Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Kurungan


__ADS_3

"Tunggu, aku mau menerima hukumannya jika ayahanda sendiri yang memberiku hukuman, jadi biarkan ayahanda sadar dan memberikan kejelasan." jawab pangeran Altha ditengah - tengah aula pengadilan.


Semua orang berkasak kusuk dan membenarkan kata - kata pangeran pertama, karena keputusan ini tak bisa diputuskan dengan begitu saja sebab tak ada saksi. Akhirnya semuanya sepakat dan akan menunggu yang mulia raja bangun untuk bertanya apa yang sedang terjadi sebenarnya.


"Sial, jika aku bersih keras ingin memberinya hukuman sekarang juga akan terlihat kalau aku ingin menutup kasus dan mereka akan curiga pada ku." suara hati pangeran kedua dengan sangat kesal.


"Baiklah, kalau begitu sesuai dengan hukum yang ada yang selama ini ditegakkan oleh yang mulia raja, kalau kita tak boleh menjatuhi hukuman pada seseorang tanpa memberinya kesempatan untuk membela diri." jelas Mentri hukum kerajaan itu.


"Iya benar walau bukti sudah jelas namun saksi tidak ada, jadi kita tidak boleh gegabah." sambung Baron yang juga ikut menghadiri rapat pengadilan pangeran Altha pagi itu.


"Terima kasih atas kebijakan para Mentri dan juga pengawal raja." ucap Altha memberi hormat pada semuanya.


"Aku ingin melihat keadaan ayahanda, bagaimana keadaanya saat ini tuan Baron." ucap Altha memohon pada Baron pengawal raja.


"Tidak, walau semua orang setuju untuk menunda hukuman. Tapi kita tidak boleh lengah dan membiarkan pangeran pertama untuk bertemu dan melihat kondisi raja. Aku tak akan membiarkan kamu mendekati ayah sedikit pun, karena aku gak mau kalau nanti kamu mengambil kesempatan itu untuk menyakiti ayah lagi." tolak pangeran kedua dengan tegas.


"Aku ingin pangeran pertama dikurung dan jangan dibebaskan selama ayahanda dalam masa pemulihan dan pengobatan. Aku mohon pada kalian semua untuk menegakkan keadilan untuk ku, karena aku tak ingin ayahanda dalam bahaya lagi." pinta pangeran kedua pada para Mentri.


Mendengar permintaan dari pangeran kedua akhirnya para Mentri mengambil keputusan untuk mengirim pangeran pertama ke penjara bawah tanah. Dan diputuskan kalau pangeran pertama akan ditahan dan dikurung selama masa penyelidikan dan pemulihan yang mulia raja.


Didalam penjara pangeran Altha merebahkan tubuhnya dan menutup matanya dengan meletakkan satu tangannya diatas kepalanya sambil menghela nafas dalam berkali - kali. Pangeran Altha berusaha keras untuk mengingat apa yang terjadi pada dirinya malam itu, namun tak satu pun teringat apa yang terlah terjadi setelah dia diantarkan oleh seorang pelayan kedalam kamar malam itu.


"Pangeran, sebenarnya apa yang telah terjadi? Apa benar pangeran yang telah melukai yang mulia raja? Kalau memang benar kenapa pangeran tak mengingat sama sekali kejadian malam itu." tanya Yorgun yang juga ikut ditahan bersama Altha, di kurungan sebelah Altha.


"Yorgun, aku benar tak ingat apa pun. Setelah aku merasa pusing aku berusaha untuk kembali, Tapi karena kepalaku sangat sakit jadi aku diantarkan oleh seorang pelayan untuk istirahat dikamar dan aku memerintahkan dia untuk memanggilmu, setelah itu aku tak ingat apa pun lagi." jelas Altha dengan berfikir keras.


"Lalu bagaimana pedang dan semuanya itu ada pada pangeran? Karena tak ada satu pun orang yang datang untuk menyampaikan pesan pangeran pada ku." Yorgun bertanya lagi karena dia yakin bukan pimpinannya yang mencelakai yang mulia raja, dan juga tak menerima pesan apa pun dari Altha.

__ADS_1


"Malam itu, aku terbangun dan merasakan ada sesuatu serta bau yang sangat menyengat dan membuat ku..." pangeran Altha berusaha keras untuk mengingat, sampai akhirnya dia mendapati bayangan kalau dirinya sedang mencabik - cabik sesuatu yang tak dia lihat dengan jelas itu apa.


"Tidak, tidak mungkin. Itu tidak mungkin." Altha bergumam sendiri setelah melihat bayangan dia dan pedangnya sedang mencabik sesuatu.


Altha bangun dan merasakan sakit di dadanya dan juga kepalanya. Samar - samar Altha melihat kalau ayahnya datang menemuinya lalu membawahnya pergi kesuatu tempat dan ada sedikit perselisihan sehingga Altha terpaksa mengeluarkan pedangnya. Melihat bayangan itu Altha menjerit kesakitan hingga jatuh pingsan.


"Pangeran ada apa?" Yorgun merasa khawatir karena dia mendengar Altha menjerit dengan rasa sakit yang dirasakannya.


"Pangeran, pangeran tak apa? Apa yang terjadi, pangeran." Yorgun terus memanggil Altha setalah tak terdengar suara apa pun dari Altha. Yang ternyata Altha jatuh pingsang karena sakit dengan bayangan yang dia lihat serta rasa menyayat di dadanya yang membuatnya merasakan sesak.


...🍁🍁🍁...


"Apa yang kau katakan Jiyang. Bagaimana itu bisa terjadi?" Yaris yang baru sampai di istana pangeran Altha langsung mendengar kabar kalau pangeran Altha sedang berada didalam penjarah bawah tanah kerajaan karena dituduh melakukan percobaan pembunuhan yang mulia raja.


"Aku juga tak tau Yaris, karena pada waktu acara malam itu pangeran pergi sendiri bersama dengan putri Ye." jelas Jiyang.


"Dia juga ikut ditahan bersama dengan pangeran sesuai perintah dari pangeran kedua, karena dianggap bersekongkol dengan pangeran." jawab Jiyang


"Ini pasti sebuah konspirasi untuk menjebak pangeran. Karena tak mungkin pangeran akan melakukan hal itu pada yang mulia raja." Yaris terlihat berfikir.


"Dimana putri Ye sekarang?" tanya Yaris pada Jiyang karena pangeran pergi bersama dengannya pasti putri Ye tau sesuatu.


"Dia ada di kamarnya dan tak mau keluar sejak kejadian itu." jawab Jiyang.


Yaris mendatangi putri Ye karena dia ingin meminta penjelasan lebih jelasnya atas kasus yang telah menimpah pangeran Altha di acara perayaan pesta ulang tahun yang mulia raja kemarin malam.


"Putri Ye, ada pengawal Yaris yang ingin bertemu dengan tuan putri." pelayan putri Ye menyampaikan pesan dari Yaris.

__ADS_1


"Suruh masuk." jawab putri Ye dan Yaris pun masuk menemui putri Ye.


"Salam pada putri Ye, hamba Yaris pengawal pangeran Altha." hormat Yaris pada putri Ye.


"Dia adalah Yaris yang selalu mengikuti Yourina dulu dan orang yang sangat kuat dari beberapa pengawal yang mengikuti Altha selain Yorgun." gumam dalam hati putri Ye menatap Yaris.


"Bangunlah, dan sampaikan apa yang ingin kau sampaikan." jawab putri Ye setelahnya.


"Terima kasih putri Ye." Yaris pun bangun dan menatap putri Ye.


Deg (jantung putri Ye bergetar saat dia melihat dan menatap Yaris yang menurutnya Yaris sangat tampan dan tak kalah dari Altha, yang memiliki tatapan mata yang dalam dan tajam).


"Gila, kenapa pengawal satu ini sangat rupawan. Aku tak pernah bertemu dan melihatnya selama ini, ternyata dia orangnya sangat enak untuk dilihat." suara hati Putri Ye yang mengagumi wajah tampan Yaris.


"Ehem, kamu pasti ingin tau bagaimana ceritanya sampai pangeran ditahan dan mendapatkan tuduhan mencelakai yang mulia raja kan?" jawab putri Ye setelahnya dan dia mulai meneteskan air matanya.


"Benar, hamba ingin tau seperti apa detailnya." jawab Yaris menatap bingung pada putri Ye yang sikapnya jadi berubah, setelah terlihat angkuh namun sekarang terlihat seperti vas bunga yang lemah dan rapuh serta butuh tempat untuk meletakkan dengan aman agar tak pecah.


"Yaris, bolehkan aku memanggilmu begitu?" tanya putri Ye dan mendekati Yaris dengan menangis.


Putri Ye bersandar pada Yaris dan menangis terseduh - seduh sambil menceritakan semuanya yang dia ketahui. Yaris berkali - kali mendorong tubuh putri Ye menjauh namun putri Ye tetap saja menjatuhkan tubuhnya pada Yaris.


"Putri Ye duduklah dulu." Yaris membantu putri Ye untuk duduk dikursi dengan hati - hati.


"Begitulah ceritanya Yaris, sekarang aku tak tau harus bagaimana. Apa yang akan terjadi pada ku, padahal pangeran sudah berjanji akan menikahi ku namun sekarang semua ini terjadi padaku." ucap putri Ye dengan tangisnya dan terlihat sangat menyedihkan.


"Hamba tak tau dengan urusan putri Ye dan pangeran, namun terima kasih atas ceritanya. Sekarang putri Ye sebaiknya istirahat saja dulu, hamba undur diri untuk menyelidiki kasus ini." ucap Yaris dan dengan cepat Yaris pergi dari kamar putri Ye.

__ADS_1


"Mereka sama - sama dari keluarga bangsawan, namun kenapa mereka bisa berbeda?" Yaris berfikir dalam perjalanannya dari bertemu putri Ye. "Putri Youri juga suka sekali lari dan menghambur ke pelukanku namun dia terlihat lucu dan menggemaskan, juga sikapnya tidak terlihat dibuat - buat. Saat dia memeluk ku selalu ada perasaan hangat dan penuh sayang." sambung Yaris membandingkan antara Riri dan Ye Rin.


__ADS_2