Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Persetujuan


__ADS_3

Keesokan harinya putri ketiga pagi - pagi sekali bergegas menemui ayahnya untuk meminta bantuan pada ayahnya agar dia bisa dibawah serta oleh pangeran Altha sebagai syarat perjanjian damai antar dua kerajaan.


"Kau ini bicara apa? Tak ada hal yang seperti itu dan ayah sudah memutuskan dengan rapat semalam bersama dengan para petinggi dan juga para Mentri." ucap raja Ho pada putri ketiga.


"Ayah, apa ayah tak ingin kalau persatuan dari kerajaan ini akan lebih baik. Pikirkanlah ayah jika kedua kerajaan bersatu dalam sebuah ikatan itu akan lebih baik lagi dalam menjalin kerja sama karena kita semua akan menjadi keluarga." bujuk putri ketiga pada ayahnya.


"Kau jangan bicara yang tidak - tidak, lagian kau masih dibawah umur belum cukup dewasa untuk membentuk sebuah keluarga." tolak raja Ho


"Ayah apanya yang dibawah umur aku sudah 17 tahun dan aku juga sudah dewasa saat ini." putri ketiga ngotot pada ayahnya.


"Tidak peraturan kerajaan tak akan bisa diganti, seorang wanita dianggap dewasa kalau sudah 20 tahun dan baru boleh menikah." ucap raja Ho


"Ayah, kalau begitu setidaknya bisa dilakukan dengan pertunangan kan." putri ketiga masih saja ngotot.


"Aku tak bisa memaksanya" jawab raja Ho


"Bagaimana bisa, ayah adalah raja kerajaan ini. Dan dia adalah orang yang mengajukan permohonan penyatuan maka kita bisa memanfaatkan semuanya dengan dalih sebagai syaratnya ayah, ayo ayah aku mohon aku ingin bersama dengan dia ayah." putri ketiga memaksa ayahnya.


"Apa kau menyukai pangeran Altha? Dia adalah orang yang dingin dan juga kejam apa kau tak takut padanya." raja Ho bertanya dengan sungguh - sungguh.


"Aku menyukainya dan aku tertarik padanya, aku juga tak takut pada dia." jawab putri ketiga malu - malu.


"Baiklah aku coba bicarakan nanti." ucap raja Ho


"Baik ayah terima kasih" putri ketiga terlihat sangat senang.


"Pangeran Altha raja memanggil anda untuk datang ke pertemuan di aula sekarang untuk membicarakan soal keputusan dan persetujuan janji damai." ucap prajurit yang menjemput Altha.


"Baik" Altha dan Yorgun berjalan mengikuti prajurit itu sampai di aula pertemuan dan Altha melihat ada putri ketiga disana yang duduk disebelah raja dengan dandanan yang lagi - lagi terlihat mencolok.


"Salam yang mulia raja." salam Altha dan raja Ho mempersilakan pada Altha untuk duduk.


"Baiklah pangeran Altha semalam aku sudah merundingkan dengan para Mentri dan petinggi kerajaan, kalau dari apa yang ditawarkan itu cukup menguntungkan dan juga bagus kami setuju dan akan sepakat membuka gerbang perbatasan untuk kedua kerajaan." ucap raja Ho.


"Benar, dan aku tak mengerti bagaimana bisa kalian memiliki pemikiran yang begitu sangat bagus dan luar biasa." ucap seorang Mentri.

__ADS_1


"Terimakasih atas pujiannya kami hanya ingin yang terbaik dari kedua kerajaan saja." jawab Altha


"Tapi apakah benar putri Sui baik - baik saja disana? Apakah kalian tak menipu kami?' tanya seseorang yang terlihat berpengaruh di kerajaan ini.


"Sesuai dengan isi surat yang dituliskan oleh putri Sui, karena kami menahan hanya untuk menjadikan dia jaminan dan membuka jalan saja. Selama putri Sui setuju dengan semuanya dan kerajaan ini juga setuju semua akan berjalan sesuai dengan yang tertulis didalam surat putri Sui." Altha menjelaskan pada semua orang yang ada di ruangan itu.


"Baiklah kami setuju dengan itu semua dan kami juga sudah menemukan sepakat jadi kami akan melakukan sesuai dengan yang sudah kita bicarakan kemaren." ucap raja Ho "Mari kita melakukan tanda persetujuan." ajak raja Ho. Dan mereka berdua telah melakukan cap jari diberkas persetujuan bersama.


"Terima kasih atas kepercayaan raja Ho." ucap Altha.


"Ayah." putri ketiga merengek.


"Ehem." raja Ho berusaha membuka omongan, "Oh iya pangeran Altha aku dengar kalau kamu adalah seorang prajurit yang sangat hebat di medan perang dan dijuluki sebagai dewa perang. Bagaimana jika sebagai mengikat kerja sama aku akan mempercayakan putriku You Li Shang kepadamu, aku yakin dan percaya kalau kamu bisa menjaganya dengan baik." ucap raja Ho.


Mendengar ucapan raja pangeran Altha menatap putri ketiga "Dia benar - benar wanita yang licik." suara hati Altha.


"Apa putri You Li ingin keluar istana dan melihat dunia luar? Jika memang begitu saya bisa menemani sebagai pengawal dari tuan putri" jawab Altha dengan hormat.


"Tidak - tidak, aku tak ingin keluar istana. Aku hanya ingin bersama dengan pangeran dan ingin tinggal bersama dengan pangeran." jawab putri ketiga langsung, "Ayah." merengek karena merasa malu.


"Pangeran Altha, apakah kau tak ada niatan untuk menikah atau mengangkat selir?" raja Ho mencoba bertanya


Putri ketiga terlihat cemberut disamping ayahnya dan raja Ho juga tak bisa memaksa lagi Altha untuk menerima putrinya, karena dia tak ingin dipandang rendah oleh para pejabat istananya.


"Apakah seekor singa begitu penting." tanya putri ketiga pada Altha.


"Maaf tuan putri, dia adalah singa yang manja dan sulit untuk dikendalikan dan dia juga tak suka dikurung, jadi saya tak ingin ambil resiko." jawab Altha.


"Maaf sayang, terpaksa aku membuatmu jadi seekor singa." suara hati Altha.


...🍁🍁🍁...


"Uhuk - uhuk" Riri tersedak saat makan.


"Eh, tuan putri apa yang terjadi?" Dae Si menepuk punggung Riri pelan setelah memberinya air minum

__ADS_1


"Hahaha, gak papa buburnya pedes banget." jawab Riri "Ini bubur apa sebenarnya kenapa begitu pedas rasanya?" tanya Riri pada Dae Si.


"Itu saya juga tidak tau karena itu tadi dari istana pangeran kedua, pelayan selir Yurna yang mengantar." jawab Dae Si.


"Yurna? Dia mau bikin aku mati tersedak ya" kesal Riri, lalu pergi dan membawah bubur itu pergi bersamanya.


"Tuan putri mau dibawah kemana itu?" Dae Si mengejar Riri yang berjalan begitu cepat.


"Yu Wan." Riri berteriak dan menyerahkan bubur pada pada Yu Wan.


"Mau diapain tuan putri?" tanya Yu Wan pada Riri.


"Ganti di mangkok lain dan buat bubur yang serupa." perintah Riri dan tersenyum.


"Dean undang Yurna kemari, aku mau siap - siap." ucap Riri dan pergi untuk siap - siap.


Tak lama kemudian Yurna datang dengan sombongnya karena dia telah diakui oleh raja sebab anak yang dilahirkannya adalah anak laki - laki. Dan dia telah diangkat menjadi selir terhormat karena dia merupakan selir pertama yang melahirkan seorang pangeran kecil.


"Kau mengundang ku." ucap Yurna saat dia menemui Riri di taman bunga samping istana.


"Masuklah adikku." ucap Riri dengan senyuman.


"Dae Si hidangkan untuk selir Yurna." perintah Riri dan Dae Si pun menghidangkan sebuah bubur untuk Yurna.


"Apa ini?" tanya Yurna menatap bubur itu.


"Itu adalah bubur yang kau kirimkan dan aku ingin makan bersama mu." ucap Riri lalu dia melahapnya dengan sangat lahap.


Melihat itu Yurna ikut makan namun baru satu suap Yurna langsung terbatuk - batuk karena tersedak pedasnya. Dan Riri hanya menatapnya saja melihat Yurna dan pelayannya panik.


"Bagaimana? Seperti itulah tadi aku saat memakannya, jika kau tak ingin memberikan sesuatu pada ku maka tak usah memberiku apa - apa." ucap Riri menatap Yurna setelah dia bisa mengendalikan batuknya.


"Kau?!" Yurna berdiri dan terlihat sangat marah.


"Jangan marah padaku karena kau yang memulainya, dengar jika aku bisa mengusir selir Wu Ling dan memasukkan selir Ye Rin bukan hal sulit bagi ku untuk mengusir mu apa lagi pangeran kedua tak menyukaimu. Kau mendapatkan semua ini hanya karena kau menjebaknya ingat itu." ucap Riri berjalan mendekati Yurna dan menyentuh bahu Yurna. "Jangan berlaku macam - macam jika tak ingin celaka, kau dan ibumu dalam pengawasanku." ucap Riri lagi lalu pergi meninggalkan Yurna.

__ADS_1


"Yaris, antar selir Yu pulang." perintah Riri.


"Dia, sejak kapan dia jadi begitu berani." Yurna mengepalkan tangannya dan berjalan dengan kesal.


__ADS_2