Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Menjaga dan merawat


__ADS_3

"Cepat pergi dari sini sebelum semakin banyak pasukan mereka yang datang.* Altha menarik Riri dan membawahnya pergi dari tempat kejadian.


"Ah," Altha terjatuh dan nafasnya tersengal dengan wajah memucat karena mengeluarkan banyak darah dan juga menggendong Riri.


"Altha, turunkan aku. Aku bisa berjalan sendiri, sebaiknya kita mencari tempat sembunyi saja biar aku bisa melihat dan mengobati lukamu." Riri berkata dengan nada bersalah dan khawatir.


Altha berjalan mulai terseok karena luka akibat anak panah telah mempengaruhi pandangannya dan juga Altha merasakan seluruh tubuhnya mulai melemas. "Aku harus memanggil Yaris sekarang, karena aku gak mau terjadi apa - apa Yourina, entah kenapa tubuhku jadi terasa lemas. Sepertinya anak panah ini beracun." gumam Altha dalam hati.


"Altha di depan ada gua ayo kita kesana." Riri membawah Altha masuk kedalam gua dengan susah payah.


Didalam gua itu Altha memusatkan tenaga dan energinya untuk mengirimkan telepati pada Yaris mengenai kondisinya saat ini dan posisinya berada. Setelah itu Altha meminta pada Riri untuk mencabut anak panah yang menancap di bahunya.


...🍁🍁🍁...


"Apa?!" Yaris yang menerima pesan dari Altha terkejud saat dia bisa merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh Altha.


"Jiyang ikut aku, dan kapten Yorgun panggil tabib senior ke istana pangeran." perintah Yaris dan dia langsung melesat pergi


"Aku sudah menunggu dari tadi, kenapa lama sekali." kesal Jiyang sambil mengikuti arah Yaris pergi.


"Kapten apa yang terjadi, kenapa Yaris terlihat sangat khawatir? Apakah terjadi sesuatu pada pangeran dan juga putri Yourina." tanya prajurit yang penasaran melihat tingkah Yaris barusan.


"Entahlah mungkin ada yang terluka, karena Yaris menyuruh kita memanggil tabib senior ke istana, cepat pergi ke rumah tabib senior. Aku akan kembali ke istana untuk berjaga - jaga." Yorgun langsung kembali lagi ke ibu kota dan menuju ke istana pangeran.


...🍁🍁🍁...


"Dimana mereka?!" teriak pangeran Cu Shang saat sampai di lokasi dan tak menemukan Riri atau pun Altha, malah melihat beberapa anak buahnya yang jatuh dan banyak terluka.


"Maaf, pangeran mereka berhasil kabur. Tapi aku rasa pangeran Altha tak akan bisa lari jauh sebab dia telah terluka karena anak panah yang telah diberi racun pelemas otot." terang kapten pasukan pangeran Cu Shang.


"Baik, kalau begitu susuri isi hutan dan cari mereka sampai dapat." perintah pangeran Cu Shang yang terlihat sangat marah.


"Yaris, apa yang terjadi? Kenapa pangeran Cu Shang dan anak buahnya menyebar ke segala penjuru hutan ini." bisik Jiyang saat mereka telah sampai di lokasi.


"Pangeran dan putri ada di gua sebelah kanan hutan ini, cepat kesana dan bawah mereka pergi. Aku akan mengecoh para pasukan pangeran Cu Shang." bisik Yaris dan langsung melesat pergi untuk membuat para prajurit pangeran Cu Shang berjalan kearah yang berlawanan dengan arah gua.


"Dia selalu bertindak sesuka hati." Jiyang menghela nafas dalam lalu pergi ketempat yang dikatakan oleh Yaris.


"A-Altha aku akan mencabutnya, kau akan merasakan sakit." ucap Riri menatap Altha.


"Hem, aku tau. Cepat lakukan sekarang." ucap Altha.


Dengan ragu - ragu Riri memegang anak panah itu dan akan mencabutnya, "Ta-tahanlah ini akan terasa sakit." ucap Riri dan Altha mengangguk.


Riri menelan salifanya karena dia masih merasakan keraguan didalam hatinya. Riri tak tega dengan Altha, tapi dia harus melakukannya untuk bisa mengobati Altha dan mencegah infeksi yang berlanjut.


"Cepat cabut.!!" teriak Altha dengan keras.


"Baik." Riri pun menarik dengan keras anak panah itu dari tubuh Altha.


Bruk,,, Altha terjatuh karena tak tahan menahan rasa sakitnya.


"Altha, Altha kau kenapa, Altha aku mohon jangan tidur. Altha aku mohon." Riri panik karena Altha jatuh dan tak bergerak.


"Ini kenapa tak bisa berhenti menyebalkan." Riri menahan luka Altha agar darahnya tak keluar, tapi darahnya tetap tak bisa berhenti.

__ADS_1


"Aku mohon berhentilah, Altha aku mohon jangan tinggalkan aku sendirian di dunia ini. Aku akan melakukan apa pun perintah mu jadi aku mohon jangan pergi Altha." Riri menangis sambil meracau dan menekan luka Altha dengan kuat.


Altha yang merasa lemas hanya bisa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Riri padanya, tapi tak bisa membalas ucapan Riri sekata pun. Altha hanya berkedip tak berdaya, dalam hati Altha dia berharap kalau Yaris dengan cepat datang untuk menyelamatkan Yourina.


"Tuan putri." panggil Jiyang yang sudah tiba didalam gua itu.


"Jiyang kau, Jiyang katakan pada Altha agar dia bangun dan jangan tidur aku mohon Jiyang, apa yang harus aku lakukan darahnya tak bisa berhenti Jiyang." Riri menangis mengadu pada Jiyang tanpa melepaskan tangannya untuk menekan luka Altha.


"Tuan putri tenanglah pangeran hanya lelah saja." jawab Jiyang yang melihat Altha menutup matanya setelah dia tau Jiyang sudah datang.


"Jiyang, putri." Yaris pun tiba dan kaget melihat kondisi Riri dan Altha.


"Yaris, Altha. Lukanya terus berdarah dan tak mau berhenti." Riri menangis menatap Yaris.


"Tenanglah putri." Yaris menahan tangan Riri dan menyalurkan tenaganya untuk membekukan darah Altha.


"Jiyang bawah pangeran kembali ke kediaman pangeran sekarang dengan cepat." perintah Yaris dan Jiyang langsung mengangkat tubuh Altha.


"Tapi darahnya." Riri tak ingin melepaskan tangannya dari punggung Altha.


"Pangeran tak apa, dia akan baik - baik saja, darahnya sudah berhenti." ucap Yaris mengangkat kedua tangan Riri dan memeluk erat Riri.


Dengan cepat kedua orang itu membawah Riri dan juga pangeran Altha meninggalkan kawasan hutan sehingga pangeran Cu Shang dan prajuritnya tak bisa menemukan mereka dimana pun dalam hutan itu.


...🍁🍁🍁...


"Tabib senior." Jiyang membawah masuk Altha kedalam kamar dan tabib senior serta Yorgun sudah menunggu didepan pintu.


"Apa yang terjadi dengan pangeran?" tabib senior melihat kondisi Altha dan memeriksanya.


"Racun pelemah otot? Racun ini hanya ada diluar kerajaan ini" ucap tabib senior setelah dia melihat luka dan memeriksa kondisi Altha.


Melihat itu semua yang ada disitu merasa terkejut dengan kondisi Riri atau putri Yourina yang terlihat sangat lemah, karena bagi mereka biasanya putri Yourina ini akan sangat tegar sampai bisa dibilang sedikit angkuh pada saat mengobati orang, namun hari ini sisi lain yang belum pernah dilihat oleh mereka sungguh pemandangan yang sangat mengejutkan.


Mereka memiliki pendapat yang sama yaitu, kelemahan dari sang putri adalah pangeran Altha. Dari awal ditemukan tubuh Riri terus saja bergetar tak berhenti, dan sekarang saat dia mendengar kalau Altha terkena racun tubuhnya semakin bergetar hebat.


"Putri tenanglah dulu, aku akan menawar racunnya baru akan mengobati lukanya." ucap tabib senior menatap Riri yang tak berdaya disisi Altha.


"Lakukan yang terbaik, lakukan yang terbaik." ucap Riri dengan tatapan khawatir dan akhirnya tumbang karena kelelahan.


"Tuan putri." Yaris menangkap tubuh Riri dengan cepat dan membawanya ke kamarnya untuk istirahat.


"Yaris, bagaimana kondisi putri Youri?" tanya Jiyang setelah sekian lama menemani tabib senior dan Yorgun merawat Altha.


"Dia masih tidur, bagaimana dengan pangeran?" tanya Yaris balik pada Jiyang.


"Kalian kan saling terhubung, aku yakin pangeran masih belum melepas telepati-nya dengan mu. Jadi kamu pasti tau lebih jelas kondisi pangeran." jawab Jiyang mendekati Riri dan mengusap keringat dikening Riri dengan lembut.


"Hem." Yaris bergumam.


"Yaris, apa pendapatmu sama dengan ku? Kalau putri sangat peduli dengan pangeran, dan sepertinya kelemahan putri terletak pada pangeran. Aku tak pernah melihat putri sehancur tadi." ucap Jiyang yang kembali duduk.


"Mereka adalah pasangan tentu harus seperti itu." jawab Yaris berpaling karena sebenarnya ada sedikit rasa sakit dihatinya.


Keesokan paginya Riri terbangun dan dia mendapati Yaris serta Jiyang tidur sambil terduduk dikursi, Riri tersenyum karena dia merasa bersyukur ada kedua orang itu yang selalu mendukung dan menjaga dirinya selama ini.

__ADS_1


"Dia pucat, kenapa dengannya?" gumam Riri menatap Yaris dan berjalan mendekati Yaris yang sedang tidur dengan posisi duduk.


"Yaris ku apa dia juga terluka?" Riri menyentuh pipi Yaris dengan lembut.


Greb,,, Yaris menangkap tangan Riri dengan cepat.


"Ah, aku membangunkan mu? Kau terlihat pucat, apa kau juga sakit?" tanya Riri menatap Yaris dalam.


Deg,,, jantung Yaris berdebar karena ditatap oleh Riri dengan sangat dekat, dan debaran itu jadi semakin kencang lagi saat Riri menempelkan keningnya dengan kening Yaris.


"Kenapa, apa Yaris demam?" Jiyang yang terbangun juga ikut bertanya karena melihat Riri menempelkan keningnya pada kening Yaris.


"Aku tidak apa - apa." Yaris bangun dengan cepat.


"Ah,,," greb Yaris dengan cepat menangkap tubuh Riri yang hampir jatuh karena terdorong olehnya yang bangun dengan tiba - tiba.


"Apa kau tak bisa hati - hati, bagaimana kalau tuan putri terluka.!" kesal Jiyang pada Yaris.


"Maaf, aku mau melihat kondisi pangeran dulu." ucap Yaris menghindar.


"Aku ikut Yaris." Riri mengikuti Yaris ke kamar Altha.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Riri pada tabib senior begitu masuk kedalam kamar Altha.


Greb,,, Altha menarik tangan Riri sampai Riri terjatuh ke tubuhnya.


"Aaah,,, kau gila ya." kesal Riri pada Altha.


"Begitu khawatir padaku sampai kesini belum mandi, apa kau langsung lari kemari begitu bangun." ucap Altha menatap Riri yang berada diatas tubuhnya.


"Oh, iya." Riri langsung lari keluar dan kembali kekamarnya.


Melihat itu Altha tersenyum karena bagi Altha tingkah Riri sangat lucu dan menggemaskan. Altha seolah tak peduli dengan banyaknya orang yang melihat tingkahnya dengan Riri dia seakan ingin menunjukkan pada mereka kalau Riri adalah hak miliknya.


Setelah selesai bersih - bersih Riri kembali lagi ke kamar Altha dan dia meminta maaf atas segala kesalahannya. Dan juga berjanji akan merawat Altha dengan baik.


"Jadi kau menyesal dan tulus ingin meminta maaf padaku?" tanya Altha menatap Riri yang berdiri didepannya.


"Iya, aku tau ini salah ku dan aku minta maaf atas semuanya." ucap Riri dengan senyumannya.


"Baik, karena kau menyesalinya maka sebagai hukumannya aku memberikan perintah agar kau tak pergi meninggalkan istana ini dan mau merawat ku dengan baik yang terluka karena menolong mu ini, bagaimana apa kau menerimanya?" ucap Altha menatap Riri.


"Iya baiklah aku terima, sekarang aku akan membantumu mengobati luka. Karena tabib senior bilang racun dalam tubuhmu sudah dibersihkan." ucap Riri dengan tulus.


"Baik, lakukan." Altha tak menolak dan Riri pun memanggil Yaris untuk membantunya.


Riri mengeluarkan kantong dan berkata kalau dia membutuhkan alat jahit serta obat - obatan, lalu dengan cepat Riri membersihkan luka Altha dan mulai menjahitnya setelah melakukan anastesi lokal pada luka itu.


Altha melihat Yourina sangat fokus dan Yaris yang ada disampingnya membatu dengan cepat seolah dia sudah tau apa yang dibutuhkan oleh Yourina dalam menangani perawatan pada pasiennya.


"Sudah selesai." ucap Riri dan Yaris memasukkan semua alat itu kedalam kantong lagi dan seketika semuanya hilang.


Setiap hari Riri dengan telaten merawat dan menjaga Altha yang terluka karena merasa berhutang budi sebab Altha telah menghadang anak panah demi dirinya.


"Bagaimana lukanya, apa masih terasa sakit?" tanya Riri yang mau membuka luka jahitan Altha.

__ADS_1


"Ya sedikit sakit." jawab Altha dengan nada manja pada Riri.


"Kalau begitu aku lihat lagi nanti, sekarang aku tutup lagi saja." Riri pun membalut lagi luka Altha.


__ADS_2