Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Permintaan Raja


__ADS_3

"Altha, semua ini adalah alat kesehatan dan ini semua adalah alat pengobatan yang selama ini aku gunakan untuk membantu dan mengobati semua prajurit yang terluka, dan semua ini bukan alat yang berasal dari dunia ini." Riri dengan tenang menjelaskan dan menceritakan semuanya pada Altha mengenai semua alat yang tersimpan didalam ruangan itu.


Sambil berjalan perlahan dan memperhatikan satu persatu alat yang tertata dengan rapi itu Altha tertegun mendengar apa yang diceritakan oleh Riri kepadanya dan dia menatap Riri dengan dalam. Lalu Altha tiba - tiba saja memeluk tubuh Riri lagi dengan erat dan tubuhnya bergetar hebat.


...🍁🍁🍁...


Sementara dikediaman istana pangeran Altha, pangeran kedua Jang Yong datang berkunjung dengan niatan ingin mempertanyakan masalah pengembalian selir yang diberikan kepada pangeran Altha.


Berjalan dengan gaya sombong dan sok berkuasa pangeran kedua menuju ke tempat latihan karena tak ada orang yang menyambutnya, "Pangeran kedua, maaf tapi pangeran dan putri sedang tak ditempat." ucap Yorgun yang menerima kedatangan pangeran kedua Jang Yong datang berkunjung ke istana Altha.


Pangeran kedua membusungkan dada "Kemana mereka pergi, kenapa tak membawa pengawalan. Apakah mereka sedang pergi berdua saja? Katakan kemana mereka pergi dan katakan dengan jujur padaku." pangeran kedua menanyakan keberadaan Altha dan Riri pada Yorgun yang merupakan pengawal Altha paling dekat.


"Maaf pangeran hamba tidak tau kemana pangeran dan putri pergi, karena mereka sudah tak ditempat sejak pagi dan kami tak ada yang tau kemana mereka pergi" Yorgun menjawab dengan sebenarnya dan membungkuk karena Altha telah pergi sejak pagi - pagi sekali dan tak memberi tau siapa pun.


"Tidak mungkin jika kamu yang merupakan orang kepercayaannya tidak tau apa pun, jika aku tau kalau kamu sampai membohongiku maka kamu akan tau akibatnya. Karena aku tak pernah melepaskan targetku tanpa peduli dia siapa." pangeran kedua mengancam Yorgun, namun Yorgun hanya diam menatap pangeran kedua tanpa rasa takut, dan membungkuk lagi dengan menunjukkan senyuman.


"Jika pangeran kedua ingin membuat masalah di istana ini maka sebaiknya pangeran kedua berfikir dulu sebelum melakukannya, karena begitu pangeran melakukan kesalahan maka tak akan bisa diperbaiki lagi." Yorgun berbalik mengancam pangeran kedua dengan nada bicara yang lembut.


"Cih, awas jika sampai aku melihat kalian membuat masalah bahkan aku tak akan peduli jika kamu itu adalah orang dari pangeran pertama." pangeran kedua pergi dengan kesal setelah berkata dengan ancamannya.


"Pangeran kedua benar - benar perangainya sungguh tak baik, dia benar - benar bikin kesal." Gozil bergumam dengan liri setelah pangeran kedua pergi.


"Jangan bicara sembarangan kalau tidak nyawamu akan melayang karena dia memiliki banyak pendukung yang selalu ingin memberontak dan menumbangkan pangeran Altha." Jiyang berbisik pada Gozil.


"Ah, kaget. Guru Ji jangan mengagetkan ku, tapi mau bagaimana pun aku yakin dia tak akan bisa." Gozil berteriak karena kaget dengan ucapan Jiyang, lalu dia berkata dengan penuh keyakinan kalau pangeran pertama tak akan terkalahkan.


"Sudah ayo latihan lagi." Jiyang melemparkan tongkat pada Gozil dan mereka melakukan latihan lagi sebelum Gozil dikirim ke perbatasan untuk bergabung dengan yang lainnya dalam menjaga keamanan perbatasan.


...🍁🍁🍁...


"Apa yang kau katakan, kau ingin aku membujuk pangeran Altha untuk menerima selir dan kau ingin menyerahkan putrimu sebagai selir dari pangeran Altha begitu?" raja yang mendapatan permintaan dari metri Ye merasa kaget, karena selama ini Altha tak pernah membicarakan soal dia mau mengangkat seorang selir.

__ADS_1


"Benar yang mulia, putri saya Ye Rin sangat cantik dan juga sangat berbakat, dia bisa menguasai segala ketrampilan seni bahkan dia juga pandai menari. Aku rasa putri saya akan sangat cocok dengan pangeran Altha, karena setelah lelah di medan perang pangeran Altha pasti bisa merasa rileks dan terhibur jika ditemani putri saya dengan bakat tariannya atau permainan musiknya. Apa lagi pangeran Altha akan menggantikan yang mulia jadi setidaknya dia harus memiliki selir untuk memperbanyak keturunannya." Mentri Ye Saun menjelaskan panjang lebar soal putrinya dan juga berasumsi sendiri soal Altha dengan putrinya jika bersatu.


Mendengar itu raja terlihat ragu dan mulai berfikir "Hem,,," raja berfikir apa yang dikatakan Mentri Ye ada benarnya "Aku tak bisa memberikan jawaban karena aku tak akan bisa memaksa Altha untuk melakukan sesuatu yang tak diinginkannya." jawab raja setelahnya.


"Tapi yang mulia bukankah saat anda memerintahkan pada pangeran pertama Altha untuk bertunangan dengan putri Yourina yang mulia juga memberikan sedikit pemaksaan didalamnya, jadi saya yakin jika yang mulia melakukan hal yang sama terhadap putri saya maka pangeran altha pasti juga akan menerima dan pelan - pelan putri saya akan membuka hati pangeran Altha sampai pangeran akan menerimanya." mentri Ye Saun tetap bersih keras agar raja mau membantunya untuk membuat putrinya menjadi selir dari pangeran Altha.


"Kau juga tau kalau putri Yourina mengajukan pembatalan pertunangannya, namun pada akhirnya Altha sendiri yang maju untuk mempertahankannya dan meminta pesta pernikahan, jadi untuk hal ini aku tak bisa menjanjikan apa pun jika Altha sendiri tak mau maju. Jadi kau jangan berharap banyak." ucap raja menolak dengan halus.


"Baiklah, kau kembalilah dulu aku akan merundingkan masalah ini dulu dengan pangeran altha dan putri Yourina." ucap raja mengakhiri percakapan dengan Mentri Ye Saun.


"Baik yang mulia saya mohon undur diri, dan semoga kabar yang akan saya terima adalah kabar baik." Mentri Ye Saun pun pergi meninggalkan istana kerajaan.


"Aku tak percaya Mentri Ye mengajukan permohonan untuk memberikan putrinya sebagai selir dari Altha, aku tak tau ada permainan apa didalamnya tapi aku tak bisa mengabaikan permohonan ini. Karena jika nanti Altha menggantikan ku setidaknya dia harus memiliki banyak keturunan, dan yang dikatakan oleh Mentri Ye ada benarnya." raja mencobak menimbang - nimbang usulan dari Mentri Ye.


"Sesuai dengan sifatnya aku rasa pangeran Altha tak akan menerima begitu saja." ucap Baron pengawal raja yang sudah mengenal sejak kecil pangeran Altha.


"Hem, kau benar. Makanya itu aku akan mencobak merundingkan dengannya, kirimkan pesan padanya untuk segerah datang." ucap raja yang merasa ragu namun juga tak bisa mengabaikannya.


...🍁🍁🍁...


Tanpa berkata apa pun Altha keluar dari tempat itu dan berdiri diantara batu besar lalu mengirimkan sinyalnya pada Yaris untuk segerah datang. Tak butuh waktu lama Yaris pun telah tiba diposisi dimana Altha berada.


"Pangeran." sapa Yaris yang merasa bingung dan juga asing dengan tempat yang dia datangi.


"Jaga dia, dan dia yang memanggilmu masuklah. Aku akan pergi sekarang." ucap Altha lalu meninggalkan Yaris.


Perlahan Yaris berjalan masuk kesebuah lorong melalui anak tangga dengan perlahan, Yaris merasa kaget melihat tempat itu yang ternyata didalam sana ada begitu banyak alat yang biasa digunakan oleh Riri dalam membantu orang dan juga dirinya.


Yaris mengamati sekitarnya dan melihat Riri berdiri diam dengan tubuh bergetar, "Putri ini?" Yaris berputar terus melihat semua alat - alat yang terlihat tertata rapi dan putih bersih.


"Kau sudah datang Yaris." suara Riri lemah terdengar bergetar, dengan tanpa melihat Yaris Riri menjelaskan semuanya.

__ADS_1


"Putri ada apa, kenapa putri menangis? Apakah ada masalah dengan pangeran?" Yaris merasa panik melihat Riri yang terus menangis dan terlihat sangat sedih.


"Yaris." Riri memeluk Yaris dengan sangat erat dengan tubuh bergetar hebat.


Dalam diam Yaris membiarkan dirinya dipeluk oleh Riri hingga Riri merasa tenang dan bisa menguasai dirinya lagi. Yaris yang merasa kasian pun tanpa sengaja membalas pelukan Riri dan berusaha untuk menenangkan Riri yang tak dimengerti kenapa Riri menangis dan terlihat sedih sedangkan pangeran pergi tanpa harus menunggu Riri.


"Hah,,," Riri menghela nafas dalam menatap Yaris. "Terima kasih Yaris kau selalu ada untuk ku selama ini. Aku akan mengajukan perpisahan dengan pangeran dan mungkin akan tinggal di sini karena tempat ini sama dengan tempat asal ku berasal." ucap Riri dan Yaris menatap bingung dengan kata - kata Riri yang terdengar seperti sebuah perpisahan dan akan pergi jauh.


"Kamu bingung ya, aku sudah menceritakan semuanya pada pangeran. Dan sepertinya pangeran tak bisa menerima jadi aku tak bisa berada terus disisinya." Riri membawah Yaris duduk di kursi yang ada ditempat itu, "Yaris, sebenarnya aku adalah..." Riri menjelaskan dan mulai menceritakan semuanya pada Yaris sama persis seperti dia menceritakan kepada Altha tadi.


Reaksi Yaris sama seperti Altha, dia juga kaget dan tertegun tak bicara namun Yaris tetap menggenggam tangan Riri. Dan melihat itu Riri merasa bersyukur setidaknya masih ada Yaris yang mempercayai ceritanya.


Setelah menceritakan semuanya Riri pun kembali lagi ke istana pangeran bersama dengan Yaris dengan turun melalui jalan setapak karena Riri ingin mengenal tempat itu dengan baik, dan sebelumnya Yaris telah membereskan semua penghalangnya.


...🍁🍁🍁...


"Tuan putri ada surat dari raja yang datang kemaren untuk pangeran." ucap Yorgun pada Riri begitu dia melihat Riri tiba di istana dengan Yaris.


"Dimana pangeran, kenapa belum disampaikan padanya?" Riri merasa bingung karena dirinya kembali setelah Altha pergi meninggalkannya, dan Altha sudah kembali lebih awal dari dirinya.


"Maaf putri pangeran belum kembali dari tadi" jawab Yorgun dengan sopan.


Riri terlihat berfikir karena dia merasa aneh, orang yang pergi duluan malah tak ada di istana, Riri menatap Yaris dengan memiringkan kepalanya dan Yaris menatap lalu terdiam sebentar. "Bagaimana, apa dia baik - baik saja?" Riri bertanya pada Yaris yang berdiri dibelakangnya, dan Yaris menjawab dengan anggukan.


Riri merasa lega dan tersenyum, "Baiklah, berikan padaku suratnya." Riri menerima surat itu dan berjalan masuk kedalam kamarnya.


Setelah membaca isi surat dari raja dan telah menunggu Altha lama hingga 3 hari Altha tak kembali ke istana pangeran, Riri pun mengambil keputusan untuk menggantikan Altha memenuhi panggilan raja, serta ingin menyampaikan rasa maaf pada raja atas ketidak hadiran Altha atas panggilannya, karena didalam surat itu Riri juga dipanggil.


Saat kembali ke istana pangeran Riri terus saja melamun dan berfikir keras atas apa yang disampaikan raja padanya, dan meminta Riri untuk menjelaskan kepada Altha atas niat dan usulan dari raja.


"Jadi raja ingin Altha menambahkan seorang selir." gumam Riri dalam lamunannya.

__ADS_1


"Ya, tak heran kalau di cerita - cerita memang seorang pangeran atau raja bisa memiliki beberapa selir dan juga istri yang bisa berjumlah puluhan orang." Riri menghela nafas dalam dan mulai merasakan sakit kepala karena memikirkan hal itu.


"Aku rasa aku tau harus bagaimana. Baiklah, aku akan mengambil keputusan itu, aku akan tinggal di hutan bukit bintang dan aku akan mengajukan perpisahan dengan Altha, dengan begitu dia akan bisa menjadi raja yang baik dan memiliki keturunan yang memang berasal dari wanita di jaman ini. Baik, begitu saja." Riri telah mengambil keputusan bulat, dan dia mengirimkan surat kepada kediaman Mentri Ye untuk mengijinkan putrinya melakukan pendekatan dan pengenalan dengan Altha sebelum mereka melangsungkan pernikahan.


__ADS_2