
Setelah menangis cukup lama akhirnya Riri tertidur dan Sun memindahkan Riri kedalam kamarnya. Dalam diam Sun menatap Riri yang terlelap dengan bingung, dan dia merasa sangat sulit menghadapi Riri karena tak tau harus bagaimana menghadapi kondisi Riri saat ini.
"Sun, bagaimana dengan Riri?" Yan Sa yang sudah longgar mencobak menghubungi Sun, dan mencari tau tentang kondisi Riri.
"Non Riri tertidur pak, saya baru saja memindahkannya kedalam kamarnya." jawab Sun dengan sopan dan merasa ragu mau menceritakan apa yang terjadi pada Riri hari ini.
"Baiklah, terima kasih. Tolong kau jaga dia selama aku tak ada." Yan Sa berkata lalu mematikan panggilannya.
Keesokan harinya Riri terlihat bengong dan duduk termenung didepan jendela kamarnya sambil memeluk kedua lututnya dan menatap kosong kearah luar jendela. "Altha, mungkin memang tak ada orang seperti dia di dunia ini." Riri menghela nafas dalam.
"Selamat pagi non, silakan sarapan dulu." sapa para art di rumah Yan Sa
"Terima kasih." Riri tersenyum sangat bahagia dan dengan berjalan menuruni tangga Riri selalu mengulas senyumnya dan hal itu membuat semua orang yang ada di rumah itu ikut merasakan bahagia.
"Non ada telepon dari pak Yan." Sun memberikan hanponnya pada Riri yang sedang menikmati sarapannya.
"Ya halo" dengan nada riang menjawab panggilan dari Yan Sa.
"Kau sedang apa?" suara Yan Sa dari sebrang terdengar sangat lembut.
"Kapan pulang aku sangat merindukan mu Yan, aku ingin pergi jalan - jalan sama kamu ke semua tempat." Riri dengan sangat manja berkata pada Yan Sa dan membuat Sun menatap bingung.
"Ada apa dengan non Riri ya, apa dia jadi labil karena efek koma yang baru muncul sekarang?" gumam Sun dalam hati.
Terlihat Riri berbincang dengan sangat seru sama Yan Sa lewat panggilan telepon, seolah tangisan dan kesedihan yang kemaren tak ada dan tak pernah terjadi. Terlebih lagi senyuman Riri yang terlihat sangat indah pun terlihat lagi dan membuat semua orang yang melihatnya merasa sangat senang.
__ADS_1
"Aku harus maju dan tak boleh terus tenggelam dalam khayalan yang tak akan pernah ada di dunia nyata, dan soal Yan Sa mungkin itu hanyalah sebuah kebetulan saja." sambil memainkan ponselnya Riri bertekad.
Hari itu Riri kembali ke musium untuk melihat peninggalan dari kerajaan jaman dulu negara itu, Riri menikmati moment itu karena dia ingin mengenang kenangan indah antara dirinya dan Altha yang tak dapat diketahui oleh semua orang bahkan tak ada dalam sejarah yang sebenarnya.
"Hem, makanan ini sungguh sangat enak." Riri yang mencoba memakan jajanan khas daerah itu dan sangat menikmatinya.
"Sun, apa di kerajaan ini selalu banyak orang yang datang berkunjung seperti ini ya?" Riri yang duduk didekat patung singa merasa sangat senang sambil menikmati jajanan yang tadi dia beli.
Keseharian yang dilakukan oleh Riri setiap harinya adalah berkunjung ke kota terlarang dan selalu berkeliling dengan menikmati suasana serta mengabadikannya dengan berfoto diberbagai tempat dan hampir di semua sudut bangunan kerajaan itu.
Untuk pagi itu Riri kembali ke kota terlarang lagi dan menikmati pemandangan lagi seperti biasanya. Dan hari itu Riri menaiki perahu untuk berkeliling melihat pemandangan dengan menyusuri danau dan menikmati suasana yang tenang dengan suara nyanyian dari orang yang menghibur para pengunjung.
"Aku akan pergi dan meninggalkan kota ini, dan akan memulai hidup baru ku karena aku gak mau terjebak dalam khayalan semu yang tak mungkin ada." Riri bergumam dan tersenyum lalu memotret sesuatu yang dianggapnya indah.
Brrrt
"Kamu dimana sekarang?" suara Yan Sa yang terdengar sangat khawatir pada Riri.
"Wae - wae ada apa, kenapa kamu terdengar begitu marah dan khawatir? Aku sedang ada di kota terlarang." Riri menjawab dengan bingung.
"Ok jangan kemana - mana." Yan Sa langsung mematikan sambungan teleponnya setelah memerintahnya agar jangan kemana - mana.
"Aneh banget dia." Riri tersenyum menatap layar ponselnya
Tak lama kemudian Yan Sa sudah sampai di kota terlarang dan menemukan keberadaan Riri yang sedang duduk dengan seseorang dan berbincang dengan sangat seru, karena Riri terlihat tersenyum lebar.
__ADS_1
"Kenapa kau sangat sulit untuk ditemukan." Yan Sa langsung duduk dan merangkul Riri.
"Oh, sudah sampai." Riri menatap dengan senyuman dan memeluk Yan Sa.
Yang mendapatkan pelukan mendadak merasa kaget karena pasalnya Riri tak pernah sekali pun berinisiatif untuk memeluknya duluan, "Kau kaget begitu, aku sangat merindukan mu." Riri menatapnya dengan senyuman yang terlihat sangat manis bagi Yan Sa.
"Sial, kenapa dia begitu manis. Sadarlah Yan dia adalah adik yang harus kau jaga dan lindungi" suara hati Yan Sa mencobak menyangkal nuraninya yang sebenarnya.
"Ayo kita pulang." Sambil menggandeng tangan Yan Sa dengan erat Riri bercerita banyak hal apa yang dia lakukan selama dirinya gak ada bersama dengan Riri, dan Yan Sa mendengarkan dengan sangat sabar.
...💮💮💮...
"Apa kamu sangat bersenang - senang selama tiga hari ini?" Yan Sa duduk di sofa dan memeluk Riri.
"Ya aku sangat bersenang - senang selama tiga hari ini, oh iya aku ingin kembali ke Indonesia dan ingin kembali bekerja lagi, karena aku sudah bosen gak ngapa - ngapain. Dan aku ingin kembali lusa kalau boleh tolong" Riri memohon pada Yan Sa tanpa basah Sabi lagi, karena dia ingin pulang dan memulai hidup barunya dengan melupakan Altha yang hanya ada dalam khayalan dan hanya akan menyimpan semua perasaannya dalam hati.
Awalnya Yan Sa menolak namun dengan kegigihan Riri yang meyakinkan Yan Sa akhirnya dengan berat hati Yan Sa menyetujuinya dan mengantarkan Riri pulang ke Indonesia, dan langsung kembali keesokan harinya karena dia harus bekerja melayani tuan muda pertama yang merupakan bos yang sebenarnya dia layani selama ini.
...💮💮💮...
"Riri bagaimana keadaan mu? Apa kamu benar - benar sudah tak apa?" Maria dan yang lainnya menyambut Riri dengan sangat senang karena Riri telah kembali lagi bekerja bersama mereka.
Riri tertawa bahagia melihat semua temannya yang begitu baik dan menyambutnya dengan sangat tulus. "Aku sudah baikan dan aku sudah sangat rindu untuk beraktifitas lagi dengan semuanya seperti dulu." Riri berkata dengan sangat senang.
Mulai hari itu Riri pun mulai bekerja seperti biasanya dengan yang lain dan jadwalnya mulai dibuatkan lagi dan disesuaikan dengan jadwal jaga teman - temannya yang lainnya. "Ha, senangnya. Akhirnya aku bisa kembali bekerja lagi." Riri bergumam dan tersenyum lebar sambil memegang alat medis yang ada di ruangannya.
__ADS_1
"Altha, aku akan berjalan maju. Dan aku sudah memutuskan kalau aku akan memulai semuanya dari awal lagi dengan hal baru, kamu akan selalu ada dalam hati dan ingatan ku." Riri berkata pelan dan tersenyum melihat foto bangunan kerajaan di kota terlarang yang tersimpan didalam ponselnya. "Kau hanya akan menjadi kenangan terindah dalam hidupku, kau akan selalu hidup dalam ingatanku dan akan selalu menjadi penyemangat ku."
Hari - hari Riri pun telah kembali seperti sebelumnya, dia rajin bekerja dan selalu membantu para teman - temannya, dan yang terbaru dari diri Riri adalah dia mulai mendalami olahraga muay thai untuk menurunkan berat badannya karena selama ini dia hanya makan dan tidur sehingga membuat tubuhnya naik drastis dan juga jenis olahraga Kick Boxing untuk melatih pertahanan diri dan kekuatan dari lengan serta kakinya, karena Riri ingin bisa menjaga dan melindungi dirinya sendiri