
"Altha hentikan apa kau tak lelah aku sudah ngantuk." gumam Riri pada Altha yang masih saja aktif.
"Ngantuk? Apakah kalau seperti ini kau masih ngantuk permaisuri ku?" tanya Altha yang langsung melahap ceri kecil Riri dengan lembut dan menghisap kuat yang kadang juga menggigitnya ringan.
"Hei jangan disitu kau benar - benar mesum ya, Altha." kesal Riri yang berhasil dibangkitkan lagi oleh Altha.
"Hem, aku suka reaksi mu yang satu ini permaisuri ku." Altha semakin bersemangat dengan Riri yang mulai membalas setiap permainannya.
Keesokan paginya Riri bangun dengan tubuh sakit semua dan berjalan tertatih karena Altha telah menghajarnya semalaman yang telah dipengaruhi oleh obat. Dan Riri pergi kebagian ruang obat untuk membuat satu ramuan.
"Katakan kenapa dengan mu, kau tak seperti biasanya semalam dan kau telah membuat seluruh tubuhku pada nyeri semua dan hampir membuat putus aset masa depanku." kesal Riri bertanya saat Altha terbangun dan Riri duduk menatap Altha kesal.
Altha tersenyum karena dia sadar semalam dia terlalu bersemangat dan sedikit kasar. "Maaf semua ku lakukan karena aku telah terpengaruh oleh obat pembangkit gairah dan aku sudah tak bisa menahannya terlalu lama lagi, karena saat aku pergi ke perbatasan ini aku sudah berusaha untuk menahannya mati - matian." jelas Altha merapikan bajunya.
"Obat pembangkit gairah?" Riri memiringkan kepalanya, "Maksudmu obat perangsang." sambung Riri, dan Altha diam karena tak mengerti.
"Begini, maksudku setelah kamu meminum obat itu kamu jadi tak bisa mengendalikan dirimu dan ingin segerah melakukan hubungan dengan lawan jenismu, atau kau jadi berhasrat." jelas Riri pada Altha
"Ya seperti itulah." jawab Altha dan berjalan mendekati Riri lalu duduk disebelahnya.
Riri bernafas dalam dan berdiri mendekati Altha "Syukurlah kau masih sadar dan ingat akan diriku, jika sampai kau melakukannya dengan wanita lain maka aku pastikan akan pergi meninggalkan mu untuk selamanya." ucap Riri yang duduk dipangkuan Altha.
Altha yang memeluk Riri tersenyum, "Aku tak akan pernah dan tak akan mungkin melakukannya dengan wanita lain. Karena aku hanya selalu tertuju padamu, cuma kau wanita yang ada dalam pikiran dan hatiku." jawab Altha menyandarkan kepalanya di bahu Riri.
"Hem, siapa yang memberi obat itu?" tanya Riri penasaran.
"Aku tak tau pasti, tapi sepertinya putri You Li, karena setelah aku meminum teh yang diseduh olehnya kepalaku langsung pusing dan tubuhku terasa aneh." jelas Altha menerka - mereka.
__ADS_1
"Kalau begitu kenapa kau tak melakukannya dengan dia? Karena pasti dia sudah merencanakan semuanya." jawab Riri menatap Altha.
"Aku tak menginginkan dia, karena aku tak menyukainya. Permaisuri ku hanya dirimu dan cukup kamu wanita ku." jelas Alan dengan pasti dan yakin.
"Kau begitu manis. Tapi kenapa kau menyetujui untuk mengangkat dia sebagai selir jika kau tak menginginkannya?" tanya Riri bingung.
"Kenapa kau selalu berfikir sendiri tanpa bertanya dulu, aku tak pernah melakukan itu. Aku setuju membawah dia serta karena dia berkata ingin melihat dunia luar istana dan memintaku jadi pengawalnya." jawab Altha "Aku sudah pernah bilang aku tak akan pernah mengambil selir dan tak akan pernah ada hal seperti itu. Cukup dirimu, aku bisa membuatmu melahirkan sepuluh bahkan selusin anak untuk ku dan aku tak butuh wanita lain untuk diriku." jawab Altha memeluk Riri erat dan menatapnya dengan dalam sambil tersenyum tulus.
"Kau mau membunuhku ya dengan menyuruh aku melahirkan selusin anak." Riri berkata dengan kesal dan menatap Altha, "Baiklah, serahkan semua pada ku." Riri bangun dan terlihat bersemangat.
"Kau mau apa?" tanya Altha bingung saat melihat Riri berjalan menjauhi dirinya.
"Meminum obat biar aku gak hamil." jawab Riri kesal dan langsung berjalan menuju meja samping untuk meminum obat yang sudah disediakan dari tadi pagi sebelum Altha bangun.
"Jangan.!" Altha langsung melompat untuk mencegah Riri meminum obat pencegah kehamilan. "Kau tak ingin memiliki anak dari ku?" tanya Altha menatap Riri dengan raut wajah marah yang ditahannya.
"Altha, bukan begitu tapi..." Riri bingung mau menjawab apa karena selama ini dia sudah meminum obat itu setiap kali selesai berhubungan dengan Altha karena dia gak mau memiliki anak dalam dunia yang tidak dia kenali ini.
"Altha dengarkan aku dulu, aku bukan..." kalimat Riri tertahan
"Bukan apa?! Bukan orang yang berasal dari dunia ini dan bukan bagian dari cerita ini, kau ingin kembali lagi ke tubuhmu yang asli. Aku sudah sering mendengar itu dari mu. Tak bisakah, tak bisakah kau hanya memikirkan ku saja? Apakah didalam hatimu kau masih berfikir akan pergi meninggalkan ku? Kenapa Riri, katakan kenapa. Bahkan setelah semua yang terjadi dan yang kita lewatkan kenapa kau masih saja tak bisa menerimaku, padahal aku telah menerima mu yang bukan orang dari negara dan dunia ini. Kenapa kau selalu berfikir untuk kabur." Altha berkata dan bertanya dengan perasaan marah, kesal, bingung, sedih dan penasaran itu semua campur jadi satu seolah dia tak tau dan tak mengerti apa pun tentang Riri.
"Altha." Riri ikut jongkok untuk mensejajarkan dengan Altha yang telah bersimpuh dihadapan Riri. "Altha, aku tak bermaksud untuk menyakitimu dan aku juga tak bermaksud untuk mempermainkan perasaanmu." Riri memeluk Altha yang terlihat rapuh.
"Pernahkah sekali saja kau memikirkan ku? Pernahkah kau mencintaiku? Apa arti semuanya selama ini bagimu? Tak bisa kah kau berfikir pada saat ini saja? Aku mohon tinggallah disisi ku sekali saja, tolong biarkan semua membawah dirimu untuk tetap di sini." Altha memeluk tubuh Riri dengan erat seolah dia takut akan kehilangan Riri.
"Altha, maafkan aku. Aku akan selalu bersama mu, tapi aku juga tak tau sampai kapan." Riri menjawab dan membalas pelukan Altha sama eratnya.
__ADS_1
"Pangeran, putri maaf ada putri ketiga datang dan mencari pangeran." lapor prajurit Altha dari luar tenda.
"Iya sebentar, bawah dia ke tenda tamu dulu" teriak Riri dari dalam tenda
Riri menatap Altha "Dengarkan aku Altha, aku tak akan pernah meninggalkan mu karena aku ingin yang terbaik untuk mu dan semua yang akan ku lakukan hanya untuk mu, percayalah aku tak akan pernah mengkhianati mu. Tapi kamu harus ingat aku bisa saja menghilang tiba - tiba seperti saat aku datang kesini tiba - tiba." jelas Riri mencobak untuk memberikan peringatan pada Altha bila nanti dirinya tiba - tiba saja hilang dari hadapannya dan meninggalkan tubuh yang saat ini dia tempati.
Altha menatap Riri dengan tatapan seakan - akan dirinya tak rela jika harus kehilangan Riri apa pun caranya. "Andai aku bisa, aku ingin sekali bisa menembus dimana duniamu berada." Altha memeluk Riri erat.
"Kita harus fokus pada kerajaan ini Altha, aku ingin sejarah yang akan datang menjadi lebih baik, walau aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Selama ini aku selalu melakukan perubahan cerita agar aku tak mati ditangan mu sesuai dengan isi cerita yang aku baca, namun semakin kesini aku ingin merubah kehancuran kerajaan ini menjadi sebuah kejayaan. Jadi kamu harus percaya pada ku kalau aku tak akan pernah meninggalkanmu, dan masalah wanita yang aku bawah ke istana karena aku ingin melakukan yang terbaik jika itu memang pilihanmu aku tak punya maksud apa pun." jelas Riri pada Altha dengan pelan.
"Kau mati ditangan ku?" tanya Altha menatap bingung
"Iya, sesuai dengan ceritanya Yourina mati ditangan mu dan saat aku memasuki tubuhnya aku tak ingin mati konyol, itu sebabnya aku selalu berusaha untuk melarikan diri dan berusaha keras mempertahankan hidup karena aku ingin terus hidup untuk bisa kemabli ke tubuh asliku. Tapi aku telah terjerat oleh pesona brondong mesum yang mampu membuat ku melakukan banyak hal hanya untuk membuat dia berhasil dalam segala urusannya." Riri tersenyum sambil memegang kedua pipi Altha.
"Apa kau berkata jujur?" Altha menanyakan isi hati Riri.
"Aku berkata jujur, karena kau adalah pria pertama yang aku kenal dan aku pikirkan. Aku gak mau hamil bukan karena gak mau melahirkan anak mu, tapi kondisi saat ini masih tak memungkinkan, kita masih harus mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan yang sewaktu - waktu bisa datang." jelas Riri lagi. "Baiklah, ada tamu yang mencari mu pergilah." Riri membantu Altha untuk bangun dan berdiri.
"Aku sangat mencintaimu Riri dan aku tak menginginkan seorang selir apa pun yang akan terjadi." ucap Altha meyakinkan Riri lagi.
"Baik, baik aku mengerti. Aku akan membantumu mengatasi maslah putri ketiga, kau sudah puas sekarang? Pergilah jangan biarkan tamu mu menunggu." usir Riri
"Kau mengusirku." Altha menatap Riri
"Iya aku mengusir mu, cepat pergilah." ucap Riri tegas.
"Tapi tamu itu adalah putri ketiga, kau benar - benar ingin aku agar menyapa dan menemuinya?" tanya Altha
__ADS_1
Riri tersenyum, "Aku punya rencana ku sendiri. Jadi pergilah, lakukan tugas mu dan aku akan melakukan tugasku." Riri mendorong Altha keluar dari tenda.
Altha tersenyum "Aku pergi dan cepat usir dia sebelum aku terjerat."