
"Sedang apa kalian disana?" suara menggelegar dari Listyo begitu murka melihat Tiffany dan Ben saling rangkul mesra.
"Papi?"
"Om Listyo?" gumam keduanya merasa terkejut sekakigus malu.
"Saya kira Ben bermesraan dengan istrinya, ternyata dengan kamu! Apa kamu tidak kasihan dengan kakakmu di perlakukan seperti itu?" tanya Listyo sembari menatap tajam ke arah kedua sejoli ini.
"Saya ini kekasih Ben!" ucap Tiffany dengan tegas.
"Hanya kekasih dan bukan istrinya" ucap Listyo tak kalah tegas.
"Pi sudahlah. Aku minta maaf atas hal barusan" Ben mencoba mengurangi ketegangan.
"Laki-laki tak punya prinsif jelas sekali tergambar di wajahmu Ben! Kau memperlihatkan betapa menjijikannya tindakanmu barusan" Listyo sangat kecewa dengan Ben.
"Pi, mau bagaimana lagi aku masih sangat mencintai Tiffany. Seharusnya yang menikah denganku adalah Tiffany bukan Bella" ucap Ben lantang.
Plakkkkkk!!!! Seketika tangan Listyo mendarat di pipi sang putra.
"Kenapa dari awal kalian tidak bilang kepadaku jika kalian mempunyai hubungan? Kenapa harus sembunyi - sembunyi seperti seorang tawanan saja? Jika sudah begini maka jalan satu-satunya kamu, Tiffany harus meninggalkan Ben!" ucap Listyo tegas.
"Tidak om! Aku tak sanggup bila harus kehilangan Ben. Begitu besarnya rasa cintaku pada Ben dan sebaliknya" Tiffany memohon dengan mata berkaca-kaca.
"Ben, sekarang apa maumu? Melanjutkan hubungan kalian atau kau menceraikan Belinda sekarang?" Listyo sudah kehabisan kata-kata pada anaknya.
Ben diam mematung. Karena jujur dalam hatinya, dia tak ingin berpisah dengan Belinda.
"Ingat Ben, pernikahan itu bukan ajang main-main. Janji kau pada tuhan akan di pertanggung jawabkan, dan aku sebagai orang tua akan terkena dosanya karena aku tidak bisa membawa putraku menuju kebenaran" ucap Listyo kemudian pergi dari hadapan dua sejoli itu dengan kecewa.
Ben hanya diam dengan pikiran yang gamang.
"Fany, sebaiknya kamu pulang" ucap Ben lesu.
"Tapi sayang aku masih ingin disini!" seru Tiffany.
"Fany please, aku sedang ingin sendiri" Ben berkata dengan suara lemah.
"Tapi Ben~~"
"KELUAR!!! Ke - lu - ar" Ben seketika membentak Tiffany.
Tiffany pun sembari menangis keluar dari kantor itu.
Sementara Listyo meredakan emosinya di ruang kerjanya sembari memandangi poto almarhum sang istri.
"Amiya lihatlah putramu sekarang? Dia sudah menikah hanya sedikit nakal dengan pernikahannya. Maafkan aku karena aku belum bisa menjaga Ben dengan baik" ucap Listyo sembari mencium poto itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam berlalu, entah kenapa Aldo tak bisa tidur. Ingatannya tentang sang ibu membuat hatinya dilanda kemarahan kembali. Lalu ART rumahnya mengetuk pintu kamarnya.
"Tuan, ada seseorang menunggu tuan di luar gerbang" ucap sang ART.
"Siapa Bik?" tanya Aldo heran.
__ADS_1
"Ndak tahu Tuan! Dia memohon untuk bisa bertemu dengan anda. Apa saya harus membawa masuk atau saya suruh pergi?" tanya sang ART.
"Saya akan menemuinya saja Bik" Aldo pun keluar dari kamarnya.
Aldo menghampiri wanita itu. Wanita yang kemarin datang tak lain dan tak bukan ialah Sarah sang adik tiri.
"Mau apa lagi kamu kemari?" tanya Aldo pada wanita yang menunggunya di depan pintu gerbang.
"Kak, sekali lagi aku mohon untuk sudi menemui mama kak! Mama semalaman hanya nangis menanyakanmu. Kak aku mohon demi kemanusiaan sudilah kakak untuk menemui mama sekali saja kak!" ucap Sarah sembari memangis dengan tangan memegang besi pagar rumah Aldo.
"Untuk apa dia mencariku? Kenapa baru sekarang setelah dia sakit? Kenapa tidak dulu ketika aku masih membutuhkan kasih sayangnya? Oh iya lupa, saat itu dia takut pada si bangsat Sugeng sampai bapakmu mencelakaiku saja wanita itu tak menolongku dia hanya diam" Aldo menggeram.
"Kak, sudahlah bapak sudah meninggal, jangan kau ungkit-ungkit kembali kesalahannya. Cukup lah dia di dunia sudah mendapat karmanya. Baiklah kak jika kamu memang tidak ingin menemui mama, aku selaku anaknya bisa memahami. Aku pamit semoga kamu selalu sehat dan bahagia. Maafkan sekali lagi kesalahan kedua orang tua kita" Sarah berbalik hendak pergi..
"Sarah, tunggu!" ucap Aldo.
"Apa kak?" ucap Sarah dengan suara lemasnya.
"Aku mau menemui wanita itu. Kau masuk dulu nanti pulang bersamaku" ucap Aldo.
Sarah pun masuk kedalam rumah Aldo.
Sarah terperanjat melihat mewahnya rumah sang kakak. Dia tidak menyangka bahwa sang kakak akan bisa bangkit setelah dahulu hartanya di tipu oleh bapaknya, lalu membawa kabur ibunya.
"Mama, sebentar lagi kau akan bertemu putramu yang selama ini pernah kau sakiti. Dia menjelma menjadi pria tampan, mama harus tahu" gumam Sarah senang.
Mereka berdua pun pergi ke rumah Hilda.
Di dalam mobil, Aldo hanya diam.
"Di jalan gang marmut no 7 Kak! Masih rumah yang dulu" ucap Sarah.
"Kau tahu rumah itu adalah rumah yang menjadi saksi bisu seorang ibu mengusir lalu meludahi anaknya dan menjadi saksi bisu seorang ayah tiri melemparkan batu sekepalan tangan pada pelipis seorang anak kecil. Ya itu adalah aku Sarah" Aldo mencengkram kuat kemudi mobilnya.
Sarah hanya menitikan air mata. Dia bisa membayangkan bagaimana kala itu perasaan seorang Aldo.
"Orang itu kini sudah terbaring lemah kak! Orang itu hanya ingin pengampunan darimu. Hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang" Sarah berucap sembari menitikan air mata.
"Ya aku tahu, itu sebabnya kau selalu datang ke rumahku" selah Aldo.
Mereka pun akhirnya sampai di depan rumah Hilda sang ibu. Rumah yang membuat Aldo teringat kembali pada beberapa tahun yang lalu.
"Pagarnya pun masih sama seperti yang dulu" guammanya.
"Ayo kak masuk" ucap Sarah.
Mereka berdua pun masuk kedalam rumah itu. Lalu sarah mengajak Aldo untuk ke kamar sang ibu.
Disana sudah ada seorang pria menunggui sang pesakitan yang terbaring lemah.
Degggg!!! Hati Aldo sesak kala melihat seorang wanita bak seonggok tulang.
"Mama! Lihatlah aku membawa siapa? Mama ini Kak Aldo" ucap Sarah dengan tangisan menguar.
Hilda pun seketika menatap Aldo dengan tatapan dalam. Air matanya seketika luruh dengan bibir bergetar.
__ADS_1
Entah wanita tua itu mendapatkan kekuatan darimana, dia segera bangun dan berjalan ke arah Aldo yang masih mematung.
Hilda merayap menghampiri sang putra, berjalan dengan tergopoh-gopoh.
"Nak, ini ibu sayang" ucapnya lirih.
Aldo hanya diam dengan rasa sakit yang masih membukit.
Hilda meraih tubuh sang putra lalu memeluknya.
"Nak, maafkan ibu nak. Ibu sudah banyak menyakiti kamu" Hilda memeluk sang putra namun Aldo enggan membalas pelukan itu.
"Berapa belas tahun yang lalu saya datang ke mari untuk meminta di belikan sepatu baru olehmu, dan saat itu perut saya terasa sangat lapar. Tapi apa yang saya dapatkan dari mu? Hanya makian" Aldo bergetar menahan Amarah.
"Ibu sangat menyesal nak sangat menyesal. Dengan apa ibu bisa menebus semua dosa ibu padamu? Ibu ingin pergi dengan tenang nak" Hilda meraung-raung dalam pelukan Aldo.
"Apa jika saya memaafkanmu, apa kau bisa mengganti waktu masa kecil saya nyonya?" tanya Aldo.
Hilda diam, kata-kaya sang anak seolah meluluh lantakan hatinya. Jika saja dia tidak meninggalkan Ajisaka dan Aldo, mungkin dia tidak akan seperti ini. Tapi cinta dan rayuan gombal yang sugeng suguhkan membuat Hilda muda terlena.
"Nak, ibu memang takan bisa mengganti waktu masa kecil kamu nak, Ibu sudah menyia-nyiakannya. Tapi sekarang ibu sudah seperti ini tinggal menunggu ajal saja. Berikanlah pengampunan pada ibu nak agar kepergian ibu bisa tenang. Ibu hanya minta kamu memaafkan saja nak" Hilda bersujud di kaki sang putra.
Aldo langsung meraihnya.
"Saya memaafkanmu sebagai orang yang telah melahirkan saya kedunia" ucap Aldo.
Dia tidak kuasa untuk tidak menitikan air mata.
"Terimakasih nak terimakasih. Ibu akan tenang sekarang" Hilda memeluk Aldo, Aldo pun membalas pelukannya.
Malam itu sangat haru suasananya.
Hilda kemudian di papah oleh Aldo ke atas ranjangnya.
"Kak, selama ini ibu tak mau makan hingga badannya kurus kering seperti itu. Cobalah kakak bujuk ibu makan, siapa tau mau jika kakak yang membujuknya" ucap Sarah.
Aldo pun mengangguk.
"Ibu sudah makan?" tanya Aldo.
Hilda menggelengkan kepalanya.
"Aku minta nasi" ucap Aldo pada Sarah.
Sarah pun mengambilkan nasi lalu di berikan pada Aldo.
Aldo menyuapi sang ibu yang langsung mau makan dan menghabiskan satu piring.
"Sukurlah akhirnya ibu mau makan" ucap Sarah senang.
Aldo pun kemudian pamit pulang, tetapi Hilda seakan tak ingin Aldo pergi.
"Nak, disini saja dengan ibu" ucap Hilda terbata.
"Saya pulang dulu. Besok saya kemari lagi" ucap Aldo.
__ADS_1
Hilda hanya mengangguk pilu.