
Sesaat sebelumnya
"P-permaisuri San." Permaisuri Yu merasa terkejud dengan kedatangan permaisuri pertaman yang telah dikabarkan mati dan mayatnya telah dibuang.
"Yu Rong ya, kau masih ingat akan diriku. Dengan licik kau meminta ayahmu dan anak buahnya untuk menyekap dan melenyapkan aku, apa kau merasa kaget setelah sekian lama melihatku yang ternyata masih hidup." Nenek itu telah membongkar penyamarannya dan seketika membuat Wu Ling yang mengikutinya merasa terkejud, karena nenek itu adalah wanita cantik yang ternyata adalah permaisuri pertama kerajaan barat ini.
"Tidak mungkin, kau sudah mati dan mereka bilang kalau kau sudah mati." Permaisuri Yu berteriak histeris
"Aku tak tau apa yang telah kau dan keluargamu rencanakan, tapi aku tak akan pernah memaafkan perbuatan kalia semuanya." teriak permaisuri San
"Penjaga, penjaga di sini ada pemberontak. Penjaga." Permaisuri Yu berteriak memanggil penjaga dengan panik karena semua dayang yang ada bersama dengannya telah dibuat tumbang oleh permaisuri San
"Percuma kau berteriak, seperti yang kau lakukan pada ku dulu, sekarang minum ramuan yang dulu kau berikan pada ku." Permaisuri San berkata dengan nada tegas dan memerintah
"Tidak akan." Permaisuri Yu menolak dan berusaha untuk lari.
"Minum atau ku patahkan kakimu." Permaisuri San menarik tangan permaisuri Yu dan menatapnya dengan tajam.
"Ba-baik, a-ku minum, aku minum." Permaisuri Yu meminum ramuan yang dibawah oleh permaisuri San sampai habis.
"Aku tidak mati, haha aku tidak mati, aku adalah permaisuri kerajaan ini yang disegani banyak orang." Permaisuri Yu berkata dengan memegangi seluruh tubuhnya yang ternyata tak terjadi apa - apa setelah dia meminum ramuan itu.
"Kau memang tidak mati, tapi kau telah menjadi gila sekarang." gumam permaisuri San pergi meninggalkan permaisuri Yu sendirian didalam ruangannya.
"Kita selamatkan orang mu sekarang." ucap permaisuri San dan Wu Ling berjalan mengikutinya dengan cepat dan dengan tatapan bingung pastinya.
...🍁🍁🍁...
"Prajurit kepung mereka!" teriak raja Song dan beberapa prajurit yang datang dengan tangan kosong
"Jangan biarkan satu pun dari mereka lolos, kepung dengan rapat dan tunggu aba - aba dari raja." seorang prajurit lagi berteriak dengan lantang.
"Mereka tak membawah senjata. Jangan - jangan mereka akan membuat jebakan dengan melumpuhkan kami." Riri yang menyadari kejanggalan dari para prajurit yang datang. "Semuanya mundur, ini adalah jebakan. Menghindar semuanya." Riri berteriak dan meminta semuanya untuk mundur.
"Mundur, ikuti instruksi tuan putri." Yorgun ikut teriak dan semua pasukan pun mundur.
"Jangan lepaskan mereka." Raja Song berkata dengan marah.
"Beri jarak, semuanya mundur." Riri teriak lagi dan langsung memasang tameng ilusi sehingga semuanya bisa lari keluar dari kepungan prajurit raja Song.
Saat ini
"Sial, mereka berhasil lolos." Raja Song menggerutu dengan kesal
"Yang mulia, pengeram Altha berhasil menerobos pertahanan bersama dengan pasukannya dari kerajaan selatan yang dipimpin oleh komandan Sun dan putri Sui." lapor prajurit dari raja Song
"Dia mengantarkan nyawanya sendiri." Raja Song tersenyum "Biarkan dia masuk dan bukakan jalan untuknya. Untuk pasukan dari kerajaan selatan kepung mereka jangan biarkan mereka berhasil mendekat."
Setelah mengintruksikan hal itu raja Song yang berdiri diantara pasukannya melihat Altha masuk dan melawan beberapa prajuritnya dengan mudah. "Tak salah kalau dia dijuluki sebagai pedang kerajaan timur, dia sangat gesit dan juga lincah." Raja Song tersenyum menatap Altha.
__ADS_1
"Song Ya!!" teriak Altha saat dia melihat raja Song
"Bagus, bagus sekali kau datang mengantarkan nyawamu sendiri." Raja Song berkata dengan nada sombongnya.
"Katakan dimana istriku?! Aku tak akan mengampuni mu jika sampai terjadi apa - apa pada dirinya, sudah cukup keangkuhanmu." Altha berkata dengan marah
"Hahaha, istrimu? Tapi sebentar lagi dia akan menjadi ratu di kerajaan barat ini. Jika kau memang mampu dan bisa rebut lah dia dari ku. Hadapi para kesatria ku, jika kau mampu bertahan dan menggulingkan mereka semua maka akan ku lepaskan dia." Raja Song berkata dan sudah ada sekitar 10 ksatria yang siap untuk melawan Altha.
"Kau benar - benar licik, jika kau memang berani turun dan hadapi aku secara langsung." Altha berkata dengan sorot mata yang tajam
"Aku tak perlu buang - buang waktu ku, karena aku tak akan mau mengotori tangan ku dengan darah dari musuh ku." Raja Song berkata dengan nada mengejek.
"Akan aku habisi kau setelah ini, majulah kalian semua." Altha berkata dan sesuai dengan aba - aba dari raja Song 10 kesatria itu maju melawan Altha.
Setelah beberapa saat Altha merasakan kalau tubuhnya terasa aneh, berat dan lemas. Namun Altha tetap bertahan untuk melawan karena dia ingin segerah melihat Riri istrinya yang dipikir Altha kalau dia telah disekap oleh raja Song. Pandangan Altha mulai kabur dan gerakannya mulai melemah tak segesit tadi.
"Yang mulia sepertinya pangeran Altha terkena racun pelemah otot, melihat luka di lengan dan lehernya yang meradang." ucap pengawal raja Song
"Bagus, dengan begitu akan mudah mengalahkan dia dan menghabisinya." Raja Song terlihat sangat geram.
Altha mengatur nafasnya dan berusaha untuk memusatkan pandangannya. Dengan sisa tenaganya Altha terus saja berusaha untuk bertahan dengan menggunakan insting dan pendengarannya untuk mendeteksi arah gerakan dan penyerangan dari lawannya.
"Kenapa dia masih saja bertahan dan bahkan telah menumbangkan hampir semua orang. Dasar mereka orang - orang yang tak berguna." Raja Song terlihat sangat marah dan dia turun tangan sendiri untuk ikut melawan Altha yang sudah cukup lemah dan hampir tak mampu untuk bertahan lagi.
"Yaris." Altha mengirim telepati pada Yaris dan dengan cepat Yaris menyadari kondisi serta bisa merasakan rasa sakit Altha.
"Lindungi tuan putri." Yaris langsung datang ditempat Altha dan menghadang prajurit dari raja Song yang ingin menghalangi Riri.
Dengan cepat Riri lari kearah Altha tanpa memperdulikan ada banyaknya orang yang mungkin saja bisa menghunuskan pedang padanya, namun dengan mulus Riri berlari tanpa hambatan karena Yaris menjaga dan melindungi setiap pergerakan Riri dan putri Sui sama komandan Sun membukakan jalan untuk Riri sampai ke Altha.
"Altha, tidak, tidak, tidak Altha bertahanlah aku akan mengobati mu Altha." Riri memeluk dan menangkap wajah Altha yang sudah terjatuh ke tanah sambil bersimpuh.
"Riri, kau tak apa?" Altha berkata dengan lemas
"Tidak Altha jangan banyak bicara, aku akan menyembuhkan mu, aku akan mengobati luka mu." Riri menangis sambil memeluk tubuh Altha dan memegang luka Altha yang terus mengeluarkan darah.
Altha tersenyum menatap Riri dengan pandangan yang kabur, "Jangan menangis. Jangan menangis."
"Altha, bertahanlah. Aku mohon bertahanlah, berjanjilah pada ku kau akan bertahan demi aku aku mohon, aku mohon." Riri terus memeluk wajah Altha dan mencium kening Altha dengan dalam.
"Aku janji, aku akan bertahan semampuku." ucap Altha dengan lemas dan mengangguk.
Riri menatap raja Song yang berdiri disebelah Altha dengan tombak yang dia gunakan untuk menghunus Altha, Riri berdiri dan menatap dengan marah pada raja Song. Riri mengepalkan tangannya dan memegang pedang Altha dengan kuat. Altha yang sudah lemah hanya bisa menatap Riri tak berdaya.
"Kau, telah membunuh anak kami dan sekarang kau melukai suamiku, aku tak akan mengampuni mu. Perbuatan mu pantas mendapatkan balasan yang setimpal." Riri berkata dengan nada marah yang sangat besar
"Argh." Raja Song telah menyemburkan darah sebelum Riri mengayunkan pedangnya.
"Manusia sepertimu tak pantas hidup di dunia ini." Permaisuri San telah lebih dulu menikam raja Song dengan tangannya dari arah belakang.
__ADS_1
"San Rie." ucap raja Song lalu dia tumbang dan menghembuskan nafas terakhirnya.
"Uhuk." Altha batuk darah
"Altha, Altha bertahanlah." Riri membuang pedangnya dan kembali memeluk Altha.
"Permaisuri San Rie Yan." teriak prajurit yang mengenalnya.
"Hormat kepada permaisuri San." semua prajurit yang berada di pihak permaisuri langsung menjatuhkan senjatanya dan memberikan hormat.
"Tangkap semua orang yang berkhianat semuanya tanpa terkecuali." perintah permaisuri San dengan lantang.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu pada mu istri ku." gumam Altha yang telah bersandar pada Riri.
"Altha jangan bicara lagi, ayo kita pulang aku akan mengobati mu." Riri berkata sambil memeluk erat tubuh Altha.
"Yaris." gumam Altha.
"Baik, pangeran." Yaris mendekati Riri dan Altha.
Riri menatap Yaris dengan bingung, "Ayo tuan putri." Yaris memegang Riri dan Altha, lalu dengan kekuatannya Yaris membawah Altha dan Riri kembali ke kerajaan timur.
...🍁🍁🍁...
"Ayo tuan putri." Yaris membawah Riri dan Altha masuk kedalam kamar Altha dan membuka tempat tidur Altha lalu menunjukkan pintu rahasia yang ada disana.
"Altha biar aku obati dulu lukamu." Riri yang memapah Altha menatap khawatir.
"Ada yang ingin aku tunjukkan dulu." ucap Altha lemas.
Riri menggelengkan kepala sambil terus menangis, "biarkan aku mengobati mu dulu Altha."
Yaris yang melihat Riri terus menangis merasakan rasa sakit yang sangat dalam, "Masuklah tuan putri." Yaris meminta Riri masuk kedalam lorong dan dengan memeluk tubuh Altha erat Riri meluncur kesuatu tempat.
"Ini..." Riri menatap ruangan yang terlihat sama persis dengan dunia modern tempat asalnya.
"Ini bukti bintang, aku membuatkan ini untuk membuatmu nyaman seperti di dunia asalmu." ucap Altha dengan terbata - bata. "Riri, aku sangat mencintaimu, aku ingin melihat wajah aslimu, sebagai dirimu sendiri." Altha tersenyum dan dia sadar kalau waktunya sudah tak banyak lagi. "Aku akan selalu mencintai mu, siapa pun dirimu, dan dimana pun kamu. Aku ingin bertemu dengan mu sekali lagi istriku." kalimat terakhir Altha untuk Riri pun telah sampai dan Altha menutup matanya untuk selamanya.
"Altha, tidak, Altha." Riri memanggil Altha dan mengguncang tubuh Altha yang sudah tak bergerak, Riri pun mulai menangis histeris. "Tidak... Altha...!!" teriak pilu Riri.
Yaris yang bisa merasakan rasa sakit Altha dan Riri hanya bisa mengepalkan tangannya kuat - kuat dan meneteskan air matanya, "Aku juga ingin mengikuti pangeran dan tuan putri selamanya." ucap Yaris dan dia menutup matanya.
Dalam sekejap tubuh Riri melemas, pandanganya kabur, tubuhnya seolah tertarik oleh sesuatu yang sangat kuat dan membuat dia tak mampu lagi menggenggam tangan Altha yang dengan perlahan terlepas dari genggamannya.
...💮💮💮...
Pip...pip...piiiiiip
"Riri, Riri. Dokter, dokter tolong Riri, monitornya tak stabil." Seorang wanita berlari dengan panik mencari dokter.
__ADS_1