Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Rencana penyelamatan


__ADS_3

Sesuai dengan rencana yang telah dibuatnya, Riri pergi untuk menemui Altha di ruangannya.


"Pangeran, putri Yourina ada di sini." ucap pengawal yang berjaga didepan pintu ruang baca Altha.


"Baik, tunggu sebentar." Altha berdiri dan membuka pintu.


"Pangeran, bisa menemani ku malam ini?' tanya Riri dengan senyum yang mengembang dan terlihat manis bagi Altha.


"Ehem." Altha memalingkan wajahnya karena dia merasa malu sebab jantungnya telah berdebar sangat kencang untuk Riri.


"Pelayan, bawalah barang putri." ucap Altha pada seorang pelayan wanita yang melintas.


"Ikut aku kembali ke kamar." Altha berjalan mendahului Riri.


Dengan senyuman Riri mengikuti Altha dengan patuh berjalan dibelakangnya tanpa suara sampai mereka tiba di depan kamar Altha, dan sebelum Altha membuka pintu kamar itu Altha berputar dan menatap Riri dengan sedikit tanda tanya di hati Altha.


"Berikan pada ku, biar aku sendiri yang bawah. Terima kasih." ucap Riri pada pelayan yang dari tadi membawakan baki teh yang sudah diseduh oleh Riri.


"Masuklah." ucap Altha kemudian membuka pintu dan mempersilakan Riri untuk masuk.


Pelayan itu memiliki gerak gerik yang mencurigakan dan itu membuat Riri sadar kalau dia adalah orang yang menyamar dan akan melakukan tindakan pada dirinya. Dan dari gelagatnya maka pelayan itu akan memberikan informasi dimana posisinya dia saat ini.


"Pangeran ayo nikmati dulu teh yang ku bawakan ini, aku sengaja menyeduh teh ini sendiri dengan tangan ku." ucap Riri menuangkan teh ke cangkir kecil saat Altha sudah duduk dikursi.


"Duduklah dulu, aku dengar dari Jiyang kalau ini adalah hari ulang tahun mu. Tapi seingat ku masih kurang beberapa bulan lagi." ucap Altha menatap curiga pada Riri.


Riri berdiri dan tertawa setelah dia meletakkan secangkir teh dihadapan Altha. "Ya ini adalah hari yang benar dan yang asli, tak seorang pun yang tau kebenaran ini. Ayo diminum dan berikan pendapatmu tentang teh ini." Riri mendekat lagi pada Altha dan memaksa Altha untuk meminum tehnya.


Altha tersenyum melihat Yourina yang begitu baik pada dirinya hari ini dan juga terlihat sangat lucu, karena Yourina tak bisa diam dan melompat - lompat kecil sambil bercerita serta terlihat sangat senang, hal membuat Altha kendur dalam mengawasi Yourina, karena dianggap dirinya tak harus membuat Yourina membatasi diri lagi darinya.


"Pangeran, bolehkah aku memanggil mu dengan nama saja?" tanya Riri menatap Altha dan senyum tipisnya.


"Tentu, bukan aku juga memanggil mu dengan nama saja." jawab Altha dengan tersenyum juga. "Tapi katakan apa yang terjadi sebenarnya, dan apa yang kau inginkan?" tanya Altha yang mulai merasa ada yang aneh pada Yourina hari ini.


"Altha, aku ingin pergi ke rumah tabib senior hari ini karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padanya." jawab Riri berdiri didepan Altha dengan tertunduk.


"Ah, kenapa kepalaku mendadak jadi pusing." Altha memegangi kepalanya yang terasa berat dan pusing.


"Eh? Kalau begitu kemarilah." Riri membantu Altha ke tempat tidur, "Apakah reaksinya memang bikin pusing ya?" gumam Riri dalam hatinya.


"Kamu tak apa?" tanya Riri pada Altha dengan khawatir, "Maafkan aku Altha, tolong maafkan aku ya." Riri memeluk Altha setelah mereka duduk ditepi tempat tidur.


"Kenapa tiba - tib,,, ugh." Altha jatuh pingsan dalam pelukan Riri dan Riri membaringkannya lalu menyelimuti Altha.


"Maafkan aku Altha." Riri menatap dan mengusap wajah Altha yang tertidur, "Dia ternyata cakep juga kalau diperhatikan dengan benar, bulu matanya sangat lentik, dan juga garis wajah yang tegas membuat dia penuh dengan kharisma. Kalau di jaman moderen dia sudah pasti akan jadi rebutan para wecek." Riri tersenyum, "Kalau diam begini dia jadi mirip anak kecil yang lucu dan tanpa dosa." gumam Riri yang terus saja mengagumi ketampanan Altha.


"Yaris, tolong kirimkan pesan ini pada tabib senior dan katakan padanya kalau aku akan berangkat kesana karena pangeran sudah mengijinkan aku, dan tunggu aku di sana ok." ucap Riri pada Yaris saat dia keluar dari kamar Altha, dan dengan cepat Yaris pergi meninggalkan kediaman pangeran Altha.


"Dan Jiyang, pangeran sedang istirahat jadi ksu harus berjaga di sini. Kamu tau kan kalau tak ada orang yang bisa ku percaya di sini selain kamu dan Yaris." ucap Riri yang membuat Jiyang merasa bingung, "Yorgun telah dikirim Altha ke perbatasan, jadi kamu gantikan dia berjaga di sini untuk ku ya?" ucap Riri meyakinkan Jiyang.


"Baik, putri hati - hati" ucap Jiyang dengan rasa berat hati melepaskan Riri naik kereta kuda.


Dalam perjalanan Riri menyadari kalau kereta kuda itu tak menuju jalur rumah tabib senior, "Ternyata dugaan ku benar, mereka telah bergerak. "Baiklah, jika kalian ingin melakukan sesuatu padaku cepatlah lakukan." gumam Riri dalam hati.


Tok tok


"Iya tuan putri." ucap orang yang memandu jalannya kereta kuda.

__ADS_1


"Aku mau istirahat, nanti kalau sudah sampai rumah tabib senior bangunkan aku." ucap Riri dan pura - pura tidur.


"Baik tuan putri istirahat saja," ucap orang itu.


Tak lama kemudian terdengar percakapan orang itu dengan rekannya soal mereka yang ingin mencelakai dirinya karena perintah dari ibu dan juga saudara tirinya. Dan itu membuat Riri sedikit merasa menyesal dengan tindakannya karena dia tak akan tau harus berbuat apa kalau mereka mau menghabisinya.


"Tidak tenang lah dulu, nanti kalau darurat aku akan memanggil Yaris." gumam Riri dalam hati menggenggam erat lonceng yang diberikan oleh Yaris pada dirinya yang berfungsi untuk memanggilnya dan menemukannya dengan cepat dimana posisi Riri berada.


"Hey coba lihat apa kah tuan putri Yourina sudah pulas karena ini sudah jauh sekali dari istana pangeran." ucap kusir kuda itu pada rekannya.


"Baik, aku lihat dulu" ucap temannya dan Riri pura - pura tertidur pulas, namun tak lama kemudian terdengar suara perkelahian diluar kereta, Riri yang mengintip melihat kalau itu bukan pasukan Altha, karena mereka memakai baju serba hitam semua.


"Ayo kita bawah tabib tangan ajaib pada pangeran Cu Shang." ucap orang - orang yang telah menang melawan beberapa orang yang mengawal Riri dan berusaha menyakiti Riri.


"Pangeran siapa yang mereka bilang tadi? Cu,,, cu apa, Cu Shang? Siapa dia dan apa maunya dengan ku?" berbagai pertanyaan ada dalam hati Riri yang tetap pura - pura tidur.


"Dia tertidur, ayo bawah." ucap seseorang yang berbaju hitam


"Tunggu ikat dia dan tutup matanya.".ucap rekannya.


"Tapi pangeran bilang jangan melukainya." jawab balik rekan dari orang itu.


"Kita tak akan melukainya kalau diikat dengan kain sutra, karena aku tak ingin dia bisa menemukan jalan untuk kabur nanti." ucap rekannya lagi memerintah dan akhirnya mereka mengikat serta menutup mata Riri.


"Jadi mereka dari pihak lain, dan ingin menculik ku. Bagus, setidaknya mereka tak mau mencelakai ku." gumam Riri dalam hati dan Riri merasakan kalau kereta kudanya mulai berjalan lagi.


...🍁🍁🍁...


3 hari telah berlalu dari kejadian penculikan, Jiyang dan tabib senior masih belum bisa menawar ingatan Altha, karena Altha lupa dengan keberadaan Yourina selama ini, yang diingatnya hanyalah dia telah memberikan hukuman pengasingan pada Yourina ke barak pengasingan.


"Ah,,," Altha sering merasakan sakit kepala karena dia seolah sedang melihat gambaran seseorang yang begitu dekat dan sangat intim dengannya, namun tak tau siapa.


...🍁🍁🍁...


"Aku masih belum menemukan penawar yang cocok dan yang bisa mengembalikan ingatan pangeran karena pengaruh teh itu." jawab tabib senior yang juga merasa bingung.


Jiyang yang tinggal di rumah tabib senior ikut membantu tabib senior dalam meneliti ramuan untuk menawar teh yang bisa menghilangkan ingatan, karena Jiyang ingin dengan cepat bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi diantara pangeran dan putri Yourina selama mereka berunding dan merayakan ulang tahun putri Yourina.


3 hari sebelumnya.


"Jiyang dimana putri?" Yaris tiba - tiba datang dengan panik.


"Putri sudah berangkat, ada apa? Kenapa kau begitu panik?" Jiyang mulai ikut panik.


"Pangeran didalam?" tanya Yaris dan langsung menerobos masuk.


"Yaris katakan ada apa?" tanya Jiyang mengikuti Yaris.


"Pangeran tertidur." Yaris menatap Altha yang pulas dalam tidurnya.


"Yaris." tabib senior tiba - tiba saja sampai di kediaman pangeran.


"Tabib senior?" Jiyang semakin bingung.


"Ternyata benar digunakan ya." gumam tabib senior yang melihat Altha tidur.


"Lihat ini." tabib senior menyerahkan kertas yang ditulis Riri untuk tabib senior.

__ADS_1


Tabib senior, maaf merepotkan mu. Tolong sembuhkan pangeran Altha karena aku telah menggunakan teh penghilang ingatan padanya, dan juga tolong tampung Yaris dan Jiyang ditempat tabib senior karena aku tau Altha tak akan ingat mereka juga.


^^^Terima kasih,^^^


^^^Yourina.^^^


"Tuan putri." Jiyang lemas setelah membaca isi surat itu dan Yaris mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Tidak, aku merasa ada yang terjadi dengan tuan putri, ini pasti ada sesuatu dengannya karena selama perjalanan aku tak melihat kereta kuda selama balik ke sini, siapa sebenarnya yang memaksa putri melakukan ini?" ucap Yaris yang berfikir keras apa yang telah menimpah Yourina.


"Yaris kenapa kau tak menggunakan kekuatan mu untuk mengetahui tuan putri ada dimana?" tanya Jiyang saat dia mendengar ucapan Yaris.


"Ini adalah kesalahanku, harusnya aku melakukan perjanjian darah dengan tuan putri, agar tau bisa menjaganya dengan sangat baik." jawab Yaris lalu pergi menghilang.


"Dia memang pasukan bayangan, tapi aku tak pernah melihat dia seputus asah itu." gumam tabib senior yang melihat Yaris pergi begitu saja.


...🍁🍁🍁...


3 hari kemudian.


"Aaaarh,,," Altha tiba - tiba teriak kesakitan saat dia melakukan latihan dan itu membuat Yorgun kaget karena melihat Altha yang tiba - tiba tergeletak pingsan ditempat.


Setelah dilihat oleh tabib istana dan diberikan obat Altha masih saja merasakan sakit kepala yang semakin sakit sehingga Yorgun pergi untuk memanggil tabib senior untuk melihat keadaan Altha.


"Pangeran bagaimana keadaan anda sekarang?" tanya tabib senior pada Altha yang telah menerima perawatan tabib senior dan telah diberikan minuman oleh tabib senior.


"Ah, kepalaku sakit sekali. Kenapa tabib senior ada di sini bukankah Yourina sedang menuju ke rumah anda." ucap Altha yang berusaha bangun dari tidurnya.


"Pangeran anda sudah ingat? Apa anda benar - benar sudah ingat?" tanya Jiyang menggebuh - gebuh saat melihat dan mendengar Altha menyebut nama Riri.


"Jiyang apa yang terjadi?" Altha menatap Jiyang yang terlihat panik.


"Tuan putri menghilang dan Yaris sudah 3 hari mencari sampai sekarang belum kembali." jawab Jiyang dan Altha kaget.


"Yorgun, kerahkan semuanya untuk mencari jejak Yourina, dan suruh Yaris kembali jika kau ketemu dengannya." perintah Altha kemudian.


Setelah beberapa hari Altha menyelidiki apa yang terjadi dan ternyata ada orang - orang dalam istana yang bersekutu dan ingin mencelakai Yourina. Altha pun memberikan hukuman pada mereka yang terlihat dan mengusir semuanya.


"Lapor pangeran, Yaris datang menghadap pada pangeran pertama." ucap Yaris yang telah diperintahkan oleh Altha untuk kembali melalui Yorgun.


"Kau sudah menemukannya? Jangan mencarinya dengan gegabah." ucap Altha dan Yaris diam menunduk.


"Kemungkinan tuan putri ditahan di istana pangeran Cu Shang, karena semua pasukannya yang sakit tiba - tiba saja sembuh dan juga sehat. Tapi hamba tak bisa menembus pertahanannya." jawab Yaris menjelaskan.


"Baiklah, biarkan aku yang melakukannya. Kamu lakukan penyerangan saat aku membutuhkan bantuan mu apa kau mengerti?" ucap Altha dengan serius pada Yaris.


"Baik hamba mengerti pangeran." jawab Yaris lalu pergi.


Keesokannya Altha pergi keluar istana tanpa sepengetahuan dari semua orang istana, Altha melakukan penyamaran untuk menuju ke kerajaan pangeran Cu Shang seorang diri.


Selama dalam perjalanan ke kerajaan lain untuk menyelamatkan Riri dari cengkeraman pangeran Cu Shang Altha telah menyamar sebagai rakyat biasa.


"Ada apa ini tuan?" tanya Altha pada rombongan para pemuda yang berbondong - bondong ingin memasuki istana utama pangeran Cu Shang.


"Kau mau ikut mendaftar menjadi seorang prajurit saudada ku. Karena yang mulia pangeran ingin membentuk pasukan besar untuk melakukan penyerangan pada Pangean Altha dan juga melakukan pertahanan untuk melindungi tabib tangan ajaib yang saat ini sedang mengobati para prajurit yang sedang terluka." jelas pemuda yang ditanya Altha dengan panjang lebar.


"Oh, bagaimana caranya untuk mendaftar?" tanya Altha lagi dan pemuda itu menjelaskan lagi pada Altha.

__ADS_1


Altha yang menyamar pun telah menerobos masuk kawasan musuh mulai berbaur dengan rakyat lainnya. Altha ikut mendaftarkan dirinya menjadi prajurit yang akan disiapkan untuk melawan kerajaannya dan mencari keberadaan Riri di istana itu.


__ADS_2