Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Rahasia Bukit Bintang


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan sebenarnya?! Benar - benar tak bisa diandalkan, tak berguna." pangeran kedua sedang marah benar kepada selirnya yang ternyata dikembalikan oleh Yourina dan dipesan agar tak melakukan hal yang sama seperti kejadian ini lagi karena Yourina gak mau ditukar dengan siapa pun atau diberikan kepada siapa pun.


"Pangeran maaf, aku rasa putri Youri memang tidak mau menjadi bahan pertukaran. Karena pangeran pertama hanya memiliki dia seorang, pangeran pertama tak memiliki selir, kalau kita ingin memasukkan mata - mata disisi pangeran kedua sebaiknya kita berikan saja selir untuknya yang bisa bekerja demi kita." ucap pengawal pangeran kedua memberikan saran.


"Sombong sekali, kirimkan pesan kalau aku akan berkunjung ke kediaman pangeran pertama nanti, dan ide mu benar juga." ucap pangeran kedua Jang Yong pada bawahannya dan dia tersenyum seakan telah menikam jalan untuk mengirimkan mata - matanya.


"Kalian semua keluarlah." pangeran kedua sedang emosi Karen dia tak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Pangeran ada Mentri Ye datang kesini." ucap pengawal pangeran kedua.


Mendengar kata Mentri Ye pangeran kedua mulai merencanakan rencananya. "Baik suruh dia menunggu di ruang tamu depan." pangeran kedua bergegas menemui Mentri Ye dan terlihat mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting berdua.


"Baiklah pangeran kedua saya akan mengusulkan kepada yang mulia raja mengenai ide dari pangeran kedua katakan." ucap Mentri Ye dan dia pun undur diri.


Pangeran Jang Yong terlihat senang dan berharap kalau usahanya untuk membuat putri kedua dari Mentri Ye Saun yang bernama Ye Rin menjadi selir pertama dari pangeran pertama, karena pangeran kedua tau kalau Ye Rin sebenarnya menyukai dirinya dan pangeran kedua berniat untuk memanfaatkan Ye Rin sebagai mata - mata pangeran pertama.


...🍁🍁🍁...


"Altha serius lah, kenapa kau dari tadi hanya mondar mandir saja. Sebenarnya kau itu mengerti atau tidak sih?!" kesal Riri yang sudah merasa tak sabar segerah ingin tau ada rahasia apa didalam peta yang diberikan oleh neneknya itu.


"Aku bisa konsentrasi penuh jika kau memberiku ini." Altha meletakkan jari telunjuknya tepat dibibirnya dengan memajukan wajahnya.


"Jangan harap, kau tak serius aku akan cari sendiri." Riri yang mulai kesal pun berjalan mendahului Altha dengan marah.


"Hem, sejak bergaul dengan tabib senior dan para kesatria dia jadi sering marah dan tak lucu lagi." Altha tersenyum dan mengikuti Riri dari belakang.


Dengan berjalan santai Altha tetap waspada karena masuk kedalam hutan Altha merasakan ada sesuatu yang janggal, dengan hati - hati Altha mengawasi sekitar yang terlihat banyak pohon yang menjulang tinggi. "Aku tak pernah masuk sampai kedalam sini." gumam Altha sambil berjalan dengan waspada.

__ADS_1


"Kau jangan bicara yang bikin aku takut." Riri mundur dan bersembunyi dibelakang Altha setelah mendengar kalau Altha tak pernah masuk sampai kedalam hutan.


"Ini terasa agak aneh, dari peta yang diberikan oleh nenek di ujung hutan ini harusnya ada bukit atau gua tapi ini tak jelas, dan sepertinya ini adalah tempat yang tersembunyi dan sepertinya belum pernah ada yang masuk sampai sini." Altha menunjukkan gambar di peta itu pada Riri.


"Altha kalau menurut kamu itu apa? Dan apa yang tersimpan di sana, kenapa nenek ku memiliki hal yang begitu menyeramkan." Riri bergumam sambil terus memegang lengan Altha dengan kuat


"Kau takut? Tak perlu takut karena aku suamimu." jawab Altha dengan tersenyum dan memainkan dagu Riri.


"Kau jangan bercanda." Riri marah karena menurut Riri Altha tak pernah serius.


"Tunggu," Altha menahan Riri dan seketika memeluk Riri saat ada senjata rahasia yang tiba - tiba saja melesat.


"Anak panah?" Altha mendekati anak panah itu dan melihatnya seksama yang merupakan anak panah bukan dari negaranya atau negara terdekat.


"Ini beneran aneh, bahkan anak panah ini bukan berasal dari sini." gumam Altha melihat dan meneliti anak panah itu.


"Sudah ku bilang, ada aku suamimu jadi kau tak perlu takut istriku." Altha yang lagi - lagi menggombal dan tak serius dalam situasi yang membuat takut.


" Bercanda mu tak tepat dan,,,em" suara Riri tertelan.


"Enak." ucap Altha setelah mengurai ciumannya.


"Baiklah ayo kita serius sekarang. Dari gambar di peta ini kita perlu bejalan sekitar setengah hari lagi, namun itu akan memakan banyak waktu jadi kita hanya bisa melakukan itu." ucap Altha seketika memeluk Riri. "Berpegangan yang erat aku akan membawah mu melompat." ucap Altha langsung mengangkat tubuh Riri dan mulai melompat dari satu pohon ke pohon lainnya dengan cepat.


"Altha pelan - pelan." Riri yang dipeluk oleh Altha mengalungkan tangannya ke leher Altha dengan kuat karena takut jatuh.


"Kita sampai, harusnya di sini ada pintu atau ruangan. Dimana kunci yang kau bawah." tanya Altha setelah meraka sampai di suatu tempat yang berada di kedalaman hutan.

__ADS_1


Riri menyerahkan kunci yang dibawahnya dan Altha mulai mengamati bebatuan yang ada ditempat itu yang membentuk sepeti prasasti yang saling berhubungan satu sama lain. Dan Altha melakukannya dengan sangat teliti serta hati - hati.


"Ketemu, di sini." teriak Altha saat dia menemukan sesuatu dan memanggil Riri yang berdiri disalah satu batu dengan mengamati ukiran yang tergambar di batu tersebut.


"Benarkah, mana?" Riri lari mendekati Altha dan melihat kalau disalah satu batu itu ada yang memiliki lubang seperti kunci.


Dibalik batu besar itu ada lubang kunci yang ternyata cocok dengan kunci yang dipunyai oleh Riri, "Kita buka." Altha menatap Riri dan dengan cepat Riri mengangguk.


Seketika saat kunci itu dipasangkan batu besar itu bergeser dan semua batu yang lainnya juga ikut bergeser yang ternyata membuka anak tangga ditengah - tengah berdirinya batu - batu besar itu. Altha dan Riri berjalan masuk perlahan kedalam lorong yang terbuka itu dan didalamnya terdapat sebuah ruangan yang sangat megah dengan bangunan yang sangat modern.


"I-ini apa? Ini tidak mungkin." Riri terkejud dan tak percaya dengan apa yang dia lihat didalam ruangan itu.


"Kau tau ini apa?" Altha bertanya karena dia merasa asing dengan ruangan dan semua barang yang ada disitu.


"Tidak mungkin, apa kah semuanya datang dari sini? Tapi ini tidak masuk akal, dan dari mana semuanya datang, lalu siapa yang telah membangun tempat ini di dunia ini." Riri sangat terkejud dan dia tak bisa menetralkan pikirannya.


Riri terduduk sangat lama di tempat itu, dia termenung dan terus saja mengawasi semua yang ada diruangan itu. Semuanya membuat Riri merindukan dunia asalnya dan tanpa sadar Riri meneteskan air matanya karena teringat akan semua temannya serta kehidupannya di sana.


"Hey, kenapa kau malah menangis dan bersedih? Mungkin ini adalah harta yang sangat berharga bagi keluargamu atau nenekmu, walau aku tak tau semua ini apa dan fungsinya apa tapi aku yakin nenekmu pasti sudah memikirkan banyak hal sehingga meninggalkan harta yang begitu berharga ditempat yang sangat sulit ini." Altha mendekati Riri dan mengusap air mata Riri yang mengalir deras tanpa suara.


"Apa kamu tau ini apa?" Riri menatap Altha dengan mendongak karena Altha berdiri didepannya.


"Tidak aku tak tua semua ini apa, yang ku lihat tempat ini sangat luar biasa dan juga ada beberapa alat yang terlihat seperti benda tajam dan juga masih banyak yang aneh - aneh lagi.


"Semua ini, semua ini tak mungkin tapi semua ini nyata. Aku tak percaya ada tempat seperti ini di sini." Riri berkata dengan terus menangis. "Aku tak tau harus memulai bicara dari mana pada mu, tapi semua ini aku kenal dan aku tau semua fungsinya karena semuanya aku pernah melihat dan menggunakannya." Riri berkata dengan suara terputus - putus karena tangisnya.


"Jangan menangis dan jangan cerita jika itu membuatmu merasa terbebani dan sesak." Altha memeluk Riri yang terus menangis tanpa diketahui sebabnya apa oleh Altha.

__ADS_1


__ADS_2