
"Apa kata mu, hutan bulan?" Altha bertanya dengan nada terkejud karena semua orang tau tak ada yang mampu menembus hutan itu dan tak ada yang tau sampai mana kedalaman dari hutan itu. Karena hutan itu termasuk hutan yang misterius.
"Benar pangeran dan kita hanya bisa menunggu jika memang ingin meminta bantuan padanya, karena belum pernah ada yang mampu melewati hutan itu." Yorgun menjawab dengan sedikit khawatir.
"Apakah tak bisa dipanggil atau mungkin ada cara untuk memanggilnya." Altha tak sabar karena dia ingin segerah bisa menangani dan mengobati para prajurit yang sedang terluka.
Yorgun menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Altha karena dari yang didengar oleh Yorgun semua warga pedalaman hanya bisa menunggu saudara dari master obat untuk turun dan keluar hutan jika ingin meminta bantuan.
Altha terlihat berfikir mengenai hal itu karena dia ingin dengan segerah membantu anak buahnya yang sedang terluka. Dengan wajah dan pandangan yang fokus serta serius Altha berfikir sangat dalam, dia ingin meminta bantuan master obat namun dia ingin memanggilnya dengan cepat tanpa harus mengganggu kedamaian dan ketenangan dari hutan bulan.
Lama Altha berfikir namun masih saja tak mendapatkan jawaban bagaimana caranya dia harus meminta bantuan, sementara Yaris yang dari pagi mencoba untuk menerobos pelindung hutan pun tak bisa melalui selain dia terus berputar ditempat yang sama dan kembali kelar dari hutan itu.
"Apa benar - benar tak bisa dilalui?" Altha bertanya pada Yaris yang baru datang setelah seharian mencobak untuk memasuki hutan bulan.
"Tidak bisa pangeran, sudah ku coba menggunakan kekuatan juga masih tetap tak bisa ditebus, pelindung ilusi hutan itu sangat kuat, jadi jalan satu - satunya hanya bisa kita lakukan dengan menunggu." jelas Yaris yang juga tak bisa menembus hutan itu.
...πππ...
Disaat yang sama didalam istana kerajaan raja juga mengawatirkan soal Altha dan para pasukannya yang katanya banyak terluka. Raja memerintahkan kepada setengah dari pasukannya untuk datang ke perbatasan dan juga ke daerah barat di pertanian untuk berjaga - jaga apa bila nanti pasukan musuh datang menyerang lagi karena tau kalau banyak prajurit yang terluka dan keracunan.
"Baron apa kau sudah menggerakkan setengah pasukan kita?" raja bertanya dengan khawatir.
"Yang mulia tak usah khawatir, pasukan sudah dibagi dua dan yang di perbatasan sudah sampai dari 3 hari lalu, kalau yang pergi ke daerah barat mereka dipimpin langsung oleh pangeran ketiga, kemungkinan juga sudah sampai." jelas Baron pada raja.
"Baguslah, apakah warga tak ada yang terluka?" raja bertanya lagi karena merasa khawatir dengan rakyatnya.
"Ayah, Jang Yong menghadap." pangeran kedua menghadap pada ayahnya disaat ayahnya sedang berunding dengan Baron.
"Hormat kepada pangeran kedua." sapa Baron pada Jang Yong.
"Ayah aku dengar perbatasan dan juga wilayah barat diserang bersamaan, tolong turunkan perintah untuk aku membantu agar aku bisa membawah pasukan ku pergi ke perbatasan sekarang juga." pangeran kedua meminta agar ayahnya menurunkan perintah untuk keberangkatannya.
"Adikmu sudah berangkat dari kemaren dan kemungkinan sekarang dia sudah sampai. Kau di sini saja karena ku perlukan di sini untuk berjaga di istana ini jadi kau tak perlu ikut turun tangan karena Altha pasti bisa mengatasi semuanya." jelas raja pada pangeran kedua dengan jelas menunjukkan kalau merasa bangga pada pangeran Altha.
"Baik, sesuai perintah ayah." pangeran kedua berkata dengan mengepalkan tangan karena merasa kesal. "Kalau begitu Jang Yong ijin undur diri, semoga yang mulai sehat dan panjang umur." salam pangeran kedua dan pergi meninggalkan istana raja.
"Altha, Altha, Altha.! Kenapa semua seolah hanya ada dia seorang." pangeran kedua menggerutu dengan kesal.
...πππ...
"Kakak," pangeran ketiga yang baru sampai dengan 50 pasukannya langsung menemui Altha di tendanya setelah dia berkeliling untuk melihat kondis daerah yang habis diserang.
"Kau datang, apa di istana tak ada masalah?" Altha bertanya dengan cemas karena dia tak bisa melihat ke istana.
"Jangan khawatir semua baik - baik saja. Tadi di jalan aku bertemu dengan Jiyang, apa kakak mengirimnya ke perbatasan?" pangeran ketiga bertanya dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
"Ya, aku mengirim dia sama Yaris untuk menjaga perbatasan karena aku tak bisa meninggalkan pasukan yang terluka di sini." jawab Altha dengan tatapan yang terlihat bingung.
"Ada apa, apa segawat itu? Bukankah mereka semua selamat dan tak ada yang rusak juga dari pertanian dan tanggul juga sudah diperbaiki." pangeran ketiga berkata dengan bingung karena melihat Altha yang merasa cemas dan bingung.
"Hem, banyak dari mereka yang terluka dan keracunan. tapi menunggu tabib senior takut mereka tak akan bisa bertahan." jelas Altha menatap pangeran ketiga.
"Pangeran, kapten Yorgun pergi ke pintu masuk hutan bulan katanya untuk memanggil master obat." lapor seorang prajurit pada Altha karena disuruh oleh Yorgun.
"Apa maksudmu. Dia pergi sama siapa ke sana?" Altha kaget dan bertanya dengan cemas.
Didepan pintu hutan bulan Yorgun bersama dengan beberapa warga pedalaman berteriak memanggil nama master obat sambil bersujud lumayan cukup lama.
"Master obat, hamba Yorgun datang memanggil anda untuk meminta bantuan." teriak Yorgun berulang - ulang dengan ditemani beberapa warga pedalaman.
Didalam hutan Riri pergi mencari tanaman obat dengan hati yang tidak tenang karena dia memiliki rasa ingin membantu, sebagai seorang tenaga medis jiwanya merasa terpanggil namun Riri takut bertemu dan berhubungan dengan Altha, karena Riri tak ingin ada hubungan dengan Altha apa lagi sampai jatuh hati sama Altha.
Didalam lubuh hati terdalam Riri dia ingin sekali cepat kembali kehidupannya yang sesungguhnya karena dia sudah merasa bisa merubah alur dari cerita malang dan putri yourina tak akan dibunuh, sehingga Riri ingin menghindari kedekatannya dengan Altha agar tak terikat dengan Altha dan bisa mengembalikan posisi para pemeran pada tempatnya masing - masing saat nanti dia bisa kembali kepada tubuhnya yang asli.
Jauh didalam hutan Riri berusaha untuk tak peduli dan hanya memetik bahan - bahan obat saja, namun saat dia kembali ke rumah bambunya Riri mendapati Yodon yang duduk termenung. Riri mendekati Yodon karena Riri tau bagaimana pun Yodon adalah salah satu pemeran dalam novel ini yang pasti akan terus terikat dengan jalan cerita serta orang - orangnya.
"Yodon, apa ada masalah lagi?" Riri menegur Yodon yang termenung sambil merebus bahan obat.
"Tuan putri, didepan pintu hutan aku melihat kapten Yorgun dan beberapa warga terus bersujud memanggil nama master obat." jelas Yodon yang baru kembali melihat diperbatasan hutan.
"Bagaimana kalau aku yang membantu mereka dengan semua yang sudah tuan putri ajarkan selama ini." Yodon memberikan sarannya.
"Boleh saja, tapi jika ada Yaris dia pasti akan tau kalau itu adalah aku. Karena selain kamu aku juga sudah mengajarkan banyak hal pada Yaris." gumam Riri yang terlihat berfikir.
"Kalau begitu aku akan melihat dan memastikan apakah Yaris ada diantara mereka atau tidak, dengan begitu apakah sudah boleh?" Yodon dengan tak sabar ingin segera mambantu para rekannya.
"Baiklah, tapi jika memang Yaris tak ada bersama mereka maka perintahkan mereka untuk membangun tenda bagi yang sakit didepan pintu masuk hutan aku akan melihat kondisi mereka secara langsung." ucap Riri yang pada akhirnya dia tak bisa menahan diri untuk membantu mereka yang terluka.
"Baik, sesuai perintah tuan putri." Yodon langsung pergi untuk keluar hutan bertemu dengan Yorgun dan para warga.
"Saudara master." seorang warga memanggil saat dia melihat bayangan Yodon keluar dari hutan.
Mendengar itu Yorgun merasa senang dan dia bersemangat memperkenalkan dirinya dengan sopan pada Yodon yang datang dengan memakai tudung wajah.
"Hamba adalah Yorgun kapten pasukan dari pangeran Altha, hamba meminta maaf karena tak sopan telah berteriak kencang untuk meminta bantuan pada master obat agar mau membantu para pasukan kami yang sedang terluka dan terkena racun." jelas Yorgun dengan bersemangat.
"Tapi kakak ku tak pernah keluar hutan." jawab Yodon dengan sopan dan ikut jongkok didepan Yorgun.
"Oh." Yorgun tak bisa menjawab lagi dan hanya menatap Yodon
"Antar aku untuk melihat mereka yang terluka untuk bisa melaporkan pada kakak." Yodon memberi saran karena dia ingin melihat apakah Yaris ada bersama dengan mereka.
__ADS_1
"Dengan senang hati." Yorgun langsung membawah Yodon keluar dari desa pedalaman dan membawahnya melihat mereka yang terluka.
Sehari perjalanan, dan saat sampai Yodon tak tega melihat semuanya yang meraung menahan rasa sakit, karena dirinya dulu juga sama seperti itu sebelum Riri membantu dan menyelamatkannya.
"Dimana pimpinan kalian? Dan ada siapa saja orang yang berada disamping pimpinan kalian?" tanya Yodon menyelidiki.
"Pimpinan ada di tendanya, dan disisinya hanya ada hamba karena dia telah mengirim yang lainnya untuk pergi ke perbatasan untuk berjaga dan melindungi di sana." jawab Yorgun dengan sopan.
"Bicara biasa saja sama saya tak perlu terlalu sopan." Jelas Yodon pada Yorgun.
"Pangeran, dia adalah saudara dari master obat yang sengaja datang untuk melihat." jelas Yorgun pada Altha yang datang setelah mendengar kalau ada kerabat dari master obat datang.
"Hamba Altha, hormat pada saudara master obat. Tolong bantuannya, hamba akan memberikan imbalan sesuai dengan permintaan kalian jika kalian bersedia membantu kami semua di sini" ucap Altha memberi hormat juga pada Yodon.
"Tidak perlu terlalu sopan pangeran, bawalah mereka semua dan bangun tenda didepan pintu masuk hutan, karena kakakku tak bisa keluar jauh dari hutan." jelas Yodon pada Altha sesuai dengan perintah Riri.
"Baik, kami akan membangunnya segerah di sana." ucap Altha dan dia langsung menyuruh beberapa orang untuk membangun tenda saat itu juga karena dia ingin agarΒ para prajuritnya segerah mendapatkan pertolongan.
Setelah melihat dan menyampaikan pesan Riri pada Altha Yodon langsung pergi dan kembali lagi kedalam hutan. Yodon menyampaikan pada Riri kalau yang terluka ada sekitar 20 orang dan yang keracunan ada sekitar 30 orang dan sementara mereka mendapatkan obat dari warga yang pernah ditolong oleh Riri beberapa waktu lalu.
Mendengar itu Riri merasa sedikit lega karena setidaknya mereka sudah mendapatkan penanganan pertama. Riri dan Yodon menyiapkan beberapa bahan obat yang akan dipakai dan sesuai dengan informasi dari Yodon Riri membawah kantong ajaibnya karena ada beberapa yang mengalami luka sayat. Tak lupa juga Riri membawah kain pita hitam beberapa helai.
2 hari setelahnya para prajurit yang terluka sudah berada di tenda yang dibangun didepan pintu masuk hutan, mereka menunggu dengan cemas dan tak sabar karena mereka ingin segera sembuh dan bisa kembali beraktifitas lagi.
Dari kejauhan terdengar suara lonceng yang berbunyi seiring dengan langkah kaki, suara lonceng yang terdengar lebih mirip dengan gelang kaki karena suaranya berirama dengan langkah kaki seseorang yang sedang berjalan.
"Master obat, dia master obat. Dia keluar hutan." semua warga yang baru melihat merasa kagum dan juga sangat senang karena mereka akhirnya bisa bertemu langsung dengan orang yang selama ini melindungi mereka dan membantu mereka setiap kali mereka dalam kesusahan.
"Hormat pada master obat hamba adalah..."
"Yorgun, kapten pasukan." suara Riri menyebut nama Yorgun dan hal itu membuat Yorgun merasa terhormat.
Riri yang keluar dengan berpakaian laki - laki serta memakai topeng melangkah melewati Yorgun dan masuk kedalam tenda untuk melihat mereka yang terluka. Dengan ditemani Yodon dan juga Yorgun Riri melihat satu persatu mereka yang terluka.
"Adik, berikan obatnya." Riri meminta pada Yodon untuk mengeluarkan obat yang dibawahnya.
Setelah melakukan pemeriksaan Riri pun mengetahui racun apa yang menyerang mereka semua. Riri meracik beberapa bahan obat dan memberikannya pada Yodon untuk diberikan pada para warga agar direbus. Yodon bersama dengan para warga merebus bahan obat itu.
Riri mengatasi mereka yang terluka sayat dengan membius serta menutup mata mereka sebelum dia memulai mengobati. Dan Yodon dengan cepat membantu Riri seperti seorang asisten.
Riri yang mengatakan untuk tak diganggu selama mengobati pun tak ada yang berani mengusiknya dan beberapa orang yang telah disuntik obat bius oleh Riri mereka tertidur sampai Riri selesai mengobati mereka.
Beberapa hari kemudian terlihat orang - orang yang telah diobati oleh Riri sudah mulai pulih. Melihat itu Altha dan pangeran ketiga merasa sangat senang serta sangat berterima kasih pada master obat.
"Dia luar biasa, dia benar - benar tabib dewa, coba lihat hanya dengan rerumputan saja dia telah berhasil mengeluarkan semua racun serta membuat mereka semua sehat kembali." pangeran ketiga memuji kehebatan master obat dan memberikan julukan tabib dewa.
__ADS_1