
Dengan rasa kesal putri Ye pergi meninggalkan kamar Riri, dia berjalan dengan penuh amarah dihatinya karena kalau bukan permintaan dari pangeran kedua dia tak akan mau melakukan semuanya, namun sekarang peran putri Yong sangat didalaminya dan mulai membuat putri Ye merasa dia harus bisa mendapatkan hati dua pangeran sekaligus untuk kejayaannya sendiri.
"Kenapa wajahmu begitu murung? Apa karena ditolak kakak Altha lagi? Aku sudah pernah bilang pada mu untuk melakukannya dengan pelan - pelan saja karena semakin kamu memaksa maka kak Altha akan semakin menolak mu." pangeran kedua yang dari tadi sudah menunggu didalam kamar putri Ye langsung menegur begitu melihat putri Ye masuk kedalam kamarnya dengan raut wajah ditekuk.
"Pangeran kedua." putri Ye terlihat sangat senang melihat orang yang disukainya menantikannya.
"Kalian pergilah dan jangan ganggu aku." ucap putri Ye kepada dua pelayannya
"Kenapa datang tak memberi kabar, apa pangeran kedua melihatnya tadi?" putri Ye melangkah mendekati pangeran kedua.
"Jangan main - main didepan ku, apa kau pikir aku tak tau apa yang sedang kau pikirkan sekarang? Dengarkan aku, kau hanya boleh memikirkan aku dan tak boleh memikirkan orang lain, dan kau datang kemari hanya untuk bekerja pada ku apa kau mengerti?" pangeran kedua mengingatkan pada putri Ye kalau keberadaannya di istana pangeran Altha hanyalah untuk menjadi mata - matanya.
"Jangan marah, aku memang hanya menyukai kakak saja." putriΒ Ye merayu pangeran kedua dan mereka menghabiskan malam bersama yang sudah sering mereka lakukan berdua didalam istana pangeran Altha ini.
"Selamat pagi pangeran, apa Hari ini pangeran akan pergi ke pertemuan istana lagi?" Yorgun yang sudah datang dari pagi menunggu didepan kamar Riri karena dia tau kalau majikannya itu akan selalu menghabiskan malam dikamar Riri.
"Aku harus hadir karena aku ingin meyakinkan pada ayahanda kalau aku tak membutuhkan selir atau yang lainnya saat aku sudah memiliki Riri sebagai istriku" dengan langka pasti dan juga keyakinan didalam hati mengenai perasaannya pada Riri Altha tak ingin lagi mundur dan menutupi semua kegelisahannya selama ini.
Altha melangkah meninggalkan istananya dan menuju ke istana kerajaan bersama dengan putri Ye, dalam perjalanannya itu Altha banyak mendengar kalau orang - orang sedang menanyakan tentang keberadaan putri Yourina yang mereka sebut sebagai tabib tangan ajaib.
"Dimanakah sebenarnya tabib tangan ajaib, kenapa pangeran mau mengangkat selir?"
"Sst, aku dengar itu adalah jodoh yang ditetapkan dan ini pernikahan politik untuk memperkuat kedudukan pangeran Altha yang akan menjadi putra mahkota."
"Tapi bukankah dia adalah komandan perang yang hebat, aku yakin tanpa itu semua dia pasti bisa menangani semuanya."
"Benar, apa lagi disisinya ada tabib tangan ajaib. Tapi kenapa sekarang tak pernah terlihat?"
Kasak kusuk warga membuat putri Ye yang mengikuti perjalanan Altha ke istana kerajaan merasa kesal. Didalam hati kecil putri Ye dia memiliki rasa iri dengan Riri yang banyak dikenal orang dan juga dipuja oleh banyak warga.
__ADS_1
...πππ...
"Pangeran pertama Altha dan putri Ye Rin hadir." teriak seorang pengawal yang meneriakkan nama Altha dan Ye Rin dengan lantang.
Suasana ruang rapat sangat ramai karena semua orang sudah hadir di sana dan tinggal Altha yang datang terlambat. Tanpa sengaja Altha melirik pada Ye Rin yang berjalan disampingnya.
"Yang mulia maaf hamba terlambat." Altha memberikan hormat kepada ayahnya.
"Baiklah ayo kita mulai rapat kali ini, karena semuanya sudah lengkap." raja berkata dengan lantang.
"Yang mulia raja, saya melaporkan kalau hasil pertanian di daerah barat sekarang sangat lah bagus dan aku dengar sekarang orang - orang disana sangat makmur, mereka juga mengatakan kalau masalah pengobatan dan yang lainnya mereka tak lagi memusingkan karena sudah ada seorang tabib pendatang yang bisa membantu mereka dalam menangani maslah kesehatan dengan sangat baik." lapor Mentri Chu Liu yang berasal dari perbatasan daerah barat.
"Hem, apakah itu artinya masalah di sana sudah teratasi? Kalau begitu untuk daerah barat kita hanya perlu memantau secara berkala saja. Bagai mana dengan laporan untuk mu Mentri Ye apa kah ada masalah atau semua baik?" raja membahas setiap daerah yang menjadi kekuasaan kerajaannya.
Semua orang yang hadir telah melaporkan semua permasalahan mereka dan juga perkembangan dari kepemimpinan mereka, dan dari semua yang berada dibawah kepemimpinan pangeran Altha tak ada masalah karena semuanya telah teratasi serta semua penduduknya mendapatkan hak mereka secara merata tanpa ada yang berselisih.
"Semua yang ada dibawah pengawasan dari pangeran pertama selalu saja baik ya"
"Hem, dia pasti akan bisa menjadi pimpinan yang baik nantinya, walau terlihat dingin dan kejam."
kasak kusuk para Mentri dan juga para hadirin yang hadir di ruang rapat itu hampir semuanya memuji kehebatan dari pangeran Altha.
"Baik, semuanya tak ada masalah dan hanya daerah dibagian timur saja yang mengalami sedikit kesenjangan dan kita akan mengatasinya nanti untuk mendengarkan keluhan dari mereka." jawab raja setelah mendengar semua laporan dari perwakilan daerah masing - masing.
"Pangeran Altha, bagaimana sekarang urusan mu apa kah kau sudah mengambil keputusan untuk acara pernikahan mu dengan putri Ye? Dan aku juga dengar kalau putri mahkota pergi dari istana." raja menatap pangeran Altha yang duduk tak jauh dari tempat raja duduk.
Pangeran Altha bangun dan berjalan menghadap tepat dihadapan raja, sebelum menjawab pangeran Altha memberikan hormat terlebih dahulu lalu menatap raja dengan tatapan yang sulit untuk diartikan oleh raja.
"Sebelum menjawab hamba memohon maaf, raja ingin mendengarkan jawaban yang mana? Apakah raja ingin dengar jawab dari seorang prajurit yang ditinggalkan oleh istrinya atau seorang suami yang kehilangan istrinya?" pangeran Altha berdiri menatap tepat pada yang mulia raja yang merupakan ayahnya.
__ADS_1
Semua orang yang ada diruangan itu kembali berkasak kusuk dengan jawaban yang mulia pangeran yang malah memberikan pertanyaan bukannya langsung menjawab. Dan raja sendiri juga merasa sulit harus menjawab pertanyaan pangeran Altha.
"Apa kah yang mulia tak bisa menjawab karena bingung? Begitu juga dengan hamba yang mulia, hamba juga bingung harus berbuat apa atas rasa sesak dalam dada hamba yang begitu merindukan istri hamba, rasanya ingin sekali lepas dari segala tugas dan pergi mencari istri hamba serta menjelaskan kesalahpahaman diantara kami." sambung pangeran Altha kemudian setelah menunggu lama tak ada jawaban dari ayahnya.
"Maaf yang mulia raja dan pangeran Altha, jika anda memiliki cinta mati pada putri Yourina kenapa anda tak bisa memberikan sedikit rasa cinta itu kepada putri saya. Apa yang akan terjadi jika sampai putri kami kembali kerumah, siapa yang akan mau menikahinya? Tolong yang mulia memberikan solusi dan tolong pangeran Altha untuk sedikit memandang dan memberi muka pada keluarga kami." Mentri Ye maju dan menghadap raja dengan meminta keadilan atas putrinya.
"Aku tak pernah meminta selir dan juga tak pernah terpikir untuk menambah istri, harusnya sebelum memutuskan segala sesuatunya pikirkan dulu dan setidaknya bertanya dulu pendapat dari putri anda. Jadi untuk masalah ini aku tak memiliki solusi karena aku sudah pusing dengan segala urusan negara dan juga yang lainnya." jawab Altha dengan dingin tanpa melihat Mentri Ye.
"Yang mulia raja tolong berikan solusi kepada keluarga dan juga putri kami, karena yang mengundang putri kami juga adalah putri mahkota sendiri untuk mendekatkan diri dengan pangeran mahkota Altha." menteri Ye memohon kepada raja.
"Maaf yang mulia, jika memang putri Ye ingin tinggal di istana silakan saja, namun hamba tak bisa memberikannya setatus apa pun padanya, dan tolong jangan memaksa hamba lagi karena hamba sudah tak sanggup lagi. Hamba mohon diri." pangeran Altha menjawab dengan memberikan jalan buntu kepada ayahnya atas permasalahan putri Ye.
"Pangeran Altha aku dengar ada kabar diperbatasan dan katanya ada permasalahan yang genting, ku rasa pangeran Altha tau akan hal itu. Kalau sampai kerajaan lain tau bahwa putra mahkota dari kerajaan ini tak memiliki seorang istri pun atau keturunan apa yang akan dilakukan oleh mereka terhadap kerajaan ini. Pangeran sebagai putra mahkota pasti sangat tau akan hal itu bukan?" pangeran kedua membuka mulut dan mengingatkan akan syarat untuk menjadi putra mahkota adalah paling tidak harus memiliki keturunan, sedangkan pangeran Altha yang sudah diangkat sebagai putra mahkota ini belum memiliki keturunan, itu sebabnya pelantikannya masih ditunda dan panggilannya juga hanya orang - orang tertentu saja yang memanggilnya sebagai putra mahkota.
"Untuk itu pangeran kedua tak perlu cemas, karena sebentar lagi aku akan pergi menemukan istriku dan akan membuatnya hamil serta melahirkan anak - anak ku." pangeran Altha menjawab dengan nada kesal lalu melangkah pergi meninggalkan ruang rapat.
"Pangeran apa yang terjadi dipertemuan itu? Dan sekarang kita harus kemana?" Yorgun yang dari tadi menunggu Altha bertanya dengan cemas karena melihat Altha keluar dengan raut wajah marah serta keluar seorang diri tanpa putri Ye.
"Kita pergi mencari keberadaan Riri." jawab Altha langsung dan pergi meninggalkan istana kerajaan.
"Pergi ke kediaman bilang pada Yu Wan dan Jiu Li untuk berjaga di sana." perintah Altha pada Yorgun dan dengan cepat Yorgun menyampaikan pesan itu kepada bawahan Altha yang menjadi dayang Riri.
Altha berusaha dengan segala kemampuannya untuk mencari dan menemukan keberadaan Riri, dia pergi dengan menjalankan tugasnya untuk menyelidiki langsung masalah yang sedang berhubungan dengan perbatasan.
...πππ...
"Yaris, Yorgun." Altha memanggil kedua orang kepercayaannya yang berada disisinya, walau Altha baru mempercayai Yaris yang lebih berpihak pada Riri dari pada dirinya.
"Kalian pergilah cari informasi sekecil apa pun karena aku ingin bisa secepatnya menemukan dia." Altha memerintahkan kepada dua orang kepercayaannya itu untuk mencari keberadaan Riri.
__ADS_1
Dalam penginapan itu Altha sengaja tak membawah banyak pengawal hanya ada Jiyang yang menemaninya disisinya, sedangkan Yorgun dan Yaris pergi entah kemana yang akan datang hanya dipanggil oleh Altha.
Pagi itu tanpa diminta oleh Altha Jiyang berinisiatif mencari Riri dengan bertanya pada warga setempat yang mungkin ada yang pernah melihat atau bertemu dengan Riri walau hanya sekedar berpapasan saja.