
"Pak, anda sudah di sini?" ucap tamu Riri saat membuka pintu rumah Riri dan telah menemukan kalau atasannya sudah berdiri tepat didepan pintu rumah itu.
"Ya aku sudah di sini." jawab orang itu
"Silakan masuk pak." tamu Riri mempersilakan atasannya untuk masuk kedalam rumah.
"Apa dia ada di rumah?" tanya atasannya
"Iya nona ada didalam pak." tamu Riri menjawab dengan sopan.
"Tadi kau bilang dia tak ada kemana?" Atasan tamu Riri.
"Tadi nona sedang keluar untuk belanja pak." tamu Riri
"Dia baik - baik saja?" atasan tamu Riri
"Iya pak, nona baik - baik saja, bahkan senyum nona sangat menarik pak." jawab tamu Riri dengan senyuman.
Riri yang dari dapur bisa mendengar kalau tamunya tak jadi pergi dan sedang berbicara dengan seseorang Riri merasa penasaran dan bertanya, "Siapa yang datang?" Riri dari arah dapur bertanya. "Tuan siapa yang..." kata - kata Riri tercekal dan snack yang dia bawah jatuh berantakan saat dia melihat orang yang berdiri didepannya. Riri merasakan kakinya lemas dan langsung terjatuh.
"Kau kenapa? Apa ada yang sakit? Kau tak apa? Hai, kenapa?" tanya atasan tamu Riri dengan panik melihat Riri yang tiba - tiba saja terjatuh kelantai dan lemas dengan tatapan tajam pada dirinya
"Sun kau bilang dia baik - baik saja tadi, bagaimana kau menjaganya?! Kenapa kau membiarkannya bekerja saat ada kau di sini!" teriak orang itu dan membuat bawahannya merasa takut.
"Bereskan dan bersihkan semuanya" perintahnya dan membantu Riri untuk bangun dan duduk di sofa. "Apakah ada yang sakit? Bagian mana yang kau rasakan sakit? Perlukah kita ke rumah sakit?" orang itu bertanya dan melihat tubuh Riri dan menatap Riri bingung.
"Aneh, tadi masih baik - baik saja dan bersemangat, kenapa begitu bertemu dengan bos dia jadi lemas dan tak berdaya begitu?" Sun bergumam dalam hati melihat Riri sambil membereskan snack yang tadi jatuh berantakan
"Apakah ini benar nyata?" gumam Riri menatap orang yang ada didepannya dan mengusap wajah orang itu dengan kedua tangannya.
"Iya, ini nyata. Maaf aku baru datang sekarang, seharusnya aku datang dari dulu untuk menemui mu, maafkan aku." jawab orang itu dan menangkap kedua tangan Riri yang sedang mengusap wajahnya.
"Kau benar - benar nyata, akankah dia juga nyata? Bisakah aku melihatnya juga?" Riri berkata dan terus menatap terpukau pada wajah yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Apa?" orang itu merasa bingung dengan sikap Riri yang terlihat seolah pernah bertemu dengan dirinya.
"Bolehkah aku memelukmu?" tanya Riri dengan tatapan sedih.
"Ya tentu." jawab orang itu dan Riri langsung memeluk dengan sangat erat pada orang itu, sehingga membuat orang itu semakin bingung.
Perlahan Riri menangis dan merasakan sesak dalam dadanya. Orang itu merasa heran dan juga bingung, bahkan banyak pertanyaan didalam hatinya kenapa Riri bersikap seperti itu padanya yang baru saja dia temui hari ini.
"Yaris." gumam Riri liri sambil menangis tersedu - sedu dalam pelukan orang itu.
"Apa?" orang itu merasa kaget dan aneh, saat dia ingin mengurai pelukannya dengan Riri, tiba - tiba Riri semakin erat memeluknya dan tangisnya menjadi, tubuh Riri yang bergetar dan tangis yang semakin pecah membuat orang itu merasakan rasa sakit, sehingga dia ikut memeluk tubuh Riri yang bergetar dalam pelukannya dengan erat.
"Eh, apa yang terjadi, hei." orang itu kaget karena tubuh Riri tiba - tiba melemas dan tangisnya berhenti yang ternyata Riri jatuh pingsan karena tekanan dalam jantungnya membuat dia jatuh pingsan.
*Sun, bawah mobil kita ke rumah sakit sekarang." orang itu mengangkat tubuh Riri yang pingsan dan dengan cepat membawah Riri ke parkiran mobil.
...💮💮💮...
"Dokter tolong" orang itu menggendong Riri dan berteriak dengan panik
"Apa yang terjadi, kenapa dia bisa pingsan?" tanya Maria yang waktu itu jaga malam
"Maaf tak tau dia tiba - tiba pingsan." jawab orang itu.
Setelah dilakukan pemeriksaan dan tak didapati bahaya semua teman Riri merasa tenang, "Dia tak apa, mungkin ada sesuatu yang membuat dia kaget sehingga dia mendapatkan tekanan yang kuat dan pingsan, semuanya baik - baik saja. Sebentar lagi dia akan segerah sadar" jelas Dokter dan semuanya merasa lega.
"Kenapa tubuhmu begitu lemah, bagaimana bisa aku meninggalkanmu kalau seperti ini." orang itu menunggu Riri dan duduk disampingnya Riri sambil menggenggam tangan Riri.
"Hei aku dengar Riri masuk rumah sakit lagi, ada apa dengannya?" Anisa bertanya pada bagian UGD
"Apa ada urusannya dengan mu." jawab Subagio dengan sewot
"Uh, aku cuma tanya." Anisa berkata dengan kesal.
__ADS_1
"Wah siapa ya pria itu? Dia dari tadi menunggui Riri dan menggenggam tangan Riri." perawat 1
"Loh, kamu masak lupa, dia bukannya salah satu orang yang kemaren datang bersama dengan para wakil dari rumah sakit pusat." perawat 2
"Oh, benarkah?" perawat 1
Mendengar itu Anisa merasa penasaran dan dia langsung masuk ke UGD dan melihat sekeliling untuk mencari Riri, dan setelah dia menemukan Riri dia merasa kaget dan tak suka melihat Riri yang diperlakukan dengan baik dan lembut oleh orang itu, yang sebenarnya dia taksir sejak pertama kali bertemu.
"Hati - hati, apa masih merasakan ada yang sakit?" tanya orang itu membantu Riri untuk duduk saat Riri telah sadarkan diri.
"Tidak, terima kasih. Anda siapa?" Riri bertanya dengan bingung dan tak percaya kalau dia bisa melihat wajah Yaris dengan versi modern dengan stelan jas hitam dan hem putih.
"Apa aku membuat mu kaget? Aku Yan Sa, Chang Yan Sa." jawab Yan Sa dan tersenyum menatap Riri.
"Chang Yan Sa." Riri mengulangi lagi nama yang disebutkan oleh Yan Sa.
"Iya, aku adalah putra angkat dari tuan Chang Jang Sa, ayah mu." Yan Sa berkata dengan lembut pada Riri. Dan Riri menatap tak percaya dengan wajah yang begitu mirip dengan Yaris.
Yan Sa merasa aneh dengan tindakan Riri yang selalu memegang wajahnya, namun Yan Sa tak menolak dan dia tersenyum menatap Riri. Yan Sa tak mengerti kenapa sejak bertemu dengannya Riri terus menatapnya dengan dalam dan mengusap wajahnya seolah Riri begitu mengenal wajahnya, tapi Yan Sa hanya bisa diam menerima perlakuan Riri tanpa bertanya apa pun, karena Yan Sa takut kalau akan menyinggung perasaan Riri. Sebab Yan Sa melihat perlakuan Riri kepadanya bukan bentuk rasa benci melainkan seolah ada tatapan rindu dalam pandangan mata Riri.
"Aku harus memanggil apa?" Riri bertanya
Yan Sa tersenyum lagi dan memegang tangan Riri yang mengusap wajahnya lalu menggenggamnya dengan erat, "Aku tak tau kalau di sini, tapi aku adalah kakak. Kamu bisa memanggil ku Yan Sa oppa." Yan Sa berkata dengan lembut.
Riri tersenyum mendengar kalimat itu dan Riri tertunduk karena dia merasa lucu, dan Riri teringat akan kenangan yang indah yang telah dia habiskan dan lewatkan bersama dengan Yaris dan yang lainnya yang ada didalam ingatannya, dan selalu meminta untuk memanggilnya kakak karena dia merasa lebih tuan dari Yaris dan yang lainnya.
Deg
Yan Sa menatap Riri yang tersenyum dengan sangat tulus membuat dia memiliki perasaan yang aneh, Yan Sa merasakan getaran dalam hatinya dan memiliki perasaan ingin menjaga dan melindunginya dan tak ingin melepaskannya.
"Ikutlah dengan ku dan kita akan tinggal bersama selamanya" Yan Sa berkata dengan serius.
"Tapi pekerjaan ku berada di sini dan makam ibuku juga ada di sini. Dan di Indonesia seorang kakak akan dipanggil dengan sebutan kakak atau mas, abang dan sebagainya." Riri berkata dengan riang, karena dia telah berhasil menguasai rasa terkejutnya melihat wajah yang mirip dengan Yaris dalam ingatannya.
__ADS_1
"Ya terserah kamu saja. Apa pun itu yang penting kamu suka dan senang" Yan Sa berkata dengan pasrah.
"Apa - apaan mereka itu, bikin jijik saja, haruskah mereka bermesraan di rumah sakit." Anisa berkata dengan kesal menatap kedekatan Riri dan Yan Sa yang terlihat sangat dekat.