Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Titik terang


__ADS_3

Semua orang yang ada di ruangan kamar raja melihat cara Riri membuktikan kalau bukan Altha yang melukai yang mulia raja, semuanya merasa terpukau dengan cara Riri melakukan periksaan atas sampel darah yang mulia dan alat yang digunakan oleh Riri juga membuat semua orang terkejut karena mereka merasa tak pernah melihat alat aneh itu.


"Tuan putri bagaimana alat yang terlihat aneh seperti itu bisa membuktikan kalau itu adalah bukan kesalahan kakak pertama." tanya pangeran ketiga pada Riri dan itu membuat Riri tersenyum.


Riri bangun dari duduknya dan berjalan mendekati pangeran ketiga, Riri berdiri tepat didepan pangeran ketiga lalu melemparkan senyuman lagi. "Aah.! Apa yang kau lakukan?" pangeran ketiga teriak saat Riri menggores tangan pangeran ketiga dan semua orang yang melihat merasa heran apa lagi pangeran kedua.


"Jika darah anda dan yang mulia raja bersatu dalam wadah yang saya bawah ini, maka pelakunya adalah anda." ucap Riri dan meneteskan darah pangeran ketiga kedalam wadah yang dibawahnya, lalu Riri balik dan duduk lagi.


"Semua yang disini adalah saksinya kalau aku tak melakukan rekayasa dalam pemeriksaan ini." Riri berkata sambil tersenyum pada semua orang lalu meneteskan darah yang mulia raja juga dalam wadah itu dan semua orang melihat kalau kedua darah itu perlahan - lahan menyatu jadi satu.


"Eh, darahnya menyatu, apakah itu artinya?"


"Bagaimana bisa bersatu, padahal tadi darahnya yang mulia saling menjauh dengan darah yang ada di pedang pangeran Altha."


Semua yang melihat merasa bingung dengan apa yang merek lihat dan juga bingung, mereka semua menunggu Riri menjelaskan. Sedangkan pangeran ketiga lebih bingung lagi dengan hal itu, karena darahnya bersatu dengan darah ayahnya. Pangeran ketiga menatap Riri bingung karena Riri hanya diam melihat dirinya dan tersenyum.


"Kalau aku bilang dengan bukti ini yang bersalah adalah pangeran ketiga bagaimana, apakah kalian semua percaya? Karena dari tes ini darah keduanya bersatu, itu membuktikan kalau pangeran ketiga adalah pelaku kejahatannya." ucap Riri dengan santai menatap semua orang.


"Hem, putri Youri ini sangat licik dan dia juga suka mempermainkan orang dengan pengetahuannya." putri Sui yang menyaksikan bergumam dalam hatinya saat dia melihat Riri dari tadi melakukan penelitian dengan alat yang terlihat aneh itu.


"Tak ku sangka Riri memiliki sisi yang sepeti ini, dia suka mempermainkan pikiran orang, dan hal itu bisa berpengaruh pada sebuah kebingungan." Altha tersenyum sambil bergumam dalam hatinya melihat Riri yang saat ini berusaha untuk menolong dirinya.


"Ta-tapi bagaimana mungkin bisa, kakak ipar jangan membuat aku bingung. Bagaimana bisa aku melukai ayah." pangeran ketiga menjawab dengan panik.


Riri tertawa lalu menatap tajam pada pangeran ketiga. "Apa alasannya kalau pangeran ketiga tidak mungkin melakukan kejahatan itu? Dan bagaimana bisa pangeran ketiga mengatakan kalau tak bisa melukai raja. Bukankah semua bisa dianggap sebagai tersangka kalau hal itu berhubungan dengan tahta dan kedudukan." jawab Riri yang juga menatap pangeran kedua. "Bagaimana menurut mu pangeran kedua? Bukankah itu bisa saja terjadi, karena jika raja tiada dan tahta masih kosong, maka orang yang berkompeten lah yang akan memiliki kemampuan untuk memimpin dan menduduki tahta kerajaan, aku benarkan." sambung Riri pada pangeran kedua.


"Itu tentu saja, karena kerajaan harus dipimpin oleh orang yang benar dan memiliki kemampuan." jawab pangeran kedua.


"Setuju. Dan semua pangeran memiliki kemampuan untuk hal itu. Bagaimana kalau aku tetapkan semuanya sebagai tersangka, dan aku akan menyelidiki siapa dalang yang paling akurat untuk menyakiti yang mulia raja, dengan begitu apa boleh." ucap Riri berdiri dan berjalan mendekati pangeran kedua.


Pangeran kedua menatap Riri yang berjalan kearahnya. "Bagaimana pangeran?" tanya Riri yang sudah berdiri tepat didepan pangeran kedua. "Tentu saja boleh." jawab pangeran kedua langsung tanpa rasa takut.

__ADS_1


"Bagaimana bisa seperti itu kakak kedua." jawab pangeran ketiga.


Riri menatap pangeran ketiga dan berjalan kearah pangeran ketiga, "Sebelum aku kemari aku sudah menyuruh Yaris dan tuan Yoyo untuk melakukan sesuatu untuk ku. Jadi aku akan bisa menemukan siapa pelaku sebenarnya dan untuk sementara semua pangeran adalah tersangka bagi ku, tanpa terkecuali." jawab Riri menatap dan berjalan mendekati pangeran ketiga.


"Kakak ipar." pangeran ketiga ingin mengatakan sesuatu pada Riri namun tak jadi.


"Baiklah, pergi dan keluar semuanya karena aku mau memeriksa yang mulia raja, dan aku ingin hanya orang - orang yang ku percaya yang akan menjagaku, jadi aku tak perlu pengawalan dari istana. Cukup Yaris dan Yodon yang akan ada disisi ku." ucap Riri dan dia membubarkan semua prajurit yang menjaga kamar yang mulia raja.


Semua orang pergi meninggalkan kamar raja dan menyerahkan penyelidikan kepada Riri serta beberapa Mentri yang berasal dari departemen hukum kerajaan. Dan pangeran kedua serta pangeran ketiga pun jadi diawasi oleh beberapa orang dari departemen hukum kerajaan begitu juga pangeran Altha.


"Yang mulia minum obat apa selama ini tabib senior?" Riri bertanya setelah melakukan pemeriksaan pada yang mulia raja.


"Obat yang saya siapkan sendiri dan direbus oleh murid saya tuan putri." tabib senior menjawab sesuai dengan apa yang dilakukan selama ini.


"Putri Sui tolong lakukan pemeriksaan pada yang mulia raja." Riri mempersilakan pada putri Sui yang bisa mendeteksi dengan cepat jika ada kesalahan dalam tubuh seseorang.


Putri Sui mendekat dan melakukan pemeriksaan dengan sedikit lama putri Sui melakukannya, dan tabib senior menatap putri Sui dengan bertanya - tanya. "Raja memasuki alam mimpi yang panjang putri Youri dan hal ini terjadi karena dia telah mengkonsumsi obat halusinasi dengan dosis tinggi dengan dipadu sama obat tidur yang juga cukup sering diminumnya." jelas putri Sui.


"Katakan selain obat yang diberikan oleh gurumu siapa lagi orang yang memberimu obat lain untuk dicampur dengan obat yang kau rebus? Atau itu dari awal adalah perbuatan dari gurumu." Riri bertanya pada murid tabib senior.


Mendengar itu tabib senior merasa kaget dan langsung bersujud untuk meminta maaf pada Riri. "Mohon ampun tuan putri." tabib senior bergetar dengan hebat karena takut.


"Maafkan hamba yang mulia tuan putri ini bukanlah kesalahan guru, ini adalah kesalahan hamba sendiri yang merasa takut kalau guru akan dalam bahaya." jawab murid tabib senior dan langsung bersujud dihadapan Riri mengikuti gurunya.


"Apa yang kau katakan?! Apa kau benar - benar mencampurkan sesuatu dalam obat yang sudah ku berikan padamu?" tabib senior bertanya dengan kesal pada muridnya dan menggoyang tubuh muridnya itu.


"Maafkan aku guru. Tolong maafkan aku" jawab murid itu menyesal dan juga takut dan mulai menangis.


"Ketemu." suara Riri mengagetkan tabib senior dan muridnya,


Riri tersenyum dan jongkok menatap murid tabib senior dari jarak dekat, "Dia adalah titik terangnya. Dengan keterangan darinya sudah membuktikan kalau obat yang diberikan pada raja dan Altha adalah obat yang sama" Riri menatap tabib senior, "Itu sebabnya Altha tak mengikat apa pun karena dia hanya berhalusinasi saja, malam itu, orang itu melakukan tindakannya lalu membebankan semua kesalahan pada Altha. Sekarang kita hanya perlu mencari siapa dalang dibalik semua para kaki tangan ini." Riri berdiri dan tersenyum menatap Altha.

__ADS_1


"Yaris bawah dia bergabung dengan yang lainnya." perintah Riri pada Yaris dan Yaris langsung membawah murid tabib senior pergi kesuatu tempat.


Sehari sebelumnya.


"Yaris, Yodon, dan tuan Yoyo aku minta tolong pada kalian berdua, pergilah dan kumpulkan semua orang yang bersangkutan dengan kejadian semalam dan kirim mereka semua ke hutan bulan, aku dan putri Sui akan pergi untuk melihat - lihat dulu situasinya di kerajaan." perintah Riri pada Yodon, Yaris dan tuan Yoyo pengawal dari putri sui.


Yaris dan Yodon mencari dan mengumpulkan semua orang yang berhubungan dengan kejadian malam itu termasuk pelayan yang mengantar Altha ke kamar dan yang menghidangkan makanan serta minuman dimalam pesta itu semua ditangkap oleh Yaris dan Yodon lalu dibawah ke hutan bulan yang sebelumnya sudah dipasang ilusi oleh Riri sehingga meski mereka mau melarikan diri juga tak akan bisa keluar dari hutan itu, dan tuan Yoyo bertugas untuk menjaga diluar hutan.


"Siapa?" Baron bersiap saat dia melihat dan merasakan pergerakan.


"Tuan Baron." ucap Riri berdiri didepan Baron.


"Tuan putri? Bagaimana bisa anda ada di sini?" Baron bertanya karena kaget Riri berdiri didepannya.


Riri tersenyum "Aku tau tuan Baron mau mencari bukti dari kejadian yang menimpah raja, tapi aku punya cara. Karena aku tak akan membiarkan suami ku dalam kesulitan dan menjadi tersangka yang tak dia lakukan." jelas Riri pada Baron yang saat itu memasuki istana dengan diam - diam bersama dengan bantuan putri Sui yang memiliki ilmu tinggi dan bisa mengelabui para penjaga.


"Apa yang akan tuan putri lakukan?" Baron bertanya dengan penasaran.


"Berjaga lah disisi raja dan jangan pernah meninggalkan raja, aku akan menyelamatkan Altha besok saat dia akan diadili. Aku akan menemukan pelakunya setelah itu." jawab Riri tak menjelaskan rencananya apa pada Baron.


"Baik, tapi kalau boleh tau siapa orang yang bersama dengan tuan putri?" tanya baron penasaran pada putri Sui yang datang bersama dengan Riri.


"Dia adalah orang yang membantu ku dalam penyelidikan nantinya, dan percayalah aku akan menyelamatkan yang mulia raja serta menangkap pelaku yang sebenarnya." ucap Riri pada Baron.


Saat ini.


"Tuan putri, apa tuan putri sudah menemukan siapa pelaku yang melukai yang mulia?" Baron bertanya pada Riri yang dari tadi terlihat sangat santai.


"Tuan Baron, aku akan menemukan pelakunya. Sekarang yang terpenting adalah kesehatan yang mulia." jawab Riri sambil tersenyum.


"Lalu untuk apa tuan putri menangkap murid tabib senior, bukankah sudah pasti kalau dia telah mencelakai yang mulia raja dengan mencuri obat untuk yang mulia raja." Baron terlihat kesal.

__ADS_1


"Kau akan tau nanti, karena bukan dia yang salah, dia hanyalah alat." jawab Riri tersenyum menatap Baron.


__ADS_2