yang harus kamu takutkan? Mungkin aku harus melakukan penyesuaian dahulu dan kamu pun tahu itu. Jangan berpikir yang iya iya yah pacarku atau....." Belinda berkata dengan seringai jahil.
"Atau apa, hem atau apa?" Aldo dengan gemas mengeratkan pelukannya pada Belinda.
"Atau aku... Cuppp!!!!!" sebuah ciuman singkat Belinda lakukan pada bibir Aldo.
"Hei mulai berani ya kamu?" Aldo balas mencium wajah Belinda bertubi-tubi.
"Geli Aldo geli" Belinda terlonjak karena Aldo menggesekan sedikit bulu-bulu halus yang ada diwajahnya kepipi Belinda.
"Bilang ampun dulu baru aku berhenti!" Aldo terus menggoda Belinda.
"Ampun, ampunnnnnnn... Aku nyerah" Belinda langsung mengeratkan selimut agar merasa hangat.
"Yasudah kita tidur saja" Aldo langsung mematikan lampu kamar itu dan seketika melingkarkan tangannya pada tubuh Belinda.
"Aldo!" ucap Belinda.
"Hmmmm" jawabnya.
"Tubuhmu hangat sekali" Belinda berkata sembari mengelus-ngelus dada kekar Aldo.
"Oh Bella jangan begitu, kamu bisa membangkitkan sesuatu yang ganas dibawah sana" Aldo tak ingin mengambil resiko karena sejak tadi dia sudah menahannya agar si jumbo tidak terbangun.
"Maaf Aldo" kekeh Belinda.
__ADS_1
Mereka pun tidur dengan saling berpelukan..
Ukh manisnya Bella dan Aldo, lain hal dengan apa yang dirasakan Ben. Dadanya bergemuruh karena dia sedang bertengkar dengan Tiffany.
Kenapa bisa bertengkar? Karena Ben tahu Tiffany menerima paket berupa tas kremes dari pria yang berinisial Mr M.
"Kau selalu saja curiga padaku dan Bella jika kami masih menjalin hubungan, tapi nyatanya kau lah yang berselingkuh" Ben dengan geram membanting tas ratusan juta itu kelantai.
"Siapa yang selingkuh sih Ben? Aku pun tak tahu dari siapa?" Tiffany tidak jujur kalau dia tahu siapa yang mengirimkan paket itu.
"Mana mungkin kau tidak tahu, dan jangan bilang bunga yang waktu itu juga pemberian dari priamu?" tanya Ben kembali.
Ditengah pertengkaran itu, datanglah Haruni mencoba menengahi.
"Ini ada apa lagi sebenarnya? Tiap hari ada saja yang kalian ributkan? Mama pusing" Haruni sangat dongkol dengan dua makhluk yang ada dihadapannya.
"Fany selingkuh ma" ucap Ben tiba-tiba.
"Apa? Benar itu Fany?" tanya Haruni ingin memastikan.
"Tidak ma! Demi tuhan aku tidak selingkuh. Ben yang ngarang. Bukannya dia yang getol mencari perhatian pada kak Bella? Kau itu suamiku Ben!" Ucap Tiffany seolah tidak terima di fitnah.
"Akh sudahlah kalian ini seperti anak kecil saja. Ingat ya Ben, dulu kau bercerai dengan Bella karena mengejar hubunganmu dengan Fany, sekarang kau sudah menikah dengan Fany kau malah cari perhatian dengan Bella? Mau mu apasih sebenarnya?" Haruni menjadi pusing bukan kepalang dengan tingkah mereka.
"Sudah malam kalian tidur sana, atau mama adukan sama papi kamu Ben?" tanya Haruni gemas.
Didalam kamar, Tiffany masih diam.
"Fany, apa kamu marah padaku?" Ben ingin baikan karena ingin mengajak sang istri bercocok tanam malam ini.
"Finy, ipi kimi mirih pidiki?" Tiffany dengan kesal mengumpat perkataan sang suami.
"Giliran berdua aja mendadak kau berbaik-baik padaku" Kesal Tiffany.
"Yasudah sih maafkan suamimu ini. Namanya juga kebawa emosi kan mau bagaimana lagi cintaku" ucap Ben merayu.
"Apa sih gerayangan begitu!" Tiffany menghempaskan tangan Ben.
"Sayang coba rasakan adiku sudah sesak ingin silaturahmi, pegang sini" Ben mengarahkan tangan Tiffany untuk menyentuh tongkat saktinya.
"Giliran begini aja baik-baik" gerutu Tiffany yang sebenarnya sama-sama menginginkan.
"Mau ya manjain adik kecilku ini?" tanyannya sembari memandang gundukan bawah celananya yang disebut si adik kecil yang sebenarnya besar itu.
"Heem" ucapnya malu-malu.
"Hayu" Ben sudah melucuti bajunya.
__ADS_1
"Gaskeun baby" Tiffany pun langsung mencium bibir Ben.
Kata pepatah rasa bercinta akan lebih nikmat jika pasangan yang habis bertengkar terlebih dahulu............
......................
Semburat sinar mentari menembus celah gorden kamar Aldo. Belinda yang biasa bangun terlebih dahulu mengerjap-ngerjapkan matanya lalu memandang wajah Aldo yang masih tertidur memeluk tubuhnya.
Wajah Aldo yang sedang tidur, tidak mengurangk kadar ketampanannya. Dengkuran halus masih terdengar, Belinda pun tak tega untuk membangunkannya.
"Aldo begitu damai dalam tidurnya seperti seorang bayi. Mudah-mudahan dengan hadirnya Aldo akan membuang jauh-jauh nama Ben dihatiku" ucapnya dalam hati.
"Morning Bella" ucap Aldo sembari mengerjap-ngerjapkan matanya.
Wajah Aldo khas bangun membuatnya terlihat semakin tampan.
"Aldo aku harus pulang" ucap Belinda.
"Aku akan mengantarmu sayang, sebaiknya kamu mandi dulu" Aldo melepaskan tangannya yang melingkar pada pinggang Belinda.
Belinda pun beranjak dari atas ranjang lalu beranjak menuju kamar mandi.
"Bau masakan apa ini? Sepertinya sangat lezat" gumam Belinda tak kala mencium semerbak aroma masakan.
Belinda berjalan menuju dapur bersih rumah itu. Dia melihat Aldo yang sedang memasak dengan menggunakan apron berwarna brown.
"Boleh kubantu?" Belinda berdiri disamping Aldo.
"Dengan senang hati" ucap Aldo.
"Aldo kemana semua ART rumah ini? Waktu aku kemari tadi malam, aku melihat banyak ART tapi anehnya aku melihat semua ART kamu sudah sepuh semua?" tanya Belinda heran.
"Hari ini aku meliburkan semua ARTnya. Mereka sebenarnya tinggal di mess dibelakang rumah ini. Aku hanya ingin quality time bersamamu sayang. Dan alasan kenapa ART dirumah ini sudah sepuh semua, itu karena mereka ART yang sudah bekerja sedari aku kecil. Mereka masih ingin bekerja disini walaupun aku sudah menawari mereka untuk berhenti"tutur Aldo.
Belinda hanya manggut-manggut saja.
Belinda memasak sementara Aldo memandangi sang kekasih dengan penuh cinta. Aldo melepaskan apron yang melekat pada tubuhnya dan langsung memeluk Belinda dari belakang.
"Kamu sexy ketika sedang masak" bisiknya tepat didaun telinga Belinda.
"Eumppphhh,, Aldo geli" gumam Belinda kala nafas hangat Aldo menyapu daun telinganya.
Aldo dengan nakalnya menggigit kecil daun telinga Belinda hingga menjalar pada lehernya semakin membuat Belinda menggelinjang..
"Aldo, stop please ini terlalu enak" ucap Belinda yang jujur mengatakan apa yang dirasanya. Dia seorang wanita yang pernah bercinta, akan sangat candu bila ada yang melakukan demikian. Dalam artian Belinda adalah seorang wanuta yang ingin dibelai.
"Hmmmm!! Aku tahu. Yasudah dari pada kita lupa diri, meningan kita makan saja" ucap Aldo.
__ADS_1