Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Tempat rahasia


__ADS_3

"Tuan putri semuanya sudah disiapkan." ucap Dae Si pada Riri yang mau siap - siap untuk mengunjungi makam neneknya yang sudah meninggal sebulan lalu bersama dengan Gozil kakaknya.


"Baiklah, kau panggilkan kakak ku apa dia sudah siap." perintah Riri pada Yu Wan


Tak lama kemudian Gozil datang menghampiri Riri "Tuan putri, kau terlihat sangat cantik. Kau ini mau pergi ke makam nenek atau mau pergi untuk menggoda pria?" ledek Gozil pada Riri yang terlihat cantik dengan baju yang tak biasa dia pakai.


"Jangan bicara sembarangan karena aku ingin pakai baju biasa saja namun dilarang oleh Yu Wan, dia memaksa ku mengenakan baju yang penuh dengan ikat seperti ini." Riri dengan kesal menjelaskan sambil merentangkan kedua tangannya menunjukkan baju yang dikenakannya.


Gozil tertawa karena dia merasa bahagia melihat adiknya yang dulu begitu terseksi dan sekarang sangat baik juga bahagia. "Sudah ayo nanti kesiangan." Gozil menggandengkan Riri dan membantu Riri untuk naik kedalam kereta kuda.


Selama dalam perjalanan Riri dan Gozil selalu bercerita banyak hal karena hanya saat di luar istana saja Gozil bisa dengan leluasa bicara sama adiknya itu yang sekarang adalah putri mahkota dan memiliki kesibukan mengobati orang - orang bersama dengan tabib senior.


"Nenek kami datang berkunjung." ucap Riri bersimpuh didepan makam neneknya bersama dengan Gozil.


"Nenek, aku dengar katanya ayah akan diturunkan dari jabatannya karena ketahuan telah mencurangi negara. Dan aku juga sangat senang karena Riri telah terlepas dari masalah itu, karena jika tidak maka Riri akan menanggung beban lagi seperti dulu. Nenek beristirahatlah dengan tenang, karena aku akan menjaga Riri mulai sekarang." ucap Gozil panjang lebar pada neneknya dan Riri yang mendengar tersenyum karena kakaknya itu sudah mulai berani menghadapi orang dari pada dulu yang selalu sembunyi.


"kak katakan pada ku apa isi dari peta yang ditinggalkan nenek pada ku, dan ada apa disana sampai nenek berpesan agar jangan ada yang tau kalau peta dan kunci ini ada pada ku." Riri memasang beberapa ikat bunga sambil bertanya soal wasiat terakhir neneknya pada dirinya kepada kakaknya yang juga sama tak tau menahu soal peta itu.


"Aku juga baru tau kalau nenek memiliki rahasia itu dan aku juga tak tau dimana letak persis dari peta itu serta ada apa disana." Gozil yang membantu Riri memasang bunga menjawab dengan jujur kalau dirinya juga tak tau menahu soal itu


"Hem, baiklah ayo kak." Riri bangun setelah memasang beberapa bunga di makam neneknya. "Nanti aku coba tanya pada pangeran saja karena jujur aku tak bisa membaca peta yang seperti ini." Riri tersenyum dan membersihkan bajunya, "Kami akan datang lagi lain waktu nek." Riri memberi hormat pada neneknya lalu pergi bersama dengan Gozil dan kedua pelayannya.


...🍁🍁🍁...


"Pangeran putri mahkota ada di sini." ucap Yorgun yang melihat Riri datang dan diminta sama Riri untuk melapor pada Altha sebelum dia masuk kedalam ruangan Altha.


"Baik." Altha menjawab dengan tatapan bertanya karena dia merasa aneh sebab setiap hari Riri selalu berlaku aneh.


"Apa kau sibuk? Aku tak mengganggu?" dengan senyuman dan jalan dengan pelan serta kedua tangannya dilipat didepan dengan sangat sopan Riri mendekati Altha.


Altha dan Yorgun yang ada disitu menatap Riri dengan heran dan bertanya - tanya. Dalam hati Yorgun selalu tersenyum tiap kali Riri datang karena pasti Riri akan melakukan hal lucu yang akan membuat majikannya itu marah dan juga sabar dalam satu kesempatan.


"Apa lagi yang mau dia lakukan?" gumam Altha dalam hati menatap Riri yang terlihat berhati - hati dalam berjalan dan bersikap.


"Katakan kenapa kau bersikap sangat aneh hari ini, bukankah kau pergi ke makam nenek mu bersama dengan kakak mu apa sudah selesai?" Altha yang tak sabar pun bertanya karena dia sudah gemas dengan tingkah Riri yang terlihat lemah gemulai seolah bukan dirinya.


"Lapor pangeran, barusan utusan pangeran kedua datang dan dia mengirimkan Selir kesayangannya untuk pangeran." jelas Riri dengan lembut.


"Apa?! Jang Yong." Altha tersentak seketika berdiri menatap Riri tajam.


"Iya, dan orangnya sekarang masih ada di taman bunga samping." jawab Riri dengan senyum manis.


"Kau menerimanya? Tak menolaknya?" Altha bertanya lagi dengan kesal pada Riri.

__ADS_1


"Belum ku terima, aku tadi bilang pada mereka untuk menunggu karena aku akan memberi tau padamu dulu. Makanya sekarang aku bertanya bagaimana apakah kau mau menerimanya?" Riri berkata dengan tersenyum dan wajah tanpa dosa.


"Kau tau apa maksudnya itu?" Altha menatap Riri dan dengan cepat Riri menggelengkan kepalanya.


Altha kembali duduk dikursinya dan memegangi kepalanya, Altha menghela nafas dalam karena dia sudah kehilangan kata - kata setiap kali berurusan dengan Riri. Sementara Riri menatap bingung melihat tingkah Altha yang tak langsung menjawab malah duduk dan menghela nafas.


Riri menatap Yorgun yang berdiri disebelahnya namun Yorgun diam tak berusaha untuk memberikan penjelasan atas ketidak tahuan dari Riri, dan hal itu membuat Riri jadi semakin penasaran.


Altha melihat Riri dan Riri juga melihatnya dengan sejuta pertanyaan dan rasa tak sabar ingin tau apa jawaban Altha. "Kenapa dia terus menghela nafas sih" suara hati Riri dan lagi - lagi Riri menatap Yorgun.


"Apakah kau tau kalau itu artinya kami harus berbagi wanita kesayangan kami, jika dia mengirim wanitanya padaku maka aku juga harus mengirim wanitaku padanya dan aku harus menghabiskan waktu setiap malam dengan wanita yang dikirimkannya itu sampai aku bosan. Dan jik,,, hah?" Altha menatap Riri yang emosi.


"Apa?! Aku aja belum merasakan punyamu dan dia malah mau mendahului aku tidak bisa, enak saja, ups.!" Riri langsung emosi dan begitu sadar dengan apa yang dikatakannya dia langsung menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya, menunduk malu.


Yorgun dan Altha tertegun dengan jawaban Riri yang spontan langsung emosi, dan begitu sadar Yorgun tersenyum karena Riri langsung berubah dari sikapnya yang tadi dibuat sangat anggun serta lembut gemulai langsung beringas bagai singa yang marah karena menjaga area kawasan kekuasaannya.


"Ehem," Altha merasa malu pada Yorgun atas apa yang dikatakan oleh Riri dengan cepat. "Keluarlah." perintah Altha seketika.


"Baik, aku salah." Riri berbalik dan mau melangkah.


"Bukan kau!!" teriak Altha, seketika Riri berhenti lalu melirik pada Yorgun yang tersenyum pada dirinya, Riri menutup matanya dan berpaling dari Yorgun karena malu.


"Hamba undur diri pangeran." Yorgun berpamitan dan pergi meninggalkan ruangan Altha, "Tuan putri harus hati - hati." bisik Yorgun saat berdekatan dengan Riri.


"Ah iya itu maaf aku salah bicara tolong diabaikan saja dan lupakan sekarang aku pergi dulu." Riri mau kabur namun dengan cepat Altha menarik tangan Riri hingga tubuh Riri tertarik dan menghadap Altha.


Dengan cepat Altha memeluk pinggang Riri serta menatapnya dalam, "Kalau mengatakan sesuatu itu harus diselesaikan dan dipertanggung jawabkan dengan baik jangan kabur." Altha berkata sambil memeluk Riri dan tersenyum.


"Ma-maaf aku harus mengurus orang pangeran kedua dulu, aku akan menolaknya oh tidak, aku akan mengembalikan mereka semuanya dan memperingatinya agar dia tak melakukan hal ini lagi kedepannya." jawab Riri berpaling karena merasa malu dan jantungnya berdebar kencang sebab Altha memeluk dan menatapnya dengan sangat dekat.


"Bagus, kerja bagus seperti itu. Usir mereka semuanya dan jangan biarkan mereka kembali lagi, karena istana ini hanya untuk kita dan anak - anak kita saja." jawab Altha yang lagi - lagi tersenyum membuat Riri jadi semakin salah tingkah.


"Iya lepaskan dulu, biar aku bisa mengusir mereka sekarang." Riri melonggarkan pelukan Altha lalu langsung menjauh dari Altha


"Tunggu," panggil Altha saat Riri mau keluar dari ruangannya


"Apa ada lagi?" Riri bertanya melihat Altha yang berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Nanti malam aku akan membawah mu kesuatu tepat, siapkan dirimu." ucap Altha dan berjalan lagi kembali duduk dikursinya.


"Riri apa kau gila, benar kau sudah benar - benar gila. Bagaimana bisa kau mengatakan kata - kata seperti tadi, bahkan kau katakan dengan sangat lantang didepan Yorgun lagi sungguh memalukan." Riri terus bergumam dan memukul kepalanya sendiri karena merasa malu telah mengatakan kalau dia ingin merasakan milik Altha.


"Putri,,, tuan putri." panggil Jiyang yang melihat Riri berjalan sambil ngomel sendiri.

__ADS_1


"Hah iya, oh Jiyang kau bikin kaget." jawab Riri setelah Jiyang menepuk bahu Riri.


"Kenapa tuan putri bicara sendiri, apakah ada yang mengusik ketenangan tuan putri?" Jiyang bertanya dengan mengikuti Riri disampingnya, "Dan dimana para dayang tuan putri, kenapa berjalan seorang diri?" sambung Jiyang lagi yang melihat Riri sering berjalan sendirian.


"Ku suruh mereka menunggu di taman bunga samping." Riri menjawab pertanyaan Jiyang dan mulai menceritakan pada Jiyang kalau dia harus mengusir orang - orang dari pangeran kedua yang datang hari ini karena dia habis dimarahi oleh Altha karena menerima mereka semua.


Mendengar itu Jiyang tersenyum karena dia tak menyangka kalau majikannya ini bener - benar tak tau apa - apa soal istana dan siasat dari semua orang, dan dengan suka rela Jiyang pun membantu membereskan orang - orang pangeran kedua yang datang hari itu. Riri merasa lega karena dengan bantuan Jiyang Riri berhasil menolak serta memulangkan orang - orang yang dikirimkan oleh pangeran kedua.


...🍁🍁🍁...


"Altha, ini dimana? Tempat ini sangat indah dan juga damai sekali, bintang juga bisa dilihat dengan sangat jelas dari sini." Riri sampai disebuah tempat yang berada di dataran tinggi setelah Altha membawahnya dengan menutup mata Riri dan menggendongnya pergi dengan cepat tanpa siapa pun.


"Kau suka, ini adalah tempat favoritku bersama dengan alm. ibu ku dan aku paling suka pergi kesini saat merasa sesak atau merindukan ibu ku. Ini adalah tempat rahasiaku dengan ibuku tak ada yang tau tempat ini selain kami, dan aku sengaja membawah mu kesini untuk menjadikan tempat ini sebagai tempat rahasia kita berdua." Altha berkata dengan tersenyum menatap Riri yang berputar dan melompat kesana kemari dengan sangat senang.


"Suka, aku sangat suka tempat ini sangat indah dan damai sekali, anginnya juga sangat sejuk, aku senang punya tempat rahasia." Riri merebahkan tubuhnya di tanah penuh rumput dan merentangkan tangannya menatap langit malam penuh bintang.


"Aku senang jika kau juga suka tempat ini. Karena di sini dulu aku dan ibuku selalu melakukan banyak hal yang menyenangkan." Altha ikut merebahkan tubuhnya disamping Riri dan juga menceritakan tentang kisah dirinya dan ibunya dulu.


"Ibumu dulu sangat menyayangimu ya, kalian pasti memiliki kisah yang seru ya. Makasih ya sudah mempercayaiku dan membawah aku ketempat spesial antara kamu dan ibu." Riri melihat Altha sambil tersenyum.


"Aku sangat menyukai mu putri, dan aku sangat mencintaimu. Aku tak tau sejak kapan tapi perasaan ini telah menguasai dan mengisi penuh seluruh hatiku." ucap Altha sambil menatap Riri dengan dalam.


"A-altha kau." Riri langsung bangun dari posisi rebahan dan dia memalingkan wajahnya karena jantungnya berdebar sangat kencang menerima pernyataan cinta dari Altha yang begitu tiba - tiba.


Altha bangun lalu memeluk Riri dari belakang, "Jangan menghindar lagi, aku benar - benar sangat menyukaimu, aku tak akan bisa melepas mu lagi sekarang." ucap Altha dan menyandarkan kepalanya di bahu Riri.


"A-Altha kamu,,, kamu tak apa?" Riri bertanya dengan gugup.


Altha memutar tubuh Riri menghadap dirinya "Jangan tolak aku. Yourina." ucap Altha yang mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan di bibir Riri.


Altha menatap Riri dalam setelah mengecup bibir Riri, lalu Altha mendekat lagi dan mulai merasakan dengan lembut bibir Riri secara dalam "Riri, aku akan memanggilmu dengan nama itu karena aku ingin lebih dekat dengan mu lagi." ucap Altha setelah mengurai ciumannya.


"I-ini tempat apa namanya?" Riri mengalihkan pembicaraan dengan sebuah pertanyaan karena dia merasa gugup dan malu.


"Hem, ini adalah bukit bintang." Altha menjawab dengan mengusap pipi Riri penuh rasa sayang lalu melihat langit malam.


"Tunggu, bukit bintang? Kalau begitu kau lihat ini apa sama dengan yang tertulis di peta ini, bukit bintang." Riri mengeluarkan sebuah kertas dari balik bajunya yang selalu dia bawah karena takut hilang sesuai dengan pesan dari neneknya.


"Iya benar ini adalah peta tentang bukit bintang, tapi kamu dapat ini dari mana? Sepertinya ini adalah letak sebuah benda rahasia atau bisa dibilang harta karun, siapa yang memberikannya padamu?" jawab Altha bertanya setelah melihat dan mengamati peta yang ditunjukkan oleh Riri.


"Nenek yang memberikannya pada ku, sebelum nenek meninggal dan sepertinya ini juga yang selalu ditanyakan oleh nyonya Sin Ya selama ini karena nenek juga memberiku sebuah kunci" Riri pun menunjukkan kunci yang terbuat dari platinum berkualitas bagus yang sepertinya bukan dari dunia ini.


"Baiklah, jaga dulu ini dengan baik, kita akan menyelidikinya nanti. Sekarang kita kembali ke istana dulu, besok pagi baru kita kesini lagi karena sekarang sudah malam jadi kita kembali dulu." Altha menyerahkan peta itu pada Riri dan membawa Riri kembali ke istana dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2