Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Bekerja sama


__ADS_3

"Dengarkan suatu kejadian yang tak terduga bisa datang kapan saja dan dimana saja, baik itu kau dalam keadaan siap atau pun tidak apa kau mengerti." ucap Altha saat sedang melatih Riri ilmu pedang, "Jadi kau hanya perlu fokus pada tujuan mu untuk melawan mereka, apa pun kondisimu dan seperti apa pun keadaanmu pada saat itu."


"Iya aku mengerti, aku harus siap pada keadaan terburuk sekali pun." jawab Riri kesal karena Altha terlihat sok dewasa dan tua padahal dia masih berada dibawah Riri 2 tahun usianya.


"Baiklah, sekarang acungkan pedang mu." Altha memulai latihannya dengan Riri.


"Wah, tuan putri sangat bagus melakukannya, walau dia belum bisa dikatakan mahir setidaknya sekarang kemampuannya meningkat." Jiyang tersenyum sambil memuji kemampuan berpedang Riri.


"Ku lihat kau sangat mengagumi putri mahkota, bahkan Yaris pun juga sama." ucap seorang prajurit yang ada di kediaman pangeran.


"Ya karena aku mengenalnya sebelum dia jadi Putri mahkota hingga sekarang semua yang ada pada dirinya tak berubah, caranya memperlakukan aku dan Yaris tetap sama, caranya melihat dan bicara juga tetap sama penuh dengan kehangatan. Tak ada yang berubah dari dirinya selain sebutannya dan kedudukannya yang sekarang sebagai putri mahkota," jelas Jiyang dengan tersenyum, "Dia memperlakukan kami dan menatap kami seperti kami ini adalah anak - anaknya, kalau usianya diatas kami mungkin aku akan memanggilnya ibu, karena dia memiliki kehangatan bagai seorang ibu." sambung Jiyang yang begitu mengagumi Riri.


"Ya, aku juga sering dengar kalau dia membela kalian dengan menyebut kalian adalah anak - anaknya." jawab prajurit itu sambil tertunduk dan Jiyang tersenyum semakin lebar.


"Dulu waktu dia tinggal di sini, aku sering melihat dia berjalan - jalan sendiri tanpa pengawal atau pun pelayan disisinya, dia sering berdiri mengawasi kami yang sedang latihan lalu pergi kearah belakang istana kebagian dapur. Dia tak pernah mengeluh walau pangeran begitu banyak memperlakukannya dengan kasar hingga kami pun jadi tak pernah melihatnya, bahkan saat dia diberikan hukuman cambuk karena dituduh mencuri informasi juga tak melawan, sampai akhirnya saat adiknya datang dan meneriaki dirinya sebagai mata - mata dengan membawah bukti baru ku lihat dia melawan keputusan pangeran yang akhirnya dikirim ke perbatasan." jelas prajurit itu panjang lebar dan Jiyang yang mendengarkan merasa kaget karena dia baru tau kalau kisah cerita Riri orang yang dianggapnya sebagai penyelamatnya itu begitu sengsara.


"Kau bilang apa tadi. Dia disiksa awal tinggal di sini?" Jiyang mengulangi pertanyaannya karena dia merasa tak percaya, dan prajurit itu mengangguk.


"Jadi begitu, itu sebabnya dia meminta Yaris untuk mengajarinya ilmu beladiri dan juga selalu sembunyi setiap saat pangeran datang. Jadi semuanya karena itu, luka yang didapatkan ditubuhnya juga karena itu." Jiyang menatap Riri yang saat ini sedang berlatih dan merasa sedih hingga tanpa sadar dia menitikkan air mata.


"Maafkan aku, yang waktu itu tak bisa membela dan melindunginya karena aku tak punya kemampuan, dan ku lihat putri mahkota waktu itu sangat sombong serta suka memaki orang." ucap prajurit itu lagi.


"Dia melakukannya untuk melindungi dirinya sendiri agar tak terlihat lemah." jawab Jiyang menatap prajurit itu.


"Jika aku meminta maaf padanya, akankah putri juga akan memperlakukan ku sama seperti dia memperlakukan kamu dan juga Yaris?" tanya prajurit itu ragu pada Jiyang


"Dia adalah matahari, dan matahari tak akan pilih - pilih dalam memberi. Selama kau mau mendekatkan diri maka dia akan memberikan sinarnya padamu, cobak saja." ucap Jiyang tersenyum karena dia yakin kalau majikannya dan penyelamatnya itu akan menyayangi siapa pun yang datang padanya.


"Pangeran, tuan putri, maaf hamba mengganggu latihan kalian. Didepan pintu gerbang utama ada seorang pelayan dari kediaman Chan yang ingin menerobos masuk dan ingin bertemu dengan tuan putri" lapor seorang prajurit yang berjaga di pintu gerbang istana.


"Pelayan keluarga Chan, itu artinya adalah keluarga Yourina." ucap Riri menatap prajurit itu.


"Benar tuan putri." jawab prajurit itu.


Altha yang mendengar Yourina menyebutkan nama dirinya sendiri merasa sedikit aneh tapi Altha tak memperdulikannya, "Katakan apa tujuannya." ucap Altha kemudian.


Prajurit itu menatap Altha lalu menunduk lagi, "Maaf pangeran, hamba tak tau apa tujuannya karena dia hanya bersih keras ingin menemui tuan putri." prajurit itu menjawab dengan takut karena dia gagal mengetahui apa tujuan dari pelayan itu.


"Hem, ada yang aneh. Kalau begitu ijinkan dia masuk." ucap Riri dan menatap Altha.


"Ya ijinkan dia masuk." sambung Altha


"Baik pangeran." prajurit itu pun pergi memanggil pelayan yang datang ingin bertemu.


"Tuan putri,,, putri tertua tolong hamba." teriak pelayan itu sambil berlari mendekati Riri dan langsung bersimpuh dihadapan Riri dengan deraian air mata.


Riri menatap pelayan itu seksama, dan Riri tau kalau pelayan itu tak lagi berakting karena wajah sembab dan mata bengkak yang menandakan kalau dia sudah menangis sejak lama sekali. Namun Riri masih saja berfikir karena dia tak pernah bertemu dengan pelayan ini sebelumnya.


"Hamba mohon selamatkan nyonya besar putri tertua, tolong selamatkan dia karena,,, karena dia sedang sakit parah saat ini. Tolong kami tuan putri kami tak tau harus kemana lagi meminta tolong." pelayan itu berkata semrawut dengan bingung sehingga Riri dan Altha bingung apa yang sedang terjadi.


"Bangunlah dulu dan katakan dengan pelan agar aku mengerti." Riri membantu pelayan itu untuk berdiri dan menangkap wajah pelayan itu dengan kedua tangannya lalu tersenyum manis, sehingga pelayan itu pun berhenti menangis dan pelayan itu merasa hangat serta tenang sehingga bisa menceritakan semuanya.


"Jadi maksud mu dia itu nenek Yourina?" tanya Riri bingung karena selama ini dia tak tau kalau Yourina memiliki seorang nenek, bahkan dalam ingatan Yourina juga tak pernah Riri temukan adanya seorang nenek.


"Benar tuan putri, tuan besar telah mengurung nenek anda di paviliun belakang karena menentang pernikahannya dengan nyonya Sin Ya, dan itu sudah terjadi sejak anda masih kecil. Selama ini kami selalu bersusah paya untuk bisa mendapatkan obat - obatan yang disediakan oleh tuan besar, namun belakangan ini nyonya Sin Ya telah mengurangi semua obat - obatan itu sehingga kondisi nenek anda memburuk dan sudah 3 hari ini nenek anda pingsang, kami sudah berusaha untuk meminta obatnya pada nyonya Sin Ya tapi masih juga belum dikasi." jelas pelayan itu mulai menangis lagi.


"Kami? Ada kau dan siapa lagi?" tanya Riri yang mulai terlihat marah.


"Hamba dan kakak hamba Dean Si. Kami sudah melayani nyonya besar sejak kami berusia 13 tahun." jelas pelayan itu.


"Baik, lalu siapa namamu?" Riri bertanya dengan lembut.


"Hamba Dae Si tuan putri." jawab pelayan itu.


"Baiklah Dae Si antarkan aku pada nenek Yourina sekarang." ucap Riri dan lagi - lagi hal itu membuat Altha merasa bingung karena Yourina terus saja menyebutkan namanya sendiri seolah dia adalah orang lain.


"Jiyang, panggil Yaris kita berangkat ke kediaman Chan sekarang juga." ucap Riri menatap Jiyang yang berdiri tak jauh dari dirinya.


"Akan ku temani." Altha menahan tangan Riri.


"Tidak perlu merepotkan pangeran, untuk mengobrak abrik kediaman keluarga Chan cukup dengan ku sendiri saja. Tolong ijinkan aku pergi." Riri menatap Altha dan Altha pun mengijinkannya.

__ADS_1


"Terima kasih putri tertua, bukan" Dae Si menggelengkan kepalanya, "Tuan putri." ucap Dae Si merasa senang.


...🍁🍁🍁...


"Dae Si sudah pergi begitu lama kenapa dia masih juga belum kembali, apakah dia berhasil membawah putri tertua kembali untuk melihat nyonya besar." Dean merasa khawatir dan juga tak sabar, dia terus saja mondar mandir dijalan depan paviliun.


Brak, seseorang masuk dengan membuka pintu paviliun dengan sangat keras.


"Dae,,, nyo-nyonya Sin Ya?" Dean kaget karena yang datang bukan Dae Si melainkan nyonya Sin Ya dan putrinya beserta para pelayan yang setia pada mereka.


"Katakan bagaimana keadaan nyonya tua, apakah dia masih bertahan untuk hidup atau dia sudah mati." ucap Sin Ya ibu tiri Yourina.


"Nyo-nyonya mau apa? Nyonya besar sedang istirahat tolong jangan diganggu." Dean menghalangi nyonya Sin Ya untuk masuk kedalam kamar nenek Yourina.


"Dasar pelayan tak berguna, cepat minggir kalau kau mau aku memberikan obatnya." nyonya Sin Ya mendorong Dean hingga terjatuh.


"Tidak nyonya jangan masuk, tolong jangan ganggu nyonya besar istirahat." Dean tetap bersih keras untuk menghalangi agar nyonya Sin Ya dan putrinya tak masuk, karena jika mereka masuk dan menemui nyonya besar mereka hanya akan menyakiti hati nyonya besar dengan mengatakan kalau putri tertua yang sangat disayangi oleh nyonya besar tak menginginkannya lagi dan membuangnya.


"De-dean" suara nenek Riri yang memanggil dari dalam kamar.


Deg, Dean kaget karena sudah 3 hari tak bangun sekarang nyonya majikannya itu memanggil namanya.


"Nyonya besar, nyonya besar sudah bangun. Nyonya besar membuat Dean merasa takut selama 3 hari ini." Dean masuk kedalam kamar dan menangis histeris.


"Oh, ternyata nenek tua ini masih saja bertahan untuk hidup ya. Tapi sayangnya orang yang ditunggunya tak akan pernah datang kemari." ucap nyonya Sin Ya dengan tertawa.


"Diam.! Putri tertua pasti akan datang, karena Dae Si telah pergi memanggilnya, aku yakin dia akan datang. Jangan lagi bicara omong kosong." Dean berteriak marah didepan nyonya Sian Ya.


"Lancang, berani sekali kau pelayan rendahan berteriak dengan suara tinggi didepan kami." Yurna marah, menarik tangan Dean dan menamparnya dengan cukup keras.


"Dean,,, tolong jangan pukul Dean lagi." ucap nenek Yourina dengan suara lemas.


"Sebaiknya kau cepat mati saja dasar nenek tua dan berikan kunci itu pada ku." ucap nyonya Sin Ya dengan sangat tak sabar.


Yurna dan para pelayannya menarik Dean keluar dan memukuli Dean disana dengan sangat keras, hingga teriakan Dean terdengar sangat memilukan.


"Aaaarhg, kau" Yurna berteriak keras dan itu membuat ibunya kaget.


"Yo-yourina." nyonya Sin Ya kaget melihat Yourina datang bersama dengan Dae Si dan kedua pengawalnya yang berdiri dengan tegap serta menakutkan bagi nyonya Sin Ya.


"Pergi jangan menghalangi jalan ku, dan ingat ini. Jangan pernah lagi menyentuh orang ku apa lagi berani melukainya didepan mataku kau paham." ucap Riri menunduk dan mencekram rahang Yurna.


"Kakak, kau tak apa?" Dae Si membantu kakaknya berdiri yang tadi telah disiksa oleh Yurna dan para pelayannya.


"Aku tak apa, kau berhasil membawah putri tertua pulang." Dean menangis sambil berusaha untuk berdiri.


"Jiyang bantu Dean bangun dan papa dia." ucap Riri pada Jiyang yang melihat Dean mengalami luka dan berdarah di kaki dan tangannya.


"Dan kau pergilah sebelum aku melakukan tindakan lebih kasar lagi." ucap Riri menatap tajam pada nyonya Sin Ya.


"Kau,,," nyonya Sin Ya merasa takut pada tatapan mata Yourina yang seolah itu adalah orang lain bukan Yourina yang dia kenal selama ini.


"Nenek, Riri datang." Riri melangkah masuk kedalam kamar itu dengan tersenyum dan mendekati neneknya yang sedang duduk lemas ditempat tidurnya.


"Cucu ku sayang kau akhirnya datang, kau sudah dewasa dan sangat cantik." nenek Riri memeluk erat Riri sambil menangis, meluapkan rasa rindu yang selama ini dia tahan bertahun - tahun lamanya.


"Ku dengar nenek sedang sakit, kenapa tak mengabari ku dari awal." Riri menatap wajah tirus neneknya dengan mata yang menjorok kedalam karena kulit keriputnya.


"Aku sangat merindukanmu sayang, kau benar - benar mirip sekali dengan ibumu." ucap nenek Riri dengan tersenyum dan menangis bahagia.


"Keadaan nenek sangat memprihatikan, aku harus membawahnya ke istana pangeran untuk bisa mengobatinya dengan tenang." batin Riri menatap neneknya dengan senyuman tipis.


"Nenek, kenapa nenek begitu kurus, apa nenek tak makan dengan benar? Kenapa nenek tak memanggilku dari awal, kenapa harus sakit dulu baru memberikan kabarnya pada ku, apa nenek tak sayang,,," jati telunjuk neneknya menempel di bibir Riri.


"Riri, berhentilah bicara." nenek Riri menangkup pipi Riri dengan tangannya, "Kenapa kau begitu banyak bicara sekarang, aku setiap hari selalu memohon agar kau selamat dan dilahirkan menjadi jiwa yang baru, supaya kau tak ditindas oleh mereka dan bisa melawan jika tak ingin melakukannya, nenek selalu memohon sepanjang hari agar jiwa yang kuat terlahir dari dalam dirimu supaya kamu jadi orang yang kuat." nenek Riri terus mengusap wajah Riri dengan penuh rasa sayang.


"Aku memanggilmu Riri agar kau jadi jiwa yang kuat dan bisa membela diri sendiri." sambung nenek Riri lagi.


"Jadi dia kah orang yang membuat aku memasuki tubuh Yourina karena kami memiliki nama panggilan yang sama yaitu Riri." suara hati Riri mendengarkan cerita dari neneknya.


"Nenek, apa nenek mau tinggal bersama dengan ku? Ayo kita tinggal bersama dan tak akan ada lagi orang yang akan memisahkan kita berdua." ajak Riri menggenggam tangan neneknya.

__ADS_1


"Kemanapun asal bersama dengan mu." jawab nenek Riri dengan suara yang kecil.


"Baiklah, kalau begitu aku akan membawah nenek keluar dari rumah ini. Tunggulah di sini aku akan menemui ayah." Riri berdiri dan mau keluar dari kamar neneknya.


"Dae Si, jagalah nenek." Riri menatap Dae Si yang sedang mengobati luka Dean.


"Baik putri tertua." jawab Dae Si


"Jiyang kau tetap di sini menjaga mereka." ucap Riri setelahnya.


"Baik." Jiyang menjawab dengan cepat dan berdiri didepan pintu kamar nenek Riri.


"Ayo Yaris." Riri melangkah ke halaman rumah utama bersama dengan Yaris.


Di aula utama keluarga Chan.


"Suamiku, lihatlah apa yang sudah dilakukan oleh Yourina, dia datang membuat keributan dan memukuli Yurna sampai dia tersungkur dilantai. Bagaimana kalau terjadi apa - apa dengan kehamilannya dan Yurna disalahkan oleh pangeran kedua atas ketidak becusnya dalam merawat dan menjaga kehamilan." adu nyonya Sin Ya ibu Yurna pada suaminya, ayah kandung Yourina.


...🍁🍁🍁...


"Tuan putri sudah pulang?" tanya Altha pada kedua pelayan Yourina yang dia berikan.


"Belum pangeran." jawab mereka berdua pada Altha.


Dengan cepat Altha berjalan kearah ruang bacanya dan mulai berfikir tentang Yourina. Yorgun yang berdiri disampingnya merasa aneh dengan sikap Altha baru - baru ini, namun Yorgun tak berani untuk bertanya.


"Dia sudah pergi dari sore, kenapa masih juga belum kembali?" gumam Altha dan menutup buku yang dibacanya.


"Mungkin tuan putri ingin berlama - lama dengan keluarganya pangeran." jawab Yorgun ingin mengurangi rasa khawatir Altha.


"Pangeran mau kemana?" tanya Yorgun yang melihat Altha berdiri dan terlihat bergegas.


"Mau menyusulnya." Altha menjawab dengan cepat.


"Bukankah sudah ada Yaris dan Jiyang yang bersama dengan tuan putri, dan kalau ada apa - apa pasti Yaris akan mengirimkan sinyal pada pangeran." Yorgun mengingatkan Altha kalau Yourina tak pergi sendiri.


"Yaris tak akan melakukan apa pun pada ku jika itu berurusan dengan Yourina. Dia pasti akan mengatasinya sendiri sesuka hati." jawab Altha kesal karena dia tau kalau Yaris menaruh perhatian penuh pada Yourina.


"Tapi dengan alasan apa nanti pangeran kesana?" Yorgun menanyakan lagi tujuan Altha akan menjemput Yourina di rumah ayahnya.


"Dia adalah istriku sekarang, dan alasan berkunjung ke rumah mertua setelah sehari pernikahan begitu sudah bisa bukan?" ucap Altha menatap Yorgun dan Yorgun pun mengangguk.


"Tetaplah di sini aku pergi." Altha melesat hilang dengan cepat.


"Pangeran sungguh aneh, jika tak ada dicarinya namun jika ketemu mengajak tuan putri bertengkar." Yorgun menggelengkan kepalanya karena merasa aneh dengan majikannya itu akhir - akhir ini.


...🍁🍁🍁...


"Apa yang ayah katakan? Bagaimana bisa ayah melakukan itu pada nenek, dan lagi aku memang memukul Yurna tadi. Tapi bukan aku yang memulainya." jawab Riri saat dia dimarahi dan dituduh menganiaya Yurna hingga luka - luka.


"Kenapa kau begitu kurang ajar sekarang. Aku tetap tak akan mengijinkan mu membawah ibu, karena di sini ibu mu Sin Ya sudah merawat dan menjaganya dengan baik setiap hari." ucap ayah Yourina menentang kalau Yourina mau membawah neneknya keluar dari rumah ini.


"Menjaga? Apakah yang dimaksud menjaga adalah mengata - ngatai agar nenek cepat mati." jawab Riri dengan kesal.


"Yourina, kau jangan memfitnah. Suamiku lihatlah setelah dia menikah dan menjadi istri dari pangeran dia telah menjadi orang yang sombong dan arogan, bahkan memfitnahku yang sudah bersih keras selama ini." nyonya Sin Ya mulai menderama dan menangis didepan suaminya yang merupakan ayah Yourina.


"Yourina jangan berani memfitnahnya, bukan berati kau telah menjadi istri pangeran jadi bisa bersikap semena - mena sepeti ini kepada keluargamu sendiri." ucap ayah Yourina menyalahkan sikap Yourina yang terkesan kasar pada ibunya.


"Tuan, tuan. Tuan muda sedang menuju kemari bersama dengan pangeran Altha." lapor bawahan dari ayah Yourina.


"Salam pangeran semoga pangeran panjang umur dan sehat selalu." ucap ayah Yourina memberi hormat pada pangeran Altha begitu juga dengan nyonya Sin Ya dan Yurna yang ada di aula itu.


"Altha, maaf aku telat pulang bukan karena sengaja." Riri berjalan mendekati Altha, "Aku hanya ingin membawah nenek bersama ku, namun mereka menghalangiku jadi aku terpaksa membuat keributan di sini dan juga telah memukul Yurna. Tapi aku memukulnya bukan tanpa sebab, aku melakukannya karena dia berani memukul orang ku jadi aku ingin dia juga merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh orang ku yang telah disiksa olehnya, tolong maafkan aku Altha." lapor Riri pada Altha tanpa ada yang dia tutupi.


"Baik, kalau begitu saya datang sebagai menantu keluarga Chan meminta maaf karena datang terlambat sebab banyak urusan, dan sesuai dengan keinginan dari putri Youri apa pun yang dia inginkan aku akan memberikannya jadi maafkan tuan Chan aku harus membawah pergi nyonya besar dari rumah ini, karena jika tidak aku tak akan bisa mengendalikan amukannya pada ku saat kembali nanti." ucap Altha memeluk Riri dan Riri juga menunjukkan wajah sedihnya sambil bersandar pada Altha.


"Eh, apa? Ta-tapi pangeran ibu saya saat ini sedang kurang sehat, takut kalau nanti akan merepotkan kediaman pangeran." ucap ayah Yourina menolak.


"Tak masalah, karena putri Youri yang telah menjadi istri saya adalah seorang tabib dan disana masih ada banyak tabib lainnya jadi sebaiknya sesegera mungkin nyonya besar dipindahkan kesana saja, karena kalau di sini nanti pasti akan menyusahkan tuan Chan dan yang lainnya, belum lagi istri saya yang akan bolak balik kesini untuk melihat kondisi neneknya." ucap Altha lagi menjelaskan.


"Kenapa mereka berdua bisa bekerjasama dengan baik seperti ini, apa benar mereka hanya pura - pura menikah, atau jangan - jangan mereka beneran telah menikah dan saling mencintai satu sama lain." suara hati nyonya Sin Ya menatap Yourina dan Altha bergantian.

__ADS_1


__ADS_2