
Seperti biasa Aldo sering sekali membuat sang aspri berdecak kesal karena pergi disaat ada rapat di kantor. Pagi ini Aldo akan menemui Ben dikantornya guna memperingatinya akan tindakan semalam pada Belinda. Dia tak habis pikir dengan jalan yang Ben tempuh agar bisa kembali lagi pada Belinda. Dan bagaimana jika sampai Tiffany tahu jika Ben terus saja mengganggu sang kakak.
Aldo melenggangkan langkahnya menuju ruangan kerja Ben dengan memakai kacamata hitam menambah aura misterius dari dalam dirinya. Semua orang masih mengenalnya karena dahulu jabatan Aldo dalam perusahaan Ben.
"Selamat pagi Pak Aldo!" ucap Tari sang manager HRD yang kebetulan melangkah bareng Aldo kala memasuki gedung itu.
"Pagi Tari. Bagaimana kabarmu?" tanya Aldo.
"Baik! Anda sendiri?" tanya Tari.
"Baik" jawabnya lalu melenggang memasuki lift.
Tak lama sampailah didepan ruang kerja Ben dan dia sekilas melirik Elsa.
"Maaf anda ingin bertemu siapa?" tanya Elsa langsung berdiri.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Lazuardy. Apa beliau sudah datang?" tanya Aldo Sembari membuka kacamatanya.
"Apa anda sudah membuat janji terlebih dahulu?" tanya Elsa sekali lagi.
Tentunya Elsa tidak akan membiarkan orang asing yang tidak pernah membuat janji dengan bosnya bisa masuk seenaknya.
"Sudah! Jadi bisakah saya menemuinya nona?" tanya Aldo yang berbohong tapi Elsa percaya.
"Baiklah silahkan" Elsa memberikan Izin pada Aldo.
Aldo pun membuka pintu ruangan itu tanpa adanya kata permisi.
Terlihat Ben sedang diam tergugu sembari menopang kepalanya diatas kursi.
"Selamat pagi Pak Ben!" ucap Aldo.
Ben heran pasalnya Aldo tidak bicara dahulu akan menemuinya dan jika akan membicarakan masalah kerja sama, Aldo tidak membawa berkas-berkasnya melainkan hanya tangan kosong saja.
"Masuk Aldo! Kamu tidak membuat janji terlebih dahulu" ucap Ben yang sebenarnya kesal pada Aldo.
"Saya rasa tidak perlu janji terlebih dahulu karena ini bukan masalah pekerjaan. To the point' saja. Anda sudah punya Wine kenapa anda masih ingin meminum whisky ?" tanya Aldo yang ambigu.
__ADS_1
"Maksudmu apa?" tanya Ben yang belum mengerti arah pembicaraan Aldo.
"Saya pikir anda pintar untuk menganalogikan ucapan saya!" Aldo berkata dengan nada dingin menusuk.
Tak lama berpikir, akhirnya Ben mengerti arah pembicaraan Aldo.
"Oh jadi kamu kemari ingin memperingatkan ku begitu?" Ben tidak bisa menutupi kemarahannya.
"Benar sekali. Saya tidak suka kamu mengganggu milik saya Ben Lazuardy!" Aldo berkata dengan dingin tetapi menusuk.
Sudah tidak ada kata hormat sebagai mantan bawahan. Karena Aldo bukan Aldo yang dulu.
"Kamu sudah berani mengintimidasi ku?" Ben menggebrak mejanya.
Aldo pun berdiri menatap Ben dengan tatapan remeh.
"Kenapa tidak? Belinda milikku, tak ada seorang pun yang bisa menyakitinya bahkan mengambilnya dari sisiku. Seujung kuku pun aku tak akan membiarkan lalat hijau menghinggapinya termasuk kau Ben. Anggap saja ini peringatan kecil dariku" ucap Aldo yang sekarang memperlihatkan dirinya yang sesungguhnya.
Ben langsung mencengkram kerah baju Aldo lalu menghujamkan sebuah pukulan pada rahangnya sampai Aldo terhuyung.
"Jangan mengancam ku. Bella tidak mencintaimu. Bella hanya mencintaiku! Kau hanya dijadikan sebagai pelampiasan saja Kasihan sekali kau Aldo bodoh" Ben terus mencoba menjatuhkan mental Aldo.
"Percaya diri boleh bajingan, tapi bodoh jangan. Bella sangat membenci dirimu mana mungkin dia ingin kembali pada pria breng*ek sepertimu. Kau sudah tidak ada tempat di hati Bella. Jangan mimpi untuk bisa bersatu. Ingat Ben, sepuluh tahun adalah waktu yang cukup untuk tahu semua rahasia perusahaan dan kelemahannya. Jangan sampai aku berbuat jahat pada perusahaanmu jika kau masih sayang dengan semuanya. Camkan itu" Aldo pergi dari hadapan Ben.
"Sia*an dia mengancam ku" ucap Ben sembari memegangi wajahnya yang kebas akibat bogem mentah dari Aldo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
The Wakanda Resto! Haruni dan Dhanu sedang menunggu Listyo untuk membicarakan masalah anak-anak mereka.
Tak lama yang ditunggu-tunggu pun datang.
"Siang besan. Maaf saya terlambat" ucap Listyo tak enak hati.
"Tak apa Bung, silahkan duduk" ucap Dhanu.
"Sebaiknya kita pesan makan dulu saja" timpal Haruni.
__ADS_1
"Ya itu bagus" jawab Listyo.
Tak lama sup iga sapi, gurame bakar, ayam betutu sudah tersaji diatas meja. Ketiganya pun makan dengan lahapnya.
Sesudah makan, Haruni langsung to the points bicara masalah yang tengah dihadapi Belinda atas ulah Ben.
"Bung, tolong bicaralah dengan Ben agar dia tidak terus-terusan menggangu Bella. Kasihanilah anak itu Bung, saya mohon. Cukup selama ini berkorban demi semuanya jangan sakiti terus anak kami" Haruni sudah menangis.
"Maksud jeng Runi apa? Apa yang dilakukan Ben terhadap Bella?" Listyo sudah merasa tak punya muka didepan kedua besannya akibat ulah Ben.
"Ben melecehkan Bella secara verbal. Dia menganggap Bella wanita murahan karena Bella diberikan perhiasan oleh keluarga Aldo. Dia mengira Bella dengan sukarela memberikan tubuhnya demi perhiasan. Ben juga memaksa agar Bella kembali bersatu dengan dia. Lalu dia anggap Tiffany itu apa? Anak kami bukan barang Bung. Bella anak kami begitu pula dengan Tiffany. Kami sangat menyayangi mereka berdua dan anehnya kenapa harus terlibat keduanya dengan Ben. Tolong Bung, saya mohon terima pernikahan mereka, Terima Tiffany menjadi menantumu. Saya tahu yang Bung Tyo inginkan adalah Bella, tetapi kenyataannya sekarang Fany yang menjadi istri Ben. Tolong terima mereka di rumah Bung Tyo agar Ben tidak terus-terusan mendekati Bella dengan dalih menginap di rumah kami" ucap Dhanu dengan perasaan sedih luar biasa.
"Baiklah Bung kalau begitu. Saya akan bicara dengan Ben agar secepatnya dia pindah ke rumah saya. Maafkan Ben yang selalu mengecewakan kalian" ucap Listyo dengan nada lesu.
Ketiga orang itu pun akhirnya pulang dengan kata sepakat jika Ben akan tinggal bersama Listyo.
Kini Aldo sudah tiba diruang kerja Belinda.
"Siang wanitaku" ucap Aldo sembari memeluk Belinda dari belakang.
"Mau Kemari kok tak bilang dulu, hem?" tanya Belinda.
"Kejutan!" balas Aldo.
Pelukan itu dilepaskan, Aldo kemudian mendudukkan bokongnya di kursi panjang itu.
"Sayang maaf aku kemari mengganggumu bekerja. Aku sudah bicara dengan Ben, sepertinya dia tidak akan mengganggumu lagi" ucap Aldo.
Belinda heran, pasalnya Ben bukan tipe orang yang mudah tunduk dengan perintah seseorang apalagi Aldo mantan bawahannya.
"Apa kamu yakin Ben akan menuruti permintaanmu? Maksudku, Ben itu kan keras kepala" Belinda tampak sedikit ragu.
"Apa kamu meragukan ku, hem? Sedikit ancaman saja Ben mati kutu" ucap Aldo.
"Kekasihku ini memang hebat. Kamu kemari apa tidak bekerja?" tanya Belinda mencoba memastikan.
"Aspriku sudah menghandle semuanya. Jika kamu mau bekerja, silahkan saja aku akan menunggumu" ucap Aldo.
__ADS_1
"Tidak! Aku ingin memanjakan mu saja" ucap Belinda sembari membuka resleting celana Aldo.
"Mulai nakal ya kamu. Eumpphhhhhhh Bella" Aldo melenguh karena Belinda sudah memanjakan ular bermata satu itu seperti bocah memakan lolipop.