Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Penculikan


__ADS_3

Disaat semua orang sedang berkumpul ada seseorang yang masuk kedalam tenda penyimpanan senjata dan baju jirah para pasukan, dan orang itu terlihat sedang memberikan sesuatu pada baju - baju jirah dan juga senjata yang tersimpan didalam tenda itu.


"Tuan Yaris kenapa ada di sini? Tidak ikut kumpul bersama dengan yang lainnya?" tanya salah seorang prajurit yang melihat Yaris sedang duduk didekat tenda senjata.


"Tidak ada, kembalilah pada yang lain." ucap Yaris dengan santai yang sedang duduk bersandar disebuah pohon.


"Baik, kalau begitu saya kembali gabung dengan yang lain." prajurit itu pun kembali bergabung dengan teman - temannya yang lain.


"Pasukan bantuan akan datang menyusul pangeran, maaf kami datang duluan lebih awal karena kami merasa khawatir sama putri Yourina." putri Sui mengatakan langsung pada Altha kenapa dia dan kakaknya tiba lebih awal sementara prajuritnya tak bersama dengan mereka.


Mendengar pernyataan dari putri Sui, Altha merasa aneh karena sepertinya kerajaan selatan hanya memfokuskan untuk melindungi Riri saja. Dan perbincangan itu pun mulai masuk dalam perencanaan dan kesiapan dari para prajurit untuk berperang.


...🍁🍁🍁...


"Yang mulia utusan yang dikirim kerajaan selatan telah tiba." ucap Baron pada raja Gusang


"Hm, suruh dia masuk." jawab raja Gusang dengan raut wajah senang.


"Maaf yang mulia saya baru sampai, raja Ho memberikan surat balasan, itu sebabnya saya menunggu sampai beliau selesai menuliskan surat balasannya." utusan itu memberikan surat kepada raja Gusang, setelah memberitahu alasan dia datang terlambat.


Setelah raja Gusang melihat dan membaca surat itu dia mengerti dan langsung mengutus seseorang untuk segerah mungkin menyalahkan kembang api sebagai jawaban dari persetujuan agar tak memakan waktu lagi untuk memberikan jawaban melalui utusan, karena perjalanan dari kerajaan timur ke kerajaan selatan memakan waktu 3 sampai 4 hari lamanya.


"Apakah sudah dinyalakan?" raja Gusang bertanya dengan cas pada Baron.


"Sudah yang mulia dan pihak mereka juga sudah membalas dengan menyalakan kembang api." Baron menjawab dengan cepat.


"Syukur lah, semoga mereka semua akan berhasil. Walau aku sebenarnya tak mengharapkan peperangan ini, karena ini terlihat seperti peperangan antar saudara meski dari kedua belah pihak bukanlah bersaudara namun diantara mereka ada Choi Yong." raja Gusang terlihat sedih dan menghela nafas dalam.


Baron yang berdiri disebelahnya tak bisa berbuat apa pun, dia hanya diam menatap raja Gusang dengan sedih dan juga gelisah. Baron seolah sedang ditempatkan diantara dua pilihan yang sulit bagi dirinya.


"Maafkan hamba yang mulia raja." ucap Baron yang tiba - tiba dan hal itu membuat raja Gusang merasa kaget serta menatap Baron dengan aneh.


"Apa yang kau katakan, dan kenapa kau meminta maaf dengan cara yang formal seperti itu. Itu terlihat seperti bukan dirimu saja." Raja Gusang tersenyum pada Baron "Sudahlah kita hanya bisa memberikan dukungan kepada kerajaan kita, semoga Altha bisa melakukannya dengan baik agar rakyat tak merasa susah." raja Gusang menepuk bahu Baron dan berjalan keluar dari ruang bacanya.

__ADS_1


"Pangeran pasti bisa mengatasi semuanya dengan baik." ucap Baron dan menunduk


"Ya, aku memiliki keyakinan pada Altha." Raja Gusang tersenyum lagi.


"Yang mulia, yang mulia ada masalah, pasukan barat menyerang tiba - tiba kedua titik serang dan salah satunya ke perbatasan daerah selatan." teriak pangeran Jang Yong dengan lari terburu - buru.


"Apa?!" Baron sangat terkejud mendengar kabar itu dan tubuhnya gemetar.


"Tidak mungkin, bagaimana bisa seperti itu. Kita saja baru saja saling memberi sinyal dengan kerajaan selatan dan pasti bala bantuan belum dikirimkan, kita kalah pasukan walau Altha mampu untuk mengatasi semuanya namun tidak mungkin dia akan bisa bertahan." raja Gusang terlihat sangat khawatir dan juga bingung.


"Itu dia, aku baru saja menerima pesan dari utusan di perbatasan selatan dan mereka sedang berperang dadakan. Sekarang bagaimana? Haruskah kita mengirimkan sisa pasukan yang ada di sini untuk pergi kesana? Ataukah pergi membantu Altha?" Jang Yong terlihat sangat bingung dengan situasi yang datang secara mendadak saat ini.


"Baron, menurut mu bagaiman?" raja Gusang bertanya pada Baron, namun Baron telah tenggelam dalam lamunannya sendiri "Baron, Baron." raja Gusang melihat aneh pada sikap Baron hari ini.


"Hey Baron, apa yang kau pikirkan dalam situasi yang genting ini.!" teriak pangeran Jang Yong dengan kesal pada Baron yang hanya berdiri mematung.


"Oh, maaf yang mulia, maaf Pangerang Jang. Saya sedang berfikir apa yang harus dilakukan dan semoga tak ada apa - apa dengan pangeran Altha serta pasukannya." jawab Baron seketika dengan suara bergetar.


"Kau kenapa Baron, ku perhatikan dari tadi sikapmu sangat aneh. Kau seperti sedang menyimpan sesuatu yang sangat berat." Raja Gusang bertanya dengan penasaran, dan pangeran Jang Yong juga menatap Baron.


Setelah melalui perundingan dengan para petinggi raja Gusang memutuskan untuk mengirimkan sisa pasukan yang ada di kerajaan itu kepada perbatasan selatan untuk membantu mereka yang ada disana karena Altha sedang ada di perbatasan barat. Raja Gusang terlihat sangat cemas dan dia tak tenang.


"Bagaimana bisa hal itu datang pada saat ini." gumam Baron dalam hati. "Apa yang harus aku lakukan pada saat seperti ini, haruskan aku ikut datang dan membantu pangeran Altha atau kah aku harus berdiam diri seperti sekarang ini. Tapi jika aku pergi bagaimana dengan raja, dia tak akan ada yang melindungi jika sampai terjadi sesuatu atau penyerangan di istana kerajaan."


Baron terlihat sangat cemas sama cemasnya dengan raja Gusang, namun didalam hati terdalamnya Baron begitu takut kalau ada apa - apa dengan pangeran Altha, dan dia berfikir jika sampai terjadi sesuatu dengan pangeran Altha maka Baron tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Kenapa aku memilih kelemahan ini, kenapa? Kenapa semuanya muncul pada saat seperti ini." Baron terus saja merutuki dirinya sendiri.


...🍁🍁🍁...


"Pangeran, tiba - tiba pasukan kerajaan barat datang menyerang dari dia arah,ereka.juga menyerang di perbatasan selatan pada saat ini." ucap seorang prajurit yang sedang berjaga di daerah perbatasan desa.


"Kenapa mereka datang sekarang? Sepertinya ada yang aneh, biasanya mereka dengan percaya diri meneriakkan soal peperangan kenapa sekarang tiba - tiba saja datang menyerang begitu cepat, dan juga kenapa titik serangnya jadi berubah jadi 2 arah. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi dan mereka tak ingin menyia - nyiakan kesempatan." Riri berfikir kalau hal ini agak aneh dan mendadak.

__ADS_1


"Semuanya bersiap lah, kita hadapi mereka. Karena kita selalu siap dengan keadaan apa pun." teriak Altha seketika memerintahkan para prajurit untuk bersiap.


"Baik pangeran" para prajurit pun bersiap - siap, mereka mengenakan baju jirah mereka semua dan mengambil senjata mereka masing - masing.


"Aku akan menjaga tuan putri di sini" ucap putri Sui yang selalu menunjukkan respeknya pada Riri.


"Kau harus menjaganya dengan baik, jangan sampai ada apa - apa dengan dirinya." ucap putri Sun


"Baiklah terima kasih" ucap Altha dan membawah Riri masuk kedalam tenda mereka.


"Kali ini aku akan kembali lagi kepadamu, jangan jauh - jauh dari Yaris karena aku akan membawah Jiyang dan Yodon bersama dengan ku, sebab Yorgun akan memimpin pasukan di perbatasan selatan." Altha berkata dan memeluk Riri.


"Kau harus kembali dan jangan mengkhawatirkan aku, aku pasti akan menjaga diri dengan baik sampai kamu kemabli lagi, jadi datanglah lagi kau mengerti." Riri berkata seolah dia tak akan bertemu dengan Altha.


"Pasti, aku akan selalu kembali padamu permaisuriku. Aku mencintai mu." Altha mencium Riri dan memeluk erat tubuh Riri seakan - akan dia akan kehilangan Riri kali ini.


"Pergilah, mereka sudah menunggumu." Riri mendorong Altha dan Altha langsung pergi memimpin para pasukannya.


Tak lama Altha pergi barak juga diserang, Riri selalu berada diantara putri Sui dan Yaris yang menjaga dan melindunginya, namu dari pola penyerangan seolah target mereka adalah Riri karena mereka selalu mengacu kemana gerakan Riri.


"Tuan putri awas" Yaris dengan cepat menangkis pedang yang hampir melukai Riri, namun hal itu hanyalah sebuah pancingan saja untuk melumpuhkan penjagaan terhadap Riri, karena dari sisi kanan dan belakang langsung ada penyerang yang menyerang Yaris sehingga Yaris jatuh dihadapan Riri.


"Tuan putri." Putri Sui yang melihat hal itu dia langsung lari dan membantu Yaris, begitu juga dengan Riri dia langsung mengangkat pedang yang tadi dibawah oleh Yaris.


"Kalian." dalam keadaan terluka Yaris terus saja berusaha untuk melawan dan melindungi Riri.


"Yaris jangan. Kau sudah terluka parah." Riri menahan tubuh Yaris dan mulai menangis melihat keadaan Yaris yang mengeluarkan banyak darah.


"Jangan khawatir aku akan menjagamu." ucap Yaris dengan tersenyum.


"Tidak, jangan lakukan lagi." Riri memeluk erat tubuh Yaris dan mulai melawan orang - orang yang datang menyerang.


"Kenapa mereka terlihat seperti menghindari tuan putri." Yaris mengamati pola serangan mereka saat menghadapi Riri.

__ADS_1


"Ah, tidak Yaris." Tiba - tiba ada orang yang menarik Riri disaat Yaris lengah.


"Tuan putri." Yaris telah jatuh pingsan karena tak tahan sudah mengeluarkan banyak darah dan mendapatkan tusukan lagi dari arah belakang.


__ADS_2