
Setelah 2 minggu dirawat di rumah sakit akhirnya Riri sudah bisa pulang ke rumah, namun karena apartemennya mengalami kebakaran dan telah mendapatkan ganti dengan apartemen yang baru Riri pun pulang dengan diantar Maria, Mirna dan Tika ke alamat apartemennya yang baru. Setelah melapor pada satpam yang berjaga dan mendapatkan nomer rumahnya Riri dan teman - temannya berjalan menuju ke rumah Riri yang baru.
"Ya rumahnya masih kosong." Maria berkata saat dia masuk kedalam rumah itu.
"Iya besok saja mbak baru belanja, terima kasih sudah mengantar." Riri berkata dengan senyuman pada teman - temannya.
"Tidak mau kami temani? Yakin kamu mau sendirian?" Maria bertanya dengan rasa khawatir.
"Tidak usah mbak, kan mbak Ria lagi jaga dan Tika juga, lalu Mirna sudah ditungguin sama suaminya. Aku bisa sendiri kok mbak, nanti kalau ada apa - apa aku akan menghubungi pihak keamanan." jelas Riri dan meyakinkan teman - temannya kalau dia merasa baik - baik saja
"Baiklah, kalau kamu takut untuk sendirian kamu bisa menghubungi aku ya." Mirna berkata dengan serius.
"Iya terima kasih." Riri menjawab dengan tersenyum.
Setelah semua temannya kembali tinggallah Riri seorang diri di rumah barunya, Riri melihat seluruh ruangan rumahnya dan dia berhenti di sebuah kamar, lalu Riri masuk dan melihat kamar itu. "Kamarnya bagus dan luas." gumam Riri merasa puas dengan rumah barunya.
Riri menatap keluar jendela dan melihat jauh ke langit malam yang hitam. Malam itu langit terlihat cerah dengan cahaya bulan dan bertabur bintang, Riri pun keluar ke balkon dan duduk di kursi yang tersedia di balkon. "Sejuk banget udaranya, sudah sangat lama sekali aku tak merasakan kesegaran seperti ini." Riri menghirup dalam - dalam udara yang berhembus.
Pagi itu Riri berjalan - jalan di taman sekitar apartemennya dan dia berbelanja untuk keperluan sehari - hari dan bulanan. Setelah selesai belanja Riri pun pulang dan memasak makanan untuk sarapan paginya.
Ting tong
"Iya sebentar." Riri membukakan pintu yang ternyata itu adalah Mirna yang datang sebelum dia berangkat ke rumah sakit.
"Mirna, masuklah apa kau sudah sarapan? Aku sudah buat sarapan." Riri menawarkan sarapan pada Mirna.
"Wah, baunya sedap sekali. Tapi kenapa masakan mu serba kuah dan sup tak ada penyetan seperti biasanya" Mirna bertanya karena dia merasa heran sebab sekarang Riri hanya memakan makanan yang berkuah dan penuh dengan sayuran.
"Iya karena Altha tak bisa makan makanan yang tak berkuah, dia selalu akan tersedak kal..." kalimat Riri ditahan saat dia sadar apa yang dia katakan
__ADS_1
"Kenapa? Karena apa? Siapa yang tak bisa makan makanan yang tak berkuah?" Mirna berkata dengan menatap Riri yang tertunduk "Ri, Riri?" Mirna memanggil Riri yang terlihat sedih.
"Ah tidak, aku suka yang berkuah sekarang. Karena suka tersedak kalau tak ada kuahnya." Riri menjawab dan tersenyum pada Mirna.
...💮💮💮...
Setelah selesai sarapan dan menemani Riri Mirna pun berangkat kerja karena jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Suasana rumah sakit pagi itu sangat ramai karena kedatangan wakil dari rumah sakit utama dari luar negeri yang sedang melakukan survei ke rumah sakit cabang, dan ditambah dengan adanya jadwal akreditasi rumah sakit jadi semakin ramai lagi.
"Ada apa kok ramai banget?" Mirna yang baru saja datang merasa bingung dengan banyaknya orang yang datang ke rumah sakit.
"Katanya ada wakil dari rumah sakit utama yang ada diluar negeri dan mereka ingin melihat juga survei tentang rumah sakit kita ini." bisik Tika yang tau ceritanya dari awal karena dia masuk malam "Apa tadi mbak Mirna ke rumah Riri? Bagaimana keadaanya? Nanti aku kalau pulang kerja mampir kesana." sambung Tika
"Dia baik, dan sudah mulai beraktifitas seperti biasa, bahkan tadi aku sarapan disana." Mirna menjawab dengan sangat senang.
"Hai, hai ladies dengar gak salah satu dari rombongan ada yang bertanya soal Riri loh, dan orangnya sangat tampan." Subagio menghampiri Mirna dan Tika di ruang bersalin lalu menceritakan semua yang dia tau
"Memang siapa dia? Kenapa kenal sama Riri kita?" Mirna mulai penasaran dan jiwa gosipnya membara.
"Eh, kira - lira siapa ya mbak, kok bisa dia nyariin Riri? Padahal selama ini tak ada satu pun orang yang nyariin dia, dan bukannya Riri sebatang kara karena ibunya telah meninggal dunia 6 tahun lalu ya dan ayahnya juga sudah berpisah lama dengan ibunya." Tika berkata dan terlihat berfikir
"Benar juga ya, terus siapa yang nyariin kata Susu tadi. Aneh sekali." Mirna juga ikut berfikir
"Hem, entahlah aku juga gak tau siapa dia. Tiba - tiba saja dia tanya soal Riri karena tau kalau Riri kerja di sini. Dan dia tak cerita siapa dirinya." jelas Subagio dengan nada centil.
"Iya saya menginginkan adanya pertukaran tenaga medis dengan rumah sakit yang ada di cabang sebagai bahan perbandingan dan juga pembelajaran antar tenaga medis." jelas seseorang yang datang dari rumah sakit utama yang berdiri di luar negeri.
"Ya saya mengikuti saja, karena dengan adanya hal itu kita bisa memperbaiki pelayanan di rumah sakit ini dengan membandingkan dan mempelajari hal - hal yang ada di rumah sakit pusat." jelas direktur rumah sakit
Sang Yang Hospital adalah rumah sakit yang berdiri dari cabang rumah sakit yang ada di luar negeri, karena pendiri dan rumah sakit itu adalah orang - orang ternama yang pernah tinggal dan menetap di Indonesia, sehingga mereka merasa nyaman dan juga suka dengan kekeluargaan di sini jadi mereka pun mendirikan rumah sakit ini sebagai kenangan atas keluarga besar mereka yang pernah tinggal di sini dengan baik.
__ADS_1
Sebagian pegawai rumah sakit melakukan pertemuan dengan para orang - orang yang datang dari cabang, sebagiannya lagi melakukan akreditasi rumah sakit. Jadi suasana di rumah sakit hari itu sangat sibuk sekali para pegawainya.
"Em maaf, saya Yan Sa. Tadi saya tanya kepada perawat katanya nona Riri ada dibagian kebidanan dan saya diarahkan kesini apakah saya boleh tau dia masuk apa sekarang?" tanya Yan Sa kebagian kebidanan
"Maaf anda siapanya Riri ya? Karena dia masih cuti habis sadar dari koma, mung..." Kata - kata Tika tertahan oleh pertanyaan Yan Sa
"Maksud anda apa?! Lalu bagaimana keadaannya? Apa dia tak apa? Dan sekarang dia tinggal dimana?" Yan Sa bertanya dengan nada khawatir setelah mendengar kalau Riri baru tersadar dari koma "Oh maaf saya adalah kakaknya." sambung Yan Sa lagi
Tika menatap dengan ragu karena selama dia kenal dengan Riri dan bekerja bersama selama 3 tahun tak pernah sekali pun Riri cerita soal kakaknya, yang Tika tau dan semua orang rumah sakit tau adalah Riri anak tunggal dan hanya hidup dengan ibunya saja.
"Tolong, saya harus bertemu dengan dia." Yan Sa bersih keras dan bertanya dengan tak sabar.
"Sebentar." Tika menghubungi Riri dan menceritakan soal orang yang bernama Yan Sa yang sedang mencarinya dan orang itu datang bersama dengan para petinggi rumah sakit utama. "Maaf tuan menunggu lama, kalau anda mau ini alamat Riri yang baru silakan anda datang karena saya sudah menceritakan soal anda padanya." jelas Tika lagi dan menyerahkan alamat apartemen Riri yang baru.
"Terima kasih, tapi kalau boleh saya tau kenapa dia bisa koma?" tanya Yan Sa penasaran
"Apartemennya yang lama mengalami kebakaran karena sambungan listrik yang bermasalah." Tika menjawab dengan sopan.
"Baik, terima kasih. Dengan siapa saya bicara?" Yan Sa bertanya lagi.
"Tika, saya Tika temannya Riri." Tika menjawab dengan senyum yang manis.
"Baik nona Tika terima kasih." ucap San Ya sambil tersenyum dan pergi
"Ya pun, kakak dari mana ya? Kenapa Riri punya kakak yang begitu tampan." gumam Tika saat melihat San Ya pergi.
...💮💮💮...
Ditempat Riri, setelah dia menerima panggilan telepon dari Tika dan mendengarkan cerita Tika kalau ada orang asing yang mencarinya dan mengaku sebagai kakaknya Riri berfikir dalam dan merasa penasaran dengan orang yang mengaku sebagai kakaknya.
__ADS_1
"Siapa dia, selama ini ibu tak pernah cerita soal seseorang lagi pada ku apa lagi seorang kakak dari luar." gumam Riri berfikir "Sudahlah tunggu saja nanti nanti kalau dia datang aku baru tau siapa dia dan apa tujuannya, karena selama ini dia tak pernah ada dan tak pernah muncul." Riri pun cuek dan kembali merebahkan tubuhnya yang terasa ngantuk.