Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Kehilangan.


__ADS_3

"Tuan putri, apa tuan putri benar akan mengijinkan pangeran untuk mengangkat seorang selir?" tanya Dean khawatir dan yang lainnya mengangguk sama cemasnya dengan Dean.


"Kenapa kalian begitu khawatir? Bukankah hal itu malah bagus karena karena dia juga wanita yang cantik, baik dan juga dari keluarga yang terpandang. Apa, apa coba yang kalian cemaskan." Riri bertanya kepada keempat dayangnya yang selalu menemani dirinya.


"Ini sebabnya kenapa aku selalu tak mau ditemani para wanita, aku lebih suka ditemani oleh Jiyang dan juga Yaris saja yang selalu ada untuk ku dan juga selalu diam tak bergosip." kesal Riri menatap satu persatu dayangnya itu.


"Maafkan kami tuan putri." ucap serempak keempat wanita yang melayani Riri.


"Jangan berfikir terlalu jauh, lagi pula pangeran adalah seorang putra mahkota yang nantinya akan menggantikan raja untuk menduduki posisi raja, jadi dia harus memiliki banyak keturunan dan untuk mendapatkan itu maka dia harus memiliki setidaknya 10 atau lebih seorang selir yang siap berada disisinya dan melahirkan anak - anaknya." jelas Riri dengan tersenyum seolah tak ada beban saat dia berkata.


"Apa tuan putri tak menyukai yang mulai pangeran?" tanya Dae Si karena merasa Riri biasa saja saat ada wanita yang disarankan sebagi calon selir dari suaminya.


"Hahaha,,, kau bicara sembarangan. Sudah sekarang waktunya memberi tau pada putri Ye apa saja yang harus dia lakukan nantinya saat pangeran datang, karena dia harus mengetahui semuanya. Bukankah dia baru tau setengahnya." Riri berdiri dan berjalan dengan cepat.


"Menyukainya, apa - apa pertanyaan itu. Bagaimana bisa aku menaruh hati padanya yang buka siapa - siapa bagi ku dan aku juga bukan siapa - siapa baginya, omong kosong." suara hati Riri.


Riri berjalan dengan pelan menuju ke area kawasan putri Ye yang sengaja ditempatkan ditempat terbagus dari istana itu, dalam perjalanan itu Riri diam seribu bahasa dan yang terdengar hanya derap langkah kakinya bersama dengan ke empat dayang yang selalu mengikuti dirinya, sesekali Riri melihat bunga teratai yang mulai berbunga di kolam yang berada di sepanjang jalan menuju area putri Ye.


Samar - samar Riri mendengarkan putri Ye bicara dengan seseorang dan terdengar sangat akrab, suara orang itu terdengar tak asing setelah Riri semakin dekat dengan area putri Ye. Dan yang ditebak oleh Riri memang benar orang yang sedang berbincang dengan putri Ye adalah pangeran kedua yang sedang datang berkunjung.


"Selamat pagi putri Ye, selamat pagi pangeran kedua." sapa Riri dengan sopan yang sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.


"Tuan putri, selamat pagi. pangeran Jang Yong adalah teman saya jadi saya mengundangnya karena di sini adalah tempat asing bagi saya, masih banyak yang belum saya kenal dan saya ketahui, tolong tuan putri memaafkan saya yang mengundangnya tanpa pemberitahuan." jawab putri Ye menjelaskan kedatangan pangeran kedua.


Riri tersenyum karena dia tak peduli dengan hal itu, "Tak masalah, hari ini aku datang karena ingin memberi tahu beberapa aturan di sini kepada putri Ye untuk dipelajari mengenai kebiasaan keseharian pangeran Altha selama dia ada di rumah. Dan ku harap putri Ye bisa menyempatkan waktu untuk mendengarkan apa yang akan ku sampaikan." Riri menjawab dengan acuh tak acuh mengenai keberadaan pangeran kedua di situ.


"Wah, ternyata tuan putri sangat lapang dada sekali ya, sampai - sampai mau mengajari calon selir dari suaminya sendiri tata cara dan aturan dikediaman ini, apakah yang dulu dikatakan oleh tuan putri sekarang berlaku bahwa tuan putri akan berbagi suami dengan wanita lain?" pangeran kedua bertanya dengan sedikit menyindir karena waktu itu Riri mengembalikan selir yang dikirimkannya kepada Altha oleh pangeran kedua.


"Pangeran kedua terlalu banyak berfikir, aku tetaplah seorang wanita yang tak akan pernah mau atau rela membagi apa pun yang ku miliki dengan orang lain jika hal itu berharga bagi ku." jawab Riri langsung tanpa mengubah ekspresinya.


"Oh, apa itu artinya kakakku Altha tak berarti bagi putri Youri?" tanya pangeran kedua lagi lalu tertawa terbahak merasa senang dengan jawaban Riri.


"Barang milik negara bukanlah milik pribadi, ku rasa pangeran kedua lebih mengerti dari pada aku. Karena yang ada di sini tak ada yang hanya milikku seorang, aku bisa memberikan barang ku untuk orang lain yang membutuhkan, namun aku tak pernah sudi menerima barang milik orang lain." Riri menjawab dengan sangat berani dengan menatap lurus tepat pada mata pangeran kedua.


"Kau?" pangeran kedua mengerti apa yang dikatakan oleh Riri karena beberapa hari yang lalu pangeran kedua bersih keras ingin bertukar selir karena dia menginginkan dirinya.


"Baiklah, sepertinya putri Ye masih sibuk karena ada tamu, jadi aku akan datang lagi nanti. Namun jika tidak sempat maka aku akan meninggalkan catatan dan ku harap putri Ye mau meluangkan waktu untuk membaca serta mempelajarinya jika ingin bertahan di istana ini lebih lama.". Riri berbalik dan pergi meninggalkan putri Ye dengan pangeran kedua setelah berkata.


"Sembarangan saja." gerutu Riri sambil berjalan pergi meninggalkan area putri Ye.

__ADS_1


"Putri Yourina." pangeran kedua menahan Riri yang meninggalkan kediaman putri Ye.


"Kenapa pangeran kedua mengejar saya, apa ada yang ingin pangeran kedua ingin katakan kepada saya?" Riri yang merasa kesal tetap berkata dengan sopan kepada pangeran kedua.


"Dengar, sampai kapan pun kau menghindar, aku akan selalu punya cara untuk mendapatkannya karena aku adalah Jang Yong." pangeran kedua berkata dengan menggertakkan giginya.


"Terserah pangeran kedua, saya mohon undur diri." Riri menghindar dan tak mau memperpanjang urusannya dengan pengeram kedua.


Setelah beberapa jam kemudian putri Ye pergi mencari Riri dan mulai mempelajari kebiasaan dan pekerjaan apa yang harus dilakukan selama ingin tinggal di istana pangeran Altha, dan dengan tangannya sendiri Riri mengajari semua yang dia lakukan selama ini kepada putri Ye dengan senang hati karena didalam hati Riri berharap dengan adanya wanita yang telah diaturnya disisi Altha itu tak akan ada masalah dan gangguan lagi dalam kepemimpinan Altha untuk menuju puncak kepimpinannya nanti.


"Terima kasih tuan putri, saya akan mempelajarinya dengan baik nanti dan akan mengingat semua yang telah tuan putri ajarkan kepada saya." putri Ye berkata dengan senyuman manis dan polos lalu pergi meninggalkan Riri.


"Putri apakah menurut putri, tuan putri Youri itu beneran berbaik hati? Kenapa dia mengajarkan semua kebiasaan di istana ini dan juga mengundang putri datang serta tinggal di sini?" tanya dayang dari putri Ye yang merasa aneh serta curiga dengan Riri.


"Aku tak peduli, yang penting aku bisa selalu bertemu dan berhubungan dengan orang yang ku kasih, apa lagi ini adalah cara untuk bisa membantu dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Aku akan melakukan apa pun untuk pangeran Jang Yong." putri Ye tersenyum dan berjalan dengan santai karena di sini dia bisa dengan leluasa memanggil dan bertemu dengan pangeran kedua yang sangat dia cintai.


Disaat putri Ye sedang beradu kasih dengan pangeran kedua, Riri sedang menyiapkan dirinya untuk pergi meninggalkan istana pangeran Altha dan dia sedang menyiapkan surat perpisahan yang harus diberi cap dengan darahnya seperti yang diajarkan oleh Yu Wan saat Riri bertanya bagaimana cara berpisah dengan suami yang sudah tak diinginkan.


Riri tersenyum setelah dia selesai menyelesaikan masalah surat pisah, dan meletakkan surat itu diatas meja baca Altha, lalu dengan perlahan Riri keluar dari ruang baca itu dan menuju kamarnya untuk berganti baju setelah menyuruh semua dayang - dayangnya istirahat dan kembali ke kamar mereka. Berjalan perlahan Riri meninggalkan istana dengan berpakaian pria agar tak dikenali.


Karena kemampuan dia latihan selama ini bersama dengan Altha dan Yaris membuat Riri bisa dengan mudah memanjat pohon untuk melewati pagar istana agar tak lewat pintu utama, Riri tak membawah apa pun dia hanya membawa dua baju dan juga uang.


Riri telah sampai disebuah penginapan dan dia merebahkan tubuhnya yang lelah dengan sangat nyaman, rencana yang sudah ada didalam kepalanya akan dilakukan besok pagi dan dia akan benar - benar pergi jauh dari semuanya.


Disaat Riri telah menutup matanya dalam lelap, Altha dengan cepat dan terburu - buru ingin kembali dan segerah menemui istrinya yang sangat dia rindukan untuk meminta maaf dan mengungkapkan segala isi hatinya dan penyesalannya karena telah meragukannya dan memarahinya.


...🍁🍁🍁...


"Riri, dia adalah istriku dan juga wanita yang aku cintai, aku mencintainya karena kepribadiannya tak ada yang lain, aku akan segerah menemunya." Altha tersenyum dan mulai menerima kenyataan serta rahasia tentang diri Riri yang sebenarnya.


"Dia pasti merasa susah tinggal di sini, karena dia tak mengerti dan mengenal dunia ini, dia juga tak punya siap pun yang dia kenal atau keluarga di sini. Aku akan kembali dan menjelaskan padanya aku tak ingin dia salah paham dengan menganggap aku menolaknya." Altha pun telah mulai menerima semua kenyataan itu dan bergegas untuk kembali.


Dalam perjalanannya Altha menemui suatu penghalang, yaitu ada kabar kalau sedang ada masalah di perbatasan dengan erang yang dikirimkan oleh salah satu pasukannya, sehingga Altha pergi ke perbatasan dengan cepat untuk menyelesaikan masalahnya.


...🍁🍁🍁...


Setelah selesai semuanya pangeran Altha mengirim pesan pada Yorgun kalau dia akan kembali ke istana dan meminta Yorgun untuk menyampaikan kepada Riri agar dia bersiap karena Altha ingin bertemu dengannya begitu sampai.


"Yorgun, bagaimana apa kau sudah katakan padanya?" Altha bertanya dengan tak sabar begitu sampai, namun Yorgun yang sudah tau hanya diam membisu.

__ADS_1


"Riri." dengan cepat Altha melangkah dan langsung masuk kedalam kamar Riri untuk menemuinya langsung karena dia sudah tak sabar.


Altha membuka selimut yang terpasang ditempat tidur Riri, namun tak ada siapa pun disana dan hal itu membuat Altha kaget. Jantung Altha berdebar kencang dengan hal itu sehingga tanpa sadar Altha menghubungkan perasaannya dengan Yaris yang sedang istirahat dan berbincang dengan Jiang serta yang lainnya di peristirahatan tempat latihan.


"Yaris kenapa?" Jiyang yang kaget tiba - tiba Yaris bangun dan terlihat panik membuat Jiyang juga ikut panik.


"Pangeran datang namun,,," kalimat Yaris tak diselesaikan karena dia tak tau apa yang sedang dirasakan oleh pangeran Altha.


Dengan cepat Jiyang dan yang lainnya pergi mencari pangeran Altha dengan mengikuti Yaris dan saat menemukan pangeran dalam kondisi yang sangat kacau dengan berantakannya ruang baca dan pangeran yang duduk dengan menggenggam sebuah kertas dengan sangat erat.


"Eh, pangeran ada apa ini?" Jiyang terkejud melihat hancurnya ruang baca itu dan melihat Yorgun berdiri dengan diam dan memiliki luka dilengannya.


"Kalian,,, begitu banyak namun tak satu pun dari kalian yang tau kemana perginya tuan putri. Kalian.!!" Altha berkata dengan tatapan mata yang sangat menyeramkan bagi semua orang.


Terlihat dengan sangat jelas kalau mereka semua tak ada yang tau kalau Riri sudah tak ada ditempat selain Yorgun, dan mereka masih dengan santai menikmati kebersamaan mereka. "Ka-li-an.!!" Altha berteriak dengan sangat marah dan mengebrak meja dan Yorgun sangat tau kalau saat ini majikannya itu benar - benar sangat marah besar.


Yaris langsung menyadari dan dia lari kesuatu tempat dan menaiki sebuah pohon dihalaman samping istana. Yaris menemukan sebuah lonceng yang dia berikan kepada Riri tertinggal dihadang pohon itu. "Tuan putri." gumam Yaris menggenggam erat lonceng kecil itu.


Keesokan paginya dayang putri Ye menyampaikan kalau pangeran Altha telah kembali dan sekarang sedang berada di aula depan bersama dengan pengawalnya dan beberapa orang dari putri Youri.


"Apa yang kau katakan itu benar? Kalau begitu ayo kita akan kesana untuk menemui dan menyapa pangeran." putri Ye bersiap dan berdandan dengan rapi dan cantik lalu pergi ke aula depan dengan membawahkan camilan dan teh untuk pangeran Altha.


"Pangeran putri Ye ada di sini ingin bertemu." pengawal yang berada di depan aula itu menyampaikan kepada pangeran Altha.


"Pangeran Altha salam, saya adalah putri Ye Rin putri dari Mentri Ye Saun memberi hormat kepada pangeran Altha." ucap Ye Rin memberikan penghormatan kepada Altha.


"Kau kesini atas permintaan Riri? Apa kau juga ingin berada di sini? Aku tak keberatan jika kau memang ingin di sini, namun aku tak bisa memberikan mu status apa pun di sini. Dan aku akan mengatakan kepada ayahanda mengenai hal ini, jadi tolong putri Ye jangan terlalu terganggu dengan keberadaan ku dan jangan menyusahkan diri sendiri lagi." ucap Altha tanpa basa basi lagi menyatakan kalau dia tak menginginkan dirinya.


"Maaf pangeran, tapi saya datang atas undangan tuan putri dan juga dia juga sudah menyetujui atas hubungan kita. Tuan putri juga yang telah mengajarkan banyak hal kepada saya selama ini, jadi mohon agar pangeran tak menolak kehadiran saya." ucap Ye Rin lagi agar Altha menerimanya.


Altha diam menatap Ye Rian tanpa bicara lagi, dan melihat itu Ye Rin berjalan mendekat memberikan camilan serta teh yang dia buat untuk Altha. "Semoga pangeran menikmatinya, ini adalah buatan saya sendiri." Ye Rin meletakkan baki itu diatas meja Altha lalu menunduk dan melangkah mundur.


"Apa kau mau di sini terus? Jika kau mau di sini aku yang pergi." Altha berdiri dan melangkah keluar dari ruang aula itu berjalan ke tempat latihan.


Melihat itu Ye Rin mengepalkan kedua tangannya dengan menahan rasa kesal yang sangat amat. Dia ingin sekali rasanyaΒ  mengumpat dan memakai Altha namun dia tak punya keberanian.


Altha melakukan latihan hingga petang dan pergi masuk kedalam kamarnya tak keluar - keluar. Altha terduduk merenung menyesali semua perbuatannya yang meragukan Riri dan memarahinya saat Riri berusaha keras untuk menjelaskan kalau dirinya tak berasal dari negeri ini.


"Hadiah sebuah pasangan," Altha tersenyum miris mengingat tulisan yang ditinggalkan oleh Riri saat mengatakan kalau dia meninggalkan sebuah hadiah seorang pasangan dan berharap kalau Altha tak akan lagi ada masalah dan gangguan dalam kepemimpinannya untuk menuju puncak kepimpinan. "Jadi kau sudah menyiapkan wanita yang akan dipersiapkan sebagi selir untuk ku, aku tak akan terima. Tidak akan pernah." Altha mengepalkan tangannya.l dengan sangat kuat.

__ADS_1


"Kau sungguh kejam, aku hanya memarahi mu dan meniggalkan mu untuk menenangkan diri tapi kau langsung memberiku seorang pasangan dan pergi meninggalkan ku." Altha bernafas berat "Apa yang akan kau lakukan jika aku menyakiti mu? Dan apa yang akan kau lakukan jika aku memaksamu? Akan kah kau melarikan diri lebih jauh lagi dan tak akan kembali lagi kesini. Apa yang akan kau lakukan padaku jika semua hasrat ku aku paksakan pada mu?" Altha mengacak rambutnya. "Riri, hanya kau wanita yang akan melahirkan keturunanku dan hanya kau seorang yang akan selalu menjadi istriku. Aku tak peduli dari mana asal mu aku tak akan melepaskan mu jika ku temukan nanti, tak akan pernah." Altha merebahkan tubuhnya dengan sembarangan.


__ADS_2