Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Pembelajaran


__ADS_3

"Tolong jangan menatapku seperti itu." Yodon yang mendapatkan tatapan tajam dari Jiyang dan Yaris merasa takut. "Aku cuma menjalankan perintah tuan putri saja,,, baiklah, baiklah aku akan cerita." akhirnya Yodon memilih menceritakan semuanya.


Beberapa jam sebelumnya.


Saat Riri kembali kekamarnya dari mengantarkan putri You Li kekamarnya Riri terlihat sangat lelah dan ingin segerah untuk tidur. "Kalian pergilah aku mau istirahat." perintah Riri pada Jiyang dan Yaris.


"Baik tuan putri." jawab Jiyang dengan patuh.


"Bawah ini." Yaris menyerahkan lonceng kecil pada Riri yang bisa digunakan untuk memangil dirinya karena lonceng itu tak ada bunyinya hanya bisa menghasilkan gelombang suara lembut yang bisa didengarkan oleh Yaris saja.


Riri tersenyum melihat itu "Aku hanya mau tidur Yaris." jawab Riri lembut dan Yaris menatap Riri memohon. "Baiklah agar kau tenang, sekarang kembalilah." Riri menutup pintu kamarnya.


Tok tok


"Tuan putri ini saya." suara Yodon mengetuk pintu setelah Jiyang dan Yaris pergi dari depan kamar Riri.


"Yodon masuklah." perintah Riri "Katakan apa yang terjadi." tanya Riri setelah Yodon masuk kedalam kamar Riri.


"Tuan putri Mentri Ye Saun sudah ada di rumah anda dan kakak anda juga sudah ada disana." jelas Yodon


"Apakah ada hal yang begitu mendesak?" tanya Riri menatap Yodon.


"Tidak begitu, tapi saya dengar katakan penyelidikannya sudah menemui titik terang." jelas Yodon lagi.


"Baiklah, keluarlah aku mau ganti baju dulu." ucap Riri dan dia langsung mengganti bajunya setelah Yodon keluar dan menunggu di luar kamar. "Yodon ayo." ajak Riri setelah selesai dengan baju prianya dan rambut kuncir kudanya.


"Kenapa kita lewat samping tuan putri, di sini tidak ada pintu?" tanya Yodon bingung.


"Kau bisa manjat pohon kan?" tanya Riri setelah berdiri didepan pohon besar.


"Bisa tuan putri, tapi kenapa kita berdiri di sini?" Yodon bertanya lagi.


"Sudah jangan banyak tanya, cepat naik dan turun lalu tunggu aku, karena aku hanya bisa naik tapi tak bisa cara turun jadi kamu harus menangkap ku ok." jelas Riri dan Yodon langsung manjat pohon itu tanpa banyak tanya lagi dan melompat turun pagar, setelahnya Riri juga naik dan dengan susah payah Yodon menangkap Riri yang terjun dari atas pagar.

__ADS_1


"Sudah ayo pergi." ucap Riri merapikan bajunya.


"Kenapa kita harus lewat jalur yang susah tuan putri, bukannya ada pintu." Yodon bertanya karena dia masih penasaran.


"Karena kalau lewat pintu akan ribet urusannya. Belum lagi kalau ketahuan Jiyang dan Yaris bisa tambah susah, karena mereka gak akan ngebiarin aku bertindak, lagi pula aku selalu lewat situ setiap kali mau kabur dari istana ini." jelas Riri tersenyum dan berjalan dengan bebas, Yodon tersenyum menatap Riri yang terlihat begitu bebas.


Riri dan Yodon pun berjalan sampai rumah kediaman keluarga Chan tanpa dikenali oleh siapa pun karena penyamarannya dan lagi - lagi Riri mengajak Yodon masuk rumah dengan cara memanjat dinding pagar rumah itu untuk bisa langsung ke halaman utama.


Pada saat ini.


"Aku hanya menjalankan perintah, aku tak melakukan apa pun." jelas Yodon pada Jiyang dan Yaris setelah menceritakan semuanya pada mereka berdua.


"Tebang semua pohon yang ada di kediaman ini tanpa terkecuali dan tinggikan dinding pagarnya, pastikan tak akan ada orang yang bisa menaiki dan melompat dari pagar itu." perintah Altha seketika begitu selesai mendengarkan penjelasan dari Yodon.


"Pangeran." suara ketiga orang itu bersamaan.


"Kau begitu sangat mematuhinya, lain kali kabari aku juga setiap tindakan yang akan dilakukannya." perintah Altha pada Yodon.


"Baik pangeran, tolong maafkan saya." jawab Yodon pada Altha.


"Kau terlihat begitu manis dan jinak saat sedang tidur begini, tapi kenapa kau selalu membuat masalah setiap sudah bangun. Tak bisakah kau tetap semanis ini walau sudah bangun." gumam Altha menatap Riri yang telah tenggelam dalam alam mimpinya. Lalu Altha pun mengikuti berbaring disebelah Riri sambil memeluk tubuh mungil Riri.


Keesokan paginya Riri baru tau kalau semua pohon yang ada di halaman samping dan juga di taman bunga telah hilang saat dia mau keluar istana karena ingin bertemu dengan kakaknya Gozil. "Ini kenapa semua pohonnya hilang? Pada kemana ini semua pohon kenapa tiba - tiba saja lenyap, gak mungkin dalam waktu semalam langsung hilang begitu saja." gumam Riri mengawasi tempat bekas pohon itu menancap yang sudah tak terlihat dan hanya ada bekas cekungan saja.


"Selamat pagi tuan putri." sapa Dae Si yang melihat Riri bingung menatap cekungan bekas pohon itu menancap kemaren.


"Dae Si, Kemana hilangnya pohonnya?" tanya Riri seketika. Dan Dae Si tersenyum melihat tatap Riri yang bingung serta tingkah lucu Riri dalam mengawasi cekungan tanah itu.


"Pohonnya sudah tidak ada tuan putri semalam pangeran memerintahkan orang untuk menebang semua pohon yang ada di kediaman ini." jawab Dae Si pada Riri.


"Altha, aku harus mencarinya." Riri bergegas mencari Altha.


"Pangeran ada di ruang baca tuan putri." teriak Yu Wan yang dari tadi berdiri disebelah Dae Si, dan mereka berdua pun tertawa lucu.

__ADS_1


"Altha kenapa pohonnya hilang semua." teriak Riri langsung setelah menerobos masuk kedalam ruang baca.


"Kenapa, kau mencari tempat untuk memanjat? Panjat aku saja jangan memanjat pohon karena kau tak akan bisa turun dari pohon tanpa terluka, kalau memanjat aku akan ku pastikan kau tak akan mendapatkan luka lecet sedikit pun." jawab Altha bangun dan berjalan mendekati Riri yang terlihat kesal.


"Siapa yang mengajari kamu bicara begitu dasar mesum." kesal Riri


"Aku suami mu tuan putri, jadi jangan sampai lupa dengan statusmu sendiri." Altha mendekap tubuh kecil Riri dihadapan Yorgun tanpa malu.


"Ikut aku ke istana kerajaan karena mau membahas masalah perbatasan dan aku butuh pendapatmu." Altha menatap Riri "Jangan suka kabur diam - diam karena kau bisa membuat ku hilang akal." Altha menempelkan keningnya pada kening Riri.


...🍁🍁🍁...


Saat Altha dan Riri sampai di ruang rapat ternyata semua orang sudah pada berkumpul dan sedang membahas permasalahan perbatasan dan kerja sama dengan kerajaan selatan yang sudah mulai melakukan aktifitasnya.


"Tuan putri syukurlah anda sudah datang. Kami mengalami jalan buntu untuk masalah kedua negara ini." ucap Mentri Ye Saun


Terlihat Riri berfikir dan Altha yang berada disebelahnya tersenyum, karena Riri selalu saja serius kalau membahas masalah kerajaan atau masalah yang menyangkut dengan kerajaan ini.


"Saat serius dia terlihat sangat cantik." gumam Altha dalam hati.


"Yang mulia bagaimana kalau kita menjalankan rencana awal yaitu sesuai dengan yang dikatakan oleh putri Riri kalau kita memiliki banyak bahan rempah yang bisa digunakan menjadi bahan pengobatan. Kita tawarkan itu pada mereka sesuai dengan kesepakatan yang sudah ku sampaikan pada pihak kerajaan selamat." ucap Altha dan Riri menatap Altha. "Bagaimana menurut mu permaisuri ku?" tanya Altha sontak Riri langsung menunduk karena malu dipanggil permaisuri dihadapan semua orang bahkan didepan raja.


"Kau sangat menggemaskan." bisik Altha pada Riri.


"Baik yang mulia, kita mulai itu dari besok dan kita kirim pada tabib terpercaya kita untuk melakukan pembelajaran secara khusus dan kita dirikan sekolah untuk para ahli pengobatan bagi dua kerajaan." ucap Riri menghindari godaan dari Altha.


Terlihat raja dan yang lainnya mengangguk dan setuju dengan ide yang disampaikan oleh riri dan pangeran Altha, karena dengan begitu maka kerajaan ini tak akan kekurangan orang ahli pada nantinya.


"Kau sangat pandai menghindar." bisik Altha lagi pada Riri.


Raja langsung memerintahkan orang untuk membangun bangunan untuk menjadikan sekolah pengobatan bagi mereka yang ingin mendalami ilmu pengobatan dan juga menempatkan guru - guru terbaik dari kerajaan selatan yang mereka semua mahir dalam pengetahuan tentang segala macam obat dan bahan - bahannya.


Semua telah berjalan lancar dan selama 5 bulan itu sudah banyak orang yang mendaftar untuk menjadi ahli obat karena mereka termotivasi oleh Riri dan mereka ingin bisa menjadi ahli bahkan master obat.

__ADS_1


"Bagaimana suasananya?" tanya raja pada Baron.


"Peroses pembelajarannya berjalan baik yang mulia dan mereka semua sungguh sangat bersemangat untuk mempelajari semua yang diajarkan oleh para ahli dari kerajaan selatan." jelas Baron dengan sangat antusias pada raja.


__ADS_2