
"Kenapa mereka berdua bisa bekerjasama dengan baik seperti ini, apa benar mereka hanya pura - pura atau jangan - jangan mereka beneran telah menikah dan saling mencintai." suara hati nyonya Sin Ya menatap Yourina dan Altha bergantian.
"Tidak, tidak boleh begitu. Aku harus membuat mereka berpisah jika memang bersatu, karena sampai kapan pun Yourina hanyalah alat dan tak boleh bahagia. Bisa bahaya jika sampai pangeran benar - benar peduli padanya, apa yang sudah ku dapatkan selama ini tak boleh hilang." nyonya Sin Ya masih saja bergelut dengan nuraninya untuk membuat Yourina menderita.
"Tunggu dulu, tunggu ini apa maksudnya dan siapa yang dimaksudkan. Bukankah nenek sudah meninggal sejak 10 tahun yang lalu, lalu kenapa tiba - tiba sekarang jadi muncul seorang nenek apa yang terjadi di sini. Tolong katakan pada ku apa yang sudah terjadi?! Ayah, apa benar nenek masih ada dan masih hidup sampai sekarang, katakan.?!" teriak Gozil yang merasa tertipu oleh ayahnya sendiri yang selama ini telah dia hormati dan percaya.
"Siapa dia? Apa dia juga keluarga dari Yourina, dia memanggil ayah Yourina dengan sebutan ayah. Apakah dia adalah kakak dari Yourina?" suara hati Riri dan melihat Gozil yang marah didepan ayahnya.
"Dia pasti kakak Yourina." Riri tersenyum dan mendekat, "Kakak, apa yang kakak katakan jelas - jelas nenek masih ada dan sedang sakit keras karena ulah nyonya Sin Ya dan aku sudah melihatnya sendiri kak." Riri mulai membuat drama dengan menyulut api di hati kakaknya yang sedang marah.
"Youri, ayah telah membohongi ku selama ini. Ayah bilang kalau nenek telah tiada sejak 10 tahun lalu, itu sebabnya aku merasa kecil dan selalu takut dengan semuanya karena aku berfikir tak ada lagi orang yang bisa ku jadikan tempat mengadu," Gozil menangis dan berlutut didepan ayahnya dengan Riri disampingnya. "Bagaimana bisa, bagaimana bisa seorang ayah melakukan itu pada anak - anaknya sendiri, bagaimana bisa.!!" Gozil teriak keras pada ayahnya
"Gara - gara pria tua yang hanya memikirkan uang dia telah membuat anak - anaknya menderita, kau bukan manusia. Kau membuat putrimu sendiri menjadi mata - mata hingga dia mendapatkan banyak luka, seorang gadis yang masih berusia 13 tahun harus menjadi tawanan negara lain hanya karena salah informasi sehingga membuat dia menjadi seorang gadis yang sombong dan tak tau aturan hanya untuk mempertahankan hidupnya, dan kau selalu menekan ku hingga aku tak memiliki keberanian dalam melawan." Gozil mengungkapkan semuanya.
"Apakah kau tau, bagaimana rasanya aku menahan rasa takut setiap kali aku melihat darah yang mengalir dari tubuh adikku, aku meringkuk disudut kamarku karena ketakutan kalau dia juga akan pergi meninggalkan aku sendirian di dunia ini." Gozil telah emosi dan meluapkan segalanya, di ruangan itu Altha dan Yaris terkejud mendengar semua kenyataan yang dikatakan oleh tuan muda Gozil.
"Kau benar - benar bukan seorang ayah, kau binatang. Aku selalu berharap dan memohon pada dewa setiap hari, agar jika suatu hari Riri ku menghilang dewa akan mengirimkan Riri dari dunia lain untuk membalaskan semua perbuatan kalian. Hah,,, kenapa aku bisa memiliki ayah sepertimu." Gozil yang ingin memukul ayahnya ditahan oleh Riri dan dipeluk dengan erat oleh Riri hingga mereka jatuh dan terduduk lagi dilantai.
"Jadi kau yang memanggilku, kau yang telah memanggilku, kakak." bisik Riri tepat ditelinga Gozil sambil memeluk Gozil.
Gozil tertegun menatap Riri dengan tatapan sulit karena dia mendengar apa yang dikatakan oleh Riri adiknya seolah itu adalah orang lain. Gozil terus saja menatap Riri yang ada didepannya dengan bertanya - tanya.
Riri tersenyum dan menghapus air mata Gozil, "Aku telah datang kakak, dewa menjawab panggilan mu. Aku akan balas semuanya." ucap Riri liri dan mendengar itu Gozil menangis lagi.
Riri bangun dan menatap pada ayah, ibu tiri dan juga saudara tirinya yang berdiri diam didepannya. Riri berputar dan membantu Gozil kakaknya untuk berdiri.
"Yaris, perintahkan pada Jiyang untuk membawah nenek keluar dari rumah ini sekarang juga. Bawah semua yang menjadi milik keluarga Chan tanpa terkecuali. Siapa yang menghalangi, habisi mereka ditempat." Riri memerintahkan pada Yaris tanpa ekspresi dan dengan tatapan yang sangat tajam.
"Baik, segerah." Yaris langsung pergi untuk mengintruksikan pada Jiyang.
"Pa-pangeran dengarkan apa yang dikatakan oleh putri Yourina, tidakkah dia telah berlaku semena - mena." Yurna mulai mengeluarkan suaranya setelah lama diam.
"Benar pangeran, bukankah di sini ada anda, tapi kenapa dia bisa bersikap tak sopan seperti itu dihadapan anda. Dia telah menjadi arogan setelah menjadi istri pangeran, jika seperti itu bukankah dia bisa menyulitkan pangeran pada akhirnya nanti." nyonya Sin Ya ikut menyambung kalimat Yurna.
"Suamiku katakan sesuatu, lagi pula ini adalah kesalahpahaman antara anak dan ayah." nyonya Sin Ya berusaha untuk menyadarkan suaminya dan mempengaruhinya lagi.
"Ah, iya benar harusnya tindakan itu tak bisa dilakukan sesuka hati." ucap tuan besar Chan.
"Suamiku, kau adalah hak milik ku dan aku adalah hak milik mu haruskan kita menjadi orang lain?" Riri mendekat dan memeluk Altha.
Altha tersenyum lalu mengusap wajah Riri dengan lembut, "Kau milik ku, tentu saja kau adalah aku dan aku adalah kau, apa pun keputusanmu semua sama saja dengan keputusanku." jawab Altha menatap tuan dan nyonya Chan.
"Jangan membuat keputusan yang salah jika tak ingin semuanya berakhir buruk." Altha berkata dengan tersenyum namun itu masih saja terdengar seperti ancaman bagi tuan Chan.
"Maaf tak bisa tinggal lebih lama, karena istri saya sedang tak baik suasana hatinya. Kami undur diri." Altha memberikan penghormatan pada tuan Chan lalu membawah Riri keluar dari aula keluarga Chan.
"Kenapa ini? Kenapa rasanya ada rasa lengah dalam dadaku, atau ini adalah perasaan Yourina yang sebenarnya. Jadi dia juga memiliki dendam pada keluarganya yang telah menjadikan dirinya sebagai alat ya." Riri tersenyum karena dia bisa membuat orang yang selama ini menderita menjadi terlepas dari bebannya.
__ADS_1
Didalam kereta kuda dalam perjalanan kembali ke istana Riri tiba - tiba saja merasa lelah dan juga ngantuk berat, sehingga dia pun langsung tertidur tanpa peduli dengan keadaan dan situasinya. Dan nenek Riri berada di kereta kuda lain bersama dengan Gozil kakak Riri dan kedua pelayannya yaitu Dae Si dan Dean Si.
"Aku tak tau kalau hidupnya selama ini begitu sulit dan berat, mulai sekarang aku akan memperlakukanmu dengan baik bahkan sangat baik. Kau adalah orang yang berharga bagiku." ucap Altha yang sedang memeluk Riri yang telah terlelap.
"Kau sangat cantik saat sedang diam begini." bisik Altha ditelinga Riri dan mencuri ciuman Riri yang sedang tertidur.
...🍁🍁🍁...
Setelah tinggal beberapa lama di kediaman pangeran kondisi nenek Riri mulai membaik namun telah terjadi komplikasi yang sangat lama sehingga Riri tak lagi bisa membuat keajaiban untuk kerusakan ginjal dari neneknya yang sudah mulai tak bisa diperbaiki lagi.
"Aku tak tau harus bagaimana sekarang, kalau saja ini ada di dunia ku. Aku pasti akan melakukan untuk menjalankan operasi pada nenek untuk memperbaiki fungsi ginjalnya." gumam Riri dalam hati dan menghela nafas dalam.
"Sayang, tak apa jika nenek tak bisa diselamatkan. Bagi nenek asalkan bisa bertemu dengan mu dan melihatmu baik - baik saja itu sudah cukup." ucap nenek Riri tersenyum dan menggenggam tangan Riri seolah tau kecemasan dalam hati Riri.
"Youri, apa yang dikatakan oleh nenek benar. Asal semua sudah baik itu sudah cukup." Gozil yang juga ikut tinggal bersama di istana pangeran dan telah dilatih oleh Jiyang untuk menjadi seorang prajurit pun merasa bersyukur karena sudah bisa lepas dari keluarga yang menyiksa batinnya dan bersama dengan adik kesayangannya.
"Haruskah aku katakan kalau aku adalah orang yang mereka panggil untuk menggantikan Riri cucu dan juga adik mereka." suara hati Riri menatap nenek dan kakaknya bergantian.
"Maafkan aku, kemampuanku terbatas." ucap Riri dengan sedih.
"Tak apa sayang, nenek sudah bahagia dengan bersamamu seperti ini." ucap nenek Riri memeluk Riri.
"Nenek istirahatlah." Riri membantu neneknya untuk berbaring ditempat tidur.
Riri mempelajari semua buku yang diberikan oleh tabib senior dan Riri sedang berusaha keras untuk mempelajari semua ilmu pengobatan tradisional itu dengan pengetahuan medisnya di dunia modern.
"Istirahatlah jangan sampai kelelahan." Altha memeluk tubuh kecil Riri dan mengangkatnya untuk membawahnya ketempat tidur agar Riri istirahat.
"Aku belum selesai membacanya." Riri menatap Altha dengan tatapan mata yang sudah terlihat lelah
"Tidurlah dulu, bukunya tak akan lari kemana - mana." Altha memasang selimut dan meninggalkan kecupan di kening Riri.
Deg, jantung Riri berdebar kencang karena ulah Altha.
Riri berpaling dan menutup dirinya dengan selimut karena dia mulai merasa aneh pada dirinya dan bahkan sentuhan lembut Altha setiap kali dia memperlakukan Riri membuat Riri menyadari satu hal pada dirinya ada yang aneh dan timbul perasaan aneh dalam hatinya.
"Ada apa dengan ku, apa aku menyukainya? Tidak itu tidak mungkin, aku tak boleh terikat dengan siapa pun di dunia ini karena aku harus kembali ke duniaku." gumam Riri dalam hati menyangkal dan menolak perasaannya.
"Eh, apa yang kau lakukan?" Riri bertanya kaget karena tiba - tiba saja Altha juga tidur disampingnya sambil memeluk Riri dari belakang
"Shut,, aku lelah sekali. Biarkan aku tidur di sini dan biarkan seperti ini aku ingin menghilangkan lelah ku." ucap Altha yang semakin erat memeluk tubuh Riri.
"Sial, kenapa dia bisa seperti ini bikin orang salah tingkah saja." suara hati Riri dan akhirnya berusaha menutup matanya.
...🍁🍁🍁...
"Pangeran kedua aku dengar bahwa Yurna telah hamil saat ini, sebaiknya kalian segeralah melangsungkan pernikahan kalian." ucap raja pada pangeran kedua yang telah diketahui telah menjalin hubungan dengan putri kedua keluarga Chan dan saat ini sedang hamil.
__ADS_1
"Ayahanda, mohon maaf tapi saat ini aku masih belum terpikir untuk menikah." jawab pangeran kedua yang berusaha untuk menolak pernikahan dengan Yurna.
"Pangeran Jang Yong," kalimat raja ditekankan, "Tolong jangan membuat malu dan merugikan kerajaan. Jika kau tak ingin menikah harusnya dari sejak awal kau tak melakukan perbuatan yang bisa membuatmu berada dalam situasi seperti saat ini." jelas raja dengan tegas dan itu membuat pangeran kedua tau kalau saat ini ayahnya sedang marah pada dirinya.
"Aku tak tau apa yang akan kau lakukan, tapi setidaknya jadikanlah dia sebagai selirmu dan aku ingin mendengar kabar baiknya itu, ku beri waktu 1 minggu lakukan dengan benar. Sekarang keluarlah" ucap raja dengan emosi yang ditahannya, karena dia tak bisa mengerti dengan jalan pikir anak keduanya itu yang selalu bermain wanita dan sudah memiliki 2 selir saat ini.
"Baik, ayahanda." ucap pangeran Jang Yong dan meninggalkan ruangan ayahnya.
Dengan terpaksa pangeran kedua pun melakukan persiapan untuk meminang Yurna sebagai selirnya dan membawahnya masuk kedalam istananya, karena dia tak ingin membuat ayahnya semakin marah pada dirinya yang akhirnya akan membuat masalah didalam rencananya untuk menumbangkan kekuasaan Altha.
"Dengar, kau hanyalah seorang selir dan tak lebih jadi jangan berbuat semaumu. Satu lagi jaga bayi itu dengan benar." ucap pangeran Jang Yong pada Yurna.
"Wah tak ku sangka acara pernikahan yang hanya mengangkat seorang selir saja bisa begitu ramai dan meriah sungguh tak sepadan." ucap Riri yang ikut hadir dalam acara pangeran kedua itu.
"Kakak ipar kau datang. Besok aku akan masuk dalam pasukan militer kak Altha, ku harap aku akan bisa lebih sering ketemu sama kakak ipar." ucap pangeran ketiga saat dia menyapa Riri.
"Pangeran ketiga, apa kau benar akan masuk dalam pasukan? Wah bagus sekali, aku yakin kau akan jadi pahlawan yang hebat pada akhirnya nanti." Riri memuji dengan sangat antusias.
"Haruskah kau memuji dia sampai seperti itu?" Altha menarik Riri masuk kedalam pelukannya
"Hek, kau mencekik leherku." Riri memukul lengan kokoh Altha yang tiba - tiba memeluk lehernya.
"Maaf istriku." Altha tersenyum dan mengecup kening Riri.
Blus, wajah Riri memerah karena malu dengan perlakuan Altha yang semakin berani untuk diperlihatkan oleh Altha bahkan ditempat umum.
"Gila - gila, ini semakin menjadi. Dan perasaan aneh ini jadi semakin jelas kalau aku menyukai orang ini, bagaimana ini bisa terjadi. Sial aku tak bisa mengendalikan hatiku." Riri menutup matanya, "Jantung sialan ini, kenapa dia masih saja berdebar sekencang ini aku jadi merasa tak tenang dan juga salah tingkah jika berada disisinya." suara hati Riri.
Bruk, seseorang menabrak Riri sehingga menumpahkan minuman dibaju Riri
"Tuan putri." Jui Li melindungi Riri
"Tidak apa Jui." Riri tersenyum pada orang yang tadi menabraknya
"Tolong maafkan aku tuan putri." ucap orang itu dan pergi
"Tuan putri, ayo ku bantu membersihkan baju tuan putri." Jui Li membawah Riri kesebuah kamar untuk membantu Riri membersihkan bajunya.
"Tuan putri tunggu sebentar di sini." Jui Li keluar membawah baju Riri untuk dibersihkan.
"Kau didalam istriku." Altha memanggil dan masuk kedalam kamar itu setelah dia berpapasan dengan Jui Li di lorong.
"Eh, Altha apa yang kau lakukan?" tanya Riri dengan gugup karena dia hanya mengenakan baju dalaman saja.
"Tentu saja untuk menjaga istriku yang sedang tak berpakaian dengan benar ini." ucap Altha menyentuh dagu Riri dengan senyum manisnya.
"Sial, bocah sialan ini mau membuat jantungku meledak ya." suara hati Riri dan dia jadi salah tingkah karena berdua saja dengan Altha didalam ruangan tertutup yang sama.
__ADS_1