
Setelah merasa puas melihat - lihat Riri pun kembali lagi kekediaman Yan Sa dan dia banyak membeli segala barang yang akan dia bawah pulang sebagai oleh - oleh untuk teman - temannya saat dia kembali nanti.
"Darimana saja seharian ini?" tanya Yan Sa yang baru pulang kerja.
"Oh, tumben pulang cepat. Biasanya pulang saat hari sudah sangat malam." Riri bertanya dengan menatap heran pada Yan Sa.
"Ya tak begitu banyak pekerjaan hari ini, apa yang kau beli?" Yan Sa duduk disebelah Riri dan melihat barang - barang yang Riri beli.
"Aku membeli yang menurutku bagus dan menarik untuk oleh - oleh nanti." Riri menjawab tanpa melihat Yan Sa.
"Ini adalah giok yang sama dengan yang asli dari peninggalan kerajaan yang telah memenangkan perang dengan banyaknya korban termasuk pangeran mahkota yang menutup matanya dalam pangkuan dan pelukan istrinya." Yan Sa berkata dengan melihat gelang giok yang berwarna hijau berukir kan naga kecil putih didalam gelang giok itu.
"Apa kah Yan tau cerita kerajaan? Ceritakan tentang kerajaan yang tadi Yan katakan padaku." Riri terlihat sangat antusias.
"Hem, kerajaan jaman dulu adalah cerita yang sangat menarik dan sejarahnya ada disetiap buku - buku peninggalan jaman dulu. Kalau cerita lengkapnya aku tak tau karena aku tak tau cerita soal kerajaan, aku akan menyuruh Sun untuk membelikan beberapa buku untuk kamu baca yang berhubungan dengan sejarah kerajaan." Yan Sa berkata dan mengusap kepala Riri dengan lembut.
"Istirahatlah." Yan Sa berdiri dan meninggalkan kamar Riri.
Malam itu Riri duduk termenung menatap langit malam sambil menggenggam gelang giok yang tadi siang dia beli didepan galeri. Riri menatap gelang itu dan menggenggam erat karena itu adalah gelang yang sangat dia sukai terlebih lagi Riri mengukirkan nama Altha pada gelang itu.
"Altha apakah kau ada di sini? Kenapa hanya Yaris yang muncul dan kau tak ada dimana pun." gumam Riri sambil menutup matanya dan duduk di kursi di balkon kamarnya, perlahan Riri mengenang kenangan tentang Altha dan dia menangis dalam tidurnya.
Keesokan harinya Riri terbangun dan merasa segar, namun dia bingung kenapa dia bisa tertidur ditempat tidur karena seingat dia semalam dia tidur di kursi depan balkon. Dengan bingung Riri menatap dirinya di cermin dan melihat kalau kamarnya masih tertutup rapat.
"Apakah ada yang masuk kedalam kamarku semalam dan memindahkan aku ke tempat tidur ya?" Riri bertanya - tanya dengan bingung.
"Selamat pagi non Riri." Sapa Sun dan membawahkan beberapa buku untuk Riri.
"Pagi, ini apa?" Riri menatap dan melihat tumpukan buku yang dibawah oleh Sun.
"Buku sejarah yang diminta oleh tuan Yan untuk diberikan kepada anda." Sun berkata dengan tersenyum.
"Terima kasih." Riri menerima dan membaca buku itu.
__ADS_1
Seharian Riri membaca buku tentang sejarah kerajaan itu sampai akhirnya dia menemukan sesuatu dalam buku itu dan dia terkejud saat melihat gambar bangunan yang sangat mirip dengan gambaran dalam ingatannya. Riri membaca lagi dengan seksama. "Hanzi, Pinyin, Zijin Cheng. Ini apa ya?" Riri membaca dan merasa penasaran dengan nama - nama itu.
Setelah membaca seharian dan begitu banyak pertanyaan Riri pun menunggu Yan Sa atau Sun untuk pulang agar dia bisa menanyakan apa yang dia ingin tau tentang sejarah dari kerajaan Tiongkok. Dengan sabar Riri menunggu sampai akhirnya dia tertidur pulas di sofa.
"Kenapa dia tidur di sini." Yan Sa saat pulang melihat Riri terlelap dalam tidurnya.
Keesokan paginya begitu bangun Riri langsung mencari Yan Sa sebelum Yan Sa pergi kerja, "Yan kau ada didalam?" Riri menerobos masuk kedalam kamar Yan Sa.
"Hei, ada apa?" Yan Sa yang kaget spontan langsung menutup tubuhnya dengan handuk.
"Maaf aku tak tau kalau kamu sedang mandi, ada yang ingin aku tanyakan soal sejah kerajaan." Riri berkata dengan berbalik badan.
"Aku tau, aku akan membawamu ke kota terlarang. Dan kamu akan bisa melihat sendiri peninggalan dari kerajaan dinasti Ming dan dinasti Qing." Yan Sa berkata dengan berganti baju.
Setelah berada dalam perjalanan cukup lama akhirnya Yan Sa dan Riri sampai juga di musium kerajaan. Disana Riri terkejud dan sangat terpukau dengan bangunan yang berdiri didepan matanya. Bangunan yang ada dalam ingatannya berdiri megah dihadapannya dengan nyata. Tanpa sadar Riri meneteskan air matanya dan dia terkenang kembali akan Altha yang ada dalam ingatannya, karena didalam sejarah tak ada nama pangeran itu atau memang tak disebutkan dalam buku.
"Katakan pada ku, kenapa ini dinamakan kota terlarang?" Riri bertanya dengan menghapus air matanya.
"Itu karena ada sejarahnya, bukankah didalam buku sudah dijelaskan apa kamu tak membacanya sampai akhir?" Yan Sa berkata dan menatap Riri dengan aneh karena Riri menangis tanpa sebab. Dan Yan Sa selalu bertanya - tanya kenapa Riri selalu menangis sejak datang ke negara ini.
Yan Sa bernafas dalam dan tersenyum, lalu membawah Riri masuk untuk melihat - lihat dalamnya bangunan peninggalan kerajaan itu, yang banyak dikunjungi orang. "Kota Terlarang atau Forbidden City adalah kompleks istana kekaisaran di jantung Beijing, China ini. Akses ke daerah tersebut dilarang untuk sebagian besar subjek kerajaan. Bahkan pejabat pemerintah dan bahkan keluarga kekaisaran sendiri hanya diizinkan mengakses kompleks secara terbatas. Dan hanya kaisar sendiri yang bisa memasuki bagian mana pun sesuka hati dari bagian kompleks istana. Itulah kenapa disebut sebagai kota terlarang, sekarang kau sudah mengerti?" Yan Sa menjelaskan dan membawah Riri berkeliling istana itu.
"Yan." Riri menatap Yan Sa
"Hem, kenapa? Aku kadang tak mengerti kenapa kau selalu menangis sejak datang kemari, apakah kau merindukan kampung halaman mu atau ada sesuatu yang sedang kamu rindukan. Sun juga bilang saat kalian pergi ke galeri kamu juga menangis disana." Yan Sa menatap Riri dan menghapus air mata Riri dengan penuh perhatian dan kasih sayang. "Maaf aku jarang menemani mu sejak kamu datang kemari, karena aku sangat sibuk dengan pekerjaan ku" sambung Yan Sa tersenyum dan memeluk Riri
"Berapa usia mu?" Riri bertanya setelah mengurai pelukannya dengan Yan Sa.
Yan Sa tersenyum mendapatkan pertanyaan itu, "Yang jelas aku lebih tuan dari mu. Dan aku akan selalu menjaga serta melindungi mu."
"Yan, aku bertanya soal usiamu kenapa kamu mengalihkan pembicaraan." Riri menatap dengan tak puas.
"Aku 33 tahun untuk tahun ini." Yan Sa menjawab dan mencubit pipi Riri. "Besok waktunya kamu kontrol, dan aku akan mengantarkan mu ke rumah sakit sendiri besok."
__ADS_1
"Ya baiklah, kak." Riri berkata dengan tersenyum menatap Yan Sa, begitu juga dengan Yan Sa dia tersenyum dan mengacak rambut Riri dengan gemas.
"Sial, kenapa aku merasa tak rela mengembalikan dia ke negaranya. Rasanya aku ingin menyimpan dia dan terus berada disisinya untuk selamanya, menjaga dan melindunginya" gumam suara hati Yan Sa.
Riri terus berkeliling dengan sesekali bertanya pada Yan Sa apa yang dia lihat dan tak mengerti, Riri terlihat seperti sedang terlahir kembali karena dia bisa melihat dan menyentuh bangunan yang dulu ada dalam ingatannya sekarang karena dia telah melalui ruang dan waktu saat dirinya sedang koma.
"Kenapa nama pangeran pertama dalam kerajaan ini tak disebutkan? Jika dia adalah orang yang telah memperjuangkan kerajaan ini hingga berjaya kenapa namanya tak disebutkan?" Riri terus saja bergumam dan bertanya - tanya dalam hatinya, karena dari tadi dia tak mendengar nama Altha dalam sejarah ini, dan pemandu yang menjelaskan tentang kejayaan kerajaan ini juga tak menyebutkan namanya, walau nama - nama lain disebutkan.
"Sedang apa? Apakah ku begitu menyukai kamar ini?* Yan Sa bertanya pada Riri yang berdiam diri disebuah kamar dan menutup matanya seolah dia sedang berusaha untuk mengingat sesuatu yang telah terlupakan.
"Tidak, aku hanya sedang menikmati suasana didalam kamar ini. Sepertinya kamar ini penuh dengan aura cinta dan kasih sayang yang mendalam." Riri berkata dengan tersenyum pada Yan Sa dan Sun yang berdiri menatapnya.
"Ya non, karena didalam kamar ini ada cerita tentang cinta pangeran pertama dengan istrinya yang awalnya dia benci dan akhirnya sangat dia sayangi. Jadi kamar ini menjadi saksi bisu dalam kisa cinta dan kasih sayang antara pangeran pertama dan istrinya." Sun berkata dan menjelaskan pada Riri dengan sangat antusias.
"Ya aku tau itu." Riri menjawab dengan cepat.
"Eh, apa non Riri pernah pergi kesana dan melihat serta menyaksikan sendiri kisah mereka berdua?" Sun bertanya dengan penasaran
"Apa?" Riri kaget karena dia hampir mengatakan kalau dirinya pernah masuk kedalam sebuah cerita dinasti kerajaan yang dia baca dalam novel.
"Sudah jangan terus menggodanya. Kamu pasti sudah lapar karena ini sudah hampir waktunya makan siang, ayo kita pergi cari makan dulu." Yan Sa berkata dan menarik tangan Riri.
Saat berjalan dengan berbincang dan bercanda dengan Sun tiba - tiba Riri terjatuh karena ditabrak oleh seseorang yang terlihat sangat buru - buru. "Ah.!! Kenapa dengan orang itu." gumam Riri yang terduduk dilantai karena jatuh.
"Kamu tak apa?" Yan Sa membantu Riri untuk berdiri, sedangkan orang yang menabraknya tak menoleh dan juga tak meminta maaf pada Riri.
"Tak apa, tapi ada apa dengan orang itu. Kenapa dia terlihat sangat terburu - buru." Riri bergumam dan menatap orang yang tadi menabraknya.
"Mungkin ada sesuatu yang membuatnya sepeti itu, sudah biarkan saja." Yan Sa membantu membersihkan baju Riri.
"Tidak sopan sekali" Riri masih saja menggerutu dengan kesal.
"Mau sampai kapan kamu menggerutu begitu hem?" Yan Sa menatap Riri dan mencubit pipi Riri.
__ADS_1
Riri tersenyum dan mereka kembali pulang setelah seharian berjalan - jalan di kota terlarang. Sesampainya di rumah Riri masih saja tak puas dan memikirkan perbuatan orang yang telah menabraknya tadi. Dengan kesal Riri mengumpat dan berkata kalau dia ketemu lagi dengan orang itu maka dia ingin membalas perbuatan orang itu dengan menabraknya dan membuatnya jatuh tersungkur seperti yang dia alamami.