
"Tunggu, kenapa mereka tiba - tiba mundur?" Altha terlihat bingung karena secara tiba - tiba pasukan musuh ditarik mundur.
"Pangeran ada yang aneh, kenapa mereka mundur secara tiba - tiba?" Tanya Jiyang tak kala bingungnya dengan Altha.
"Tapi jika mereka tetap menyerang maka kita sudah pasti akan kalah, karena pasukan kita melemah dan gerakan mereka aneh, setidaknya ini ada untungnya bagi kita untuk memulihkan diri dan mencari tau kenapa para prajurit itu semuanya terlihat aneh dalam gerakan penyerangan mereka." jawab Altha melihat kalau para prajuritnya telah dilumpuhkan.
"Pangeran, ada apa ini? kenapa mereka menarik pasukannya, apa benar ini adalah hal baik?" Yodon juga ikut bertanya
"Tunggu, Riri" Altha langsung fokus untuk menghubungi Yaris, namun Yaris tak bisa menerima pesan Altha karena dia telah tak sadarkan diri dalam dalam kondisi kurang baik.
Merasa ada yang salah dan juga merasakan sakit yang sepertinya dialami oleh Yaris Altha langsung kembali ke barak dan putri Sun tetap berjaga kalau - kalau nanti pasukan musuh datang kembali. Dengan cepat Altha memacu kudanya karena dia merasakan rasa sakit yang luar biasa dari Yaris dan juga kekhwatiran akan keadaan Riri.
...🍁🍁🍁...
"Cepat hentikan pendarahannya dulu." perintah seorang tabib yang sedang menangani Yaris.
Semua prajurit yang melihat kondisi Yaris saat ini mereka sangat khawatir kalau - kalau Yaris tak akan bisa membuka mata lagi, mereka semua merasa bersalah karena tak memiliki cukup kemampuan untuk melindungi Riri yang dulu telah berusaha keras untuk merawat mereka dan membuat mereka sembuh bahkan memiliki semangat dan hidup yang bagus seperti saat ini.
"Riri, Yaris." Altha langsung tercengang melihat kondisi barak yang telah porak poranda, dengan cepat Altha lari dan masuk kedalam tenda yang banyak dikerumuni orang.
"Bagaimana kondisinya?" Altha bertanya pada tabib yang telah menangani Yaris. Terlihat Yaris sangat tak berdaya dengan beberapa bekas luka sayat dan tusukan dibagian tubuhnya.
"Dia telah melewati waktu bahaya dan pendarahannya sudah dihentikan, namun kondisi fisiknya masih belum bisa dibuat untuk beraktifitas berat pangeran, kamu juga belum tau pasti seperti apa kondisi dia selanjutnya sebelum dia sadarkan diri." jelas tabib pada Altha.
Altha mengumpulkan semua prajurit dan bertanya pada mereka apa yang telah terjadi di sini dan kemana mereka membawah Riri pergi. Karena mereka tak membawah apa pun selain Riri dari barak itu.
"Maafkan kami pangeran, karena kami tak cukup kuat dan terlalu lemah untuk melindungi tuan putri. Tuan putri dibawah pergi oleh mereka dan putri Sui sedang mengejarnya, mereka pergi ke arah utara pangeran." jelas seorang prajurit.
"Siapa mereka?" tanya Altha karena dia melihat Choi Yong dalam perbatasan saat penyerangan berlangsung.
"Kami tidak tau pangeran, karena mereka memakai penutup wajah dan juga baju yang berbeda dengan para pasukan barat." jawab prajurit pada Altha.
__ADS_1
"Kejar putri Sui bersama ku." ucap Altha dan pergi menyusul kearah utara sesuai dengan informasi prajuritnya.
Namun tak jauh dari posisi barak altha mendapati beberapa prajurit telah tewas dan jarak kira - kita 500 meter terlihat putri Sui juga dalam kondisi tak baik dengan berbagai luka ditubuhnya, Altha membawah balik putri Sui ke barak untuk mendapatkan pengobatan dan akan merencanakan penyelamatan Riri dengan lebih matang lagi, karena jejaknya sudah tak terlihat lagi.
...🍁🍁🍁...
"Sial, kenapa dia menyuruh kita menculik wanita yang pandai bermain pedang. Dan masih menyuruh kita untuk jangan melukai dia lagi." gerutu salah seorang dari penculik.
"Siapa kalian sebenarnya dan mau apa kalian? ugh." Riri bertanya sambil memegangi perutnya.
"Kau akan tau setelah ini dan jangan pura - pura lagi untuk sakit agar kami tak disalahkan karena dianggap menyakitimu, kalau bukan karena perintah orang itu untuk jangan menyakiti kamu pasti sudah ku habisi kau saat ini juga." jawab seorang l pimpinan dari penculik itu.
"Ah, sakit sekali." gumam Riri yang memegangi perutnya dan merintih kesakitan karena guncangan kereta kuda meraka yang melaju dengan cepat. "Ah, sakit." rintih Riri yang mulai tak bisa menahan rasa sakitnya.
"Eh, kenapa dengannya? Kenapa dia tiba - tiba saja kesakitan seperti ini." Orang - orang yang membawah Riri merasa takut dan bingung yang melihat Riri merintih kesakitan.
"Apa yang terjadi dengan dia?!" teriak Choi Yong yang melihat Riri meringkuk kesakitan saat tiba di tempat Choi Yong.
"Panggil tabib." Choi Yong mengangkat Riri dan membawahnya masuk kedalam sebuah kamar.
"Sakit, tolong sakit sekali" Riri mencekram lengan Choi Yong dengan keringat membasahi wajahnya.
"Sabarlah dan bertahanlah aku akan memanggilkan tabib." Choi Yong mengusap keringat di wajah Riri dengan lembut.
"Pangeran kenapa dia?" tanya Wu Ling yang melihat Choi Yong membawah Riri dengan panik.
"Dimana tabibnya?!" Choi Yong berteriak dengan sangat panik melihat Riri yang terus saja merintih kesakitan.
"Saya akan memeriksanya pangeran." seorang tabib datang dan memeriksa Riri.
"Rebus kan obat untuknya biar rasa sakitnya hilang." ucap tabib pada muridnya
__ADS_1
Choi Yong menunggu dengan tak sabar dan gelisah, dia ingin segerah tau kondisi Riri sebenarnya kenapa tiba - tiba mengeluh kesakitan yang hebat padahal tak ada luka dan lecet yang tergores ditubuhnya.
Setelah Riri tenang dan tertidur tabib pun memeriksa Riri kembali untuk lebih memastikan kondisi Riri, dan tabib terlihat sangat hati - hati dalam pemeriksaan yang dilakukan pada Riri. Sampai dalam beberapa pemeriksaan akhirnya didapatkan hasilnya kenapa Riri mengalami sakit hebat di daerah perutnya.
Wu Ling menatap Riri yang sedang terlelap dalam tidurnya setelah meminum obat dari tabib dan mendapatkan perawatan. "Apa yang akan direncanakan oleh Choi Yong sekarang dengan membawah mu kemari." Wu Ling bergumam duduk disebelah Riri.
"Bagaimana, katakan apa yang terjadi padanya kenapa dia kesakitan seperti itu." tanya Choi Yong saat tabib selesai memeriksa kondisi Riri.
"Maaf pangeran, kondisinya sekarang sudah stabil dan tak ada samala dengan kehamilannya, semua juga dalam kondisi sehat, rasa sakitnya mungkin karena guncangan dan rasa terkejut yang hebat saja." jelas tabib pada Choi Yong.
"Tunggu, apa yang kau katakan barusan, dia hamil?" Choi Yong kaget dengan info yang diberikan oleh tabib setelah melakukan periksaan pada Riri.
"Benar pangeran, dia sedang hamil dan untungnya sekarang kondisinya sudah baik." jelas tabib pada Choi Yong dengan bernafas lega.
"Sudah berapa usia kehamilannya. Dan jika tak ada masalah dengan kehamilannya kenapa dia kesakitan seperti itu" Choi Yong bertanya dengan penasaran.
"Mungkin karena guncangan atau tekanan yang dia dpat sehingga membuat dia merasakan rasa sakit yang hebat pada perutnya, namun semuanya baik - baik saja sekarang, dan kehamilannya sudah memasuki usia 3 bulan." jelas tabib itu lagi.
"Baik, kau boleh pergi." Choi Yong meminta tabib itu pergi dan dia melamun.
Choi Yong berjalan dan memasuki kamar dimana tempat Riri beristirahat, Choi Yong melihat Riri yang tertidur dengan damai lalu Choi Yong berjalan mendekati Riri dan duduk disebelah Riri. Dengan memegang perut Riri Choi Yong tersenyum "Aku tak menyangka kalau Altha memiliki keberuntungan yang begitu besar, bagaimana jika aku mengatakan kalau anak ini adalah anak ku akankah Altha akan hancur dan kalah." senyum licik muncul dari Choi Yong.
"Pangeran Choi, kamu di sini." ucap Wu Ling saat dia masuk dan melihat Choi Yong
"Wu Ling jaga dia dengan baik." Choi Yong bangun dan mau keluar.
"Tunggu, sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan dengan membawah putri Yourina kemari?" Wu Ling bertanya dengan ragu - ragu pada Choi Yong.
"Jangan cemburu, kau tetap adalah wanita ku. Dan dia hanya akan menjadi pion untuk aku mendapatkan apa yang aku inginkan dan mengalahkan Altha." jawab Choi Yong mendekati Wu Ling dan memeluknya serta mencium Wu Ling.
"Jaga dia dengan baik untuk sementara waktu untuk ku ya, aku mengandalkan mu." Choi Yong berkata dengan santai dan pergi dari kamar Riri dengan meninggalkan Wu Ling bersama dengan Riri
__ADS_1
"Aku tak tau apa yang ingin dia rencanakan selanjutnya, tapi aku berharap dia tak membahayakan dirinya sendiri.* Wu Ling bergumam dan berjalan mendekati Riri.