Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Tersadar Kembali


__ADS_3

Disebuah rumah sakit terbaring seorang gadis dengan segala peralatan yang menempel pada tubuhnya, dia terlihat tak berdaya, lemah dan kulitnya putih pucat. Setiap hari ada saja seseorang yang masuk untuk membantu dia untuk membersihkan ruangannya dan juga tubuhnya, dan orang - orang itu terlihat sangat sayang serta setia padanya.


Pagi itu saat ada seorang wanita yang memakai seragam putih - putih sedang duduk di kursi dekat bad wanita muda yang sedang terbaring itu dia menyeka wajahnya dengan lembut dan juga tangannya. "Bangunlah, kapan kau akan bangun? Kenapa kau seolah sedang mempermainkan kami semua, apa kau tau kalau kami semua sangat merindukan mu. Sebenarnya kau sedang tersesat dimana? Kenapa tak mau bangun namun juga tak mau pergi. Taukah kau jika setiap kali kami ingin melepas semua peralatan ini dari tubuhmu kau selalu bereaksi seolah kau tak ingin pergi." Wanita itu pun mulai terisak


"Mbak, ternyata mbak Maria ada di sini." seorang wanita yang memakai seragam sama dengan Maria masuk kedalam ruangan itu.


"Mirna, kau kesini juga. Apa kau mau pulang?" tanya Maria pada Mirna.


"Iya, tapi aku ingin melihatnya dulu, bagaimana keadaannya sekarang mbak? Apa ada kemajuan, atau ada tanda kalau dia akan bangun dan kembali pada kita?" Mirna berjalan mendekat dan menatap sendu pada wanita yang sedang terbaring lemah itu


"Semua sama saja." jawab Maria dan menggenggam tangan wanita yang terbaring itu dengan erat.


Mirna mendekat dan menundukkan kepalanya "Bangunlah dan kembalilah pada kami." bisik Mirna pada wanita yang terbaring itu tepat ditelinganya.


Pip...pipiip...piipiiiip


"Eh?" Mirna dan Maria kaget dan menatap bingung.


Entah karena memang sudah waktunya untuk terbangun atau karena mendengar panggilan dari temannya, wanita yang terbaring itu bereaksi, alat yang memonitor dirinya tiba - tiba berbunyi dengan sangat nyaring. Kedua wanita yang datang jadi panik, seketika mereka berdua ketakutan.


"Riri, Riri. Mbak apa yang terjadi? Kenapa monitornya berbunyi dengan nyaring dan tak stabil." Mirna bertanya dengan panik.


"Dokter, dokter. Panggil dokter cepat." Maria berteriak tak kalah paniknya dengan Mirna.


"Iya, dokter... dokter... tolong Riri, monitornya tak stabil, dokter." Mirna berlari kalang kabut mencari dokter sambil berteriak memanggil dokter yang biasa merawat Riri selama dia koma.


"Apa yang terjadi? Cepat kesana." Dokter dan beberapa perawat ikut menuju ke ruangan Riri.


"Maria ada apa?" Dokter bertanya pada Maria yang sedang berusaha untuk mengatur oksigen dan tetasan infus dan berharap kalau temannya itu akan stabil lagi.

__ADS_1


"Tidak tau dok dia tiba - tiba begini." Maria menangis dengan ketakutan.


"Bagaimana bisa seperti ini?" Dokter merasa bingung.


Piiiiiip...(monitor menunjukkan kalau detak jantung Riri telah hilang)


"Tidak, bagaimana bisa seperti ini. Defibrillator sekarang cepat.!" teriak dokter pada para perawat. Dengan cepat perawat memberikan alat itu pada dokter, "pasang dengan kecepatan 150 volt" dokter menginstruksikan.


Saat dokter berusaha mengembalikan detak jantung Riri semua orang menggenggam tangan mereka dan melipatnya didada mereka, berdoa dan berharap kalau Riri bisa diselamatkan dan kembali pada mereka semua. Tatapan mata semua orang tertuju pada Riri dan mereka semua berdoa dalam hati mereka berharap kalau Riri akan kembali ditengah - tengah mereka semua.


Titiit...titiit... (Monitor jantung kembali muncul dan dan mulai stabil)


"Syukurlah." Dokter dan para perawat yang berusaha keras tadi merasa lega saat melihat detak jantung Riri kembali. Mereka menghela nafas lega dan mulai melemas ditempat mereka.


"Uhuk, uhuk." terdengar suara batuk dan hal itu membuat semua orang merasa kaget. Mereka menatap ragu dan tak percaya, orang yang hampir meninggal tadi tiba - tiba saja tersadar.


"Di-dia sadar, benarkah dia sadar?" Dokter yang berdiri disebelah Riri merasa terkejud dan tak percaya


"Riri." Semua orang yang ada di ruangan itu memanggil nama Riri.


Perlahan Riri membuka matanya dan menatap semua orang yang ada dihadapannya, Riri hanya bisa memutar bola matanya untuk menatap semua orang karena tubuhnya masih terasa lemas dan berat. Samar - samar bibir Riri melengkung membentuk sudut yang sangat indah dan hal itu membuat semua orang histeris dan menangis sambil terduduk lemas dilantai, karena mereka merasa sangat bahagia dan bersyukur teman mereka telah kembali.


"Riri apa kau masih ingat pada ku?" Dokter menanyakan pertanyaan utama pada Riri


"Ya." jawab Riri pelan dan lemah


"Syukurlah, syukurlah." Dokter marasa lega dan melakukan pemeriksaan umum lanjutan pada Riri.


"Bawah Riri untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi untuk lebih memastikan tidak adanya gejala atau efek dari kesadarannya saat ini." perintah dokter dan dengan senang hati semua teman Riri mengerjakannya.

__ADS_1


Setelah dipastikan kondisi Riri dalam keadaan baik dan stabil semua alat yang menempel pada diri Riri pun telah dilepas satu persatu dan Riri telah dipindahkan ke ruang rawat umum, dan selama 1 minggu ini Riri selalu dijaga bergantian oleh teman - temannya. Mereka tak banyak bertanya dan juga tak pernah menanyakan apapun pada Riri, karena mereka tak ingin membebani Riri yang baru saja tersadar dari koma dan kembali dari kematian. Setiap hari secara bergantian teman - teman Riri membantunya melakukan terapi karena otot tubuhnya lemas setelah koma selama 1 tahun dan hanya terbaring saja.


"Mbak Maria, sebenarnya apa yang terjadi dan sudah berapa lama aku di sini?" Riri bertanya pada Maria yang hari itu giliran menemani untuk terapi.


"Adik ku yang baik, apa sudah merasa baik?" tanya Maria pada Riri, dan Riri mengangguk. "Kamu telah koma selama 1 tahun lamanya, dan semua terjadi karena apartemen kamu mengalami kebakaran, dan setelah mereka berhasil menyelamatkan mu kami langsung membawah mu ke rumah sakit, dari sejak hari itu kamu tak bisa bangun lagi." Maria menjelaskan pada Riri semua apa yang terjadi dan apa penyebab dari kebakaran itu.


"Ponselku tak ada mbak?" tanya Riri dengan sedih.


"Tak ada barang yang bisa diselamatkan, bagi kami asalkan kamu selamat itu sudah baik. Karena saat kami mendengar kalau apartemen mu kebakaran kami sangat takut dan panik." jelas Maria pada Riri.


"Iya, baiklah terima kasih mbak. Aku ingin istirahat." Riri berkata dengan merebahkan tubuhnya ditempat tidur.


"Iya baiklah, istirahatlah." Maria membantu Riri untuk istirahat dan menyelimutinya.


Tak butuh waktu lama untuk Riri langsung terlelap seketika dan Maria yang melihat hal itu merasa bahagia, setelah terlihat Riri terlelap dengan irama nafas yang stabil Maria meninggalkan Riri dan membiarkannya untuk istirahat.


"Mbak bagaimana dengan Riri?" Tika yang juga teman Riri bertanya pada Maria saat melihat Maria keluar dari kamar rawat Riri.


"Ya, dia baru saja tertidur." Maria menjawab dengan pelan karena takut membangunkan Riri yang baru saja terlelap.


"Tapi mbak, apa mbak Ria tak merasa kalau setelah tersadar dari koma Riri jadi pendiam dan juga suka sekali melamun, kadang tatapannya terlihat sangat sedih seolah dia kehilangan orang yang sangat dia cintai. Akankah dia mengalami perjalanan ruang dan waktu lalu bertemu dengan seseorang yang dia cintai seperti cerita pada novel - novel romantis." ucap Tika saat merek@ berjalan ke ruang istirahat dan hal itu membuat Maria tersenyum.


"Hei ini dunia nyata sayang ku, kau terlalu sering baca cerita melankolis, nonton drama dan Drakor dan membuat otak mu itu jadi traveling." Mirna menyentil kening Tika


"Aduh sakit, kan aku berpendapat mbak. Hahaha." Tika menjawab dan tertawa terbahak.


Pagi itu Riri berjalan dengan perlahan dan berdiri didepan jendela, dia menatap langit pagi yang terlihat masih mendung dan matahari masih malu untuk menunjukkan dirinya pada dunia. Riri tersenyum tipis melihat gedung - gedung tinggi yang ada didepan matanya, dan hal itu menyadarkan kalau dirinya sedang berada di dunia nyata, dunia asalnya yang selalu ingin dia datangi.


"1 tahun tubuhku koma di sini, dan selama bertahun - tahun jiwa aku hidup di dunia lain yang tak ku kenal sama sekali, apa yang terjadi pada ku sebenarnya? Jika itu hanya ilusi atau cuma sekedar mimpi kenapa aku harus bertemu dan mencintaimu. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu, Altha." Riri bergumam dan mulai meneteskan air matanya.

__ADS_1


__ADS_2