
"Riri, kau sudah sadar? Bagaimana keadaan mu, apa ada yang merasa tak nyaman?" tanya dokter yang tadi memeriksanya.
"Tidak ada dok, terima kasih. Maaf menyusahkan." Riri berkata dengan nada lembut.
"Apa yang kau katakan, sudah tugasku sebagai seorang dokter merawat pasiennya." Dokter itu menjawab dan menatap bingung pada Riri, karena sejak Riri tersadar dari koma dia terasa seperti orang lain, sikapnya yang sembrono dan kata - katanya yang selalu ceplas ceplos kini terasa setiap tindakannya dia melakukannya dengan hati - hati.
"Riri, ya ampun kau membuat khawatir saja." Maria datang dan langsung memeluk Riri dengan erat.
"Jangan membuat kami jantungan tau." Mirna juga ikut datang dan memeluk Riri
Teman Riri yang dekat saling mengucapkan selamat dengan nada lega karena Riri telah tersadar dan mereka semua memeluk Riri satu persatu tanpa melihat kalau tangan kiri tak bisa digerakkan sebab digenggam oleh Yan Sa yang memperhatikan setiap tindakan mereka.
Dan Yan Sa yang melihat Riri dikelilingi olah orang - orang baik dan sayang padanya ada sedikit rasa lega, karena setidaknya Riri tak sendirian dan menyedihkan dalam menjalani hidupnya yang seorang diri. Namun tetap saja didalam hati kecil Yan Sa dia ingin membawah Riri pergi dari tempat itu dan tinggal bersama dengannya. Karena sejak bertemu langsung dengan Riri dan melihatnya Yan Sa merasa kalau dia harus melindungi Riri dengan baik.
"Oh iya, kamu sebaiknya beristirahat dengan baik. Bagaimana jika kamu tinggal bersama dengan ku saja selama masa pemulihan mu, karena kamu akan diberikan waktu cuti 3 bulan sebelum kamu aktif bekerja lagi, aku gak mau melihat kamu jatuh pingsan lagi seperti saat ini." Maria menawarkan diri untuk membawah Riri tinggal bersama dengannya, karena dia hanya tinggal bersama dengan kedua anaknya sebab suaminya telah lama meninggal.
"Tidak perlu mbak Ria, aku bisa tinggal sendiri. Dan aku jamin hari ini tak akan ada lagi, dan aku akan selalu berhati - hati. Aku janji." Riri berkata dengan penuh keyakinan dan tersenyum melihat semua orang yang begitu perhatian pada dirinya
"Ehem, aku rasa kamu memang tidak bisa tinggal sendirian. Dan aku akan membawah mu untuk tinggal bersama dengan ku dan kamu tak punya hak untuk menolaknya karena aku tak suka dengan penolakan." Yan Sa berkata dengan nada perintah.
Semua orang menatap Yan Sa dan mereka baru sadar kalau sejak dari tadi Riri tak sendirian dan ada orang yang datang mengaku sebagai kakaknya, dan orang itu saat ini sedang mendominasi Riri dari semua teman - temannya. Teman - teman Riri menatap dan mereka semua tersenyum secara canggung karena mereka dari tadi tak memperdulikan kehadiran Yan Sa yang sejak tadi berada disebelah Riri dan menggenggam tangan Riri tanpa mau melepaskannya walau Maria dan yang lainnya datang memeluk Riri bergantian.
"Ah iya maaf tuan kami terlalu fokus pada Riri, karena selama ini dia sudah seperti keluarga kami sendiri." Maria membuka obrolan.
"Terima kasih karena kalian semua begitu baik dengan dia, dan karena dia diberikan cuti selama 3 bulan, maka saya akan membawanya bersama dengan saya dan akan menjaganya sendiri, sebab dia adalah keluarga yang sudah lama saya cari." Yan Sa berkata dengan nada yang mengintimidasi semua orang, bahkan dokter yang ada disitu juga tak berani untuk membantah ucapan Yan Sa.
"Ah iya tentu saja. Benar yang dikatakan oleh tuan Yan, Riri sebaiknya kamu ikut dengan dia untuk merilekskan pikiranmu dan beristirahat dengan cukup, rumah sakit pusat pasti akan sangat baik untuk membantumu cepat pulih." jelas dokter pada Riri.
"Benar - benar, aku juga setuju untuk itu." jawab Maria menatap Riri dengan senyumnya.
"Iya kami juga setuju iyakan?" Mirna ikut berkata dan menatap yang lainnya, Tika sama Subagio juga mengangguk setuju.
__ADS_1
"Baiklah karena semuanya sudah setuju, maka lakukan pamitan pada mereka semuanya karena kita akan berangkat 2 hari lagi." Yan Sa berkata dan dia meninggalkan Riri, untuk memberinya waktu bersama dengan teman - temannya.
...💮💮💮...
Sesuai dengan kata - kata Yan Sa dalam waktu 2 hari setelah mendapatkan persetujuan dari Riri, Yan Sa membawah Riri pergi bersamanya selam masa cuti dan pemulihan Riri pasca koma. Hari itu Riri diantar ke Bandaran oleh beberapa temannya dan mereka berharap Riri cepat pulih dan kembali lagi ke tengah - tengah mereka lagi dan bekerja bersama lagi.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Yan Sa menanyakan karena melihat Riri sedang berfikir.
"Tidak, aku hanya merasa takut dan ngeri saja. Karena banyak diberitakan kalau pesawat banyak yang mengalami masalah selama penerbangan, bagaimana kalau nanti tiba - tiba sayapnya terbakar? Aku tak bisa berenang kalau harus terjun ke lautan lepas, dan aku juga tak punya ilmu peringan tubuh jika jatuh terhempas ketanah." Riri berkata dengan menunjukkan mimik wajah takutnya, dan terlihat jelas Riri sedang menyesali keputusannya untuk mengikuti Yan Sa orang yang baru saja dikenalnya.
Sun yang ada disamping Riri menatap Riri dan tersenyum karena merasa kalau Riri sangat lucu diusianya yang terbilang sudah bukan anak kecil lagi. Dan mengetahui kalau dirinya ditertawakan oleh Sun Riri merasa kesal, dengan cepat Riri memukul Sun yang duduk disebelah kanannya.
"Aduh." Sun yang merasa kaget langsung terpekik karena mendapatkan pukulan yang tiba - tiba dari Riri.
"Kalian kenapa?" Yan Sa menatap Sun
"Maaf pak tidak ada." Sun menjawab dengan cepat.
"Sun, katakan pada ku siapa nama mu. Kenapa cuma dipanggil dengan nama Sun saja." Riri bertanya dan menghadap Sun.
"Nama mu bagus, apakah orang - orang sana selalu terlihat cantik seperti ini?" Riri mencubit pipi Sun dan itu membuat Sun jadi salah tingkah.
"Diam lah, apakah kau tak bisa diam? Bukankah tadi kau masih merasa takut, kenapa sekarang sudah banyak bicara saja." Yan Sa memutar tubuh Riri dan menghadap depan.
"Kenapa menatap ku seperti itu, tidurlah nanti kalau sudah sampai aku beritahu" Yan Sa memasangkan selimut pada Riri dan menyandarkan kepala Riri.
"Baiklah aku tidur, aku mau ikut dengan kalian dan percaya pada kalian karena kalian memiliki foto ibuku dan pria itu. Dan juga semua teman ku bilang kalau kalian adalah orang - orang utusan dari rumah sakit pusat. Jadi awas kalau sampai kalian menjual ku." Riri berkata dan mulai bersandar sambil menutup matanya.
Setelah menempuh jarak kurang lebih 6 jam akhirnya Riri dan Yan Sa sampai juga di kota tujuan mereka yaitu Shanghai. Yan Sa yang melihat Riri tertidur pulas tak jadi membangunkannya dan dia memilih menggendong Riri dengan lembut alah tuan putri.
"Maaf tuan apa ada malah dengan dia?" tanya seorang pramugari yang melihat Yan Sa menggendong Riri untuk turun.
__ADS_1
"Tidak, dia hanya tertidur karena lelah." Yan Sa menjawab dengan cepat.
Setelah terguncang didalam mobil selama perjalannya akhirnya Riri terbangun dan dia melihat sekeliling yang ternyata adalah sebuah jalanan yang padat. "Eh kita sudah sampai? Kenapa tak membangunkan ku, dan bagiamana aku bisa berada di mobil ini." Riri bertanya dengan bingung.
"Aku membawamu." Yan Sa menjawab dengan cepat sambil membaca sebuah berkas.
...💮💮💮...
"Masuklah kita sudah sampai." Yan Sa menyuruh Riri masuk kedalam rumah yang terlihat sangat besar.
Perlahan Riri memasuki rumah itu dan dia merasa terpukau dengan bangunan rumah yang terlihat sangat bagus dan sama seperti di drama - drama yang sering dia tonton. Riri tersenyum pada beberapa orang yang menyambutnya datang, lebih tepatnya menyambut kedatangan Yan Sa yang merupakan tuan rumah dari rumah besar itu.
Setelah ditunjukkan dan diperkenalkan dengan semua orang Riri pun beristirahat di sebuah kamar yang bisa dibilang cukup besar. Riri melihat keluar jendela itu dan dia mulai mengkhayalkan sesuatu yang tak mungkin lagi.
"Altha, akankah dia juga ada di sini? Dibagian kota ini? Akankah dia juga ada hubungannya dengan ku?" Riri bergumam sendiri dan tersenyum kecut.
Sudah 1 minggu Riri tinggal di rumah Yan Sa dan semua orang memperlakukan Riri dengan sangat baik, Riri ketemu dengan Yan Sa hanya pagi hari saat sarapan dan malam hari menjelang tidur. Yan Sa selalu bekerja pagi dan pulang saat hampir tengah malam, dan semua itu berlangsung selama seminggu. Yan Sa terlihat sangat sibuk setiap harinya.
"Apakah non Riri mau jalan - jalan? Saya bisa menemani anda jalan - jalan." Sun berkata pada Riri yang terlihat bosan duduk didalam kamarnya.
"Boleh, ayo kita jalan - jalan. Tapi dimana Yan, eh kak Yan." Riri bertanya dengan tersenyum menatap Sun yang berdiri diambang pintu kamarnya.
"Pak Yann sedang ada pertemuan dengan bos." Sun menjawab dengan senyumannya.
...💮💮💮...
Pagi itu diakhir pekan Riri pergi jalan - jalan keluar bersama dengan Sung Li, Riri pergi ke sebuah galeri dan dia melihat banyak lukisan dan foto jaman dulu. Riri menatap sebuah foto dengan tema kerajaan dan Riri menatap lama pada foto itu, karena dia teringat akan dunia yang pernah dia kunjungi tanpa sengaja.
Sung Li menatap Riri dengan bingung, karena Riri yang tadinya sangat ceria dan banyak bicara tiba - tiba saja jadi diam dan murung saat dia menatap foto yang bertema kerajaan jaman dahulu. "Kenapa non, apa ada yang membuat anda tertarik atau teringat akan gambar foto ini?" tanya Sun pada Riri
"Tidak ada, aku hanya merindukan seseorang saja saat melihat foto ini. Dia adalah orang yang sangat berarti bagiku, dan sangat aku rindukan. Namun rasa rindu ini tak akan pernah sampai." Riri menjawab dan tiba - tiba meneteskan air matanya.
__ADS_1
Bagai pungguk yang merindukan bulan itulah rasa rindu Riri pada Altha yang tak akan pernah sampai karena rasa rindu Riri padanya hanya akan menjadi rindu yang tak sampai. Setelah menyadari akan hal itu Riri langsung merubah ekspresi wajahnya dan tersenyum menatap Sung Li.
"Ayo pergi ketempat lain, karena masih banyak yang ingin aku lihat selama aku berada di sini." Riri menarik Sung Li pergi dan keluar dari galeri itu.