Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Pelaku Utama


__ADS_3

"Tuan putri, apa tuan putri tak apa?" Yoyo menyambut putri Sui dengan rasa khawatir.


"Aku tak apa, bagaimana dengan mu, apa tugasmu sudah selesai?" putri Sui balik bertanya karena melihat Yoyo ada di istana raja.


"Putri Sui kembalilah untuk istirahat." ucap Riri dan meninggalkan putri Sui sama pengawalnya berbincang dan dia berjalan menuju kamar raja untuk melihat kondisi raja yang saat ini sedang dalam perawatannya. Kondisi raja sudah terlihat agak baik karena sudah gak pucat lagi dan lagi luka - lukanya yang sudah dijahit dan ditutup oleh Riri juga sudah mulai sembuh tinggal menetralkan racun yang sudah terlanjur banyak diminum oleh raja.


"Tuan putri, tadi aku melihat ada pergerakan dari jari yang mulia." Baron terlihat sangat senang.


"Bagus kalau begitu sebentar lagi yang mulia akan sadar dan kita bisa menanyakan kebenarannya." Riri menyeka wajah yang mulia raja dengan kain bersih dan air hangat dengan lembut.


"Ugh." tak berselang lama saat Riri sedang menyiapkan obat yang mulia raja telah sadar dan sedang beradaptasi dengan lingkungannya karena sudah tertidur sekian lama.


"Tuan putri, yang mulia." Baron terlihat panik dan juga senang bersamaan.


"Iya, yang mulia sudah bangun ya." Riri berjalan mendekati yang mulia raja dan Baron.


"Putri Yourina." yang mulia melihat Riri dan tersenyum. "Ini apa?" yang mulia melihat tangannya terpasang selang infus.


"Itu adalah obat yang saya gunakan untuk yang mulia, sekarang yang mulia sudah tidak apa - apa dan sudah sadarkan diri, tolong minum obat ini untuk membantu yang mulia menetralkan racun yang sudah lama dikonsumsi oleh yang mulia.


Setelah Riri melepas infus dan memberikan obat kepada yang mulia raja dan menanyakan kejadian sebenarnya dimalam itu, Riri meminta pada Baron untuk diam dan tak bicara kepada siapa pun untuk keadaan raja yang sudah pulih juga sudah bisa diajak komunikasi dengan baik.


Setelah itu Riri berunding dengan Yaris dan Yodon yang mengetahui cerita dari orang - orang yang ditangkap dan di penjarakan di hutan bulan. Riri pun mulai mengerti kearah mana dan siapa yang sebenarnya memiliki niat jahat kepada yang mulia raja dan Altha, karena orang itu ingin menghabisi raja dan Altha sekaligus dalam sekali serangan.


Pagi itu pangeran kedua datang melaporkan kepada Mentri keadilan soal selir keduanya yang telah melakukan perselingkuhan dibelakangnya dan ingin mengembalikan kepada keluarganya serta ingin tau siapa orang yang telah menjadi selingkuhannya.


Di aula persidangan sangat ramai karena sedang cekcok antara keluarga dari selir Wu Ling dan pangeran kedua yang saling tak terima dengan apa yang sudah dilakukan oleh selir Wu Ling terhadap dirinya, begitu juga keluar dari selir Wu Ling juga tak terima jika putri mereka harus dikembalikan ke rumah karena itu akan mencoreng nama baik keluarganya.


"Aku tak melakukan kesalahan, karena pangeran kedua juga melakukan kesalahan dengan putri Ye Rin. dengan jelas pangeran kedua mengatakan padaku kalau dia melakukan hubungan gelap dengan putri Ye Rin lalu Kenapa harus aku saja yang dihukum." selir Wu Ling tak terima dan dia ingin agar putri Ye Rin juga ikut diadili dan diberikan hukuman sama dengan dirinya karena dia juga berselingkuh dengan pangeran kedua.


Putri Sui mendatangai kamar Riri dan kaget saat dia mendengar apa yang dikatakan oleh Baron mengenai ramainya aula persidangan. "Putri Youri kenapa anda melakukan ini?" bisik putri Sui yang duduk disebelah Riri.


Riri tersenyum dan bangun dari duduknya, "Itu namanya melempar batu 2 buah yang didapat. Dengan begitu aku bisa mengeluarkan putri Ye dari kediaman pangeran pertama dan juga akan mengungkapkan pelaku yang sebenarnya." jelas Riri.


"Baron kembalilah ke aula dan aku akan melihat yang mulia raja, setelah itu aku akan menyusul mu ke aula." Riri keluar dari kamarnya dan berjalan ke kamar raja.


"Bagaimana kondisi yang mulia?" tanya Riri setelah masuk dan menemui raja.


"Putri Youri, aku baik." jawab raja tersenyum.

__ADS_1


Setelah menyuruh beberapa orang yang menjaga raja untuk keluar Riri mulai menceritakan apa yang sedang terjadi dan juga menarik kesimpulan dari cerita raja siapa dalang dibalik semua masalah yang terjadi saat ini. Mendengar itu raja merasa terkejud dan dia tak menyangka kalau hal itu terjadi.


"Ini hanya dugaan saja yang mulia, untuk lebih pastinya saya akan membukanya di ruang sidang hari ini. Itu pun jika yang mulia mengijinkan." ucap Riri dan yang mulia raja terlihat berfikir sampai akhirnya menganggukkan kepala tanda dia mengijinkan Riri untuk membuka kasus malam itu kehadapan umum.


Di ruang persidangan pangeran kedua dan selirnya saling berselisih sampai putri Ye Rin juga ikut dipanggil karena terlibat hubungan asmara dengan pangeran kedua. Semua orang tak mengerti dan kaget dengan semua yang terjadi namun tidak dengan Riri.


"Pangeran Altha apakah anda tak pernah tau kalau putri Ye Rin menjalin hubungan dengan pangeran kedua di kediaman anda? Dan telah melakukan perbuatan yang tak pantas disana selama ini?" tanya penasehat Mentri keadilan.


"Aku tak pernah tau dan lagi aku juga membebaskan dia karena dia bukan bagian dari anggota keluargaku, dia tinggal disana hanya aku anggap sebagai orang yang aku jaga saja karena keluarganya gak mau menerima dirinya lagi jika aku kembalikan." jelas Altha mengatakan yang sebenarnya dan semua orang juga tau kalau Mentri Ye Saun tak menerima putrinya saat mau dipulangkan.


"Putri Yourina memasuki ruang sidang istana." teriak seorang penjaga dan terlihat Riri dengan dikawal Yodon dan Yaris disisinya berjalan memasuki ruang sidang.


"Maaf jika kehadiran ku mengganggu, tapi ada yang ingin ku bahas di sini mengenai masalah yang mulia raja." ucap Riri saat dia telah sampai ditengah ruangan.


"Siapa yang mengijinkan mu untuk menyela masalahku, karena urusan ku belum selesai." pangeran kedua marah dan membentak Riri.


Riri tersenyum dan berjalan mendekati pangeran kedua sambil menunjukkan plakat milik yang mulia raja, "Yang mulia raja sendiri yang memberi kuasa padaku."jawab Riri tegas. "Sekarang katakan pada ku pangeran kedua, apakah kau ingin aku menyelesaikan masalah mu ini atau membiarkan masalah mu ini tak mendapatkan solusinya, bukankah kamu ingin selir Wu Ling mendapatkan hukuman yang sesuai dengan perbuatannya?" sambung Riri bertanya.


Pangeran kedua berfikir dan menatap Riri tajam, "Aku akan membuatmu menikah dengan wanita yang kau inginkan selama ini, bagaimana." ucap Riri sambil berbisik pelan dihadapan pangeran kedua.


"Kau." pangeran kedua kaget dan menegakkan posisi duduknya.


Mendengar itu Altha merasa kesal dan mengepalkan tangannya menatap pangeran kedua dengan tatapan ingin menghabisinya. Dan tatapan mematikan itu ditangkap oleh pangeran kedua dengan rasa takut.


"Terserah kau." jawab pangeran kedua langsung karena dia takut pada tatapan Altha.


"Baik, sekarang aku ingin tanya dimana pangeran ketiga berada, kenapa dia tak ada di sini?" tanya Riri dan berjalan lagi ketengah ruangan.


"Beliau ada urusan dengan para pasukan kerajaan, karena selama yang mulia raja sakit pangeran ketiga lah yang mengurus semua urusan militer kerajaan dan lagian beliau tidak ada urusannya dengan hal ini jadi kami tak mengundang beliau kemari." jawab Mentri pengadilan dengan tegas karena dia menganggap Riri sok tau dan meremehkan Riri.


"Baiklah, kalau begitu sebelum aku mulai melakukan pembukaan sidang ini, aku ingin tanya dulu pada Mentri Lie Ling dimanakah anda saat malam hari di acara pesta perayaan peringatan ulang tahun yang mulia raja waktu itu." Riri berjalan dan menatap Mentri Lie Ling.


"Apa maksud putri Youri, tentu saja hamba ada di ruang perayaan sampai acara selesai." Mentri Lie Ling menjawab dengan percaya diri.


"Baiklah, lalu dimana Mentri Ye Saun malam itu?" Riri menatap Mentri Ye Saun yang kebetulan duduk disebelah Mentri Lie Ling.


"Hamba juga sama dengan Mentri Lie Ling ada di ruang perayaan sampai acara selesai." Mentri Ye Saun juga menjawab dengan percaya diri.


"Ok, kalau begitu mari kita mulai sidangnya." Riri tersenyum dan berjalan ke tengah aula lagi.

__ADS_1


"Yaris keluarkan apa yang aku suruh kau bawah dan sudah kau cari selama ini." Riri berkata dengan tatapan serius.


"Baik." Yaris berjalan ketengah ruangan dan meletakkan beberapa kayu, botol serta pisau yang semuanya sudah terlihat sangat kotor. Semua orang bertanya - tanya apa yang akan dilakukan oleh Riri dengan beberapa benda yang dibawah oleh Yaris karena benda - benda itu terlihat biasa saja.


"Apa yang kalian pikirkan dengan barang - barang ini?" Riri menatap semua orang yang ada di ruangan itu. "Ini semua adalah barang yang digunakan oleh mereka yang berusaha untuk menjebak Altha dan menyakiti yang mulia raja." ucap Riri kemudian setelah mereka diam tak bisa menjawab.


"Kayu ini." Riri mengangkat sebuah kayu, "Sama dengan kayu yang ada di halaman kediaman pangeran kedua." ucap Riri


"Apa?" semua orang yang ada didalam ruangan itu mulai ramai dan menatap pangeran kedua.


"Apa yang kalian pikirkan, aku tak melakukan itu, aku tak pernah menyakiti yang mulia raja, walau aku benci dengan Altha aku tak pernah melakukan hal licik seperti itu." pangeran kedua berkata dengan sangat marah.


"Tenanglah, kayu ini memeng sama dengan yang di kediaman pangeran kedua, tapi botol ini sama dengan yang dimiliki oleh putri Ye Rin karena aku pernah melihat putri Ye Rin menggunakan cangkir yang sama dengan gambar di botol ini." Riri mengangkat 2 botol dan 1 cangkir dengan memiliki motif gambar yang sama.


"Eh?" semua orang saling pandang.


"Dari semua ini pasti kalian akan mengarah pada pangeran kedua dan juga putri Ye Rin yang memang memiliki hubungan, namun yang paling penting adalah pisau ini. Dalam pisau ini ada racun yang tak mematikan tapi cukup untuk membuat orang jatuh pingsan dan berhalusinasi dalam ingatan mereka, yang artinya racun ini bisa memanipulasi ingatan orang yang telah terkena racun ini, dan membuat bayangan semu dalam ingatan seseorang yang sebenarnya tak pernah mereka lakukan." jelas Riri panjang lebar.


Setelah itu Riri menjelaskan semuanya pada mereka yang ada di ruangan itu serta menjelaskan apa yang ada didalam botol - botol itu, dan pelaku yang berada dibelakang semua rencana itulah yang seharusnya diberikan hukuman.


"Jadi botol yang dimiliki oleh putri Ye Rin adalah obat tidur, dan botol yang lainnya berisikan racun yang selama ini dikonsumsi oleh yang mulia raja, dan membuat yang mulia raja jatuh tak sadarkan diri lagi sampai sekarang, sepertinya seseorang dibalik semua ini benar - benar ingin agar yang mulia raja tak pernah bisa bangun lagi untuk selamanya. Orang ini benar - benar keji." Mentri keadilan berkata dengan sedih dengan kondisi yang mulia raja.


Semua orang mulai menduga - duga dan mencobak mencari tau siapa orang dibalik semua kejadian keji malam itu yang mengakibatkan yang mulia raja terluka parah. Riri menatap mereka semua satu persatu dan mencobak mengamati ekspresi semua orang.


"Lalu tuan putri, apa gunanya kayu dan pisau itu?" tanya Mentri Chu Liu selaku Mentri keadilan.


"Kayu ini kemungkinan dibuat memukul seekor binatang sebelum ditikam dengan pisau, yang sebelumnya pisaunya sudah digunakan untuk melukai yang mulia raja. Karena jika memang benar raja dilukai dengan pedang lukanya tak mungkin dangkal itu, terlebih lagi noda darah yang ada pada pedang Altha sama dengan noda darah pada potongan kayu ini." jelas Riri dan mengeluarkan alat untuk menunjukkan tes antara darah dipedang dengan darah diujung kayu.


"Jadi, kesimpulannya bukan Altha yang melakukan kejahatan melainkan orang lain, dan orang itu tidak turun tangan langsung melainkan dia menggunakan tangan orang lain. Dengan bantuan selir Wu Ling yang memiliki keahlian untuk keluar masuk perbatasan karena merupakan putri dari Mentri perdagangan, dia bisa dengan mudah untuk mendapatkan barang - barang dan bahan obat - obatan dari luar. Dan dia memanfaatkan apa yang dilakukan oleh putri Ye Rin yang sejak awal sudah memberikan obat tidur pada Altha dengan dosis rendah sebelum dia ijin undur diri, karena apa dan tujuannya apa dari putri Ye Rin aku tak tau, tapi yang jelas putri Ye Rin ikut ambil andil dalam hal ini." Riri menatap putri Ye Rin "Dan untuk selir Wu Ling aku juga gak tau apa tujuannya memberikan racun pada yang mulia raja serta siapa orang yang menyuruhnya." Riri tersenyum menatap selir Wu Ling.


Semua orang menatap tajam pada selir Wu Ling dan putri Ye Rin yang saat itu berdiri diujung ruangan, apa lagi Mentri Ye Saun dan Mentri Lie Ling yang merasa malu dan sangat marah pada putri - putri mereka.


"Mohon maaf tuan putri." Mentri Ye Saun dan Mentri Lie Ling bersujud dihadapan Riri.


Riri tersenyum dan membantu kedua Mentri itu untuk bangun. "Aku tak menyalahkan kalian karena kalian semua hanyalah alat saja, karena pelaku utamanya adalah orang yang memiliki pisau ini." Riri menunjukkan pisau itu pada kedua Mentri yang tadi bersujud padanya.


"Pangeran ketiga." jawab mereka berdua bersamaan, dan Riri tersenyum menatap kedua Mentri itu.


"Sekarang, tanya pada putri kalian masing - masing. Siapa orang yang mereka cintai dan apa tujuan mereka melakukan semua kecurangan yang mengakibatkan celakanya yang mulia raja." ucap Riri kepada kedua Mentri itu. "Karena aku ingin, mereka mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan." sambung Riri lagi sambil menatap kedua wanita yang berdiri di pukul ruangan sidang itu.

__ADS_1


__ADS_2