Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Mencari disetiap Aplikasi


__ADS_3

Keesokan harinya Riri dan Yan Sa pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan tentang kesehatan Riri paska koma. Saat di rumah sakit Riri melihat seseorang sedang membaca cerita komik online dan dia pun jadi teringat akan cerita yang pernah dia baca dan membuatnya bertemu dengan Altha juga yang lainnya.


"Benar kenapa aku tak kepikiran untuk itu ya selama ini, jika aku mengulang lagi dan membacanya setidaknya aku tau akhir ceritanya seperti apa kan." gumam Riri dan dia mulai membuka hanponnya.


"Saudara Kurnia Isabela." Seorang perawat memanggil namanya


"Ayo masuk." Yan Sa menarik Riri untuk masuk ke ruangan dokter


Setelah dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan juga dilakukan pemeriksaan darah dan lab lainnya mereka menunggu sebentar karena hasilnya akan keluar 30 menit sebab mereka pasien vip, Yan Sa ingin melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Riri karena dia tak ingin ada efek samping dari koma yang pernah dialami oleh Riri yang bisa mengganggu aktifitasnya nanti.


"Baiklah saudara Kurnia Isabela silakan masuk lagi dokter akan menjelaskan hasilnya." seorang perawat memanggil Riri lagi dan Riri sama Yan Sa pun masuk lagi.


"Baik, silakan duduk pak Yan. Dari hasil pemeriksaan barusan semuanya terlihat baik - baik saja dan tak ada masalah. Bahkan dari hasil labnya juga tak ditemukan apa pun yang aneh, jadi nona Isabela dinyatakan sudah sehat secara fisik keseluruhan, trauma atau efek samping yang pak Yan khawatirkan paska koma tak ditemukan sama sekali." jelas dokter dan Yan Sa terlihat merasa lega.


"Apakah non Isabela pernah merasakan lemas dan juga kelelahan yang amat sangat atau tiba - tiba anggota tubuh lainnya merasa mati rasa?" Dokter bertanya pada Riri


"Tidak dokter, tak ada sama sekali." Riri menjawab dengan tersenyum


"Lalu apa ada sesuatu yang mungkin dirasa ada yang dilupakan atau tak bisa diingat? Atau memiliki sesuatu yang terasa asing dan dilupakan." Dokter bertanya lagi untuk memastikan.


"Tidak ada, saya bisa mengingat segalanya dengan baik. Dan tak ada yang saya lupakan atau merasa kehilangan." jelas Riri dengan sangat yakin.


"Bagus kalau begitu memang kondisi anda benar - benar baik dan tak ada maslah, jadi pak Yan anda tak perlu khawatir lagi soal kondisi adik anda, karena dia dinyatakan sudah baik dan sehat secara fisik dan juga mental. Tak ada masalah." Dokter berkata dan menatap Yan Sa.


"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu dan terima kasih." Yan Sa berkata dengan sopan.

__ADS_1


"Terima kasih dokter." Riri pun mengucapkan terima kasih dan pamit.


"Ya hati - hati." Dokter menjawab dan berjabat tangan dengan Yan Sa dan Riri.


"Pak Yan sungguh sangat menyayangi adiknya." gumam seorang perawat yang mengasisteni dokter.


"Iya, terlihat sangat jelas kalau dia terlalu berlebihan dalam menyayangi, atau jangan - jangan dia tak hanya menyayangi namun dia mencintai adiknya itu karena mereka tak ada hubungan darah." Dokter menyambung ucapan dari perawatnya.


...💮💮💮...


Selama dalam perjalanan Riri terus merenung karena dia berusaha untuk mengingat kata - kata dokter yang menanyakan apakah ada yang dia lupakan, saat menjawab Riri merasa yakin namun sekarang dia baru tau kalau memang ada yang dia lupakan.


"Kenapa? Dari tadi kamu terlihat merenung dan diam, apa ada yang mengganggu mu?" Yan Sa bertanya pada Riri saat mereka sampa di rumah karena Yan Sa merasa khawatir.


"Kenapa aku tak bisa mengingat soal judul cerita yang dulu aku baca ya, aku baru tau dan sadar kalau aku tak bisa mengingat itu." gumam Riri menggenggam erat hanponnya.


Sesaat setelah Riri bangun dan mulai menuliskan semua judul dari cerita yang mungkin ada salah satunya, Riri berusaha keras untuk menulis apa yang dia ingat "Death, tapi death apa ya? Love death, lover death, transmigrasi death, ah apa ya?" Riri mulai mengacak kepalanya karena merasa pusing. Dan dia menulis di halaman buku penuh dengan semua judul yang dia ingat.


"Riri turunlah waktunya makan." Yan Sa mengetuk pintu kamar Riri untuk mengajaknya makan siang.


"Iya sebentar." Riri menjawab dengan cepat. "Nanti akan aku cari lagi." Riri bangun dan keluar untuk makan siang dengan Yan Sa.


"Besok aku akan pergi setidaknya 3 hari karena ada pekerjaan yang membuatku harus melakukan perjalanan dan tak bisa pulang untuk menemanimu, tapi aku akan meninggalkan Sun untuk menemani mu dan kamu bisa melakukan apa saja bersama dengan Sun, katakan apa saja yang kamu butuhkan seperti biasanya kamu lakukan mengerti kan?" Yan Sa berkata dan mengusap kepala Riri dengan lembut.


"Yan, kau memperlakukan aku seperti anak kecil. Aku tau dan pergilah bekerja dengan baik. Oh iya aku ingin kembali bekerja lagi." Riri berkata dengan tersenyum menatap Yan Sa.

__ADS_1


Terlihat Yan Sa menghela nafas dalam menatap Riri, "Jangan khawatir aku sudah baik - baik saja, bukankah tadi dokter juga sudah bilang pada mu kalau aku tak ada maslah baik fisik dan mental ku, aku ini sudah sembuh dan tak ada masalah ok." Riri berkata karena dia tau apa arti tatapan dari Yan Sa.


"Pikirkan nanti dan ayo kita bicarakan lagi nanti saja, sekarang aku hanya ingin kamu istirahat ok." Yan Sa memutuskan untuk tak mengiyakan permintaan Riri, karena dia tau kalau dia mengiyakan maka Riri akan menghilang dari hadapannya karena dia akan kembali ke negaranya.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita bicarakan lagi nanti setelah kamu kembali." Riri pun mengalah karena dia tau jika Yan Sa sudah memutuskan maka tak akan bisa dilawan.


"Bagus, jadilah anak baik selama aku tak ada." Yan Sa merasa puas dengan jawaban Riri.


Dan setelah keesokan harinya Yan Sa berangkat Riri mulai melakukan pencarian cerita novel yang dia pernah baca sehingga membuat dia bertemu dengan semuanya, namun dia tak bisa menemukan dimana pun cerita yang dicarinya. Dari semua aplikasi yang dia buka tak ada satu pun cerita yang sama dengan ceritanya dulu, seolah cerita itu menghilang begitu saja.


Sun yang melihat Riri duduk di bangku taman belakang rumah dengan fokus menatap laptop dan hanponnya membuatnya penasaran dan mendekati Riri, "Non Riri sedang mencari apa?" Sun yang melihat Riri seharian sibuk dengan hanpon dan laptop merasa bingung, karena biasanya Riri sangat ramai dan selalu ingin pergi kemana pun.


"Sun, aku ingin mencari novel yang menceritakan soal kerajaan." jawab Riri dengan tetap fokus pada ponselnya.


"Wah non Riri suka membaca cerita online ya." Sun berkata dan duduk didepan Riri. "Cerita seperti apa yang non Riri sukai?" sambung Sun bertanya.


"Sun, aku tak ingat dan tak bisa menemukannya dimana pun." Riri menatap Sun dengan tatapan putus asah


"Eh, non Riri tak apa? Memang apa judul yang ingin non Riri cari." Sun merasa kaget melihat ekspresi Riri.


Riri menyodorkan buku dihadapan Sun yang sudah ditandai semua judulnya, dan saat Sun lihat dia semakin kaget dan dia menatap Riri dengan bingung. "Non, apa ada yang terasa sakit atau ada sesuatu yang tak nyaman yang non Riri rasakan?" Sun bertanya dengan khawatir


"Aku tak bisa menemukannya Sun, itu semua judul yang mungkin aku ingat tapi semuanya sudah ku cari tak ada, kenapa aku tak ingat soal itu, dimana aku membacanya dan apa judulnya yang benar aku tak ingat." Riri mulai menangis dan itu membuat Sun merasa lebih khawatir lagi. "Aku merindukannya Sun, kemana aku harus mencarinya." Riri semakin sedih dalam tangisannya, dan terdengar oleh Sun kalau tangisan Riri sangat menyayat.


"Non Riri." Sun memegang tangan Riri berusaha untuk menenangkan Riri. Dalam hati Sun merasa bingung harus bagaimana, jika dia menghubungi Yan Sa itu tak akan mungkin karena Yan Sa barusaja berangkat pagi ini, dan pasti pekerjaan Yan Sa sangat banyak kerena tuan muda pertama akan datang.

__ADS_1


__ADS_2